Share

Cintai Aku, Pak Dosen!
Cintai Aku, Pak Dosen!
Author: Ivy Morfeus

Ch 1 : Kabur

Author: Ivy Morfeus
last update Last Updated: 2025-10-07 10:56:42

“Jadi ini yang kau lakukan saat pamit untuk mengerjakan tugas?? Menginap sekamar dengan pria asing??”

Suara Ronn menggelegar, membuat tubuh Aerin bergetar.

“Dia pacarku, bukan orang asing—”

Dengan tanpa diduga, Ronn membuka kemeja hitamnya, lalu melemparnya kasar ke atas ranjang.

“Buka bajumu! Aku akan tunjukkan betapa bahayanya berdua saja di kamar dengan seorang pria.”

***~***

"Sudah sampai, Sayang," kata Danadyaksa.

Aerin mendongak, ia mengerjap-kerjapkan matanya sebentar. Penerbangan selama tiga belas jam dari Jakarta ke London benar-benar melelahkan. Ia sampai tak sadar tertidur di dalam taxi saat menuju rumah Ronn, teman ayahnya sekaligus calon dosen yang akan mengajarnya nanti.

“Kau tidur nyenyak sekali,” kata Danadyaksa sambil mengusap pipi Aerin.

Aerin menguap pelan, lalu menyusul Danadyaksa keluar dari taxi. Sebuah rumah bergaya klasik di London berdiri kokoh di hadapannya. Dindingnya bata merah. Halamannya ditumbuhi tanaman rambat, dan sebuah plang kayu kecil di dekat pintu bertuliskan No. 11. Terlihat hangat. Dan itu melegakan Aerin.

Ding, dong!

Ayahnya membunyikan bel. Sedangkan Aerin tak henti melihat sekelilingnya. Tak lama kemudian, pintu terbuka. Aerin menoleh. Tiba-tiba, seperti slow motion dalam sebuah drama, angin dingin berhembus dengan sangat pelan, menerpa wajah pria tinggi dengan rambut hitam bergelombang di hadapannya. Sinar keemasan matahari menyinari rahangnya yang tajam, memperlihatkan dengan jelas janggut tipisnya yang terawat, menambah kesan maskulin pada penampilannya.

‘Dia terlihat lebih muda dari Papa,’ gumam Aerin dalam hati. Ia menebak usianya yang mungkin awal empat puluhan. Pria itu mengenakan kemeja putih yang digulung lengannya. Wajahnya sangat tampan, tapi matanya terlihat lelah.

“Dann!” sapanya, suaranya yang dalam dan berat tak menutupi keterkejutannya saat melihat Danadyaksa.

“Ronnl!” Ayahnya tersenyum lebar. Mereka berpelukan layaknya teman lama. “Lama tidak bertemu, kawan.”

"Sudah lama sekali. Kenapa kau tidak meneleponku lebih dulu? Aku bisa menjemputmu di bandara," tanya Ronn, menatap Ayah Aerin dengan tatapan protes.

“Kejutan,” canda Danadyaksa. “Aku bersamanya.”

Ia menoleh pada Aerin. “Ini putriku, Aerin.”

Ronn menatap Aerin. Berbeda dengan tatapannya pada teman lamanya itu, ia justru menatap Aerin dingin, tanpa senyum. “Dia yang akan tinggal di sini?”

“Ya,” jawab Danadyaksa. “Maaf ya, tiba-tiba begini.”

Ronn mengangguk, tapi sorot matanya masih sama. Ia mengulurkan tangan.

“Rowan Nathaniel. Kau bisa memanggilku Ronn.”

Aerin membalas uluran tangannya. Tangan besar itu terasa hangat, tapi genggamannya kuat. “Aerin.”

“Masuklah,” ajak Ronn mempersilakan mereka masuk.

Di dalam, seperti dugaan Aerin, rumah itu terasa nyaman. Hal pertama yang memancing perhatiannya adalah sebuah piano grand yang berdiri di sudut ruangan, tertutup kain beludru. Mata Aerin terpaku pada piano itu. Kenangannya beberapa tahun yang lalu tiba-tiba hadir, saat ia dan ayahnya sering menghabiskan waktu bersama dengan piano—Dandyaksa yang memainkan piano, sedangkan Aerin bernyanyi mengikuti alunannya.

Ronn mengamati tatapan Aerin. “Aku dulu suka main itu,” katanya, suaranya datar. “Sekarang, tidak lagi.”

“Kenapa?” tanya Aerin, refleks.

“Tidak ada waktu. Lagipula, hanya hobi anak-anak,” jawabnya, nada suaranya sedikit meremehkan.

