Share

Bab 2

Author: Xaviera
Dering ponsel yang nyaring tiba-tiba memecah kesunyian.

Samuel sama sekali tidak mendengar kalimat terakhir yang diucapkan Frida. Dia langsung mengangkat telepon dan mendengar suara Kamila yang terdengar sangat memelas dari seberang sana.

"Kak, sahabatku mendadak ada urusan dan harus pergi. Dokter bilang malam ini harus ada yang menemaniku di sini, apa Kakak punya waktu untuk ke sini?"

"Ya, aku ke sana."

Samuel langsung menyanggupinya tanpa ragu.

Setelah mematikan ponsel, dia mengambil kunci mobilnya. Tepat sebelum melangkah keluar pintu, dia baru teringat untuk berpamitan pada Frida.

"Ada urusan mendadak, malam ini aku nggak pulang. Tadi kamu ngomong apa?"

Frida tertegun sesaat, lalu menundukkan kepalanya sembari tersenyum getir.

"Bukan apa-apa. Sana, selesaikan urusanmu."

Brak!

Pintu tertutup rapat dan ruangan itu kembali tenggelam dalam keheningan.

Setelah beristirahat sejenak, Frida mulai mengemas barang-barangnya. Dia memilah semua benda yang berkaitan dengan Samuel. Kalung pemberian pria itu, kemeja beserta manset yang dia belikan untuk Samuel, gelas pasangan, hingga sikat gigi mereka.

Tak ada satu pun barang yang dia sisakan, semuanya dibuang ke tempat sampah.

Selanjutnya, dia mengambil kamera dan memeriksa foto-foto yang dia potret selama bertahun-tahun. Sebagian besar isinya adalah foto Samuel.

Saat berusia delapan belas tahun, ketika pria itu mengembalikan surat cintanya, sorot matanya yang sedingin salju abadi menatap ke arahnya.

Saat berusia dua puluh satu tahun, ketika pria itu setuju menjadi kekasihnya, jari Samuel yang kokoh terulur untuk menggenggam tangannya.

Saat berusia dua puluh lima tahun, sesosok punggung yang tinggi dan mencolok di tengah kerumunan bandara setelah mengantarnya pergi ....

Setiap kali membuka satu foto, Frida selalu bisa mengingat dengan jelas suasana saat foto itu diambil.

Semua kenangan itu terasa begitu nyata, seolah baru terjadi kemarin.

Dia menatap foto-foto itu berulang kali dengan dada yang terasa sesak dan pahit. Namun pada akhirnya, dia menekan tombol hapus dan mengosongkan seluruh album foto tersebut.

Karena Samuel tidak mencintainya, Frida tidak sudi lagi terjebak dalam nostalgia ini.

Mulai hari ini, dia memutuskan untuk hidup demi dirinya sendiri.

Setelah selesai membersihkan kamar tidur, Frida beralih ke ruang kerja untuk merapikan buku, dokumen, dan laptopnya.

Di sela-sela kesibukannya, Frida menemukan sebuah buku catatan asing yang tidak dia ketahui milik siapa.

Didorong rasa penasaran, dia membuka lembar pertama catatan itu dan langsung mengenali tulisan tangan Samuel di sana.

[Dia suka makan ceri, suka hari hujan. Kalau dia sedang marah, cukup cium dia, maka dia akan langsung ceria kembali .…]

Satu buku penuh itu berisi catatan tentang kesukaan, pantangan, dan kebiasaan Frida.

Melihat tulisan demi tulisan itu, hatinya yang semula mati rasa mendadak bergejolak pelan.

Untuk apa Samuel mencatat semua ini? Bukankah selama ini pria itu tidak menyukainya?

Atau, apakah pria itu hanya tipe orang yang tidak pandai mengekspresikan kata-kata, sementara sebenarnya Samuel tidak sepenuhnya mati rasa padanya?

Berbagai pertanyaan berkecamuk di dalam benak Frida, mengusik ketenangannya. Dia merenung semalaman tanpa menemukan titik terang, tetapi dia berhasil menyadari satu hal.

Mereka telah bersama selama bertahun-tahun. Setiap kali dia merasa cemas dan ketakutan akibat sikap dingin pria itu, Samuel sebenarnya merekam semuanya dengan jelas.

Namun, pria itu memilih untuk membiarkannya tenggelam dalam prasangka, tidak pernah menunjukkan isi hatinya yang sebenarnya, ataupun memberikan kepastian tentang masa depan mereka.

Rasa kecewa dan sedih yang dia rasakan selama ini adalah nyata, cintanya yang terkuras habis adalah nyata, dan keputusasaannya untuk menyerah juga nyata.

Entah karena sifat bawaan Samuel yang memang begitu atau karena pengaruh hukum dari dunia novel ini, semuanya sudah tidak penting lagi.

Bagaimanapun juga, mereka ditakdirkan untuk tidak bersama.

