LOGINKembali ke ruangannya, Arumy lihat Donovan tengah duduk diam di sudut sofa. Dua jam ditinggalkan, ruangan itu telah rapi, semua barang-barang tertata, ranjang tempat Arumy tidur pun rapi bersama selimut yang terlipat.Tanpa perlu ditanyakan siapa yang melakukannya, Arumy sudah tahu itu pasti karena Donovan.Tumbuh di rumah Tyler dan menerima didikan yang kasar juga keras, justru melunakan pribadi Donovan menjadi anak yang berempati tinggi. Setiap kali Donovan saksikan Arumy terluka dan kesulitan di rumah, Donovan selalu berusaha menjadi orang yang paling baik pada Arumy agar ibunya tidak merasa sendirian. Begitupun sebaliknya, disaat semua orang menolak Donovan, Arumy berusaha menjadi orang paling baik untuk Donova agar anak itu tidak merasa terbuang.Mereka hanyalah dua jiwa yang terluka, dua anak yang mencoba saling melengkapi setelah dipatahkan oleh dunia.“Kau mau berbaring?” tanya Bjorn.Arumy menggeleng samar, kepalanya semakin sakit jika terlalu banyak tidur. Pikiran Arumy sen
Di sisa malamnya, Adven telah menghabiskan seluruh waktunya untuk menyelesaikan pekerjaan. Saat pagi tiba, dia memanggil pekerja agar mendekorasi kamar untuk Donovan tempati.Adven harus menyiapkan segalanya dengan sempurna, karena kesempatan kedua yang dia miliki bisa saja menjadi kesempatan terakhir yang Arumy berikan.Deringan telephone masuk menahan langkah Adven yang baru keluar keluar dari kendaraannya. Melihat layar hadpone yang tertera nama seorang polisi yang menangani kasus Hansen, seketika Adven memutar bola mata.Ada apa lagi sekarang? Adven sudah meminta Martin untuk kembali dari luar negeri dan mengunjungi Hansen meski itu hanya sebatas formalitas saja, Adven sendiri sudah tidak sudi untuk bertemu dengan Hansen.Dengan terpaksa Adven mengusap layar, menerima panggilan telephone itu.“Selamat pagi, Pak Adven,” sapa seseorang yang mulai Adven kenal hanya dengan mendengar suaranya.“Selamat pagi. Ada yang bisa saya bantu, Pak?”“Saya memiliki kabar penting untuk disampaik
Sejak kematian Anna, hubungan Prisila semakin terombang-ambing tidak jelas dengan Adven. Jangankan untuk bertemu empat mata, berbicara di telephone saja Adven sulit untuk dihubungi.Tampaknya, bagi Adven, pertungan yang pernah terjadi seperti sudah tidak ada artinya lagi sejak dia temukan Arumy.Adven hilang seperti pengecut, mencerminkan diri Hansen yang tidak mampu setia dengan satu wanita. Sialnya, Prisila tetap mencintainya meski dia jelas-jelas terluka.Berminggu-minggu Prisila bersabar, namun sabarnya dibalas dengan penghinaan yang mulai memantik kebencian.Bagaimana mungkin… Adven menghilang begitu saja, meninggalkannya seperti melangkah di jalanan hanya menyisakan bayangan.Bahkan, berjalan di jalanan hancur pun masih memiliki pemandangan yang bisa diingat saat melaluinya! Tapi Adven tidak!Apakah pantas Prisila diperlakukan seperti ini? Bisa-bisanya.. setelah berkabung dari kematian Anna, Adven langsung pergi untuk mencurahkan seluruh waktunya untuk merawat Arumy, tapi tidak
Tangan Arumy berkeringat dingin, bibir pucatnya terbuka mencari-cari udara ditengah sesak yang memenuhi dada. Jawaban dari dokter telah membuatnya kembali berkecil hati.Disaat Arumy mencoba mengoptimiskan diri, meyakini bahwa semua akan baik-baik saja, meski badai hidup telah menghantam, membawanya terombang-ambing hingga hampir menenggelamkan, cobaan lain justru datang menyusul, menimpa tanpa jeda.Hidup kembali mengujinya, bahkan sebelum ia memulai apapun untuk bangkit.Arumy menoleh, memandangi bulu mata lentik Bjorn yang membingkai iris birunya. Tatapannya lurus dan dingin, namun tangannya yang gemetar dan terkepal erat di bawah meja mengkhianati apa yang ia tunjukan.Arumy pengakuan apapun, Arumy bisa merasakan kekhawatirannya. “Kapan waktu yang tepat untuknya operasi?” tanya Bjorn.“Selama Nona Arumy tidak mengeluh mual, gangguan bicara, dan sakit kepala berlebihan. Operasi bisa dipersiapkan, Pak.”“Dokter…” Arumy menarik napas dalam-dalam, melanjutkan apa yang ingin ia ucap
