LOGINAerin terkesiap. Kata-kata yang sudah berada di ujung lidahnya, kembali tertelan saat mendengar suara teriakan dari lantai bawah. Itu suara seorang wanita.
Suara wanita itu begitu nyaring, memantul tajam dari lantai bawah. Spontan Aerin mundur selangkah. Jantungnya berdegup kencang, bersamaan dengan ketakutan yang langsung menyergap leher Aerin. “Uhuk, uhuk…” Aerin terbatuk, tangannya menyentuh lehernya yang terasa sesak. Sekilas, suara teriakan itu mengingatkannya pada beberapa menit sebelum kejadian ia tercekik di Jakarta, suara penguntit itu. Ronn—atau Rowan—membeku. Matanya yang lelah kini memancarkan kejutan yang cepat ia tutupi. Ia berbalik, rahangnya mengeras. “Tunggu di sini,” bisik Ronn, tak begitu mendengar suara batuk Aerin. Matanya menatap Aerin tajam, seakan memberi tanda bahwa ini adalah perintah. “Tapi… siapa…” Aerin bahkan tidak menyelesaikan kalimatnya, ia terbatuk lagi. “Aku bilang, tunggu di sini.” Tatapannya mengunci mata Aerin, dingin dan memperingatkan. Tanpa menunggu jawaban, Ronn berbalik dan menuruni tangga dengan langkah cepat. Aerin berdiri diam di samping kopernya, berusaha menarik napas panjang untuk memberi ruang lebih banyak pada oksigen. Ia mendengar pintu di lantai bawah dibanting. ***~*** Suara-suara di lantai bawah terdengar seperti raungan teredam. Aerin tidak bisa menangkap semua kata, tetapi intonasinya sudah cukup jelas. Itu adalah pertengkaran sengit. “...tiba-tiba... tidak ada yang memberitahuku... privasi...” terdengar suara wanita itu, putus asa dan penuh amarah. Kemudian suara Ronn, lebih tenang, tetapi tegas. “...dia anak teman lama... hanya beberapa bulan... kita sudah bahas ini...” Aerin berjalan perlahan menuju pintu kamarnya yang terbuka. Ia menyentuh kusen. Suara Lilith semakin meninggi. “...dan uang itu? Apakah kita selemah itu? Kamu adalah Dosen terbaik di departemen itu, Ronn! Dan kamu merusak semuanya demi sogokan?!” Terdengar suara Ronn yang kini sedikit lebih keras. “Jaga bicaramu, Lilith! Danadyaksa adalah teman lamaku. Aku tidak menjual apa pun. Itu adalah—” “Itu uang yang kamu terima untuk menyembunyikan putrinya di rumah kita! Apa bedanya kamu yang menjual integritas dengan diriku yang harus... berkorban demi uang?” potong Lilith tajam. Keheningan yang mematikan mengikuti kata-kata itu. Aerin tersentak mundur, tangannya mencengkeram kusen pintu. Kata-kata itu menghantamnya. Uang sogokan. Menjual integritas. Ia merasa dipermalukan, terperangkap dalam konflik yang bahkan bukan miliknya. ***~*** Tiba-tiba, suara Ronn terdengar dari tangga. “Baiklah, aku akan mempertemukanmu dengannya. Tapi kendalikan dirimu.” Aerin bergegas kembali ke tengah kamar, berpura-pura sedang memeriksa tas ranselnya. Pintu kamar terbuka. Ronn berdiri di sana, matanya memerah karena amarah yang ditahan. Di belakangnya, berdiri seorang wanita yang tak kalah tingginya. Rambut pirangnya diikat longgar, dan ia mengenakan gaun sutra ungu yang elegan. Wajahnya cantik, tetapi saat ini dipenuhi amarah yang dingin. “Aerin,” kata Ronn, suaranya kaku. “Ini Lilith, istriku.” Lilith menatap Aerin dari ujung rambut hingga ujung kaki. Tatapannya adalah penghinaan yang dingin. “Jadi, ini,” ujar Lilith, suaranya merendah dan penuh sarkasme. “Mahasiswi yang datang secara tiba-tiba dan menghancurkan semua privasi kita.” Aerin merasa pipinya panas. Ia mencoba bersikap sopan. “Halo, Lilith. Senang bertemu denganmu. Aku benar-benar minta maaf atas kedatanganku yang mendadak ini.” Lilith tersenyum, tapi matanya tidak. “Oh, tidak perlu minta maaf padaku. Minta maaflah pada Rowan. Dialah yang harus menanggung semua ini.” Ia melangkah masuk, mengabaikan Ronn. “Tapi katakan padaku, sayang. Ayahmu seorang konglomerat, bukan? Apakah ia tidak punya properti di London yang bisa ia beli untukmu? Kenapa harus mengacaukan rumah seorang dosen yang sedang naik daun?” Ronn melangkah maju, tangannya memegang lengan Lilith. “Lilith, cukup. Ayah Aerin adalah teman lama yang sedang kesulitan—” Lilith menarik tangannya. “Kesulitan? Rowan, kita yang kesulitan! Kita yang harus hidup berpura-pura di depan semua