Short
Kembang Api di Pengujung Malam

Kembang Api di Pengujung Malam

By:  FeishaCompleted
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel4goodnovel
8Chapters
4views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Pada hari pesta perayaan satu bulan kelahiran anak sahabatku, suamiku, Evans Ardiono, menghadiahkannya sebuah vila. Aku mengira dia salah memberikan hadiah, tetapi ekspresinya tetap tenang saat berkata, "Anak Chloe adalah anakku. Vila itu hadiah untuknya." Tubuhku seakan jatuh ke dalam jurang es. Aku bertanya dengan enggan, "Sejak kapan?" Dia mengernyit tidak sabar. "Memangnya itu penting?" "Ke depannya, kau tetap Nyonya Ardiono. Punya uang, hidup santai, jadi ibu tanpa rasa sakit. Bukannya itu bagus?" Namun, Evans tidak tahu. Dia mengidap azoospermia parah. Yang tidak bisa punya anak bukan aku, melainkan dia.

View More

Chapter 1

Bab 1

Melihat situasi itu, sahabatku, Chloe Hardana, ikut mendekat dan menggandeng lenganku. Wajahnya penuh rasa bersalah.

"Rosa, aku tahu kau nggak bisa menerimanya dalam waktu singkat. Tapi kau nggak bisa punya anak. Daripada melahirkan dari wanita lain, lebih baik biar aku saja."

"Kau pernah bilang, apa yang menjadi milikmu juga milikku."

"Sejujurnya, lima tahun lalu, pada malam setelah kau mengucapkan kata-kata itu, aku sudah bersama Evans."

Aku terpaku di tempat.

Lima tahun lalu, pada hari pernikahanku dengan Evans, Chloe hadir sebagai pendamping pengantin.

Di tepi pantai, kami pernah berjanji untuk saling menemani seumur hidup.

Saat itu, Chloe terlilit utang, aku dengan murah hati memberikan maharku untuk melunasi utangnya.

Dia berkali-kali menolak. Agar Chloe mau menerimanya, aku hanya bisa berkata bahwa apa yang menjadi milikku juga miliknya.

Tidak kusangka, malam itu juga dia justru tidur dengan pria yang paling kucintai.

Seluruh isi tubuhku serasa membeku. Aku sampai lupa bagaimana caranya aku pergi dari sana.

Lima tahun kebersamaan itu, kini terasa seperti sebuah lelucon.

Saat Evans pulang, rumah sudah berantakan.

Tidak terjadi pertengkaran seperti yang kubayangkan. Dia menghampiri, lalu memelukku seperti setiap kali kami bertengkar dulu, seraya membujukku lembut di telinga, "Ada yang terluka? Lihat dirimu, sudah sebesar ini masih seperti anak kecil saja."

Sambil bicara, Evans mengecup telingaku.

Sesaat, aku hampir mengira semua yang terjadi siang tadi hanyalah mimpi buruk.

Sekarang mimpi itu telah berakhir, kami kembali menjadi pasangan yang saling mencintai.

Namun, detik berikutnya, kata-katanya kembali menyeretku ke mimpi buruk itu.

"Chloe bilang beberapa malam ini bayinya terus rewel. Aku bakal pergi ke vila di utara kota buat menemani mereka berdua."

"Tenang saja, yang paling kucintai tetap kau. Chloe cuma ibu dari anakku, nggak lebih."

"Kalau kau benar-benar nggak bisa menerimanya, ke depannya kalian bakal tinggal berjauhan, satu di selatan dan satu di utara, tanpa saling mengganggu."

"Kenapa?"

Aku menatapnya dan berkata dengan penuh penekanan, "Kenapa pada hari pernikahan kita lima tahun lalu, kau tidur dengannya?"

Evans mengusap rambutku dan berkata lembut, "Awalnya cuma karena mabuk ...."

"Kemudian ... aku sadar, meskipun kalian sahabat, kalian benar-benar berbeda saat di ranjang. Kau terlalu kaku, Rosa."

"Kau juga suka sekali merajuk. Setiap kali selesai bertengkar denganmu, Chloe yang selalu menemaniku."

Saat mengatakannya, wajah Evans dipenuhi kenangan.

Pikiranku melayang ke tahun kedua hubungan kami. Saat itu, Evans mabuk sepulang dari jamuan bisnis. Pukul lima pagi, dia menolak beristirahat di hotel terdekat dan bersikeras meminta seseorang mengantarnya pulang.

Ketika kutanya alasannya, dia bilang dia takut tanpa sengaja bersentuhan dengan wanita lain saat mabuk.

Waktu itu Evans berjanji padaku bahwa seumur hidup ini dia hanya menginginkanku dan tidak akan pernah terlibat dengan wanita lain selain aku. Namun, sekarang, dia justru berselingkuh dengan sahabatku sendiri.

Memikirkan itu, hatiku begitu hancur. Aku bahkan lupa cara menangis.

Tiba-tiba ponsel Evans berdering.

Dia menatap layar yang menampilkan kata klien. Evans tidak langsung mengangkatnya, melainkan berkata kepadaku, "Sudahlah, kau sudah melampiaskan amarahmu. Kalau masih kesal, pergilah belanja. Chloe dan anak itu masih menungguku."

"Anak itu masih sangat kecil, dia nggak bisa tanpa ayah."

"Rosa, aku yakin kau juga nggak mau anak itu bernasib sepertimu, 'kan?"

Mataku membelalak marah.

Evans jelas tahu ayahku kabur dengan selingkuhannya saat aku berusia tiga tahun. Kehilangan kasih sayang ayah menjadi penyesalan terbesar dalam hidupku. Namun, dia sengaja mengucapkan kata-kata yang menusuk seperti ini.

"Evans ... kita cerai saja."

Aku hampir mengerahkan seluruh tenagaku hanya untuk mengucapkan kalimat itu.

Namun, setelah mendengarnya, Evans justru tertawa.

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
8 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status