Setelah memantapkan kenyataan ini, tekad Frida untuk pergi kian bulat.

Saat dia terbangun dari tidurnya, hari sudah beranjak malam.

Frida menyantap sedikit makanan, lalu ponselnya berdering. Namun, suara yang terdengar di seberang telepon bukanlah suara Samuel, melainkan rekan kerjanya.

"Kak, Samuel mabuk berat. Apa Kakak bisa ke sini untuk menjemputnya?"

Mabuk?

Dalam ingatan Frida, Samuel adalah orang yang anti alkohol, bagaimana mungkin dia bisa mabuk?

Sesampainya di depan pintu ruang privat yang sedikit terbuka, Frida baru saja hendak melangkah masuk ketika dia mendengar suara orang-orang di dalam yang terus berdecak kagum.

"Samuel, biasanya kamu kelihatan sangat dingin dan kaku. Kalau kami mengajakmu ngumpul, kamu nggak pernah mau ikut. Tapi sejak Kamila masuk ke firma hukum kita, asal dia yang minta, kamu selalu datang. Sebenarnya apa isi hatimu padanya?"

Samuel mengangkat tangannya untuk memijat pelipis, suaranya terdengar setenang air mengalir.

"Kami punya dosen pembimbing yang sama, wajar kalau aku sedikit memperhatikannya."

"Cuma perhatian? Kamu sangat galak pada anak magang yang lain, salah sedikit saja langsung kamu pecat. Tapi Kamila sudah buat banyak masalah dan kamu selalu turun tangan untuk membereskannya. Apa sebenarnya yang spesial darinya sampai bisa mendapatkan perlakuan khusus darimu?"

Mendengar jawaban Samuel, beberapa rekan kerjanya tidak percaya dan terus mendesaknya.

Namun, Samuel tidak lagi menanggapi.

Mereka mengira Samuel enggan membahas topik tersebut, hingga akhirnya beralih ke pembahasan lain.

"Oh ya, bukannya sebelumnya kamu bilang mau menikah? Apa akta nikahnya sudah diurus? Ini sudah tertunda beberapa bulan, ‘kan?"

"Seingatku, Kak Frida sudah mengingatkanmu sebanyak dua puluh tiga kali. Kamu sudah mengabaikannya berkali-kali begini, apa kamu nggak takut dia akan marah?"

Mendengar nama Frida disebut, Samuel baru membuka matanya kembali dengan tatapan datar.

"Itu bukan urusan yang penting, dia nggak akan marah."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Cinta yang Terkubur   Bab 24

    Samuel bertahan di dalam mobil sepanjang malam. Keesokan harinya, dia menunggu satu hari penuh hingga akhirnya pada malam hari, dia melihat Frida dan Marsel keluar dari hotel.Frida tampak sangat bahagia sambil menggandeng tangan Marsel. Keintiman di antara keduanya, menciptakan atmosfer yang tidak bisa diganggu gugat oleh orang lain. Sepasang pria tampan dan wanita cantik itu, menjadi pusat perhatian di jalanan. Sementara Samuel hanya bisa bersembunyi di sudut yang gelap, mengintip kebahagiaan yang seharusnya menjadi miliknya.Jika saja dulu saat Kamila muncul, dia tidak membiarkan hatinya goyah dan tetap setia pada Frida, maka orang yang berdiri di samping wanita itu sekarang adalah dirinya. Dia telah kehilangan orang yang paling mencintainya hanya demi ego sesaat.Marsel sangat peka dengan sekitar. Menyadari ada yang mengintai, dia mengeluarkan ponsel dan mengirim sebuah pesan singkat. Lalu dia tetap bersikap biasa sambil menggandeng Frida, meski tubuhnya mendadak menegang waspad

  • Cinta yang Terkubur   Bab 23

    Samuel masih ingin melihat Frida untuk terakhir kalinya. Setelah mengetahui Frida dan Marsel sedang berbulan madu di luar negeri, dia langsung membeli tiket pesawat untuk menyusul.Namun begitu turun dari pesawat, dia menerima banyak pesan. Polisi telah menemukan jenazah Kamila. Karena rambut dan sidik jarinya ditemukan di lokasi kejadian, polisi bersiap menangkapnya dan mengirim pesan menyuruhnya menyerahkan diri.Samuel langsung mencopot kartu ponselnya dan membuangnya ke dalam toilet. Setelah melakukan penyamaran sederhana di kamar mandi, dia keluar dan memanggil taksi, lalu memberikan seonggok uang tunai kepada sopir untuk mengantarnya ke tempat penyewaan mobil ilegal. Melihat uang yang tebal, sopir taksi langsung mengantarnya ke sana. Setelah negosiasi singkat, dia berhasil mendapatkan mobil ilegal tanpa identitas. Dia memasukkan titik tujuan dan langsung berkendara menuju lokasi Frida...."Baik, saya paham. Jika melihatnya, saya akan langsung menghubungi polisi." Di tempat

