Home / Romansa / Cinta yang Terbelah / Pewaris yang Tersembunyi

Share

Pewaris yang Tersembunyi

Author: BPrastiwi
last update publish date: 2026-08-11 13:03:27

Enam Tahun Kemudian …

Udara panas Indonesia menjadi hal yang sangat dirindukan oleh Toni Werner selama perantauan dirinya di negeri empat musim yang tidak memiliki sinar matahari sebaik di Indonesia. Musim panas yang menyengat tidak ada apa-apa dibandingkan dengan panas terik matahari siang di Indonesia, begitu pula musim semi yang hangat tetap tidak mampu kehangatan cuaca di negeri yang ia sangat rindukan.

“Apa kau sudah siap untuk menetap?” tanya Hans ke putar bungsunya.

“Tentu saja,” jawab Toni tanpa ragu.

Kematian Arvin membuat Toni harus mengambil alih seorang diri semua tanggung jawab sebagai putra Hans Werner, pendiri serta pemegang saham terbesar Werner Group. Enam tahun bukan waktu yang mudah baginya untuk bertahan dalam kesabaran atas kecelakaan yang merenggut nyawa kakak serta istrinya bahkan bayi mereka.

“Apa itu dapat ayah artikan jika kau sudah siap dengan semua tugas dan tanggung jawab yang harus kau pikul?”

“Apa aku punya pilihan lain.”

“Bagaimana dengan wanita, apa kau tetap menjaga kesendirianmu?” tanya Hans.

“Seolah ada yang tidak diketahui oleh Ayah mengenai kehidupan pribadiku,” ujar Toni.

Hans tersenyum tipis mendengar perkataan putranya. Ia memberikan isyarat ke Ba’ashir, sekretaris utama Werner Group untuk memberikan amplop cokelat besar yang ada di tangan pria berusia lima puluh tahun tersebut.

“Bukalah!” perintahnya.

Dahi Toni berkerut saat ia mengeluarkan isi amplop tersebut adalah foto seorang wanita dengan pakaian syar'i. Wajah oval, hidung mancung serta alis tipis dan mata almond dengan tatapan sendu menarik perhatian Toni. Kecantikan tidak biasa dapat ia lihat dari potongan foto yang diambil oleh anak buah ayahnya.

“Siapa dia?”

“Naura Hayva Fadheela, putri dari sahabat ayah, Fadhil.”

“Fadhil? Om Fadhil yang kami kenal?”

“Ya.”

“Jika dia adalah putri dari Om Fadhil maka ia adalah teman dari almarhum kak Arvin, kan?”

“Lebih tepatnya, teman istri dari kakakmu, adik kelas dari kakakmu.”

“Ah, benar juga.”

Toni kembali melihat foto-foto wanita itu yang tersenyum dan tertawa namun tidak dengan sorot matanya yang terlihat sedih. Ia yang saat itu masih harus menyelesaikan pendidikan master bisnis internasional di luar negeri tidak dapat menghadiri pemakaman kakaknya. Ia hanya mendapatkan selentingan kabar melalui sekretarisnya yang juga kuliah bersamanya, jika kecelakaan maut yang dialami oleh kakaknya merupakan kecelakaan yang terencana.

“Kenapa ayah menunjukkan foto dia padaku?” tanya Toni dengan tatapan waspada.

“Dia adalah wanita yang harus kau jadikan wanitamu,” tegas Hans.

“Apa? Apa aku tidak salah dengar?”

“Tidak. Kau tidak salah dengar.”

“Tapi … bukankah dia sudah menikah?”

“Memang.”

“Ayah memintaku untuk merebut istri orang?!”

“Dia memang sudah menikah tetapi suaminya telah dinyatakan meninggal,” ujar Hans yang meski terlihat santai namun terdengar getir.

“Meninggal?” Toni melihat ke arah Darwis, sekretaris dia untuk mendapatkan penjelasan.

Sebagai penghubung dirinya dan sang ayah, Darwis pasti mengetahui perihal wanita itu. Meski begitu, pria itu tidak akan serta merta memberikan semua informasi yang didapatkan dari sekretaris utama Hans Werner ke Toni. Ia akan memilah mana yang harus diberitahu ke Toni dan tidak.

“Ya, dia dinyatakan meninggal dalam kecelakaan yang sama dengan kakakmu,” jelas Hans.

