LOGIN“Duduklah!” kata Hans ke Lucas seolah itu adalah rumahnya sendiri.Lucas duduk di sofa yang berhadapan dengan Hans dengan Dwi yang setia berada di sisinya. Mereka duduk dalam diam, membiarkan Hans memulai pembicaraan. Alih-alih mulai bicara, pria tua itu mengeluarkan sebuah kantong plastik terang dari balik meja.“Apa itu?” tanya Lucas penasaran dengan sebuah benda kecil di dalamnya.“Ternyata bukan kau yang memasangnya,” ujar Hans terlihat lega.“Memasang apa? Memangnya apa itu?”“Ini adalah komponen asing yang tim kami temukan setelah membongkar mobil keseluruhan,” jelas Hans.“Apa?” Lucas mengambil kantong plastik yang diletakkan di atas meja tersebut. Ia membolak-balikkan kantong plastik tersebut, mengamati benda kecil yang seperti mikrochip.“Kau benar-benar hanya alat Desmond,” ujar Hans sambil menganggukkan kepala ke Ba’ashir.“Alat Desmond?”“Kau berkata ke Gus Khalid mengenai Desmond yang menggunakan alat canggih untuk membuat kecelakaan yang merenggut nyawa Arvin tampak sepe
Matahari tenggelam ke dasar bumi berganti bulan berteman malam saat anak buah Gus Khalid memindahkan Lucas dari gudang. Dengan zikir dari Gus Khalid, mereka mampu mengecoh anak buah Desmond yang mengawasi gudang. Darwis bersama dua orang anak buah Gus Khalid mengendari mobil milik Dwi menuju Bali untuk mengambil bukti yang menunjukkan keterlibatan Desmond dalam kecelakaan maut putra sulung Hans Werner.“Mereka sudah bersiap dan menunggu di kapal feri,” kata Toni ke Darwis.“Ya, saya mengerti.”Lucas tidak terkejut sama sekali dengan pengaturan yang dilakukan oleh Toni Werner. Detail yang rapi menjadi ciri khas dari keluarga Werner dalam merencanakan sesuatu hingga lawan kesulitan menemukan celah untuk menyerang. Karena itulah, Desmond membutuhkan waktu yang cukup panjang untuk memutus penerus Hans Werner yang tidak bisa dianggap berhasil karena masih menyisakan putra bungsu dan cucu pertama Hans.Mereka menyusuri jalanan Malam Pasuruan Banyuwangi dalam diam dan rasa kantuk yang terama
“Apa ini?!” Lucas menerkam kerah baju Gus Khalid sambil menggenggam beberapa lembaran dokumen bukti keterlibatan Desmond. “Seperti yang kau baca,” jawab Gus Khalid dengan tenang.Lucas mendorong tubuh Gus Khalid hingga menempel ke tembok, mencengkeram semakin erat dengan mata berapi-api. Tatapan penuh amarah Lucas hanya di tanggapi dengan tatapan tenang Gus Khalid. Saat kedua pria itu saling menguarkan aura peperangan, ke empat orang lainnya hanya melihat dari tempat mereka berdiri.“Kalian pikir aku akan percaya dengan lembaran-lembaran ini?!” desis Lucas.“Aku yakin kau dapat mengetahui apakah dokumen-dokumen itu asli atau palsu,” balas Gus Khalid yang tidak terintimidasi oleh amarah Lucas.“Kau …” Gus Khalid menarik lepas tangan Lucas yang mencengkeram kerah bajunya dengan tangannya tanpa perlu mengeluarkan tenaga sama sekali. Didorongnya tubuh Lucas untuk memberi jarak pada mereka supaya bisa dapat berbicara dengan nyaman. Gus Khalid hanya berdiri diam dan menatap ke mata Lucas
Hari semakin siang dengan matahari yang terus beranjak naik membuat udara mulai terasa panas. Wajah-wajah serius, sabar menunggu kepastian dari Dwi yang terlihat masih bingung dan ragu. “Jika kau memang membutuhkan bukti untuk meyakinkan Lucas, aku bisa memberikannya,” kata Toni memecahkan keheningan.Dwi masih tampak bingung dan linglung, terungkapnya kebenaran yang tersembunyi selama belasan tahun membuat wanita itu berusaha keras untuk menyerap dan menerima untuk mengambil satu tindakan demi keutuhan keluarga mereka.“Mana?” pinta Dwi terdengar rapuh.Toni memberi isyarat ke Darwis yang berdiri sigap di sudut ruang tamu untuk mengambilkan bukti mengena Desmond yang terlibat dalam kehancuran keluarga Lucas. Dengan sigap Darwis berjalan menuju mobil mengambil bukti-bukti yang telah mereka siapkan sesuai dengan prediksi bahwa Dwi akan meminta bukti untuk membujuk dan meyakinkan Lucas.“Ini, silakan kau baca dulu,” kata Toni memberikan setumpuk dokumen di map plastik.Dwi membuka map
Kepasrahan terlihat di wajah Dwi yang oval, mata sinis berubah menjadi putus asa saat menyadari tidak ada jalan lain bagi dia untuk melindungi masa depan putranya selain mengirim Lucas ke penjara.“Apa yang harus aku lakukan?” tanya Dwi dengan putus asa.Fadhil mengambil alih memberikan arahan ke wanita itu mengenai hal-hal yang harus dilakukan dan alasannya.“Seperti yang kami bilang tadi, kami ingin Lucas mengakui adanya keterlibatan Desmond dalam perencanaan kematian Arvin Werner.”“Mengapa kalian tidak langsung saja menyerat Desmond ke pengadilan?”“Kami tidak bisa,” jawab Fadhil.“Kenapa?”“Bukti-bukti yang kami miliki hanya mengarah ke Lucas, jadi kami tidak bisa menyeret Desmond ke meja hijau jika suamimu tidak membuka mulutnya atas keterlibatan Desmond.”Dwi tertunduk diam menatap ujung-ujung kakinya, mendengarkan setiap penjelasan dan alasan mengapa mereka membutuhkan pengakuan Lucas juga memperkirakan keuntungan yang akan mereka dapatkan.“Keyakinan kami atas keterlibatan De
Suara sengau Toni mengagetkan Dwi yang masih bersimbah di lantai memohon kepada Naura. Wanita itu berbalik menengadahkan kepala melihat Toni yang berdiri menjulang di sampingnya. “Kau, siapa?” tanya Dwi lirih.“Aku adalah adik dari pria yang dibunuh oleh suamimu.”“Apa?”Suasana hening mencekam ruang tamu. Dwi masih duduk tertegun melihat Toni yang menatapnya dengan dingin.“Apa perkataanmu dapat aku pegang?”“Perkataan?” tanya Dwi linglung.“Kalau kau bersedia melakukan apa pun demi menyelamatkan masa depan putramu.”Dengan gerakan lambat, Dwi berdiri tegak saling bertatap dengan Toni yang melihatnya dengan tajam dan dingin. Ia menelan ludah juga membasahi pipinya, serta mengusap ait mata yang membasahi wajahnya.“Ya, akan aku lakukan apa pun demi menyelamatkan masa depan putraku,” jawab Dwi lirih tanpa ragu.“Meski itu kau harus memilih antara suami dan anakmu?” tanya Toni yang semakin dalam menatap ke dalam mata Dwi.Dwi tidak segera menjawab, mata mereka bertemu dan saling menila







