Share

Bab 7

Penulis: Yusni Anjani
Ketika Weni terbangun kembali, hari sudah beranjak ke pagi berikutnya. Dia pergi ke kamar mandi untuk basuh wajahnya dan segarkan diri. Saat keluar, kebetulan Peter masuk ke kamar.

“Sudah bangun? Masih pusing?”

Weni jalan lambat kembali ke ranjang.

“Pusing. Rasanya mau muntah.”

“Gegar otak ringan. Kalau tadi kamu hantam pagar sedikit lebih keras, kita nggak perlu bicarakan urusan bisnis lagi. Aku tinggal urus pemakamanmu.”

Weni perhatikan Peter yang letakkan sarapan di meja kecil di samping ranjang.

Saat pria itu tundukkan pandangan, kedua matanya yang gelap berkilauan diterpa cahaya matahari, seolah simpan sedikit senyum.

“Pak Peter, suasana hatimu lagi bagus?”

Ini pertama kalinya pria itu goda dia secara terang-terangan. Dan ternyata, lidahnya cukup tajam. Peter baru saja buka bubur ayam ketika dengar itu. Dia letakkan sendok, lalu menatap Weni.

“Weni, apa kamu nggak pernah belajar dari pengalaman?”

Weni tertegun, nggak langsung pahami maksudnya.

Detik berikutnya, Peter tahan belakang kepalanya dan menunduk untuk cium dia.

“Mm ….”

Suara protes Weni lenyap sepenuhnya di antara bibir pria itu.

Peter lingkarkan lengannya erat di pinggang Weni, tarik tubuhnya mendekat. Ciumannya begitu dominan dan penuh tekanan, seolah ingin buat wanita itu ingat sensasi ini untuk selamanya. Ciuman yang datang tanpa peringatan buat kepala Weni yang memang masih pening semakin kacau. Pikirannya kosong. Kedua tangannya sempat ragu di dada Peter sebelum akhirnya berhenti melawan.

Weni menurut, pejamkan mata, biarkan pria itu ambil alih tanpa perlawanan. Entah berapa lama berlalu, hingga terdengar suara seorang pria dari ambang pintu.

“Pak Peter ....”

Weni sontak hendak menjauh.

Namun Peter sama sekali nggak berniat lepaskan dia. Peter justru tahan Weni dan perdalam ciuman itu dengan semakin liar. Baru setelah suara lirih Weni terdengar seperti memohon, Peter akhirnya lepaskan dia. Weni terengah-engah. Kedua matanya yang berair menatap panik ke arah pintu.

Seorang pria bersetelan hitam berdiri dengan hormat di sana sambil bawa beberapa dokumen. Weni menghela napas lega. Dia sempat kira yang datang adalah ....

Peter cubit dagunya dan kembalikan perhatiannya ke dia . Ada sesuatu yang tertahan di dasar matanya.

“Sudah belajar? Kamu harus panggil aku apa?”

“Peter.”

Dalam sekejap, tatapan pria itu kembali memanas. Wajah Weni tanpa sadar memerah. Bukankah dia hanya sebut namanya? Entah mengapa reaksi pria ini selalu begitu berlebihan.

Weni buru-buru berkata, “Ada orang yang cari kamu.”

Peter menyindir, “Keberanianmu semalam ke mana? Sekarang baru tahu takut?”

Peter angkat tangannya, beri isyarat agar pria di pintu masuk.

“Ini Yusin Yasir, asisten khususku.”

Yusin melangkah maju dan lebih dahulu sapa Weni.

“Nona Weni, salam kenal. Ini kartu nama saya. Kalau Anda butuh sesuatu, silakan minta saya urus.”

Saat Weni terima kartu nama itu, sapaan itu buat hatinya bergetar. Dia noleh ke Peter. Ekspresi pria itu tetap tenang.

“Bicara urusan penting saja.”

Yusin segera berkata, “Pak Lukas ingin ketemu dengan Anda. Mengenai proyek Pak Wicak, dia ingin tebus kesalahannya dengan kontrak baru.”

Peter duduk di samping Weni sambil nikmati bubur. Suaranya terdengar datar.

