MasukPertanyaan sederhana yang terucap dari bibir Donovan berhasil membuat Adven terdiam, memikirkan kalimat apa yang harus dia sampaikan tanpa membuat Donovan sakit hati ataupun bertanya yang kedua kalinya dimasa depan nanti.Hubungan mereka terlalu rumit untuk diuraikan hanya dengan sebuah penjelasan..Jujur saja, Adven sendiri masih kesulitan menerima fakta bahwa Donovan adalah adiknya, anak yang menjadi penyebab gagal pernikahannya dengan Arumy lima tahun lalu, biang dari penderitaan semua orang.Jika Adven saja kesulitan menerima kebenarannya, apalagi Donovan yang masih kecil dan tidak tahu apa-apa.Arumy boleh saja mencatatkan diri sebagai ibu tunggal Donovan, tetapi asal usulnya akan tetap menjadi pertanyaan besar, terutama ayah kandungnya.Bukan salah Donovan jika dia bertanya alasan keluarganya tercerai berai. Untuk anak kecil, keluarga adalah sekelompok orang yang tumbuh bersama di rumah yang sama. Dulu, sewaktu kecil, Adven pun selalu mempertanyakan alasan kakaknya tinggal ter
Adven menelan salivanya dengan kesulitan, dengan hati-hati pria itu melirik Donovan yang bereaksi kebingungan, tidak memahami ucapan Michaelin.Adven heran, bisa-bisanya anak sekecil Donovan dipercayakan untuk diasuh oleh lelaki berkepribadian langka seperti Michaelin. Apa saja yang sudah diajarkan pria itu pada Donovan selama dua minggu ini selama semua orang sibuk dengan urusan masing-masing?Adven memang tidak dekat dengan Donovan, masih ada perasaan yang mengganjal dihatinya setiap kali ingat bahwa anak itu adalah adiknya hasil dari perselingkuhan. Bukan berarti Adven sudah tidak peduli lagi dengannya.“Kau sudah gila? Jangan sembarangan bicara saat di depan anak kecil,” peringat Adven menahan bentakan.“Paman jangan khawatir, sesungguhnya Paman Michaelin baik dan keren,” bela Donovan berhati-hati, dan seketika itu juga Michaelin langsung mengangkat wajahnya dengan angkuh.“Dia tidak mengajarimu hal-hal buruk kan?” tanya Adven memastikan.Seketika Donovan menggeleng dengan tawa ya
Donovan memeluk bahu Adven dengan erat. Sudah sangat lama mereka tidak terlibat interaksi, Donovan senang jika Adven masih bersedia ramah padanya sampai menggendongnya untuk pertama kali, berbeda dengan Michaelin yang lebih suka menjinjingnya seperti sekantung belanjaan.Bibir mungil Donovan sedikit melengkung, mengukir senyuman samar, anak itu tidak dapat menyembunyikan percikan kesenangan mengingat bahwa Adven adalah kakaknya, sama seperti Bjorn.Melalui ekor matanya, Donovan diam-diam melirik Adven yang tengah mengawasi gerak-gerik Arumy.Entah mengapa, sikapnya mengingatkan Donovan pada Benedic yang telah lama tidak dia jumpai.‘Apa karena paman Adven, saudaranya ibu ya?’ batinnya berbicara.Tubuh Donovan terayun begitu mudah, kembali menapaki lantai.Arumy mendekati ranjang, cukup lama dia diam sambil menahan denyutan sakit yang kembali terasa menusuk-nusuk kepala.“Michaelin..” panggil Arumy terputus tidak dapat melanjutkan perkataannya akibat telinganya berdenging.Saat nama Mi
Tyler membeku, tatapannya terpaku pada Arumy yang telah memaafkan sekaligus menolak dirinya tanpa ragu, tanpa menangis. Suaranya yang tidak bergetar dan matanya yang penuh keyakinan adalah puncak yang paling menyakitkan untuk Tyler, memperjelas tentang Arumy yang sudah melewati segalanya sendirian.Pupil mata Tyler memanas menahan tangisan, lututnya jatuh ke lantai kehilangan tenaga. Batinnya bertanya, jasa apa yang pernah Tyler lakukan pada putrinya selama hidup?Setelah bercerai dengan Sunny, Tyler tidak pernah memberi Arumy kasih sayang apalagi nafkah, bertanya kabarpun tidak pernah, bahkan dia melupakan wajah putrinya saat mereka kembali berjumpa.Dua tahun Arumy hidup seatap dengannya, tapi Arumy seperti orang asing yang harus membayar uang sewa tinggal, dengan dalih Tyler melakukannya karena tidak sudi memberikan apapun pada Donovan.Jadi kebaikan apa yang pernah Tyler berikan pada putrinya? Budi baik pun Tyler tidak pernah memberikannya! “Arumy…” panggil Tyler pecah, merasaka