Detak samar suara jam terdengar, mata Hansen terbuka lebar memandangi waktu yang telah menujukan pukul dua malam.Hansen tidak dapat tidur sejenak pun, semakin dekat waktu ke pagi, hatinya semakin gelisah tidak sanggup melanjutkan kehidupannya di hari esok.Hansen tidak hanya malu untuk berjumpa dengan orang-orang yang dikenalnya, dia juga malu untuk berjumpa tahanan lain yang pasti akan mengolok-oloknya selama di dalam sel.Helaan napas berat terdengar dari bibir Hansen, pria paruh baya itu menutupi wajahnya dalam lipatan tangan. Memikirkan alasan untuk dirinya tetap bertahan.Sudah sangat jelas, Hansen dibuang oleh anak-anaknya, dia juga akan dipenjara dalam waktu lama, masa tuanya akan berada dalam kemiskinan.Semuanya tentang penderitaan…“Untuk apa hidup jika sudah tahu akan menderita ditempat sampah?” lirih Hansen bertanya pada dirinya sendiri.Dengan berat Hansen mulai bangkit, dia melihat kakinya yang tidak lagi diborgol seperti saat pertama kali dia ditangkap. Pandangan Hanse
Jantung Adven berdebar kencang tidak terkendali, darahnya berdesir hebat meremangkan permukaan kulit, pria itu berdiri membeku tak berkedip, pandangannya terpaku pada Arumy.Waktu seakan berhenti bersama kebisuan yang kini tengah menelan dirinya.Telinga Adven mulai berdengung kencang, dibayang-bayangi suara lembut Arumy, akan pengakuannya yang mengatakan bahwa kini dia sedang mengandung!Apakah ini mimpi?Bibir Adven terbuka pelan, pria itu mulai menarik napas mencari pasokan udara agar bisa tetap berdiri tegak dan mempertahankan kesadarannya dari hantaman besar kejutan yang berhasil membuatnya pikirannya buyar.Dada Adven dibuncahi letupan, di kepalanya seperti sedang ada ledakan kembang api, menyebarkan cahaya yang menerangi kegelapan malam.Ini untuk pertama kalinya… setelah sekian lama melalui malam-malam yang kelam penuh duka, Adven diberi kabar yang begitu menggembirakan.Ini sebuah keajaiban bagi Adven..Keajaiban yang akan menjadi momentum terbaik untuknya, mengambil langkah
Arumy meringkuk tenang dalam rendaman air hangat, melepas lelahnya setelah seharian penuh ia habisakan waktunya untuk membereskan rumah. Arumy ingin menikmati waktunya yang tersisa dengan menenangkan diri karena esok, dia akan kembali masuk dalam belenggu tekanan. Arumy tidak tahu, butuh waktu ber
Setengah hari setelah Arumy mendapatkan perawatan dan obat-obatan, keadaannya yang mulai pulih membuatnya langsung bangkit tidak lagi bersantai di ranjang. Beralasan istirahat, Arumy langsung memanfaatkan waktunya untuk pulang lebih awal. Hari ini, Arumy harus membawa Donovan pergi meninggalkanm r
“Apa kau menyesal telah memarahinya?” tanya Tina melihat kemurungan Tyler yang kini duduk diam membisu setelah diberi tahu bahwa Arumy akan pergi meninggalkan rumah.Tyler mengusap bibirnya dengan tekanan, sorot matanya tampak gelap tidak dapat menyangkal bahwa dia memang menyesal karena terlalu k
Adven menggenggam erat handponenya. Waktu seakan berhenti, segala sesuatu yang ada disekitar berubah hampa sampai membuatnya kesulitan untuk merasakan keberadaan udara.Wajah Adven mengeras, bertahan dari guncangan hebat yang memacu kencang jantungnya.Ada setitik sakit yang telah menghujam hatinya







