Se connecterProses mengurus kepulangan Arumy berjalan dengan cepat, seperti apa yang Bjorn katakan, pria itu menepati ucapannya dengan pulang bersama, berakting bahwa hubungannya dengan Adven baik-baik saja.Untuk pertama kalinya, Arumy bisa menyaksikan Bjorn dan Adven bisa begitu tenang saat berdekatan.Arumy tahu, ketenangan itu terjadi karena dipaksakan, tetapi cara mereka yang saling mengalah itu cukup menghargai keberadaan Donovan yang masih terlau kecil untuk bisa memahami keadaan.Donovan…Melalui sudut matanya, Arumy diam-diam melihat Donovan yang berjalan disisinya tanpa senyuman berserinya lagi. Sorot matanya seperti sedang menyimpan suatu beban yang tengah dipikirkan.Sejak semalam, Donovan adalah orang yang paling bersemangat menantikan pulang bersama ketiga kakaknya. Tapi mengapa kini dia begitu pendiam? Bahkan matanya tidak menunjukan binar kebahagiaan lagi. Ada apa sebenarnya terjadi dengan Donovan? Biasanya Donovan selalu bercerita apapun yang terjadi, tapi kali ini dia tidak sep
Kembali ke ruangannya, Arumy lihat Donovan tengah duduk diam di sudut sofa. Dua jam ditinggalkan, ruangan itu telah rapi, semua barang-barang tertata, ranjang tempat Arumy tidur pun rapi bersama selimut yang terlipat.Tanpa perlu ditanyakan siapa yang melakukannya, Arumy sudah tahu itu pasti karena Donovan.Tumbuh di rumah Tyler dan menerima didikan yang kasar juga keras, justru melunakan pribadi Donovan menjadi anak yang berempati tinggi. Setiap kali Donovan saksikan Arumy terluka dan kesulitan di rumah, Donovan selalu berusaha menjadi orang yang paling baik pada Arumy agar ibunya tidak merasa sendirian. Begitupun sebaliknya, disaat semua orang menolak Donovan, Arumy berusaha menjadi orang paling baik untuk Donova agar anak itu tidak merasa terbuang.Mereka hanyalah dua jiwa yang terluka, dua anak yang mencoba saling melengkapi setelah dipatahkan oleh dunia.“Kau mau berbaring?” tanya Bjorn.Arumy menggeleng samar, kepalanya semakin sakit jika terlalu banyak tidur. Pikiran Arumy sen
Di sisa malamnya, Adven telah menghabiskan seluruh waktunya untuk menyelesaikan pekerjaan. Saat pagi tiba, dia memanggil pekerja agar mendekorasi kamar untuk Donovan tempati.Adven harus menyiapkan segalanya dengan sempurna, karena kesempatan kedua yang dia miliki bisa saja menjadi kesempatan terakhir yang Arumy berikan.Deringan telephone masuk menahan langkah Adven yang baru keluar keluar dari kendaraannya. Melihat layar hadpone yang tertera nama seorang polisi yang menangani kasus Hansen, seketika Adven memutar bola mata.Ada apa lagi sekarang? Adven sudah meminta Martin untuk kembali dari luar negeri dan mengunjungi Hansen meski itu hanya sebatas formalitas saja, Adven sendiri sudah tidak sudi untuk bertemu dengan Hansen.Dengan terpaksa Adven mengusap layar, menerima panggilan telephone itu.“Selamat pagi, Pak Adven,” sapa seseorang yang mulai Adven kenal hanya dengan mendengar suaranya.“Selamat pagi. Ada yang bisa saya bantu, Pak?”“Saya memiliki kabar penting untuk disampaik
Sejak kematian Anna, hubungan Prisila semakin terombang-ambing tidak jelas dengan Adven. Jangankan untuk bertemu empat mata, berbicara di telephone saja Adven sulit untuk dihubungi.Tampaknya, bagi Adven, pertungan yang pernah terjadi seperti sudah tidak ada artinya lagi sejak dia temukan Arumy.Adven hilang seperti pengecut, mencerminkan diri Hansen yang tidak mampu setia dengan satu wanita. Sialnya, Prisila tetap mencintainya meski dia jelas-jelas terluka.Berminggu-minggu Prisila bersabar, namun sabarnya dibalas dengan penghinaan yang mulai memantik kebencian.Bagaimana mungkin… Adven menghilang begitu saja, meninggalkannya seperti melangkah di jalanan hanya menyisakan bayangan.Bahkan, berjalan di jalanan hancur pun masih memiliki pemandangan yang bisa diingat saat melaluinya! Tapi Adven tidak!Apakah pantas Prisila diperlakukan seperti ini? Bisa-bisanya.. setelah berkabung dari kematian Anna, Adven langsung pergi untuk mencurahkan seluruh waktunya untuk merawat Arumy, tapi tidak
