Share

Bab 8

Author: Yusni Anjani
“Selingkuh?!”

Weni nggak berani ceritakan soal kegugurannya. Kalau Minda sampai tahu, dengan sifatnya yang meledak-ledak, gadis itu pasti sudah ambil pisau dan cari Lukas untuk buat perhitungan. Namun, bahkan tanpa tahu seluruh kebenarannya, Minda sudah keluarkan HP-nya, berniat cari orang untuk hajar Lukas.

“Dasar orang nggak tahu diri! Nona besar ini sudah susah payah mulai suka sama dia hanya karena dia perlakukan kamu dengan baik, ternyata dia malah berani selingkuh! Baru nikah berapa lama, sih? Di pesta pernikahan, dia bahkan tepuk dadanya dan janji ke aku kalau dia nggak akan pernah biarkan kamu menderita sedikit pun. Janji yang dia ucapkan itu dianggap kentut saja, hah?! Dia benar-benar kira aku, Minda, ini orang yang bisa diinjak-injak begitu saja? Berani sakiti sahabatku, sampai ke ujung dunia pun aku bakal kejar dia!”

“Minda! Minda! Nggak usah gegabah!” Weni buru-buru tahan tangan Minda.

“Kalau kamu beneran suruh orang hajar dia, itu nggak akan selesaikan apa pun. Malah dia akan jadi waspada. Kalau dia manfaatkan kesempatan ini untuk pindahkan aset atau hancurkan bukti, aku bakalan nggak akan punya jalan keluar lagi.”

Minda mendengus marah. Napasnya memburu cukup lama sebelum akhirnya perlahan tenang.

“Sejak kecil kamu selalu punya pendirian. Aku akan dengarkan kamu. Jadi, apa rencanamu?”

Weni jawab, “Kenali dirimu dan kenali musuhmu, maka kamu bisa menangkan setiap pertempuran. Itu sebabnya aku minta bantuanmu. Aku harus tahu siapa wanita itu.”

“Oke. Serahkan ke aku.”

Bahkan ketika pergi, Minda masih terus ngomel. Seolah-olah berharap dia bisa kutuk Lukas sampai delapan belas generasi leluhurnya.

...

Tengah malam.

Ketika Weni tidur dalam keadaan setengah sadar, tiba-tiba dia rasakan hawa dingin di belakang tubuhnya. Dia terbangun dari mimpi buruk dan sadar kalau pinggangnya sedang dipeluk erat oleh seseorang.

“Sayang ... sayang ....”

Lukas terus panggil namanya sambil kecup tengkuknya sembarangan. Bau alkohol yang pekat selimuti keduanya. Weni segera tepis tangannya.

“Lepaskan aku!”

Weni buru-buru hendak bangkit, tetapi sebelum sempat duduk tegak, Lukas sudah tarik dia kembali ke dalam pelukannya.

“Weni, aku sudah lakukan itu. Asalkan bisa sama kamu, aku bersedia lakukan apa pun. Nggak peduli apa yang terjadi, aku cuma mau kamu. Weni ... Weni ....”

Lukas terus panggil namanya dengan suara pelo. Dia sudah terlalu mabuk untuk angkat kepalanya, hanya andalkan kekuatan tubuhnya untuk tekan Weni ke bawah. Weni merasa dirinya seperti ditarik oleh dua kekuatan yang berlawanan.

Percakapan Lukas dengan wanita dengan sebutan "Putri” kembali terlintas satu demi satu di benaknya. Anaknya yang telah tiada. Suaminya yang bermesraan dengan wanita lain. Semua itu buat perutnya mual hingga hampir muntah. Namun suara Lukas yang lembut dan terus merengek menyusup ke telinganya, bangkitkan kerinduan terdalam yang selama ini masih tersisa di hatinya. Weni teringat saat berusia delapan belas tahun, ketika dia jalan kaki menembus wilayah nggak berpenghuni. Saat nyawanya ada di ujung tanduk, suara yang terdengar di telinganya juga seperti ini.