“Beberapa kesalahan angka buat Grup Pangestu kehilangan lebih dari 8 miliar. Orang seperti Wicak Sudarsono yang matanya cuma lihat uang nggak akan kembalikan apa yang sudah masuk ke sakunya. Dengan apa dia berniat tebus kesalahan?”

Yusin jawab, “Pak Lukas cuma bilang kalau dia punya cara untuk buat Pak Wicak tandatangani kontrak baru. Dia hanya minta satu kesempatan lagi. Kalau gagal, dia bersedia mengundurkan diri dari jabatan wakil direktur dan mulai kembali dari tingkat paling bawah.”

Peter melirik Weni. Weni nggak tunjukkan reaksi apa pun.

“Biarkan dia coba. Dia nggak perlu datang temui aku. Kalau berhasil, dia akan dapat imbalannya,” ujar Peter.

“Siap.”

Setelah Yusin tinggalkan kamar, Peter tanya, “Kamu nggak mau bicara apa-apa?”

Weni jawab dengan serius, “Bubur ini rasanya nggak asing. Kamu beli di mana?”

Peter sedikit tertegun. Tatapan di matanya bagaikan bulu ringan yang sentuh permukaan air, hanya sesaat, lalu lenyap tanpa jejak.

“Yusin yang beli. Apa kamu pikir aku sendiri yang akan pergi belikan kamu bubur?”

“Oh.”

Weni mengangguk.

“Enak. Lain kali aku bakal tanya ke Yusin. Aku memang paling suka makan bubur.”

Peter sengaja alihkan topik.

“Aku ada urusan sore ini. Nggak akan datang lagi.”

“Oke.”

Malam hari.

Weni sedang duduk di ranjang sambil baca ketika Lukas terobos masuk.

“Sayang!”

Lukas pegang wajah Weni dengan kedua tangan. Begitu lihat perban yang melilit dahi istrinya, matanya langsung memerah.

“Maaf, maaf. Ini semua salahku. Seharusnya aku nggak suruh kamu antarkan dokumen. Kalau nggak, kamu nggak akan terluka seperti ini.”

“Dokter bilang apa? Parah nggak? Ada kemungkinan bakal tinggalkan bekas nggak?”

Pertanyaan demi pertanyaan meluncur dari mulut Lukas seperti rentetan peluru. Dalam keadaan linglung, Weni kembali lihat sosok kakak kelas yang dulu penuh semangat di masa muda, tetapi selalu perlakukan dia dengan lembut dan perhatian.

“Weni, kasih tahu aku. Sakit banget, yah? Semua salahku. Mulai sekarang aku akan selalu ada di sisimu. Aku nggak akan biarkan hal seperti ini terjadi lagi.”

Untuk sesaat, Weni sampai bertanya-tanya apa dirinya yang salah. Kalau Lukas nggak cinta dia, mengapa Lukas begitu khawatir dengan dia?

“Suamiku.” Weni panggil Lukas.

“Ya! Aku di sini. Aku di sini. Gimana?”

Weni genggam tangan Lukas perlahan. Tatapan matanya dipenuhi sedikit kesedihan dan rasa nggak berdaya.

“Sayang, kemarin malam kamu pergi ke mana?”

Weni rasakan tangan yang sedang genggam tangannya tiba-tiba jadi tegang. Tatapan Lukas berkilat sesaat.

“Aku di rumah sakit. Aku seharian tunggu kamu antarkan sarapan, tapi kamu nggak datang. Setelah tanya ke perawat, aku baru tahu tentang kecelakaanmu. Weni, kalau kamu alami kecelakaan separah itu seharusnya kasih tahu aku. Kamu tahu nggak betapa khawatirnya aku waktu dengar orang bilang kamu alami kecelakaan?”

Sekali lagi, pria itu dengan cerdik kembalikan topik pembicaraan ke dia.

Weni kembali tanya, “Kemarin malam kamu ada di rumah sakit?”

“Iya. Kalau nggak, aku pergi ke mana lagi?”

“Tapi aku telepon kamu dan HP-mu mati. Aku juga telepon rumah sakit. Mereka bilang kamu nggak ada di sana.”

Lukas hanya butuh satu detik untuk cari alasan.

