تسجيل الدخولEnam Tahun Kemudian …
Udara panas Indonesia menjadi hal yang sangat dirindukan oleh Toni Werner selama perantauan dirinya di negeri empat musim yang tidak memiliki sinar matahari sebaik di Indonesia. Musim panas yang menyengat tidak ada apa-apa dibandingkan dengan panas terik matahari siang di Indonesia, begitu pula musim semi yang hangat tetap tidak mampu kehangatan cuaca di negeri yang ia sangat rindukan.
“Apa kau sudah siap untuk menetap?” tanya Hans ke putar bungsunya.
“Tentu saja,” jawab Toni tanpa ragu.
Kematian Arvin membuat Toni harus mengambil alih seorang diri semua tanggung jawab sebagai putra Hans Werner, pendiri serta pemegang saham terbesar Werner Group. Enam tahun bukan waktu yang mudah baginya untuk bertahan dalam kesabaran atas kecelakaan yang merenggut nyawa kakak serta istrinya bahkan bayi mereka.
“Apa itu dapat ayah artikan jika kau sudah siap dengan semua tugas dan tanggung jawab yang harus kau pikul?”
“Apa aku punya pilihan lain.”
“Bagaimana dengan wanita, apa kau tetap menjaga kesendirianmu?” tanya Hans.
“Seolah ada yang tidak diketahui oleh Ayah mengenai kehidupan pribadiku,” ujar Toni.
Hans tersenyum tipis mendengar perkataan putranya. Ia memberikan isyarat ke Ba’ashir, sekretaris utama Werner Group untuk memberikan amplop cokelat besar yang ada di tangan pria berusia lima puluh tahun tersebut.
“Bukalah!” perintahnya.
Dahi Toni berkerut saat ia mengeluarkan isi amplop tersebut adalah foto seorang wanita dengan pakaian syar'i. Wajah oval, hidung mancung serta alis tipis dan mata almond dengan tatapan sendu menarik perhatian Toni. Kecantikan tidak biasa dapat ia lihat dari potongan foto yang diambil oleh anak buah ayahnya.
“Siapa dia?”
“Naura Hayva Fadheela, putri dari sahabat ayah, Fadhil.”
“Fadhil? Om Fadhil yang kami kenal?”
“Ya.”
“Jika dia adalah putri dari Om Fadhil maka ia adalah teman dari almarhum kak Arvin, kan?”
“Lebih tepatnya, teman istri dari kakakmu, adik kelas dari kakakmu.”
“Ah, benar juga.”
Toni kembali melihat foto-foto wanita itu yang tersenyum dan tertawa namun tidak dengan sorot matanya yang terlihat sedih. Ia yang saat itu masih harus menyelesaikan pendidikan master bisnis internasional di luar negeri tidak dapat menghadiri pemakaman kakaknya. Ia hanya mendapatkan selentingan kabar melalui sekretarisnya yang juga kuliah bersamanya, jika kecelakaan maut yang dialami oleh kakaknya merupakan kecelakaan yang terencana.
“Kenapa ayah menunjukkan foto dia padaku?” tanya Toni dengan tatapan waspada.
“Dia adalah wanita yang harus kau jadikan wanitamu,” tegas Hans.
“Apa? Apa aku tidak salah dengar?”
“Tidak. Kau tidak salah dengar.”
“Tapi … bukankah dia sudah menikah?”
“Memang.”
“Ayah memintaku untuk merebut istri orang?!”
“Dia memang sudah menikah tetapi suaminya telah dinyatakan meninggal,” ujar Hans yang meski terlihat santai namun terdengar getir.
“Meninggal?” Toni melihat ke arah Darwis, sekretaris dia untuk mendapatkan penjelasan.
Sebagai penghubung dirinya dan sang ayah, Darwis pasti mengetahui perihal wanita itu. Meski begitu, pria itu tidak akan serta merta memberikan semua informasi yang didapatkan dari sekretaris utama Hans Werner ke Toni. Ia akan memilah mana yang harus diberitahu ke Toni dan tidak.
“Ya, dia dinyatakan meninggal dalam kecelakaan yang sama dengan kakakmu,” jelas Hans.
“Dinyatakan?” Sekali lagi Toni merasakan kejanggalan dari pernyataan ayahnya.
“Jasadnya tidak ditemukan bahkan setelah enam tahun, tidak ada tanda-tanda kehidupan darinya.”
“Seberapa parah kebakaran mobilnya?”
“Tidak terlalu parah hingga membuat tulang belulangnya menjadi abu.”
“Apa itu artinya mobil tidak terbakar sepenuhnya?”
“Ya, petugas pemadam kebakaran datang dengan cepat sehingga api dapat segera dipadamkan namun petugas kepolisian tidak dapat menemukan jasad pria itu meski mereka telah menyisiri area sekitar kecelakaan.”
“Apa dia …” Toni berhenti seketika saat ia teringat dengan sekretaris sang kakak. “Tunggu, apa suami dari wanita ini adalah sekretaris Kak Arvin?”
“Ya, dia adalah suami Naura.”