“Weni, Weni, aku sudah ingat namamu. Ayo bertahan sedikit lagi.”

“Weni, buka mulutmu. Minum air sedikit lagi. Ayo bertahan hidup.”

Weni rasakan tangan Lukas sudah menyusup buka pakaian tidurnya. Sentuhan itu buat dia hampir muntah. Weni dorong tubuh Lukas sekuat tenaga.

“Lepaskan aku! Lukas, dasar bajingan! Lepaskan aku!”

Tangan besar Lukas bergerak liar di tubuhnya, sementara suaranya terdengar seperti hendak nangis.

“Weni, kamu milikku. Malam pertama kita sebagai pengantin baru seharusnya juga jadi milikku ....”

Tiba-tiba, beban di tubuh Weni menghilang. Lukas sudah dicampakkan ke lantai dan langsung nggak sadarkan diri.

Weni angkat wajahnya dengan panik. Tatapannya bertemu dengan sorot mata Peter yang dipenuhi amarah gelap yang susah ditekan.

“Kamu kenapa ....”

Belum sempat Weni selesaikan pertanyaannya, Peter sudah angkat tubuhnya dan bawa dia keluar dari kamar rumah sakit.

...

Udara malam itu terasa agak dingin. Weni menggigil ketika angin dari lorong rumah sakit menerpa tubuhnya. Lengan Peter sedikit mengerat. Tanpa berkata apa-apa, dia gendong Weni masuk ke lift dan bawa dia turun menuju parkiran. Yusin sudah buka pintu belakang mobil dan berdiri dengan tenang tunggu Peter masuk. Baru setelah Maybach hitam itu tinggalkan rumah sakit, Weni tanya, “Kita mau ke mana?”

Peter tetap diam. Wajahnya muram, dan suasana di dalam mobil terasa begitu menekan sampai buat orang sulit bernapas. Pada akhirnya, mobil berhenti di depan sebuah vila bergaya klasik yang berdiri sendiri.

Weni melihat dua kata di atas pintu.

“Mansion Mawar.”

Peter turun dari mobil dan melangkah masuk dengan langkah lebar. Yusin bukakan pintu belakang.

“Nona Weni, saya nggak akan antar Anda masuk.”

Weni menatap jemari kakinya yang memerah karena kedinginan. Dia ragu selama dua detik, kemudian jejakkan kaki telanjangnya di atas jalan yang tersusun dari batu-batu hijau dan ikuti Peter masuk ke dalam mansion.

Dari luar, bangunan itu tampak seperti kediaman klasik. Namun interiornya justru mewah, megah, dan modern. Dominan dengan warna krem dengan sentuhan emas muda sebagai pelengkap. Lampu gantung dengan desain artistik menjuntai berkelok-kelok dari lantai atas. Tangga spiral buat Weni seolah sedang berdiri di dalam labirin sebuah kastil dalam dongeng.

Langkah Weni kecil dan lambat. Saat ini, sosok Peter sudah nggak terlihat lagi. Dia hanya bisa berdiri kebingungan di tengah aula. Dua menit penuh berlalu sebelum akhirnya suara Peter terdengar dari belakang.

“Kamu datang ke sini untuk berdiri hukum dirimu sendiri?”

Weni berbalik dan lihat Peter baru saja tutup pintu sebuah ruangan. Di tangannya terdapat sebotol anggur merah. Begitu lihat kaki Weni yang tampak sangat putih pucat di bawah cahaya lampu, alisnya sedikit berkerut.

“Ke sofa.”

Weni duduk di sofa sambil memperhatikan Peter tuangkan anggur.

“Kamu kenapa marah?”

Peter mencibir.

“Bukankah kamu sangat pintar? Nggak bisa tebak?”

Weni jelaskan, “Aku nggak tahu dia masuk ketika aku lagi tidur. Aku coba dorong, tapi dia mabuk dan tenaganya terlalu besar ....”