“Dinyatakan?” Sekali lagi Toni merasakan kejanggalan dari pernyataan ayahnya.

“Jasadnya tidak ditemukan bahkan setelah enam tahun, tidak ada tanda-tanda kehidupan darinya.”

“Seberapa parah kebakaran mobilnya?”

“Tidak terlalu parah hingga membuat tulang belulangnya menjadi abu.”

“Apa itu artinya mobil tidak terbakar sepenuhnya?”

“Ya, petugas pemadam kebakaran datang dengan cepat sehingga api dapat segera dipadamkan namun petugas kepolisian tidak dapat menemukan jasad pria itu meski mereka telah menyisiri area sekitar kecelakaan.”

“Apa dia …” Toni berhenti seketika saat ia teringat dengan sekretaris sang kakak. “Tunggu, apa suami dari wanita ini adalah sekretaris Kak Arvin?”

“Ya, dia adalah suami Naura.”

Toni mulai memahami situasi yang terjadi, meski begitu ia tidak dapat mengerti mengapa ia harus menjadikan wanita itu sebagai istrinya.

“Tapi, mengapa aku harus menjadikan dia sebagai wanitaku yang aku anggap itu artinya sebagai istri, bukan?!”

“Tentu saja, kalau bukan sebagai istrimu apalagi nama lain dari sebagai wanitamu.”

“Tapi mengapa harus dia? Aku yakin Ayah memiliki kenalan yang memiliki anak perempuan yang masih belum menikah, mengapa dia bukan anak teman ayah yang lain?” tanya Toni lebih ke menuntut sebuah kejelasan.

Hans kembali memberi isyarat ke Ba’ashir untuk memberikan amplop kedua ke Toni. Rasa penasaran membuat ia menyambar kasar dan membuka amplop tersebut dengan kasar. Selembar foto kopi akta kelahiran serta beberapa foto bayi keluar dari amplop cokelat tersebut.

“Ini … dia sudah memiliki anak? Ayah ingin aku membesarkan anak dari orang yang dicurigai menjadi pembunuh Kak Arvin?!”

“Dia adalah putra kakakmu,” kata Hans dengan nada bergetar.

“Apa?”

Toni kembali melihat foto anak laki-laki itu dari saat bayi hingga berusia enam tahun. Dua pasang mata monolid yang berpadu dengan hidung mancung serta alis tebal anak laki-laki itu mempertegas jika anak itu adalah bagian dari Werner Group. Hanya bentuk wajah dan rambut ikal dari anak laki-laki tersebut yang membuat ia tampak tidak terlihat sebagai keturunan Werner karena mengambil dari genetik sang ibu.

“Bukankah Ayah menyatakan kalau dia sudah meninggal selama mendapatkan perawatan di rumah sakit karena lahir prematur?”

“Tidak bisa melahirkan prematur juga karena Shanaz diprediksi akan melahirkan dalam satu minggu sebelum kecelakaan. Namun, orang-orang tidak ada yang tahu jadi ….”

“Mengapa Ayah harus melakukan itu? Apa Ayah tidak ingin membesarkan cucu sendiri?”

“Karena kita tidak tahu apa yang menjadi tujuan utama dari orang-orang itu.”

“Sial,” gumam Toni.

Arvin dan Shanaz bukan hanya sekedar pasangan penerus Werner Group tetapi juga seorang politisi muda yang cukup mumpuni dan disegani. Motif kematian mereka dapat disebabkan oleh persaingan politik juga bisa karena perebutan kepemilikan saham Werner Group yang masih dipegang oleh Hans.

“Kenapa? Kau mengira kematian kakakmu hanya disebabkan oleh satu kemungkinan yaitu persaingan politik?”

Toni meringis malu dengan pemikirannya yang sangat sempit hingga ia tidak dapat melihat kemungkinan-kemungkinan lainnya.

“Saat ini, Emir hanya mengetahui kalau Naura adalah ibunya …”

“Dan suami wanita itu adalah ayahnya,” potong Toni.

“Dan kakakmu adalah ayahnya yang sudah meninggal.”

“Apa? Tapi, bagaimana bisa?”

“Apa kau tidak menemukan hal yang aneh di akta kelahiran keponakanmu itu?!”

