LOGINPada hari pesta perayaan satu bulan kelahiran anak sahabatku, suamiku, Evans Ardiono, menghadiahkannya sebuah vila. Aku mengira dia salah memberikan hadiah, tetapi ekspresinya tetap tenang saat berkata, "Anak Chloe adalah anakku. Vila itu hadiah untuknya." Tubuhku seakan jatuh ke dalam jurang es. Aku bertanya dengan enggan, "Sejak kapan?" Dia mengernyit tidak sabar. "Memangnya itu penting?" "Ke depannya, kau tetap Nyonya Ardiono. Punya uang, hidup santai, jadi ibu tanpa rasa sakit. Bukannya itu bagus?" Namun, Evans tidak tahu. Dia mengidap azoospermia parah. Yang tidak bisa punya anak bukan aku, melainkan dia.
View MoreSementara itu, Chloe terus dikurung oleh Evans di vila di utara kota.Adapun anak yang dulu begitu Evans anggap sebagai harta paling berharga, telah dia kirim ke luar negeri.Anak itu tidak bersalah, tetapi Chloe iya.Setiap hari, Evans menyiksa Chloe di vila itu dan membohonginya dengan mengatakan bahwa anaknya telah meninggal.Pada awalnya, Chloe masih berharap asisten pria itu akan kembali menyelamatkannya. Namun, setelah mengetahui bahwa pria tersebut telah berganti identitas dan menghilang tanpa jejak, Chloe pun benar-benar putus asa.Siksaan fisik dan batin yang terus-menerus membuat kondisi mental Chloe akhirnya terganggu.Saat aku melihatnya lagi, tubuhnya sudah kurus hingga nyaris tidak dikenali. Evans hanya menjatuhkan segelas teh, tetapi Chloe langsung merangkak menghampiri dan menjilat teh yang tumpah di lantai sampai bersih.Kemudian, dia mendongak dan tersenyum kepada Evans."Evans, lihat, aku sudah membersihkan lantainya sampai benar-benar bersih.""Bolehkan aku bertemu
Baru tiga bulan yang lalu, dia bertubi-tubi menghancurkanku, bahkan hampir membuatku kehilangan nyawa. Bagaimana mungkin aku bisa begitu saja memaafkannya?Aku tanpa ragu langsung menutup pintu, bahkan tanpa mengucapkan sepatah kata pun kepadanya.Namun, Evans terus menunggu di depan pintu, sampai akhirnya paman yang pulang kerja melihatnya.Begitu mengenali wajah Evans, paman langsung bergegas menghampirinya dan memukulnya.Evans terjatuh ke tanah. Darah mengalir dari sudut bibirnya, tetapi dia masih keras kepala."Paman! Asal Rosa mau memaafkanku, sekalipun Paman memukuliku sampai mati, aku rela menerimanya!""Hari-hari tanpa Rosa membuat hidupku lebih buruk daripada kematian.""Tolong percayalah, aku benar-benar mencintai Rosa."Paman malas mendengarkannya dan langsung menyuruh orang mengusirnya.Beberapa hari berikutnya, Evans terus-menerus muncul di depan rumah, bahkan mencoba menggunakan kenangan masa lalu untuk meluluhkan hatiku.Setiap kali aku keluar rumah, dia langsung mengha
Evans sangat ingin makan sup dan juga sangat merindukan Rosa.Rumah itu masih persis seperti tiga bulan lalu. Bahkan kotak pangsit yang belum habis pun masih tergeletak di sana.Setelah tiga bulan, permukaan pangsit itu sudah tidak lagi berbentuk jelas, tetapi isinya masih tampak menggembung.Seolah digerakkan oleh sesuatu yang tidak kasatmata, Evans melangkah maju dan mengambil satu pangsit.Ujung jarinya tiba-tiba terasa perih. Saat itulah dia baru melihat dengan jelas bahwa di antara pangsit yang sudah membusuk itu terdapat tumpukan pecahan kaca.Ternyata dulu Rosa tidak berbohong. Isian pangsit itu benar-benar berisi pecahan kaca.Namun, apa yang sudah dia lakukan?Dalam lamunannya, Evans seakan melihat Rosa berdiri tidak jauh darinya, dia tersenyum sambil berkata, "Evans, supnya sudah siap."Evans bergegas mendekat. Namun, yang diraihnya hanyalah kehampaan.Tiba-tiba wajahnya terasa basah dan gatal. Saat tangannya menyentuh pipi, Evans baru sadar telapak tangannya telah dipenuhi a
Sepanjang perjalanan, yang dipikirkan Evans hanyalah bagaimana cara menghadapi Rosa.Namun, saat mendorong pintu vila terbuka, dia langsung terpaku.Yang menyambutnya adalah bau debu yang menyengat. Vila itu kosong melompong. Semua barang masih tertata seperti tiga bulan lalu. Bahkan, bercak darah di lantai pun masih tersisa.Rosa tidak ada di sini?Lalu, dia pergi ke mana?Tidak heran, meski asistennya sering melaporkan keadaan Rosa, dia tidak pernah sekali pun mengirim foto.Evans merasa dirinya seolah terjebak dalam kabut tebal.Dia mengeluarkan ponsel lalu menelepon asistennya."Sekarang juga. Detik ini juga. Datang ke vila di selatan kota."Meski asistennya sudah menyanggupi dengan patuh, Evans menunggu di vila dari siang hingga malam, tetapi bayangan asistennya pun tidak terlihat.Saat Evans menelepon lagi, yang terdengar hanya nada sibuk.Dia segera memerintahkan orang untuk melacak keberadaan asistennya, tetapi ternyata orang itu sudah naik pesawat menuju luar negeri setengah j












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.