Sementara Weni bicara, Peter sudah duduk di meja rendah di hadapannya. Dia menyesap anggur merah. Kegelapan di matanya sama sekali nggak berkurang. Peter menatap Weni seperti seorang pemburu awasi mangsanya, seolah ingin dengar alasan apa lagi yang akan keluar dari mulut wanita itu.

Weni jilat bibirnya yang kering, lalu berkata, “Dia hanya cium leherku sekali. Nggak ada yang lain. Aku nggak sengaja langgar kesepakatan.”

Peter sedikit condongkan tubuhnya, paksa Weni bersandar semakin dalam ke sofa hingga nggak ada lagi ruang untuk mundur. Sorot berbahaya terpancar dari matanya.

“Weni, apa kamu ngerti arti dari ‘nggak boleh lakukan kontak intim apa pun dengan dia’? Cuma cium leher sekali? Setelah kejadian semalam, aku pikir kita sudah capai kesepakatan. Dia nggak boleh sentuh kamu. Satu jari pun nggak boleh. Ngerti?”

Tatapan Peter yang setajam pisau jatuh ke leher Weni. Seketika itu, Weni rasakan hawa dingin menjalar dari ujung kepala hingga ujung kaki. Rasanya kepalanya sendiri pun hampir nggak bisa dipertahankan. Untuk pertama kalinya, Weni merasa benar-benar takut.

Baru setelah pancing kemarahan Peter, Weni sadar kalau rasa memiliki pria ini jauh lebih kuat daripada yang pernah dia bayangkan.

“Aku akan bersihkan.”

Weni bangkit berdiri, kemudian tanya, “Di mana kamar mandinya?”

“Lantai tiga.”

Weni naik ke lantai tiga. Jelas sekali lantai ini merupakan area pribadi sang pemilik rumah. Selain ruang keluarga, terdapat kamar tidur luas yang terhubung dengan ruang ganti, serta kamar mandi lengkap dengan bathtub.

Weni dorong pintu kamar mandi. Hal pertama yang dilihatnya adalah jubah mandi wanita berwarna merah muda pucat yang tergantung tepat di rak di depan pintu. Terang-terangan. Berani. Sama seperti Peter.

Weni tarik ujung bajunya, kemudian tanggalkan pakaiannya dan masuk ke kamar mandi. Air hangat mengalir basuh tubuhnya. Weni pejamkan mata. Yang tersisa di telinganya hanyalah suara air yang mengalir deras. Uap panas perlahan penuhi ruangan, tutupi semua bayangan tentang cinta dan kehidupan pernikahan yang selama ini berputar di kepalanya, hingga satu demi satu menghilang. Masa lalu sudah hancur berantakan. Untuk apa seorang wanita masih pertahankan reputasi sebagai istri baik dan bermoral, lalu gertakkan gigi telan semua penderitaan seorang diri?

Tiba-tiba, punggungnya terasa hangat. Sebuah telapak tangan pria lingkari pinggangnya, seolah perlahan ukur lekuk tubuhnya dari satu sisi ke sisi lainnya.

“Weni.” Peter panggil namanya.

Dalam suasana yang samar dan ambigu, suara itu terasa begitu akrab.

“Hmm?”

“Maksudku tadi, kamu masih punya kesempatan untuk menyesal. Begitu jadi wanitaku, kamu nggak akan bisa kembali lagi. Mulai saat ini, kamu cuma bisa jadi milikku.”

Weni berbalik. Di balik kabut uap panas, tatapannya bertemu dengan mata Peter yang dalam dan pekat. Sorot matanya yang tajam dan dingin dipenuhi kedalaman yang sulit ditebak. Ada bara yang ditekan kuat-kuat di dalamnya, bercampur dengan hasrat dan rasa memiliki yang begitu intens, seolah-olah ingin bakar dia hidup-hidup.

Sebuah keraguan kecil melintas di benak Weni. Sebenarnya, siapa yang sedang tarik siapa untuk jatuh bersama ke dalam jurang? Namun dia nggak sempat pikirkan lebih jauh lagi. Peter sudah tekan dia ke permukaan kaca yang dingin.