Toni kembali membaca akta kelahiran keponakannya dari atas hingga bawah. Saat itulah, ia mendapati tidak ada nama ayah, hanya nama ibu yang tercantum di akta kelahiran tersebut. Ia yang tidak mengetahui peraturan yang berlaku di Indonesia terlihat bingung dengan isian akta tersebut.

“Di tempat dia hidup saat ini, tidak ada yang tahu mengenai kehidupan masa lalu Naura yang pernah menikah dengan Lucas. Mereka hanya mengetahui jika Naura adalah istri kedua dari seorang pengusaha yang meninggal dan terpaksa harus hidup di kota kecil karena diusir oleh istri pertama pengusaha tersebut.

“Wah, skenario macam apa itu,” ujar Toni.

“Skenario yang terbaik yang bisa kita lakukan saat itu untuk melindungi mereka berdua.”

“Mereka berdua? Bukan hanya cucu Ayah tetapi juga wanita itu?”

“Ya.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Cinta yang Terbelah   Kegaduhan Di Pagi Buta

    kegaduhan terjadi di media cetak maupun online yang membuat pagi Toni dan Naura harus terpontang-panting memutar otak untuk bertindak. Dering telepon terus-menerus diterima oleh Farah juga Darwis sebagai sekretaris Werner Group yang bertanggung jawab atas Toni dan proyek mereka di Pasuruan.Berita mengenai Emir terbit secara ugal-ugalan dengan narasi yang menyesatkan. Akta lahir Emir yang mencantumkan nama Naura sebagai ibu kandung beredar di semua media. Tanpa nama ayah yang tertera membuat isu mengenai Emir adalah anak haram Naura dan almarhum Arvin bergulir seperti bola salju yang semakin membesar di setiap detik dan menitnya.“Sepertinya untuk hari ini, lebih baik Emir tidak ke sekolah,” saran Farah ke Naura.“Kenapa?” tanya Naura yang juga berkutat dengan ponsel.“Berita mengenai ini sudah masuk ke portal berita Pasuruan,” kata Farah dengan menunjukkan ponsel yang mengunggah portal berita Pasuruan.Naura memijat pelipisnya saat membaca artikel yang memenuhi berita lokal area Pasu

  • Cinta yang Terbelah   Hilang Tanpa Jejak

    “Apa katamu? Mereka tidak terlihat?” tanya Desmond untuk memastikan jika ia tidak salah dengar.“Ya,” jawab sang sekretaris, Hamzah.“Sejak kapan?”“Dua hari yang lalu.”Desmond memukul meja dengan keras hingga menimbulkan bunyi yang dapat terdengar hingga keluar ruangan. Amarah terlihat jelas di wajah pria paruh baya tersebut dengan sorot mata yang siap menerkam siapa pun yang ada di hadapannya. “Bagaimana dengan pegawainya?”“Sejak istri Lucas ke Pasuruan, mereka telah diliburkan dan belum kembali aktif.”“Berengsek,” gumam Desmond kesal. Kegelapan di ruang kerjanya juga telah menyelimuti semua rencana dia untuk membuat Hans melepaskan Werner Group. Dia yang telah menunggu hingga enam tahun harus memutar otak saat putra sulung Hans kembali ke Indonesia. Jejak sang putra bungsu yang sulit untuk ia dapat membuat dia harus menunggu sang putra kembali ke Indonesia. Sial bagi Desmond, saat putra bungsu Hans kembali, ia langsung di kirim ke Pasuruan dengan alasan pembangunan pabrik di a

  • Cinta yang Terbelah   Ancaman yang Tak Terlihat

    “Duduklah!” kata Hans ke Lucas seolah itu adalah rumahnya sendiri.Lucas duduk di sofa yang berhadapan dengan Hans dengan Dwi yang setia berada di sisinya. Mereka duduk dalam diam, membiarkan Hans memulai pembicaraan. Alih-alih mulai bicara, pria tua itu mengeluarkan sebuah kantong plastik terang dari balik meja.“Apa itu?” tanya Lucas penasaran dengan sebuah benda kecil di dalamnya.“Ternyata bukan kau yang memasangnya,” ujar Hans terlihat lega.“Memasang apa? Memangnya apa itu?”“Ini adalah komponen asing yang tim kami temukan setelah membongkar mobil keseluruhan,” jelas Hans.“Apa?” Lucas mengambil kantong plastik yang diletakkan di atas meja tersebut. Ia membolak-balikkan kantong plastik tersebut, mengamati benda kecil yang seperti mikrochip.“Kau benar-benar hanya alat Desmond,” ujar Hans sambil menganggukkan kepala ke Ba’ashir.“Alat Desmond?”“Kau berkata ke Gus Khalid mengenai Desmond yang menggunakan alat canggih untuk membuat kecelakaan yang merenggut nyawa Arvin tampak sepe

