MasukPermukaan air di kolam bergerak lembut dalam sapuan tangan Donovan, anak itu tengah duduk dipinggirannya, memakan sepotong kue sambil menikmati suasana nyaman yang tidak pernah sekalipun ia alami dalam hidupnya, bisa bebas bermain, tidak perlu mendengarkan teriakan yang memekakan telinga, tidak perlu lagi bersembunyi saat tua rumah datang.Perubahan yang Donovan terima terlalu besar, sampai terkadang masih membuatnya melamun bingung, berpikir bahwa itu adalah mimpi….Donovan masih meminta izin kepada siapapun yang dilihatnya ketika akan menyentuh sesuatu yang telah menarik perhatian, menanyakan setiap ruang yang boleh dia masuki hingga aturan-aturan yang harus diingat.Sepanjang hari ini, Donovan berkeliling villa mencari Adven dan Bjorn hanya untuk melihat reaksi ramah mereka saat namanya dipanggil.Sedikit senyuman dan tatapan hangat mereka membuat Donovan bersemangat.Donovan mulai terbaring menelungkup di pinggiran kolam, memperhatikan poodlenya yang lelap tidur dibawa sisa-sisa c
Suara deburan ombak menyelimuti keterdiaman Adven yang tidak dapat menampik dengan tegas tuduhan Bjorn tentang apa yang ada dipikirannya.Memang benar, setelah tahu Arumy mengandung, dia berharap Arumy bisa kembali kepadanya dan mereka mulai segalanya dari awal sambil menantikan kelahiran anak yang tengah Arumy kandung.Apakah harapan baik itu salah? Dimana letak kesalahannya? Apa mungkin, Bjorn bicara demikian karena kecewa, kehamilan Arumy membuatnya tidak memiliki kesempatan apapun lagi hingga tidak lagi bisa angkuh untuk mengatur apapun lagi tentang hidup Arumy.Kepulan asap bergerak di udara menghalangi ekspresi dingin di wajah Bjorn. “Rumy sudah memilih untuk tinggal bersamamu, dia juga sudah mengandung anakmu. Kau hanya tinggal mengurusnya dengan baik. Bukankah dengan begitu masalah sudah selesai?”Kebingungan mulai terlihat dimata Adven, ucapan Bjorn terasa begitu dingin tidak protective seperti biasanya. Rasanya.. tidak masuk akal untuk pria seambisius Bjorn mengalah begit
“Temuilah ibumu,” bisik Bjorn mendorong lembut bahu Donovan agar pergi.Donovan lihat Bjorn dan Adven bergantian sebelum akhirnya pergi memasukan poodlenya ke dalam kandang terlebih dahulu, lalu meninggalkan tempat itu untuk berjumpa dengan Arumy.Di depan pintu kamar Arumy, Donovan kembali menoleh, melihat kedua kakaknya dengan tatapan sendu. Percakapannya dengan Bjorn belum selesai, Donovan belum tahu mengapa Bjorn harus pergi begitu cepat padahal ada banyak hal yang ingin Donovan lakukan bersama Bjorn maupun Adven, salah satunya merasakan moment sarapan bersama. Donovan ingin duduk diantara mereka yang berbicara akrab meski Donovan tak memahami apa yang dibahas.Apakah harapan itu masih mustahil untuknya?Donovan mendorong pintu kamar dan melihat Arumy tengah duduk di kursi roda menghadap keluar. Langkah Donovan sempat tertahan karena terkejut melihat ada sesuatu yang berubah dengan ibuny.Ragu-ragu Donovan mendekat, matanya mulai terbuka lebar tak berkedip. “Ibu.”Suara lembut y
Kerutan samar langsung menghiasi kening Adven. Pertanyaan Arumy sama sekali tidak biasa.. sederhana namun jika jawabannya tidak sesuai dengan apa yang Arumy harapkan, maka akan mempengaruhi rasa percaya diri, menimbulkan tekanan ditengah ketidak pastian.Jari-jari Adven bergerak menurun, mengusap wajah Arumy diantara rambut basahnya, dipandanginya sepasang irish cokelat mata Arumy yang berkabut oleh kesedihan menantikan jawaban.Masalahnya, kenapa Arumy bertanya hal itu?Baru semalam Adven dengar kabar bahagia bahwa dia akan menjadi seorang ayah, tidak mungkin Adven langsung memikirkan hal-hal buruk.Adven kembali menarik wajah Arumy dan mengecup pipinya sekilas. “Tentu saja, semua anak itu berharga Rumy. Aku tidak akan pernah menjadi seperti ayahku,” bisik Adven tanpa keraguan.Sudut bibir Arumy terangkat pelan, untuk pertama kalinya akhirnya Adven berhasil membuatnya tersenyum lega. Sedikit dukungan cukup penting bagi Arumy yang tengah berada di ketidak pastian kemampuan tubuhnya