Toni mulai memahami situasi yang terjadi, meski begitu ia tidak dapat mengerti mengapa ia harus menjadikan wanita itu sebagai istrinya.
“Tapi, mengapa aku harus menjadikan dia sebagai wanitaku yang aku anggap itu artinya sebagai istri, bukan?!”
“Tentu saja, kalau bukan sebagai istrimu apalagi nama lain dari sebagai wanitamu.”
“Tapi mengapa harus dia? Aku yakin Ayah memiliki kenalan yang memiliki anak perempuan yang masih belum menikah, mengapa dia bukan anak teman ayah yang lain?” tanya Toni lebih ke menuntut sebuah kejelasan.
Hans kembali memberi isyarat ke Ba’ashir untuk memberikan amplop kedua ke Toni. Rasa penasaran membuat ia menyambar kasar dan membuka amplop tersebut dengan kasar. Selembar foto kopi akta kelahiran serta beberapa foto bayi keluar dari amplop cokelat tersebut.
“Ini … dia sudah memiliki anak? Ayah ingin aku membesarkan anak dari orang yang dicurigai menjadi pembunuh Kak Arvin?!”
“Dia adalah putra kakakmu,” kata Hans dengan nada bergetar.
“Apa?”
Toni kembali melihat foto anak laki-laki itu dari saat bayi hingga berusia enam tahun. Dua pasang mata monolid yang berpadu dengan hidung mancung serta alis tebal anak laki-laki itu mempertegas jika anak itu adalah bagian dari Werner Group. Hanya bentuk wajah dan rambut ikal dari anak laki-laki tersebut yang membuat ia tampak tidak terlihat sebagai keturunan Werner karena mengambil dari genetik sang ibu.
“Bukankah Ayah menyatakan kalau dia sudah meninggal selama mendapatkan perawatan di rumah sakit karena lahir prematur?”
“Tidak bisa melahirkan prematur juga karena Shanaz diprediksi akan melahirkan dalam satu minggu sebelum kecelakaan. Namun, orang-orang tidak ada yang tahu jadi ….”
“Mengapa Ayah harus melakukan itu? Apa Ayah tidak ingin membesarkan cucu sendiri?”
“Karena kita tidak tahu apa yang menjadi tujuan utama dari orang-orang itu.”
“Sial,” gumam Toni.
Arvin dan Shanaz bukan hanya sekedar pasangan penerus Werner Group tetapi juga seorang politisi muda yang cukup mumpuni dan disegani. Motif kematian mereka dapat disebabkan oleh persaingan politik juga bisa karena perebutan kepemilikan saham Werner Group yang masih dipegang oleh Hans.
“Kenapa? Kau mengira kematian kakakmu hanya disebabkan oleh satu kemungkinan yaitu persaingan politik?”
Toni meringis malu dengan pemikirannya yang sangat sempit hingga ia tidak dapat melihat kemungkinan-kemungkinan lainnya.
“Saat ini, Emir hanya mengetahui kalau Naura adalah ibunya …”
“Dan suami wanita itu adalah ayahnya,” potong Toni.
“Dan kakakmu adalah ayahnya yang sudah meninggal.”
“Apa? Tapi, bagaimana bisa?”
“Apa kau tidak menemukan hal yang aneh di akta kelahiran keponakanmu itu?!”
Toni kembali membaca akta kelahiran keponakannya dari atas hingga bawah. Saat itulah, ia mendapati tidak ada nama ayah, hanya nama ibu yang tercantum di akta kelahiran tersebut. Ia yang tidak mengetahui peraturan yang berlaku di Indonesia terlihat bingung dengan isian akta tersebut.
“Di tempat dia hidup saat ini, tidak ada yang tahu mengenai kehidupan masa lalu Naura yang pernah menikah dengan Lucas. Mereka hanya mengetahui jika Naura adalah istri kedua dari seorang pengusaha yang meninggal dan terpaksa harus hidup di kota kecil karena diusir oleh istri pertama pengusaha tersebut.
“Wah, skenario macam apa itu,” ujar Toni.
“Skenario yang terbaik yang bisa kita lakukan saat itu untuk melindungi mereka berdua.”
“Mereka berdua? Bukan hanya cucu Ayah tetapi juga wanita itu?”
“Ya.”