Tangan Arumy berkeringat dingin, bibir pucatnya terbuka mencari-cari udara ditengah sesak yang memenuhi dada. Jawaban dari dokter telah membuatnya kembali berkecil hati.Disaat Arumy mencoba mengoptimiskan diri, meyakini bahwa semua akan baik-baik saja, meski badai hidup telah menghantam, membawanya terombang-ambing hingga hampir menenggelamkan, cobaan lain justru datang menyusul, menimpa tanpa jeda.Hidup kembali mengujinya, bahkan sebelum ia memulai apapun untuk bangkit.Arumy menoleh, memandangi bulu mata lentik Bjorn yang membingkai iris birunya. Tatapannya lurus dan dingin, namun tangannya yang gemetar dan terkepal erat di bawah meja mengkhianati apa yang ia tunjukan.Arumy pengakuan apapun, Arumy bisa merasakan kekhawatirannya. “Kapan waktu yang tepat untuknya operasi?” tanya Bjorn.“Selama Nona Arumy tidak mengeluh mual, gangguan bicara, dan sakit kepala berlebihan. Operasi bisa dipersiapkan, Pak.”“Dokter…” Arumy menarik napas dalam-dalam, melanjutkan apa yang ingin ia ucap
Detak samar suara jam terdengar, mata Hansen terbuka lebar memandangi waktu yang telah menujukan pukul dua malam.Hansen tidak dapat tidur sejenak pun, semakin dekat waktu ke pagi, hatinya semakin gelisah tidak sanggup melanjutkan kehidupannya di hari esok.Hansen tidak hanya malu untuk berjumpa dengan orang-orang yang dikenalnya, dia juga malu untuk berjumpa tahanan lain yang pasti akan mengolok-oloknya selama di dalam sel.Helaan napas berat terdengar dari bibir Hansen, pria paruh baya itu menutupi wajahnya dalam lipatan tangan. Memikirkan alasan untuk dirinya tetap bertahan.Sudah sangat jelas, Hansen dibuang oleh anak-anaknya, dia juga akan dipenjara dalam waktu lama, masa tuanya akan berada dalam kemiskinan.Semuanya tentang penderitaan…“Untuk apa hidup jika sudah tahu akan menderita ditempat sampah?” lirih Hansen bertanya pada dirinya sendiri.Dengan berat Hansen mulai bangkit, dia melihat kakinya yang tidak lagi diborgol seperti saat pertama kali dia ditangkap. Pandangan Hanse
Kendaraan melaju sejajar. Dibalik jendela kaca hitam yang tidak tembus pandang itu, wajah Adven terangkat dan diam-diam memperhatikan Arumy yang melamun di tengah orang berdesakan, Arumy begitu acuh bahkan saat seorang pria berdiri begitu dekat dan tidak berhenti memperhatikannya.Adven membuang mu
Wajah Prisila berubah pucat, kata-kata tidak pantas yang Borjn ucapkan adalah kebenaran yang tidak dapat disangkal. Anna menggenggam permukaan pakaiannya menyalurkan kekesalan. Anna segan untuk menegur ketidak sopanan Bjorn, bukan hanya karena statusnya sebagai anak tiri, hubungan mereka juga ti
Tyler menjatuhkan tubuhnya ke kursi, dengan kasar dia melepas dasi yang masih terpasang di leher. Tanganya yang lain, yang telah menampar Arumy tampak terkepal merasakan sisa-sisa penyesalan. Kata-kata Arumy terngiang di kepala, membangkitkan kembali kenangan mereka saat pertama kali bertemu setel
Tyler yang baru saja kembali pulang bekerja dan memarkirkan mobil, terburu-buru keluar dari kendaraannya begitu mendengar suara keributan yang sangat keras hingga bisa dia dengar dari dalam rumah.“Apa mereka tidak bisa hidup dengan tenang, kenapa bising sekali,” bisik Tyler menggerutu, pasalnya ji







