ログイン“Bawalah anak itu bersamamu!” kata Hans antara perintah dan permohonan.
“Tapi …” Naura menatap bayi itu dengan lembut dan juga iba.
“Kau adalah wanita yang sudah menikah, jadi tidak aka nada yang curiga dengan keberadaan dia dalam hidupmu.”
Hans terpaksa membuat keputusan tersebut demi keselamatan cucu pertamanya, juga demi Naura yang tampak hancur lebur. Keberadaan Lucas yang masih belum jelas, juga orang-orang yang terlibat dalam kecelakaan yang membuat ia kehilangan putra sulungnya jelas memiliki motif yang kuat dan tidak akan berhenti sampai mereka mencapai tujuan mereka.
“Tetap saja … mana mungkin saya memisahkan dia dari keluarga kandungnya,” ujar Naura.
“Om yakin, meski saat ini kau sedang dilanda kekalutan tapi kau pasti tahu kemungkinan yang terjadi andai mereka mengetahui Arvin memiliki putra,” tukas Hans meyakinkan Naura.
Naura tampak ragu namun ia juga memahami situasi yang kemungkina akan terjadi saat mereka mengetahui putra dari Arvin masih hidup. Jika tujuan utama mereka adalah ingin merebut Werner Group dari garis keturunan Hans maka bayi yang baru berusia beberapa hari itu akan menjadi target mereke selanjutnya. Banyak cara yang dapat mereka lakukan salah satunya dengan mengirim orang untuk menjadi baby sitter.
“Apa itu artinya Anda akan mengumumkan kalau putra dalam kandungan Shanaz meninngal?”
“Ya.”
“Dan, apa itu artinya dalam akta kelahiran, dia adalah anak saya atau tetap menjadi anak dari Arvin dan Shanaz?”
Hans tidak segera memberi keputusan, ia terdiam menapat dengan tatapan pilu ke arah cucu pertamanya. Hidung mancung serta bibir mungil dengan alis yang tebal membuatnya teringat pada ayah sang bayi.
“Masalahnya adalah … jika atas nama anak saya maka ayah dari anak itu adalah Lucas dan itu … menurut saya bukan ide yang tepat.”
“Aku tahu tapi kita tidak bisa membuat akta kelahiran dengan nama Arvin dan Shanaz,” ujar Hans dengan dahi berkerut cemas.
“Buat saja akta kelahiran hanya atas namamu,” timpal Fadhil.
“Apa? Tapi, bagaimana mungkin?” tanya Naura bingung.
“Pernikahan sirih. Anggap saja kau menikah sirih dan dia anak yang lahir dari pernikahan sirih,” jelas Fahdil.
“Benar juga,” gumam Hans terlihat lega. “Aku akan mengurus anak buahku untuk mengursnya segara sebelum _”
“Tidak,” potong Fadhil, “Jika ingin menghilangkan jejak, akta kelahiran itu harus dibuat di luar Jakarta, di tempat Naura akan hidup berdua dengannya.”
Satu masalah terselesaikan namun satu masalah lainnya muncul yaitu di mana dia akan menetap untuk waktu yang cukup lama tanpa takut ada sorotan dari musuh-musuh yang tersembunyi.
“Biarkan dia tinggal di Pasuruan,” kata Fadhil.
“Apa?”
“Aku dan istriku akan kembali ke Pasuruan setelah kami pensiun nanti,” tukas Fadhil.
Sebagai pegawai negeri, mereka terikat dengan peraturan pemerintah yang tidak bisa meminta pindah begitu saja tanpa ada satu alasan yang tepat. Dengan masa kerja yang hampir berakhir, mereka tidak akan masuk dalam daftar mutase sehingga yang bisa Fadhil lakukan saat ini hanya menunggu hingga ia dan sang istri pensiun baru menyusul Naura ke Pasuruan, kampung halaman mereka.
“Bagaimana Naura? Apa kau setuju?” tanya Hans.
Naura menatap bayi mungil tampan yang sedang menggeliat itu. Secara tidak langsung, ia bertanggung jawab atas kelamalang hidup dari putra sahabatnya itu. Suami yang ia sangka mencintainya ternyata hanya memanfaatkan dirinya demi mencapai tujuan pria itu. Dengan bodohnya, ia percaya saja dengan ketakutan Lucas jika mereka memiliki bayi di tahun pertama pernikahan mereka karena tidak siap dalam membagi waktu antara pekerjaan dia sebagai sekretaris.
“Baiklah. Aku akan mendaftarkan dia sebagai putraku dari pernikahan sirih dan aku akan tinggal di Pasuruan dengan tenang,” kata Naura tanpa ragu.
Koneksi yang dimiliki oleh Hans Werner cukup luas membuat mereka dengan mudah memalsukan kematian putra dari Arvin dan Shanaz. Dengan batuan pihak rumah sakit dan dokter, kematian buatan pun dilakukan. Dengan alasan kesedihan yang terlalu amat dalam, pihak Hans mengatakan pemakaman dilakukan secara tertutup yang hanya dihadiri oleh kerabat dan tetangga.