“Menyesal atau panggil namaku. Kamu masih punya satu kesempatan lagi untuk pilih.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Cinta yang Mekar di Malam Musim Semi   Bab 50

    Namun, pada saat seperti ini Weni justru ajukan usulan untuk pergi bulan madu, Lukas nggak punya alasan untuk tolak itu. Weni duduk di tepi ranjang, lalu dengan inisiatif sendiri genggam tangan Lukas.“Kamu baru alami kecelakaan, aku juga sampai dirawat di rumah sakit. Beberapa hari ini aku juga sudah cukup buat keributan, mulai dari hambur-hamburkan uangmu sampai mati-matian cari cara untuk cerai. Rasanya sudah cukup ngerepotin. Kalau dipikir baik-baik, setelah kita nikah, kita belum pernah benar-benar nikmati waktu bersama. Masa-masa kita pacaran waktu kuliah rasanya jauh lebih indah dibanding kehidupan pernikahan kita. Kamu benar. Dalam sebuah pernikahan, pertengkaran dan masalah memang nggak bisa dihindari. Hanya saja, mungkin kita belum benar-benar siap hadapi itu. Lukas, siapa tahu kali ini kita bisa temukan kembali perasaan yang dulu pernah kita miliki?”Nada suara Weni lembut, tetapi juga siratkan sedikit rasa sedih dan terluka. Kalimat-kalimat itu seketika mengenai sudut terda

  • Cinta yang Mekar di Malam Musim Semi   Bab 49

    Dokumen itu cantumkan secara rinci seluruh aset yang saat ini dimiliki Lukas. Di dalamnya terdapat saldo rekening di berbagai bank, dana investasi, serta dua unit toko yang terdaftar atas namanya. Namun, satu-satunya yang nggak tercantum adalah rumah di Sentori.Pada bagian bawah dokumen, terdapat pula ketentuan yang menyatakan kalau selama pernikahan mereka masih berlangsung, seluruh penghasilan bulanan Lukas akan jadi hak Weni untuk dimiliki dan digunakan.Weni kernyitkan keningnya, hatinya jadi sangat bingung.“Maksudmu, kamu mau pakai semua uang ini untuk beli aku, biar aku tetap jadi istrimu?”Lukas menghela napas berat.“Weni, emangnya kamu harus bilang semuanya dengan begitu menyakitkan seperti ini? Kamu itu istriku. Sekarang aku bersedia serahkan seluruh kendali keuangan keluarga ke kamu. Aku cuma mau buat kamu bahagia. Jangankan beli mobil balap, meskipun kamu mau tebarkan semua uang ini di jalan pun, aku nggak bakal bilang apa-apa. Aku bersedia pakai semua yang aku miliki unt

  • Cinta yang Mekar di Malam Musim Semi   Bab 48

    “Lukas, kamu mau aku tetap di sisimu biar suatu hari nanti kamu bisa bunuh aku diam-diam tanpa seorang pun tahu kan, terus kamu mau pakai uang ganti rugi itu untuk hidupi selingkuhanmu?”“Kamu bilang apa?!”Kali ini Lukas benar-benar tampak marah. Dia tutupi dadanya sambil terbatuk-batuk hebat, sampai wajahnya berubah merah keunguan karena tahan sesak. Kalau ini terjadi dulu, Weni pasti sudah buru-buru hampiri untuk periksa keadaannya dan tenangkan emosinya. Tapi sekarang, Weni hanya berdiri di sana dan menatap penderitaannya dengan tatapan dingin, tanpa sedikit pun rasa iba.Beberapa menit kemudian, Lukas akhirnya berhasil tenangkan napasnya.“Weni, sebenarnya aku harus gimana biar kamu percaya dengan perasaanku ke kamu? Ya, aku akui kalau aku nggak sengaja tampar kamu karena emosi. Tapi pria mana yang bisa tahan diri setelah istrinya selingkuh? Aku nggak pernah salahkan kamu karena hal itu. Gimana bisa kamu gunakan kejadian itu untuk sakitin aku? Kamu tahu nggak betapa hancurnya hati