“Baiklah. Tadi malam aku dengar proyek itu bermasalah, jadi diam-diam aku kembali ke kantor. Sebenarnya karena kamu salah bawa dokumen. Itu buat aku singgung klien dan perusahaan kasih aku hukuman berat. Aku nggak mau kasih tahu kamu karena takut kamu salahkan diri sendiri.”

Weni tersenyum tipis, lalu tarik kembali tangannya.

“Berarti ini semua salahku. Bahkan hal sekecil ini pun nggak bisa aku lakukan dengan benar sampai akhirnya malah hambat kamu.”

Lukas bicara dengan penuh kemurahan hati, “Jangan bicara gitu. Aku nggak akan nyalahkan kamu. Selama kamu baik-baik saja, itu jauh lebih penting dibanding apa pun. Hanya saja malam ini aku harus temui klien. Aku mau coba selamatkan proyek ini sekali lagi, jadi mungkin aku nggak bisa temani kamu.”

Weni juga jawab dengan lapang dada, “Pekerjaan lebih penting. Pergi saja, aku nggak apa-apa kok.”

Lukas kembali hibur dia panjang lebar sebelum akhirnya pergi dengan tergesa-gesa.

Begitu langkahnya menghilang, Minda masuk dengan wajah berkerut.

“Minda, kamu kenapa datang?”

Minda mendengus.

“Informasiku secepat kilat! Kamu kecelakaan dan berani-beraninya sembunyikan itu dari aku!”

“Nggak berani kok. Aku malah berharap kamu datang khawatirkan aku.”

Minda duduk di sisi ranjang. Dia tampak ingin katakan sesuatu, tetapi berkali-kali tahan itu. Akhirnya, dia nggak tahan lagi.

“Weni, memang seharusnya aku nggak ikut campur urusan rumah tangga suami istri. Tapi kita sudah bersahabat bertahun-tahun. Aku harus ingatkan kamu satu hal.”

“Hmm. Kasih tahu saja.”

“Lukas sangat pintar. Dia begitu lihai di dunia kerja, itu memang bagus. Tapi, apa dia lagi gunakan kemampuan yang sama ke kamu? Aku dengar dari ayahku kalau dia yang buat kesalahan dalam kontrak. Terus kenapa tadi di depan pintu aku dengar dia bilang kamulah yang salah kirim dokumen? Kamu harus cari tahu kebenarannya. Kalau nggak, bukannya malah kamu yang akhirnya jadi kambing hitam? Kamu sudah repot-repot bantu dia, malah kamu yang disalahkan?”

Tangan Weni yang sedang membalik halaman buku tiba-tiba berhenti.

“Minda, menurutmu Lukas orang yang baik?”

Minda kerucutkan bibirnya dan berpikir cukup lama sebelum jawab, “Lumayan, sih. Bahkan ayahku puji dia sebagai pria muda yang sangat menjanjikan. Katanya dia jauh lebih hebat dibanding para pewaris keluarga kaya yang ada di sekitarku. Masa depannya pasti luar biasa. Tapi menurutku kamu juga nggak kalah! Orang tuamu sudah cerai. Sejak kecil kamu sudah mandiri dan punya pendirian sendiri. Dalam banyak hal, keputusanmu lebih matang dibanding aku. Nilaimu juga bagus, wajahmu cantik, kemampuan kerjamu kuat. Bahkan sebelum lulus, kamu sudah direkrut stasiun TV. Kalau dulu kamu nggak bilang, kamu dan Lukas punya hubungan karena dia pernah selamatkan kamu, aku pasti sudah carikan seorang pria dari keluarga terpandang untuk kamu.”

Mata Weni berkaca-kaca. Dia berkata pelan, “Itulah masalahnya. Ayah dan ibuku sudah punya keluarga masing-masing. Setiap kali Tahun Baru tiba, aku nggak tahu harus pulang ke mana. Sejak awal hidupku memang seperti nggak punya tempat untuk bersandar. Tapi kalau suatu hari kamu ada di tempat terpencil, hidupmu ada di ujung tanduk, lalu seseorang selamatkan kamu sedikit demi sedikit kasih kamu air sampai kamu kembali hidup, bukannya kamu juga akan merasa kalau untuk pertama kalinya dalam hidup, kamu akhirnya punya sebuah rumah?”