Dengan bantuan tongkat, Arumy bergerak sedikit demi sedikit di dalam kamar yang telah disediakan khusus untuknya. Adven telah menyediakn kursi di setiap sudut tempat agar Arumy bisa duduk saat lelah, sudut-sudut benda tajam tertutup silicon untuk menghindari kejadian buruk.Adven sempat membicarakan perawat untuknya, namun Arumy menolak untuk menerima lebih banyak kebaikan yang mungkin bisa membawanya pada masalah. Arumy sendiri ingin mandiri dengan belajar beraktivitas sendirian agar bisa melatih otot dan ingatannya yang terkadang lupa beberapa hal begitu saja.Dalam keadaan telanjang, Arumy masuk ke dalam bilik shower hendak mandi. Berkali-kali Arumy mengatur napas, mengumpulkan kembali kekuatan yang telah dia habiskan untuk berjalan. Pandangan Arumy terkunci pada rak di sudut ruangan kecil itu, tersusun rapi botol body wash, body scrub, shower oil hingga shampoo.Botol-botol itu.. sama persis seperti barang lima tahun yang sering Arumy gunakan saat dia tinggal bersama dengan Adve
“Prisila ada apa? Kau baik-baik saja kan?” Telinga Prisila berdengung tidak dapat mendengarkan apapun suara temannya yang berkali-kali bertanya. Marah dan malu menjadi satu.. dan kini Prisila berdiri diantara harga diri atau menyelamatkan diri. Kepala Prisila mulai berdenyut sakit menghadapi harga diri yang kini harus dia relakan jatuh hanya karena berurusan dengan anak haram keluarga Nathaneil. Prisila tidak mungkin tetap mempertahankan egonya, sementara Bjorn bukanlah orang yang suka main-main. Dan pada akhirnya, dia harus menanggung malu dihadapan teman-temannya dan orang sekitarnya dibandingkan harus menanggung malu dihadapan jutaan orang yang bisa menonton skandal asusilanya dengan Martin. Dengan napas tidak beraturan, jantung berdebar kencang hingga urat nadi di keningnya bermunculan dipermukaan kulit, dengan sangat berat akhirnya Prisila membungkuk dengan rendah di hadapan Donovan. Bjorn tersenyum puas melihat bagaimana Prisila langsung tunduk hanya dengan satu anca
Suara Donovan yang memanggil, menyentak keterdiaman Adven yang tengah tenggelam dalam lamunan menyakitkan. Pria itu mengepalkan tangannya tanpa bisa berpikir jernih sejenakpun atas yang saat ini sedang terjadi, kehadiran Donovan di depannya sampai berubah menjadi samar dipandangan.Segalanya terasa
Makanan yang dihidangkan telah Donovan habiskan tanpa sisa, anak itu meneguk minumannya dengan mata berbinar, lidahnya menjilati sisa-sisa manis yang tertinggal di bibir.Rasa iba yang sempat membuat Adven berbasa-basi menawarkannya sedikit kebaikan agar Donovan aman, tanpa terasa justru telah memb
Beberapa detik Arumy diam terpaku, tawaran Benedic seperti sebuah uluran tangan yang menawarkan keselamatan hidup untuknya. Arumy menggeleng dengan berat, ia melepaskan tangannya dari genggaman Benedic. Dia sama sekali tidak setuju dengan tawaran Benedic yang implusif, menganggap bahwa pernikahan
Ledakan amarah Arumy membuat Tina beranjak seketika dari kursinya. Ada dua orang pekerja salon disisinya, jika mereka menyaksikan keributan yang kini terjadi, mereka pasti akan menggosipkan Tina kepada teman-teman sosialitanya lain yang mereka layani.Tina segera menarik Charlie yang tengah menang