Aerin terdiam. Dadanya sesak. Ronn tidak tahu apa yang ia bicarakan. Ayah Aerin merasakan ketegangan itu. Bergegas ia mengalihkan pembicaraan.

“Ronn, dia mahasiswi Sastra Inggris di Harrowgate University, lho. Kau akan jadi dosennya, kan?”

Ronn mempersilahkan kedua bapak dan anak itu untuk duduk. Lalu ia ikut duduk di ujung sofa abu-abu tua itu. Ia mengangguk. “Di departemen itu, ya. Tapi aku tidak mengajar kelas dasar.”

“Tidak masalah. Aerin pintar kok, dia akan mudah mengikuti kelas,” kata Ayahnya bangga.

Ronn menoleh lagi ke arah Aerin, ia tersenyum tipis. “Kita lihat saja nanti.”

Aerin menunduk. Sejujurnya, ia tidak menyukai kondisi ini. Di mana ia merasa ayahnya seperti lepas tangan dan menyerahkan dirinya ke orang lain untuk dididik. Apalagi orang itu menatapnya, seolah mengatakan: “Aku ragu”. Ia benci itu.

Ayah Aerin mengeluarkan sebuah tas dari ranselnya. “Ini, Ronn. Selama Aerin tinggal di sini. Jangan menolak, ya. Ini sebagai tanda terima kasih.”

“Tidak usah, Dann,” tolak Ronn.

"Tidak, Ronn. Ini bukan hutang. Anggap saja untuk biaya sewa kamar Aerin," kata Danadyaksa.

Ronn melirik ke arah Aerin yang duduk di samping ayahnya. Tatapan mata mereka bertemu beberapa detik.

‘Sekarang aku jadi merasa Papa sedang menjualku,’ gerutu Aerin dalam hati, walaupun kenyataannya ia sangat tahu bukan seperti itu.

Ronn menghela napas. “Baiklah. Terima kasih.” Ia mengambil tas itu.

Setelah beberapa saat mengobrol, Ayah Aerin melihat arlojinya. “Ronn, aku harus segera ke bandara. Pesawatku satu jam lagi.”

“Kau tidak berniat menginap semalam dulu di sini? Aku bisa mengajakmu keliling kota London besok,” kata Ronn.

Danadyaksa tersenyum. Ia menepuk bahu Ronn.

“Lain kali, Ronn, aku akan mampir lebih lama. Kita bisa pergi berempat—aku, Aerin, kau dan Lilith.” Danadyaksa mengalihkan pandangannya ke Aerin, ia memeluknya untuk yang terakhir kali, “Be good here, Sweetheart.”

Aerin mengangguk. Matanya sudah berkaca-kaca.

“Ring me everyday, will you? Do you understand, Sweetheart?” tambah Danadyaksa.

“I will. I promise,” jawab Aerin.

Tak berapa lama, taxi Danadyaksa sudah menghilang di persimpangan. Kini tinggal Aerin yang berdiri canggung di teras rumah.

“Kamarmu di atas. Ikut aku,”

Ronn memecah keheningan dengan perintahnya. Ia mengambil koper Aerin lalu memimpin langkahnya menaiki tangga. Aerin mengikutinya. Hingga sampai di ujung lorong, Ronn membuka sebuah pintu.

Kamar itu kecil, tapi terlihat nyaman. Ada ranjang, meja belajar, dan lemari. Jendela kamarnya menghadap ke jalanan. Ronn meletakkan koper Aerin di samping ranjang.

“Kalau butuh sesuatu, katakan saja.”

“Terima kasih,” gumam Aerin.

Ronn menatapnya. Tatapannya tidak lagi dingin, tapi juga tidak ramah. Ada sesuatu di dalamnya—kelelahan, dan mungkin juga kesedihan. Tapi Aerin tak ingin tahu. Ia hanya ingin istirahat untuk saat ini.

“Aku sudah mendengarnya dari Dann,”

Aerin yang baru saja akan duduk di atas ranjang, mengurungkan niatnya. Matanya melirik Ronn dengan waspada.

‘Apa yang Papa ceritakan padanya?’ tanya Aerin dalam hati.

“Kau sedang istirahat dari dunia entertainment karena alasan kesehatanmu. Dan memutuskan untuk mengisi waktu luang dengan kuliah,”

“Papa tidak menyebutkan detail tentang alasannya?” tanya Aerin, memastikan.

Ronn menatap Aerin dari ujung kaki hingga ujung rambutnya. Lalu mendengus, seolah sedang mengejek.

“Tidak. Tapi yang kulihat, kau sangat baik-baik saja. Jadi, aku berharap kau tidak bersikap seperti anak manja yang sedang berpura-pura sakit agar tidak bertanggungjawab dengan pilihan yang sudah diambilnya.”