Minda usap air mata di pipinya.

“Weni, kenapa? Lukas sakitin kamu?”

Weni genggam tangan sahabatnya erat-erat.

“Minda, selain kamu, aku nggak percaya ke siapa pun. Karena itu, hanya kamu yang bisa bantu aku dalam hal ini. Ini nomor HP wanita yang selingkuh dengan Lukas. Tolong bantu aku selidiki dia. Aku curiga dia bukan wanita biasa. Bisa jadi, dia berasal dari lingkaran kalian.”

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Cinta yang Mekar di Malam Musim Semi   Bab 50

    Namun, pada saat seperti ini Weni justru ajukan usulan untuk pergi bulan madu, Lukas nggak punya alasan untuk tolak itu. Weni duduk di tepi ranjang, lalu dengan inisiatif sendiri genggam tangan Lukas.“Kamu baru alami kecelakaan, aku juga sampai dirawat di rumah sakit. Beberapa hari ini aku juga sudah cukup buat keributan, mulai dari hambur-hamburkan uangmu sampai mati-matian cari cara untuk cerai. Rasanya sudah cukup ngerepotin. Kalau dipikir baik-baik, setelah kita nikah, kita belum pernah benar-benar nikmati waktu bersama. Masa-masa kita pacaran waktu kuliah rasanya jauh lebih indah dibanding kehidupan pernikahan kita. Kamu benar. Dalam sebuah pernikahan, pertengkaran dan masalah memang nggak bisa dihindari. Hanya saja, mungkin kita belum benar-benar siap hadapi itu. Lukas, siapa tahu kali ini kita bisa temukan kembali perasaan yang dulu pernah kita miliki?”Nada suara Weni lembut, tetapi juga siratkan sedikit rasa sedih dan terluka. Kalimat-kalimat itu seketika mengenai sudut terda

  • Cinta yang Mekar di Malam Musim Semi   Bab 49

    Dokumen itu cantumkan secara rinci seluruh aset yang saat ini dimiliki Lukas. Di dalamnya terdapat saldo rekening di berbagai bank, dana investasi, serta dua unit toko yang terdaftar atas namanya. Namun, satu-satunya yang nggak tercantum adalah rumah di Sentori.Pada bagian bawah dokumen, terdapat pula ketentuan yang menyatakan kalau selama pernikahan mereka masih berlangsung, seluruh penghasilan bulanan Lukas akan jadi hak Weni untuk dimiliki dan digunakan.Weni kernyitkan keningnya, hatinya jadi sangat bingung.“Maksudmu, kamu mau pakai semua uang ini untuk beli aku, biar aku tetap jadi istrimu?”Lukas menghela napas berat.“Weni, emangnya kamu harus bilang semuanya dengan begitu menyakitkan seperti ini? Kamu itu istriku. Sekarang aku bersedia serahkan seluruh kendali keuangan keluarga ke kamu. Aku cuma mau buat kamu bahagia. Jangankan beli mobil balap, meskipun kamu mau tebarkan semua uang ini di jalan pun, aku nggak bakal bilang apa-apa. Aku bersedia pakai semua yang aku miliki unt

  • Cinta yang Mekar di Malam Musim Semi   Bab 48

    “Lukas, kamu mau aku tetap di sisimu biar suatu hari nanti kamu bisa bunuh aku diam-diam tanpa seorang pun tahu kan, terus kamu mau pakai uang ganti rugi itu untuk hidupi selingkuhanmu?”“Kamu bilang apa?!”Kali ini Lukas benar-benar tampak marah. Dia tutupi dadanya sambil terbatuk-batuk hebat, sampai wajahnya berubah merah keunguan karena tahan sesak. Kalau ini terjadi dulu, Weni pasti sudah buru-buru hampiri untuk periksa keadaannya dan tenangkan emosinya. Tapi sekarang, Weni hanya berdiri di sana dan menatap penderitaannya dengan tatapan dingin, tanpa sedikit pun rasa iba.Beberapa menit kemudian, Lukas akhirnya berhasil tenangkan napasnya.“Weni, sebenarnya aku harus gimana biar kamu percaya dengan perasaanku ke kamu? Ya, aku akui kalau aku nggak sengaja tampar kamu karena emosi. Tapi pria mana yang bisa tahan diri setelah istrinya selingkuh? Aku nggak pernah salahkan kamu karena hal itu. Gimana bisa kamu gunakan kejadian itu untuk sakitin aku? Kamu tahu nggak betapa hancurnya hati