  • Cinta yang Terbelah   Siapa yang Siapa

    Matahari tenggelam ke dasar bumi berganti bulan berteman malam saat anak buah Gus Khalid memindahkan Lucas dari gudang. Dengan zikir dari Gus Khalid, mereka mampu mengecoh anak buah Desmond yang mengawasi gudang. Darwis bersama dua orang anak buah Gus Khalid mengendari mobil milik Dwi menuju Bali untuk mengambil bukti yang menunjukkan keterlibatan Desmond dalam kecelakaan maut putra sulung Hans Werner.“Mereka sudah bersiap dan menunggu di kapal feri,” kata Toni ke Darwis.“Ya, saya mengerti.”Lucas tidak terkejut sama sekali dengan pengaturan yang dilakukan oleh Toni Werner. Detail yang rapi menjadi ciri khas dari keluarga Werner dalam merencanakan sesuatu hingga lawan kesulitan menemukan celah untuk menyerang. Karena itulah, Desmond membutuhkan waktu yang cukup panjang untuk memutus penerus Hans Werner yang tidak bisa dianggap berhasil karena masih menyisakan putra bungsu dan cucu pertama Hans.Mereka menyusuri jalanan Malam Pasuruan Banyuwangi dalam diam dan rasa kantuk yang terama

  • Cinta yang Terbelah   Bukti yang Tersembunyi

    “Apa ini?!” Lucas menerkam kerah baju Gus Khalid sambil menggenggam beberapa lembaran dokumen bukti keterlibatan Desmond. “Seperti yang kau baca,” jawab Gus Khalid dengan tenang.Lucas mendorong tubuh Gus Khalid hingga menempel ke tembok, mencengkeram semakin erat dengan mata berapi-api. Tatapan penuh amarah Lucas hanya di tanggapi dengan tatapan tenang Gus Khalid. Saat kedua pria itu saling menguarkan aura peperangan, ke empat orang lainnya hanya melihat dari tempat mereka berdiri.“Kalian pikir aku akan percaya dengan lembaran-lembaran ini?!” desis Lucas.“Aku yakin kau dapat mengetahui apakah dokumen-dokumen itu asli atau palsu,” balas Gus Khalid yang tidak terintimidasi oleh amarah Lucas.“Kau …” Gus Khalid menarik lepas tangan Lucas yang mencengkeram kerah bajunya dengan tangannya tanpa perlu mengeluarkan tenaga sama sekali. Didorongnya tubuh Lucas untuk memberi jarak pada mereka supaya bisa dapat berbicara dengan nyaman. Gus Khalid hanya berdiri diam dan menatap ke mata Lucas

  • Cinta yang Terbelah   Runtuhnya Tembok Kepercayaan

    Hari semakin siang dengan matahari yang terus beranjak naik membuat udara mulai terasa panas. Wajah-wajah serius, sabar menunggu kepastian dari Dwi yang terlihat masih bingung dan ragu. “Jika kau memang membutuhkan bukti untuk meyakinkan Lucas, aku bisa memberikannya,” kata Toni memecahkan keheningan.Dwi masih tampak bingung dan linglung, terungkapnya kebenaran yang tersembunyi selama belasan tahun membuat wanita itu berusaha keras untuk menyerap dan menerima untuk mengambil satu tindakan demi keutuhan keluarga mereka.“Mana?” pinta Dwi terdengar rapuh.Toni memberi isyarat ke Darwis yang berdiri sigap di sudut ruang tamu untuk mengambilkan bukti mengena Desmond yang terlibat dalam kehancuran keluarga Lucas. Dengan sigap Darwis berjalan menuju mobil mengambil bukti-bukti yang telah mereka siapkan sesuai dengan prediksi bahwa Dwi akan meminta bukti untuk membujuk dan meyakinkan Lucas.“Ini, silakan kau baca dulu,” kata Toni memberikan setumpuk dokumen di map plastik.Dwi membuka map

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status