Aerin mendelik. Ia tak menyangka wajah tampan berwibawa itu tidak sesuai dengan isi otaknya yang sembarangan.

“Aku sedang tidak berpura-pura sakit, Mr. Nathaniel! Dan tentang tanggung jawabku di dunia entartain, itu bukan urusanmu!”

Emosi Aerin terpancing. Ini sudah kesekian kalinya orang berpikir bahwa dia sedang kabur dari tanggungjawabnya sebagai penyanyi yang sedang naik daun di Indonesia. Tapi, ia tak bisa membela diri dengan membeberkan alasan sebenarnya ke khalayak umum, karena itu justru akan memicu bahaya yang lebih besar lagi untuknya.

“Ck, ck, ck… Emosimu, Nona Penyanyi, sungguh memperjelas bahwa kau tidak bisa menerima kritikan dari orang lain.”

Aerin mengepalkan tangannya kuat-kuat, hingga buku-buku jarinya memutih. Napasnya memburu, ia ingin sekali meneriakkan di telinga pria itu bahwa ia datang ke London karena kabur dari penguntit yang hampir membunuhnya.

“Rowan! Dari mana saja kau?? Apa-apaan ini??”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Cintai Aku, Pak Dosen!   Ch 108 : The End

    Aula utama Harrowgate dipenuhi suara langkah kaki, bisik-bisik bangga, dan denting kecil kamera yang tak lagi terasa mengancam. Aerin berdiri di barisan depan, mengenakan toga hitam dengan selempang biru tua. Rambutnya disanggul rapi, wajahnya tenang—bukan kosong, tapi terlihat bahagia.“Aerin.”Ia menoleh. Liz berdiri di belakangnya, masih mengenakan toga, wajahnya berseri seperti biasa.“Kau benar-benar lulus,” kata Liz, setengah tak percaya.Aerin tersenyum kecil. “Kau seperti baru melihatku berjalan lagi.”Liz tertawa pendek, lalu memeluknya tanpa ragu. “Aku melihatmu bertahan. Itu beda.”Dari kejauhan, Tristan dan Julian mendekat. Julian—pria berotot dengan senyum cerahnya, menggenggam sebuah buket berwarna pink. Sedangkan Tristan—pria berwajah serius itu, berpakaian sangat rapi dengan senyum menawannya. Di tangannya juga terdapat buket merah.“Aku sudah mengingatkan Julian kalau kau datang bersama tunanganmu. Tapi dia tetap bersikeras ingin membawakan buket untukmu.” bisik Liz b

  • Cintai Aku, Pak Dosen!   Ch 107 : The Quiet Season

    Dua tahun berlalu.Kalender dinding penuh coretan. Syuting. Album. Kelas daring. Acara musik. Nama Aerin kembali bersinar, kali ini dengan kendali penuh.“Berita pagi ini—Aerin Arsyl resmi diumumkan sebagai bintang utama film adaptasi novel The Quiet Season.”Suara televisi terdengar lirih di ruang makan yang terlalu luas.Aerin duduk dengan ponsel di tangan, menatap layar tanpa benar-benar membaca berita yang sama sekali sudah ia hafal. Judul itu sudah muncul sejak subuh. Nama itu—namanya—kembali beredar, kali ini tanpa kata insiden, stalker, atau ancaman. Tapi dengan bidang baru yang ia geluti: acting.“Akhirnya,” ujar Evander, menyuap nasi gorengnya. “Tanpa embel-embel kriminal. Aku lega kau membuat keputusan yang tepat.”Reza berdiri di dekat jendela, ia menyempatkan diri menyesap kopi panasnya.“Tim agensi bekerja rapi. Tidak berisik, tapi konsisten. Ide mereka untuk menaikkan nama Aerin melalui film, bisa disebut berhasil. Kami bahkan mengapresiasinya di beberapa platform media.

  • Cintai Aku, Pak Dosen!   Ch 106 : Keputusan Final

    “Akhirnya pulang juga…” Evander hampir berseru, dengan kedua tangannya terangkat ke atas. “Kangen sambal, ya?” goda Reza. Evander mengangguk antusias. “Perutku sulit untuk adaptasi. Kentang sama sekali tak membuatku kenyang. Aku butuh nasi, lalapan dan sambal.” Reza tertawa geli. Begitu juga Danadyaksa. “Ya sudah, nanti setelah sampai di Indonesia, saya akan traktir.” ucap Danadyaksa, disambut dengan senyum puas dari Evander. Bandara Heathrow terasa terlalu ramai untuk pagi yang seharusnya tenang. Langkah Aerin teratur. Mantap. Tidak tergesa. Tidak ragu. Jika dilihat sepintas, ia tampak seperti seseorang yang hanya akan pulang setelah perjalanan panjang—bukan seseorang yang baru saja kehilangan dunianya secara diam-diam. Ia berjalan di antara Liz, Tristan dan Julian. Sedangkan Danadyaksa, Evander dan Reza berjalan di depannya. Beberapa kali mereka melihat sekitar, tetap mengawasi walaupun tampak santai. Jalur privat memang membuat semuanya lebih sunyi. Tidak ada kamera.