“Aku percaya padamu!” ucap Hans sambil memeluk Naura yang menggendong bayi.
“Aku akan mencintainya dengan tulus.”
“Terima kasih.”
Hans memeluk Fadhil mengucapkan terima kasih sekaligus permintaan maaf.
“Aku juga bertanggung jawab dengan apa yang terjadi kepada Arvin dan Shanaz,” ucap Fadhil.
“Aku akan segera mengirimkan surat kematian Lucas,” Janji Hans.
“Terima kasih.”
Dua sahabat itu pun berpisah saat penggilan untuk penumpang penerbangan ke Surabaya agar melakukan chek in. Naura mendekap lembut bayi mungil yang sedang tertidur lelap, berharap bayi mungil tersebut tertidur lelap hingga mendarat di Bandara Juanda Surabaya.
Dalam pelariannya, Naura tidak hanya menjadi seorang janda tetapi juga istri sirih dari pria yang telah meninggal dunia. Pernikahan bahagia itu harus berakhir dengan cara yang tragis diiringi oleh pengkhianatan terencana. Lucas mendekati mereka dengan sengaja demi mencapai satu tujuan yang tersembunyi.
“Apa dia masih tidur?” tanya Fadhil saat mereka sedang bersiap untuk lepas landas.
“Ya.”
Mereka sengaja mengambil jam penerbangan malam, selain untuk sembunyi dari pandangan orang juga menyesuaikan dengan jam tidur si bayi. Naura juga telah menyiapkan air hangat untuk menyeduh susu formula saat bayi itu terbangun karena lapar.
“Ayah, apa semua akan baik-baik saja?” tanya Naura yang tidak perlu menutupi kecemasannya dari sang ayah.
“Kita hanya bisa melakukan yang terbaik, selebihnya kita pasrahkan ke Allah,” tukas Fadhil.
“Tentang Lucas, bagaimana jika dia tiba-tiba muncul?”
Alih-alih memberikan jawaban, Fadhil kembali melempar pertanyaa yang sama ke putrinya. “Apa yang akan kau lakukan andai dia muncul?”
Naura menatap ke luar jendela dan tidak memberikan jawaban apa pun atas pertanyaan ayahnya. Dia tidak tahu apa yang akan ia lakukan andaikan Lucas muncul setelah apa yang dilakukan pria itu kepada sahabatnya.
Mampukah ia memaafkan Lucas saat pria itu muncul dan menerima pria itu kembali setelah apa yang dilakukannya. Ia mencintai Lucas, itu adalah hal yang pasti dan sangat jelas bukan hanya bagi pria itu tetapi juga bagi orang di sekitarnya. Cinta itu sangat terlihat jelas sehingga ia tidak mengabaikan peringatan kecil yang diberikan oleh otaknya atas kejanggalan kehidupan Lucas selama mereka saling mengenal. Bahkan, peringatan sang ayah pun ia abaikan dan menganggap itu adalah hal yang lumrah dalam kehidupan pernikahan.
“Andai aku mendengarkan kata Ayah saat itu,” ucap Naura.
“Nasi sudah menjadi bubur, Naura! Kau tidak boleh terlalu lama tenggelam dalam rasa bersalah, kau harus segera bangkit karena ayah yakin target dia bukan hanya melibatkan Arvin tetapi juga kau dan Shanaz.”
“Aku?”
“Ya. Kau dan Shanaz adalah akademisi yang cukup memiliki pengaruh dengan semua kegiatan kalian yang cukup untuk menggerakkan sebuah perubahan.”
“Ayah, apa ada sesuatu yang masih aku belum tahu tentang Lucas?”