  • Cinta yang Mekar di Malam Musim Semi   Bab 47

    Kantor itu mendadak diliputi keheningan. Yang tersisa hanyalah suara napas lembut mereka berdua. Seolah nggak seorang pun berani pecahkan ketenangan saat itu, dan nggak seorang pun berani jadi orang pertama yang buka suara. Mereka sama-sama takut sebuah mimpi indah akan pecah berkeping-keping.Hati Weni perlahan tenggelam. Sebenarnya, apa yang sedang dia harapkan? Orang yang selamatkan dia di daerah Takara yang nggak berpenghuni adalah Lukas. Orang yang selama ini kirim surat dengan dia juga Lukas. Dan orang yang akhirnya datang temui dia sambil bawa kenangan-kenangan berharga itu juga tetap Lukas. Dia nggak salah menikahi orang. Hanya saja, pria itu sudah nggak cinta dia lagi.“Aku ....”Peter baru saja hendak bicara ketika HP Weni tiba-tiba berdering.Weni tersenyum canggung.“Maaf, tadi aku cuma asal tanya. Aku angkat telepon sebentar.”Weni berbalik, ambil HP-nya, lalu jalan ke samping untuk jawab panggilan. Orang di seberang telepon cuma bilang beberapa kalimat sebelum sambungan t

  • Cinta yang Mekar di Malam Musim Semi   Bab 46

    Kelopak mata Peter yang tertunduk tutupi kilatan dingin di dasar matanya.“Kamu pikir itu mungkin?”Weni gelengkan kepalanya“Rasanya nggak mungkin. Kecuali aku dan orang lain .…”Sampai di situ, tiba-tiba dia ngerti. Kemungkinan besar baju-baju ini dibuat berdasarkan ukuran tubuh sosok pujaan lama yang selama ini tersimpan di hati Peter. Dia nggak hanya mirip dengan Nona Pujaan Lama itu dalam hal wajah, bahkan bentuk tubuh mereka pun serupa. Pantas saja setiap kali Peter terbawa suasana, pria itu selalu lingkarkan tangannya erat-erat di pinggangnya. Jangan-jangan, sebenarnya dia lagi mengenang seseorang dari masa lalu?Pikirkan hal itu, Weni merasa jauh lebih lega. Peter perhatikan ekspresi perempuan di hadapannya yang silih berganti, terkadang bingung, terkadang senang, lalu sesaat kemudian berubah jadi tatapan penuh sindiran.“Kamu lagi pikir apa sih?”Weni kibaskan tangannya dan segera alihkan pembicaraan.“Tehnya sudah dingin. Kamu nggak mau suruh sekretaris ganti dengan yang baru

  • Cinta yang Mekar di Malam Musim Semi   Bab 45

    Weni pikir, soal perselingkuhan, memang benar kalau sudah lakukan itu sekali, yang kedua akan terasa jauh lebih mudah. Nggak heran Lukas bisa begitu lihai dan tenang hadapi perempuan lain. Sebelumnya, setiap kali ciuman dengan Peter, Weni selalu merasa tegang sekaligus bersalah, seolah-olah ada seratus pasang mata yang sedang mengawasi mereka. Namun, sejak Peter kasih dia “pelajaran” waktu di ruang VIP Klub Malam Holowi, seolah-olah ada sesuatu dalam dirinya yang tiba-tiba terbuka.Saat ini, dia duduk di atas meja kerja Peter, tubuhnya dikekang erat dalam pelukan pria itu, sementara setiap jengkal udara di dalam paru-parunya seolah direnggut habis. Weni hampir nggak bisa napas. Yang lebih buat dia gugup, dari luar kantor masih terdengar suara langkah sepatu hak tinggi yang berlalu-lalang, sesekali diselingi suara orang bicara ....Semua suara itu terus mengetuk pertahanan moralnya yang rapuh. Namun, baru saja akal sehat dan rasa malunya sempat muncul sedikit, keduanya kembali ditenggel

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status