Short
Dia Bukan Lagi Bintangku

Dia Bukan Lagi Bintangku

By:  MohiniCompleted
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel4goodnovel
8Chapters
2.3Kviews
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Di acara reuni kelas, begitu aku kembali usai membantu pacarku membeli barang, tempat dudukku sudah diduduki sahabatku. Gelas anggur merah dan piringku sudah disingkirkan, diganti dengan satu set yang baru. Sama sekali tidak ada jejak yang menunjukkan kalau aku pernah berada di sana. Melihatku datang, Clara hendak berdiri, tapi Billy buru-buru menahannya untuk duduk kembali. “Lagipula dia juga nggak akan paham kalau kita membicarakan soal kasus. Duduk di sini hanya bisa ikut-ikutan tersenyum.” Yang lain tak ada yang berani menimpali. Semua orang tahu, dulu keluargaku mengalami masalah besar, sehingga aku terpaksa berhenti kuliah di tengah jalan. Saat kuliah, mereka adalah ‘pasangan terbaik’ di fakultas hukum. Mereka telah menyelesaikan begitu banyak kasus rumit bersama-sama. Setelah lulus, mereka berdua langsung masuk ke jajaran firma hukum ternama, sementara aku hanya bisa mengandalkan pacarku untuk masuk ke firma hukum sebagai ‘sekretaris kecil’. Aku berdiri terpaku dengan bodohnya di tempat. Billy baru saja menerima rokok yang kubelikan untuknya, lalu kembali berkata santai, “Clara mau minum milk tea, pergi belikan untuk dia.” Saat mengatakannya, dia bahkan tidak melirikku sedikit pun. Setelah itu, dia kembali melanjutkan obrolannya. Di tengah obrolan hangat mereka, tiba-tiba aku merasa lelah. Orang yang dulu mati-matian kukejar, tapi tak pernah berhasil itu, kini aku tak lagi ingin mengejarnya.

View More

Chapter 1

Bab 1

Setengah jam telah berlalu setelah aku kembali membeli rokok.

Selain menyuruhku beli milk tea tadi, Billy bahkan tak melirikku lagi.

Dia mengobrol dengan Clara tentang kasus yang baru saja mereka menangkan minggu lalu, lalu beralih membahas rencana masa depan firma hukum.

Aku bahkan sudah tak ingat ini sudah keberapa kalinya diriku hanya menjadi figuran di antara mereka berdua.

Hingga Clara membalas sebuah pesan, Billy baru menoleh padaku dengan heran.

“Kok masih belum pergi?”

Sejak acara reuni dimulai hingga sekarang, aku sudah keluar tiga kali untuk membantunya membeli barang.

Hujan deras di luar sudah mengguyurku berkali-kali, sampai seluruh tubuhku basah kuyup.

Begitu melihat bekas air di wajahku, Billy terdiam sejenak.

Sahabatku, Clara, buru-buru mencairkan suasana.

“Aku hanya asal bilang saja. Masih hujan di luar, nggak perlu dibeli.”

Sambil berkata begitu, Clara dengan cekatan mengambil sapu tangan dari dalam tasnya.

Itu motif yang sama dengan yang milik Billy.

Sejak aku kembali setelah berhenti kuliah selama setengah tahun, sarapan yang dibawa Billy berubah dari dua porsi menjadi tiga.

Setelah kami lulus, bukan hanya sarapan, bahkan tiket bioskop pun selalu dibelikan tiga.

Namun, keseimbangan itu perlahan mulai berubah.

Entah sejak kapan, Billy terbiasa hanya membawa satu porsi untuk Clara.

“Sudahlah, jangan merokok lagi. Herli paling nggak suka bau rokok.”

Clara merebut rokok dari tangan Billy, lalu mematikannya.

Pria itu hanya terkekeh, lalu menggelengkan kepala dengan pasrah.

Selama tujuh tahun mengenalnya, aku adalah orang yang paling tahu seperti apa wajahnya ketika memanjakan seseorang tanpa syarat.

Dulu, aku berkali-kali menyuruhnya berhenti merokok karena tak tahan dengan bau rokok.

Namun, dia hanya bilang bahwa aku tidak mengerti kesulitannya dan bahkan tidak memberinya sedikit pun kebebasan.

Pria yang paling benci dikekang dan diatur itu, ternyata kini juga sudah terbiasa membiarkan Clara mengaturnya.

Suasana di meja kembali ramai.

Aku langsung berbalik dan meninggalkan ruang VIP.

Aku menarik napas dalam-dalam, lalu menelepon kepala bagian personalia untuk mengajukan pengunduran diri.

Dia sangat terkejut.

“Selama ini kamu yang mengurus hampir semua urusan sehari-hari di firma. Kalau kamu pergi, kami bisa kacau.”

“Bagaimana kalau aku diskusikan dengan Pak Billy dan meminta dia memindahkanmu ke divisi lain?”

Sejak tahun pertama bekerja di firma hukum, aku sudah berkali-kali mengajukan permintaan untuk pindah divisi.

Aku membantu rekan kerja memenangkan kasus, tetapi Billy bilang itu hanya karena aku sedang beruntung.

Aku mengajukan permohonan untuk diangkat sebagai pegawai tetap, tetapi dia bilang pengalamanku belum cukup.

Saat pembagian bonus akhir tahun, dia bahkan menghitung penilaianku sampai sedetail mungkin.

Dia bilang, “Kamu itu pacarku, jadi harus menghindari ketidakadilan.”

Sementara itu, dalam setahun Clara naik jabatan dua kali. Dia bilang itu karena kemampuan dan pengalamannya memang luar biasa.

Di acara tahunan perusahaan, Clara mendapatkan hampir semua penghargaan. Dia bilang itu hanya bentuk perhatian kepada teman lama.

Selama tujuh tahun bekerja dengan tekun, aku tetap saja menjadi sosok yang transparan.

Aku menatap kedua orang itu yang sampai sekarang bahkan tidak menoleh sedikit pun kepadaku, lalu tiba-tiba tersenyum.

Kemudian aku menjawab,

“Kak Sherly, tolong urus proses pengunduran diriku, nggak perlu kasih tahu ke dia.”

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
8 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status