  • Cintai Aku, Pak Dosen!   Ch 105 : Malam Mengerikan

    “Bagaimana kondisi di luar?”“Media menunggu di luar gerbang. Keamanan sudah dikerahkan untuk berjaga.”“Pastikan tidak ada yang masuk tanpa izin.”“Apa dia seseorang yang penting? Ada yang terus menyebut nama Aerin Arsyl.”Aerin berdiri di lorong rumah sakit, bersandar pada dinding putih yang terasa terlalu dingin. Percakapan para petugas berlalu begitu saja, seperti angin. Ia menunduk, menatap jemarinya sendiri yang bergetar ringan.“Tarik napas,” kata Evander pelan. “Lihat aku.”“Aku baik-baik saja,” jawab Aerin, suaranya datar. “Hanya… kepalaku bising.”“Dokter bilang itu reaksi normal.”“Normal,” ulang Aerin lirih. “kata yang menarik.”Aerin mentertawakan diri sendiri. Rasanya kesialan selalu datang menghampirinya, bahkan puluhan ribu kilometer jauhnya ia bersembunyi. Kata ‘normal’ saat ini terdengar sangat bertentangan dengan kondisinya.Tak lama, langkah sepatu terdengar mendekat. Aerin tak perlu menoleh untuk tahu siapa itu.“Aerin,” suara Ronn terdengar rendah. “Bagaimana kea

  • Cintai Aku, Pak Dosen!   Ch 104 : Ancaman Nyata

    “Hadirin yang kami hormati, para dosen, alumni, serta mahasiswa Harrowgate University—malam ini adalah perayaan sejarah, dedikasi, dan masa depan.”Di atas panggung, MC memberi jeda sejenak. Sorot lampu menyapu penonton. Dari kejauhan tampak Clara bersama kedua temannya baru saja masuk ke barisan kursi penonton.“Namun, izinkan kami mengakui sesuatu yang istimewa.” lanjut MC. “Kadang, di tengah ruang akademik yang sunyi dan penuh disiplin, tumbuh sebuah talenta yang melampaui batas ruang kelas.”Beberapa tamu mulai berbisik. Kamera menangkap barisan penonton yang memegang ponsel.“Dan malam ini, Harrowgate dengan bangga mempersembahkan—bukan hanya seorang mahasiswi yang berprestasi, tetapi seorang seniman dengan ribuan penggemar yang datang dari berbagai penjuru kota.”Tepuk tangan mulai terdengar, perlahan membesar. Sebuah nama terdengar samar diteriakkan. Tapi Clara tak cukup pasti menangkap siapa itu.“Ia adalah penerima beasiswa Sterling. Seorang performer yang telah berdiri di be

  • Cintai Aku, Pak Dosen!   Ch 103 : Malam Awal Ancaman

    Pintu toilet tertutup dengan bunyi pelan. Aerin masih berdiri di sana, punggungnya menempel pada daun pintu yang dingin. Tangannya gemetar. “Apa yang kulakukan? Merengek padanya untuk tetap tinggal?” Aerin tertawa kosong, tubuhnya merosot ke bawah. “Dia bahkan belum selesai bercerai. Apa yang kau harapkan?” Aerin mengusap wajahnya kasar. Sekali ia memukul pelan dadanya, berusaha menyamarkan rasa nyeri yang muncul. Tapi sama sekali tak mempengaruhi. “Fokus, Aerin,” Ia menarik napas panjang, menepuk lembut kedua pipinya. “Aku sudah bertahan sejauh ini. Aku tak boleh goyah.” Beruntungnya, tak ada air mata. Tidak ada isak. Hanya rasa kosong yang berat dan dingin, seperti rongga yang terlalu lama dibiarkan terbuka. Yang kini ia bertekad untuk mengisinya dengan fokus pada hidupnya. Suara getaran ponselnya menambah kesadarannya. Aerin mengeluarkannya dari dalam tas. Satu pesan masuk. Nomor tidak dikenal. Ia membukanya. Sebuah foto muncul di layar. Sosok Ronn—di lorong depan toilet ya

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status