  • Cinta yang Terkubur   Bab 22

    Samuel yang lukanya belum sembuh terpaksa mengurus masalah firma hukumnya dengan tubuh yang sakit. Setelah urusan selesai, karier yang dibangunnya bertahun-tahun hancur total, bahkan izin pengacaranya pun hampir dicabut.Dia terus menyelidiki dalang di balik semua ini hingga menerima sebuah rekaman video misterius. Dari sana dia tahu bahwa ini semua adalah ulah Kamila. Saat dia tertidur di rumah sakit, gadis itu membawa orang untuk mencuri data di ponselnya."Kamila, aku akan membunuhmu!" Pada saat ini, kebenciannya pada Kamila mencapai puncaknya.Dia baru keluar dari rumah sakit sebulan kemudian. Sejak tahu dalang di balik kehancurannya adalah Kamila, setiap hari dia merencanakan balas dendam. Setelah memikirkan berbagai cara selama sebulan, Samuel akhirnya memilih jalan yang paling cepat.Setelah membuntuti Kamila selama dua hari, dia memilih malam yang gelap untuk memukul gadis itu hingga pingsan. Memasukkannya ke dalam karung, lalu membawanya ke sebuah gudang tua yang sudah dia

  • Cinta yang Terkubur   Bab 21

    "Halo?" Suara Frida terdengar dari seberang telepon. Seketika Samuel merasa waktu seolah berjalan mundur, dan air matanya hampir menetes. "Frida, ini aku. Tolong jangan ditutup dulu, dengarkan penjelasanku, ya? Aku mimpi sesuatu, di dalam mimpi itu, kita berada di dalam sebuah buku." Samuel memohon dengan sangat rendah hati agar Frida mau mendengarkannya.Di seberang sana, Frida yang mendengar suara Samuel, sebenarnya berniat langsung menutup telepon. Namun, mendengar perkataan pria itu, dia mengurungkan niatnya. Dia tiba-tiba teringat, jika hal ini ketahuan oleh Marsel, dia pasti harus memutar otak lagi untuk membujuk suaminya yang sangat mudah cemburu itu. Setelah pernikahan selesai waktu itu saja, dia butuh waktu lama untuk menenangkan Marsel di rumah. Pria itu bahkan terus menggunakan masalah itu untuk bermanja-manja dan meminta perhatiannya, hingga rencana bulan madu mereka harus tertunda lama karena ulah manjanya setiap hari."Frida, apa kamu juga mimpi hal yang sama? Di dal

  • Cinta yang Terkubur   Bab 20

    Saat Samuel terbangun, Kamila sudah tidak ada. Setelah mengurus administrasi keluar dari rumah sakit, dia langsung naik taksi untuk pulang. Langit tampak mendung pekat dan angin kencang menggulung awan hitam, pertanda badai besar akan segera datang. Saat melewati sebuah persimpangan, sebuah truk yang hilang kendali tiba-tiba menghantam taksi yang ditumpangi Samuel.Samuel merasa tubuhnya seperti diguncang hebat dalam mesin cuci, sementara pecahan kaca menyayat wajahnya. Pandangannya berputar sebelum akhirnya dia terjebak di bawah badan mobil. Mobil itu mulai memercikkan api dan tercium bau bensin yang menyengat, tetapi karena terluka parah, dia tidak bisa bersuara. Orang-orang yang melintas segera menelepon ambulans dan polisi, sementara beberapa warga yang baik hati berusaha menolong.Hujan deras mulai turun membasahi wajahnya. Dalam hati, dia hanya bisa meratapi nasibnya yang begitu akrab dengan rumah sakit belakangan ini. Jalanan menjadi sangat kacau, pecahan kaca berserakan,

  • Cinta yang Terkubur   Bab 19

    Setibanya di Kota Kiskan, Samuel segera menyelidiki peristiwa yang terjadi belakangan ini. Melihat dokumen di tangannya, dia merasa sangat kesepian. Baru sekarang dia menyadari betapa fatal kesalahan yang telah diperbuatnya.Melihat foto pernikahan Frida yang didapatnya dari orang lain, serta senyum bahagia di wajah wanita itu, penyesalan mendalam merayapi hati Samuel. Kebahagiaan itu seharusnya menjadi miliknya.Setelah mengirimkan pesan pemecatan Kamila ke firma hukumnya, dia mengurung diri di rumah dan minum alkohol sepanjang hari untuk melupakan kesedihan.Hingga suatu hari, rekan kerjanya di firma hukum tidak bisa menghubunginya. Saat mendatangi rumah Samuel, rekan kerjanya menemukan Samuel sudah tidak sadarkan diri akibat keracunan alkohol. Karena panik, rekannya segera menelepon ambulans untuk membawanya ke rumah sakit.Saat terbangun, Samuel hanya bisa menatap kosong dinding ruang rawat yang putih. Dulu, setiap kali dia sakit dan dirawat, Frida selalu sibuk mengurus dan meraw

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status