orang. Dan sekarang kita harus berpura-pura bahwa kita senang kedatangan tamu yang tidak kita harapkan.” Ia menunjuk koper Aerin. “Di sini hanya kamar tamu. Aku harap kamu mengerti. Dan kamu akan membayar sewa.” “Aku akan membayar sewa,” jawab Aerin pelan. “Dan aku tidak akan mengganggu kalian.” Lilith tertawa kecil. “Membayar sewa? Uang sogokan ayahmu itu bahkan tidak cukup untuk menutupi kerugian kita bulan ini. Dan gangguan? Sayangku, keberadaanmu di sini sudah menjadi risiko skandal yang sangat besar.” Ronn memijat pangkal hidungnya. “Lilith, keluarlah! Aku akan bicara dengan Aerin.” “Tidak,” balas Lilith keras kepala. Ia menatap Aerin lagi. “Dengarkan baik-baik. Aku akan bicara padamu sebagai tuan rumah. Di rumah ini ada tiga aturan. Satu, jangan sentuh piano itu. Dua, jangan pernah mengundang siapa pun. Aku ulangi, siapa pun. Tiga, dan ini yang paling penting… jangan pernah mengganggu karier suamiku.” Lilith memberikan tatapan terakhir yang dingin, lalu berbalik dan keluar kamar. Sepatu haknya terdengar keras menuruni tangga, menghilang di lantai bawah. Keheningan kembali menyelimuti kamar. “Aku minta maaf,” kata Ronn, suaranya sangat lelah. Aerin menggeleng, ia mengambil ranselnya. “Tidak apa-apa. Aku tahu aku merepotkan.” “Aku akan bicara padanya. Aku janji. Tapi untuk sekarang…” Ronn menunjuk kamar mandi yang ada di sudut. “Bersihkan dirimu. Makan. Dan jangan memikirkannya.” “Dia marah karena kau menyuapnya,” ujar Aerin. Ini bukan pertanyaan. Ronn menghela napas panjang. Ia menyandarkan bahunya di kusen pintu, tampak benar-benar hancur. “Dia marah karena banyak hal, Aerin. Dan itu bukan urusanmu. Jangan pernah mencampuri urusan kami.” Ia menatap Aerin, dan kali ini, tatapannya lembut, tetapi tegas. “Lakukan apa yang Ayahmu suruh. Beristirahatlah. Kau aman di sini. Kunci pintu ini. Dan jangan pernah membukanya, untuk siapa pun.” Ronn berbalik, meninggalkan Aerin sendirian. Suara langkahnya hilang di lorong. Aerin menutup pintu, memutar kunci. Ia bersandar di pintu yang dingin. Jangan pernah membukanya, untuk siapa pun. Termasuk untuk wanita yang baru saja meneriakinya. Ia melihat ke sudut ruangan, di mana kopernya tergeletak. Uang sogokan. Air mata yang ia tahan sejak di Jakarta akhirnya tumpah. Ia tidak lagi diintimidasi oleh bayangan masa lalu. Ia sekarang diintimidasi oleh realitas masa depannya. Di tempat yang seharusnya menjadi surga, ia justru terjebak dalam neraka pernikahan orang lain. Kamar itu terasa aman, tapi hatinya tidak. ***~*** “Eekkhh…” Genggaman dingin dan kuat itu mencengkeram lehernya, menyesakkan. Aerin meronta, paru-parunya terasa hampa. Bisikan putus asanya tercekat di tenggorokan, air mata membasahi pipi, menciptakan sungai kecil di antara peluh ketakutan saat ia merasa udara mulai menipis, dan kegelapan menggerogoti pandangannya. Alunan musik yang tadinya merdu terhenti, digantikan keheningan yang memekakkan telinga. Matanya bergerak tak wajar. Gerakan kakinya melemah, tak berdaya. Dalam sisa kesadarannya, ia mengingat ayahnya, ingin berteriak memanggilnya, namun suaranya tercekat. “P-pa…” ***~*** “Papa!” Aerin tersentak, napasnya terengah-engah, jantungnya berdebar kencang. Matanya mengerjap cepat, butuh beberapa detik sampai ia menyadari kamar yang ia tinggali di rumah Ronn, di London. “Ah, benar. Aku sekarang di London,” gumamnya. Baru sehari ia mendarat di London, tapi ternyata mimpi buruk itu masih mengikuti. Aerin menyandarkan punggungnya ke sandaran kepala ranjang. “Mimpi buruk itu… kenapa belum hilang juga?” Aerin bertanya pada diri sendiri. “Aku sudah sangat jauh. Hampir 12 ribu kilometer dari Jakarta. Dia tak mungkin bisa menemukan ku di sini.” Ia tertawa hambar, teringat usahanya menghafal jarak kilometer Jakarta-London di pesawat kemarin, hanya untuk membuatnya tenang. Aerin menarik napas panjang. Sekali, dua kali, kelima kalinya hingga ia merasa tenang. Ia melirik jam digital di atas nakasnya, pukul delapan pagi. Aerin bergegas masuk ke kamar mandi. Ada yang ingin dilakukannya hari ini: mengunjungi Harrowgate University sebelum hari pertamanya kuliah.Aula utama Harrowgate dipenuhi suara langkah kaki, bisik-bisik bangga, dan denting kecil kamera yang tak lagi terasa mengancam. Aerin berdiri di barisan depan, mengenakan toga hitam dengan selempang biru tua. Rambutnya disanggul rapi, wajahnya tenang—bukan kosong, tapi terlihat bahagia.