Kebosanan mengungkung pikiran Arumy..Setiap kali matanya terbuka bangun dari tidur, helaan napas frustasi langsung terdengar dari bibirnya. Dinding rumah sakit selalu menjadi pemandangan pertama yang harus dia lihat, aroma obat-obatan begitu memuakan penciuman, ketergantungannya pada bantuan orang lain membuatnya merasa tidak berguna, kesulitannya berbicara dan terkadang tidak nyambung saat berkomunikasi membuatnya rendah diri.Kemarahan menggelayuti hatinya setiap kali ingat bahwa kini ada janin dalam perutnya yang melarang Arumy untuk menyerah, memaksa Arumy untuk bangkit menghadapi ketidak pastian, akhir apa yang sebenarnya akan Tuhan berikan kepadanya? Jika memang benar usianya masih panjang, kehidupan macam apa yang harus Arumy jalani selanjutnya?Perutnya akan membesar dengan seiring berjalannya waktu, akan ada seorang anak yang harus Arumy pertanggung jawabkan kehidupannya, kesehatannya, kebahagiaannya, masa depannya dan kesejahtraannya.Jawaban apa yang akan Arumy sampaika
Wajah Bjorn sedikit terangkat begitu dia lihat Hansen masuk ke dalam ruangan dengan kedua tangan diborgol mengenakan pakaian tahanan. Wajah Hansen tampak sangat terlihat tirus, cekungan dibawah mata menghitam, rambutnya yang digunduli sedikit memutih.Bjorn sudah dengar tentang apa saja yang selama ini Hansen lalui selama dia berada dalam penjara. Kepandaian Hansen dalam bicara setelah puluhan tahun lamanya menjadi pengacara ternyata sama sekali tidak berguna ketika dia bergabung dengan berbagai jenis para criminal di dalam sel. Di hadapan para tahanan lain, Hansen hanyalah orang munafik.Selama Hansen dipenjara, Bjorn tetap bersikap hati-hati mengingat Hansen memiliki koneksi khusus dengan para petinggi kepolisian dan orang-orang berpengaruh lainnya. Masih ada orang-orang yang memiliki solidaritas pada Hansen, terutama para penjahat yang dulu pernah Hansen selamatkan dari hukuman berat.Sesama penjahat, mereka harus saling melindungi bukan?Setelah lebih dari satu minggu lamanya,
Napas Arumy tertahan ditenggorokan, kulitnya meremang sakit mendengar ucapan Adven yang langsung memberinya ancaman pengekangan meski sekarang Adven sudah tahu, alasan Arumy ingin pergi karena takut dengan keluarganya. Inilah yang Arumy khawatirakan sejak awal. Sejujur apapun Arumy mengaku, pada ak
Arumy melangkah tertatih menyusuri dinding sebagai pegangan. Sepasang mata cokelat itu terlihat sendu melukiskan duka, setiap langkah yang dia susuri menenggelamkannya pada kenangan semalam yang telah Adven ukir.Arumy pikir dia akan mati semalam..Dan ketika dia kembali membuka matanya di pagi har
Melihat pintu rumah yang terbuka lebih lebar, Donovan masuk dengan perasaan was-was, ia takut Adven akan berbuat jahat dan berakhir mengecewakannya. Sama seperti Benedic, yang telah ingkar dari janjinya..Ibunya mengatakan bahwa Donovan tidak boleh berharap kepada siapapun, harapan hanya akan men
Adven berdiri dalam ketegangan, gejolak nadinya berdenyut panas terbayang-bayang wajah Donovan yang begitu dia harapkan sebagai anaknya, kini telah pupus dan berganti oleh bayangan menakutkan bawa Bjorn lah ayahnya.Rasa sakit yang Adven terima terasa lebih hebat dari sekadar ditinggal di pelaminan