  • Cinta yang Mekar di Malam Musim Semi   Bab 47

    Kantor itu mendadak diliputi keheningan. Yang tersisa hanyalah suara napas lembut mereka berdua. Seolah nggak seorang pun berani pecahkan ketenangan saat itu, dan nggak seorang pun berani jadi orang pertama yang buka suara. Mereka sama-sama takut sebuah mimpi indah akan pecah berkeping-keping.Hati Weni perlahan tenggelam. Sebenarnya, apa yang sedang dia harapkan? Orang yang selamatkan dia di daerah Takara yang nggak berpenghuni adalah Lukas. Orang yang selama ini kirim surat dengan dia juga Lukas. Dan orang yang akhirnya datang temui dia sambil bawa kenangan-kenangan berharga itu juga tetap Lukas. Dia nggak salah menikahi orang. Hanya saja, pria itu sudah nggak cinta dia lagi.“Aku ....”Peter baru saja hendak bicara ketika HP Weni tiba-tiba berdering.Weni tersenyum canggung.“Maaf, tadi aku cuma asal tanya. Aku angkat telepon sebentar.”Weni berbalik, ambil HP-nya, lalu jalan ke samping untuk jawab panggilan. Orang di seberang telepon cuma bilang beberapa kalimat sebelum sambungan t

  • Cinta yang Mekar di Malam Musim Semi   Bab 46

    Kelopak mata Peter yang tertunduk tutupi kilatan dingin di dasar matanya.“Kamu pikir itu mungkin?”Weni gelengkan kepalanya“Rasanya nggak mungkin. Kecuali aku dan orang lain .…”Sampai di situ, tiba-tiba dia ngerti. Kemungkinan besar baju-baju ini dibuat berdasarkan ukuran tubuh sosok pujaan lama yang selama ini tersimpan di hati Peter. Dia nggak hanya mirip dengan Nona Pujaan Lama itu dalam hal wajah, bahkan bentuk tubuh mereka pun serupa. Pantas saja setiap kali Peter terbawa suasana, pria itu selalu lingkarkan tangannya erat-erat di pinggangnya. Jangan-jangan, sebenarnya dia lagi mengenang seseorang dari masa lalu?Pikirkan hal itu, Weni merasa jauh lebih lega. Peter perhatikan ekspresi perempuan di hadapannya yang silih berganti, terkadang bingung, terkadang senang, lalu sesaat kemudian berubah jadi tatapan penuh sindiran.“Kamu lagi pikir apa sih?”Weni kibaskan tangannya dan segera alihkan pembicaraan.“Tehnya sudah dingin. Kamu nggak mau suruh sekretaris ganti dengan yang baru

  • Cinta yang Mekar di Malam Musim Semi   Bab 45

    Weni pikir, soal perselingkuhan, memang benar kalau sudah lakukan itu sekali, yang kedua akan terasa jauh lebih mudah. Nggak heran Lukas bisa begitu lihai dan tenang hadapi perempuan lain. Sebelumnya, setiap kali ciuman dengan Peter, Weni selalu merasa tegang sekaligus bersalah, seolah-olah ada seratus pasang mata yang sedang mengawasi mereka. Namun, sejak Peter kasih dia “pelajaran” waktu di ruang VIP Klub Malam Holowi, seolah-olah ada sesuatu dalam dirinya yang tiba-tiba terbuka.Saat ini, dia duduk di atas meja kerja Peter, tubuhnya dikekang erat dalam pelukan pria itu, sementara setiap jengkal udara di dalam paru-parunya seolah direnggut habis. Weni hampir nggak bisa napas. Yang lebih buat dia gugup, dari luar kantor masih terdengar suara langkah sepatu hak tinggi yang berlalu-lalang, sesekali diselingi suara orang bicara ....Semua suara itu terus mengetuk pertahanan moralnya yang rapuh. Namun, baru saja akal sehat dan rasa malunya sempat muncul sedikit, keduanya kembali ditenggel

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status