Enam Tahun Kemudian …Udara panas Indonesia menjadi hal yang sangat dirindukan oleh Toni Werner selama perantauan dirinya di negeri empat musim yang tidak memiliki sinar matahari sebaik di Indonesia. Musim panas yang menyengat tidak ada apa-apa dibandingkan dengan panas terik matahari siang di Indonesia, begitu pula musim semi yang hangat tetap tidak mampu kehangatan cuaca di negeri yang ia sangat rindukan.“Apa kau sudah siap untuk menetap?” tanya Hans ke putar bungsunya.“Tentu saja,” jawab Toni tanpa ragu.Kematian Arvin membuat Toni harus mengambil alih seorang diri semua tanggung jawab sebagai putra Hans Werner, pendiri serta pemegang saham terbesar Werner Group. Enam tahun bukan waktu yang mudah baginya untuk bertahan dalam kesabaran atas kecelakaan yang merenggut nyawa kakak serta istrinya bahkan bayi mereka.“Apa itu dapat ayah artikan jika kau sudah siap dengan semua tugas dan tanggung jawab yang harus kau pikul?”“Apa aku punya pilihan lain.”“Bagaimana dengan wanita, apa ka
“Bawalah anak itu bersamamu!” kata Hans antara perintah dan permohonan.“Tapi …” Naura menatap bayi itu dengan lembut dan juga iba.“Kau adalah wanita yang sudah menikah, jadi tidak aka nada yang curiga dengan keberadaan dia dalam hidupmu.”Hans terpaksa membuat keputusan tersebut demi keselamatan cucu pertamanya, juga demi Naura yang tampak hancur lebur. Keberadaan Lucas yang masih belum jelas, juga orang-orang yang terlibat dalam kecelakaan yang membuat ia kehilangan putra sulungnya jelas memiliki motif yang kuat dan tidak akan berhenti sampai mereka mencapai tujuan mereka.“Tetap saja … mana mungkin saya memisahkan dia dari keluarga kandungnya,” ujar Naura.“Om yakin, meski saat ini kau sedang dilanda kekalutan tapi kau pasti tahu kemungkinan yang terjadi andai mereka mengetahui Arvin memiliki putra,” tukas Hans meyakinkan Naura.Naura tampak ragu namun ia juga memahami situasi yang kemungkina akan terjadi saat mereka mengetahui putra dari Arvin masih hidup. Jika tujuan utama merek
Dengan pakaian serba hitam juga putih, para pelayat yang terdiri dari pengusaha, politisi dan pejabat juga masyarakat sekitar memenuhi rumah duka untuk memberikan penghormatan terakhir kepada pasangan muda Werner Group. Duka tidak hanya menyelimuti dua keluarga tetapi juga relasi dan sahabat almarhum yang dikenal dengan kebaikan serta keramahannya.Naura duduk di sudut rumah tersembunyi dari keramaian para pelayat yang terus berdatangan sebelum pemakaman. Dengan tatapan kosong ia meratapi kehidupan pernikahan yang baru ia rajut bersama pria yang ia cintai harus berakhir tanpa satu kepastian yang jelas atas jasad suaminya. Penyelidikan internal masih menyimpulkan jika Lucas terlibat dalam kecelakaan maut yang menewaskan pasangan Shanaz dan Arvin semakin meremukkan hatinya.“Hasil tes DNA dari darah yang menempel di jas serta beberapa potong rambut yang menempel dipastikan milik Lucas,” jelas tim forensik kepolisian. “Namun, kami tidak menemukan potongan tubuh saudara Lucas,” imbuhnya.
“Tidak … kau harus bertahan, Shanaz!” ucap Naura dengan putus asa.Dokter secara bergantian memberikan bantuan CPR untuk mengembalikan denyut jantung yang mulai melemah. Angka kehidupan di monitor naik secara perlahan setelah lima kali dilakukan CPR.“Apa sudah memanggil dokter kandungan?”“Sudah. Dokter bilang akan sampai dalam lima belas menit, namun sepertinya ada kemacetan lalu lintas yang membuat sedikit terlambat.”“Apa ada masalah dengan kandungannya?” tanya Naura yang masih menggenggam tangan Shanaz.“Denyut jantung sedikit melemah, jadi harus segera dilakukan tindakan untuk menyelamatkan nyawa bayi.”“Bagaimana dengan sekarang? Apa masih baik-baik saja, mengingat ini sudah lebih dari lima belas menit dari sejak dia masuk rumah sakit?” Naura menggenggam erat tangan Shanaz yang mulai terasa dingin.Dokter meletakkan stetoskop ke perut Shanaz untuk mendengarkan denyut jantung janin.“Apa dokter kandungan masih lama?” tanya dokter jaga ke perawat.“Kenapa? Apa denyut jantung jani
Asap mengepul ke udara membuat langit malam semakin gelap hingga menghalangi pandangan siapa pun yang ada di sana untuk menyaksikan mobil yang mengguling, menabrak pembatas jalan tol dan terbakar.Suara sirene mobil ambulans beradu dengan sirene mobil pemadam kebakaran juga kepolisian berusaha menyelamatkan korban serta mengatur lalu lintas jalanan yang cukup ramai. Hati dan pikiran Naura terbelah menjadi berkeping-keping melihat asap tebal dari mobil sedan yang terguling menembus pembatas jalan.Tubuh langsing Naura gemetar hebat melihat api mobil yang ditumpang oleh suami dan sahabatnya. Kaki jenjangnya lemas dan tidak mampu menopang tubuhnya hingga terjatuh duduk di atas aspal yang dingin.Salah seorang petugas kepolisian menghampiri Naura yang terduduk lesu, “Sebaiknya Anda ke rumah sakit karena korban sudah di evakuasi.”“Apa?”“Petugas kepolisian sempat menyelamatkan dua korban di dalam mobil sebelum terjadi ledakan.”“Dua? Bukan tiga?”“Saat kami akan kembali menyelamatkan peng