Enam Tahun Kemudian …Udara panas Indonesia menjadi hal yang sangat dirindukan oleh Toni Werner selama perantauan dirinya di negeri empat musim yang tidak memiliki sinar matahari sebaik di Indonesia. Musim panas yang menyengat tidak ada apa-apa dibandingkan dengan panas terik matahari siang di Indonesia, begitu pula musim semi yang hangat tetap tidak mampu kehangatan cuaca di negeri yang ia sangat rindukan.“Apa kau sudah siap untuk menetap?” tanya Hans ke putar bungsunya.“Tentu saja,” jawab Toni tanpa ragu.Kematian Arvin membuat Toni harus mengambil alih seorang diri semua tanggung jawab sebagai putra Hans Werner, pendiri serta pemegang saham terbesar Werner Group. Enam tahun bukan waktu yang mudah baginya untuk bertahan dalam kesabaran atas kecelakaan yang merenggut nyawa kakak serta istrinya bahkan bayi mereka.“Apa itu dapat ayah artikan jika kau sudah siap dengan semua tugas dan tanggung jawab yang harus kau pikul?”“Apa aku punya pilihan lain.”“Bagaimana dengan wanita, apa ka
“Bawalah anak itu bersamamu!” kata Hans antara perintah dan permohonan.“Tapi …” Naura menatap bayi itu dengan lembut dan juga iba.“Kau adalah wanita yang sudah menikah, jadi tidak aka nada yang curiga dengan keberadaan dia dalam hidupmu.”Hans terpaksa membuat keputusan tersebut demi keselamatan cucu pertamanya, juga demi Naura yang tampak hancur lebur. Keberadaan Lucas yang masih belum jelas, juga orang-orang yang terlibat dalam kecelakaan yang membuat ia kehilangan putra sulungnya jelas memiliki motif yang kuat dan tidak akan berhenti sampai mereka mencapai tujuan mereka.“Tetap saja … mana mungkin saya memisahkan dia dari keluarga kandungnya,” ujar Naura.“Om yakin, meski saat ini kau sedang dilanda kekalutan tapi kau pasti tahu kemungkinan yang terjadi andai mereka mengetahui Arvin memiliki putra,” tukas Hans meyakinkan Naura.Naura tampak ragu namun ia juga memahami situasi yang kemungkina akan terjadi saat mereka mengetahui putra dari Arvin masih hidup. Jika tujuan utama merek
Dengan pakaian serba hitam juga putih, para pelayat yang terdiri dari pengusaha, politisi dan pejabat juga masyarakat sekitar memenuhi rumah duka untuk memberikan penghormatan terakhir kepada pasangan muda Werner Group. Duka tidak hanya menyelimuti dua keluarga tetapi juga relasi dan sahabat almarhum yang dikenal dengan kebaikan serta keramahannya.Naura duduk di sudut rumah tersembunyi dari keramaian para pelayat yang terus berdatangan sebelum pemakaman. Dengan tatapan kosong ia meratapi kehidupan pernikahan yang baru ia rajut bersama pria yang ia cintai harus berakhir tanpa satu kepastian yang jelas atas jasad suaminya. Penyelidikan internal masih menyimpulkan jika Lucas terlibat dalam kecelakaan maut yang menewaskan pasangan Shanaz dan Arvin semakin meremukkan hatinya.“Hasil tes DNA dari darah yang menempel di jas serta beberapa potong rambut yang menempel dipastikan milik Lucas,” jelas tim forensik kepolisian. “Namun, kami tidak menemukan potongan tubuh saudara Lucas,” imbuhnya.
“Tidak … kau harus bertahan, Shanaz!” ucap Naura dengan putus asa.Dokter secara bergantian memberikan bantuan CPR untuk mengembalikan denyut jantung yang mulai melemah. Angka kehidupan di monitor naik secara perlahan setelah lima kali dilakukan CPR.“Apa sudah memanggil dokter kandungan?”“Sudah. Dokter bilang akan sampai dalam lima belas menit, namun sepertinya ada kemacetan lalu lintas yang membuat sedikit terlambat.”“Apa ada masalah dengan kandungannya?” tanya Naura yang masih menggenggam tangan Shanaz.“Denyut jantung sedikit melemah, jadi harus segera dilakukan tindakan untuk menyelamatkan nyawa bayi.”“Bagaimana dengan sekarang? Apa masih baik-baik saja, mengingat ini sudah lebih dari lima belas menit dari sejak dia masuk rumah sakit?” Naura menggenggam erat tangan Shanaz yang mulai terasa dingin.Dokter meletakkan stetoskop ke perut Shanaz untuk mendengarkan denyut jantung janin.“Apa dokter kandungan masih lama?” tanya dokter jaga ke perawat.“Kenapa? Apa denyut jantung jani
Asap mengepul ke udara membuat langit malam semakin gelap hingga menghalangi pandangan siapa pun yang ada di sana untuk menyaksikan mobil yang mengguling, menabrak pembatas jalan tol dan terbakar.Suara sirene mobil ambulans beradu dengan sirene mobil pemadam kebakaran juga kepolisian berusaha menyelamatkan korban serta mengatur lalu lintas jalanan yang cukup ramai. Hati dan pikiran Naura terbelah menjadi berkeping-keping melihat asap tebal dari mobil sedan yang terguling menembus pembatas jalan.Tubuh langsing Naura gemetar hebat melihat api mobil yang ditumpang oleh suami dan sahabatnya. Kaki jenjangnya lemas dan tidak mampu menopang tubuhnya hingga terjatuh duduk di atas aspal yang dingin.Salah seorang petugas kepolisian menghampiri Naura yang terduduk lesu, “Sebaiknya Anda ke rumah sakit karena korban sudah di evakuasi.”“Apa?”“Petugas kepolisian sempat menyelamatkan dua korban di dalam mobil sebelum terjadi ledakan.”“Dua? Bukan tiga?”“Saat kami akan kembali menyelamatkan peng