“Aerin.”Ia menoleh. Liz berdiri di belakangnya, masih mengenakan toga, wajahnya berseri seperti biasa.“Kau benar-benar lulus,” kata Liz, setengah tak percaya.Aerin tersenyum kecil. “Kau seperti baru melihatku berjalan lagi.”Liz tertawa pendek, lalu memeluknya tanpa ragu. “Aku melihatmu bertahan. Itu beda.”Dari kejauhan, Tristan dan Julian mendekat. Julian—pria berotot dengan senyum cerahnya, menggenggam sebuah buket berwarna pink. Sedangkan Tristan—pria berwajah serius itu, berpakaian sangat rapi dengan senyum menawannya. Di tangannya juga terdapat buket merah.“Aku sudah mengingatkan Julian kalau kau datang bersama tunanganmu. Tapi dia tetap bersikeras ingin membawakan buket untukmu.” bisik Liz b
Dua tahun berlalu.Kalender dinding penuh coretan. Syuting. Album. Kelas daring. Acara musik. Nama Aerin kembali bersinar, kali ini dengan kendali penuh.“Berita pagi ini—Aerin Arsyl resmi diumumkan sebagai bintang utama film adaptasi novel The Quiet Season.”Suara televisi terdengar lirih di ruang makan yang terlalu luas.Aerin duduk dengan ponsel di tangan, menatap layar tanpa benar-benar membaca berita yang sama sekali sudah ia hafal. Judul itu sudah muncul sejak subuh. Nama itu—namanya—kembali beredar, kali ini tanpa kata insiden, stalker, atau ancaman. Tapi dengan bidang baru yang ia geluti: acting.“Akhirnya,” ujar Evander, menyuap nasi gorengnya. “Tanpa embel-embel kriminal. Aku lega kau membuat keputusan yang tepat.”Reza berdiri di dekat jendela, ia menyempatkan diri menyesap kopi panasnya.“Tim agensi bekerja rapi. Tidak berisik, tapi konsisten. Ide mereka untuk menaikkan nama Aerin melalui film, bisa disebut berhasil. Kami bahkan mengapresiasinya di beberapa platform media.
“Akhirnya pulang juga…” Evander hampir berseru, dengan kedua tangannya terangkat ke atas. “Kangen sambal, ya?” goda Reza. Evander mengangguk antusias. “Perutku sulit untuk adaptasi. Kentang sama sekali tak membuatku kenyang. Aku butuh nasi, lalapan dan sambal.” Reza tertawa geli. Begitu juga Danadyaksa. “Ya sudah, nanti setelah sampai di Indonesia, saya akan traktir.” ucap Danadyaksa, disambut dengan senyum puas dari Evander. Bandara Heathrow terasa terlalu ramai untuk pagi yang seharusnya tenang. Langkah Aerin teratur. Mantap. Tidak tergesa. Tidak ragu. Jika dilihat sepintas, ia tampak seperti seseorang yang hanya akan pulang setelah perjalanan panjang—bukan seseorang yang baru saja kehilangan dunianya secara diam-diam. Ia berjalan di antara Liz, Tristan dan Julian. Sedangkan Danadyaksa, Evander dan Reza berjalan di depannya. Beberapa kali mereka melihat sekitar, tetap mengawasi walaupun tampak santai. Jalur privat memang membuat semuanya lebih sunyi. Tidak ada kamera.
“Bagaimana kondisi di luar?”“Media menunggu di luar gerbang. Keamanan sudah dikerahkan untuk berjaga.”“Pastikan tidak ada yang masuk tanpa izin.”“Apa dia seseorang yang penting? Ada yang terus menyebut nama Aerin Arsyl.”Aerin berdiri di lorong rumah sakit, bersandar pada dinding putih yang terasa terlalu dingin. Percakapan para petugas berlalu begitu saja, seperti angin. Ia menunduk, menatap jemarinya sendiri yang bergetar ringan.“Tarik napas,” kata Evander pelan. “Lihat aku.”“Aku baik-baik saja,” jawab Aerin, suaranya datar. “Hanya… kepalaku bising.”“Dokter bilang itu reaksi normal.”“Normal,” ulang Aerin lirih. “kata yang menarik.”Aerin mentertawakan diri sendiri. Rasanya kesialan selalu datang menghampirinya, bahkan puluhan ribu kilometer jauhnya ia bersembunyi. Kata ‘normal’ saat ini terdengar sangat bertentangan dengan kondisinya.Tak lama, langkah sepatu terdengar mendekat. Aerin tak perlu menoleh untuk tahu siapa itu.“Aerin,” suara Ronn terdengar rendah. “Bagaimana kea
“Hadirin yang kami hormati, para dosen, alumni, serta mahasiswa Harrowgate University—malam ini adalah perayaan sejarah, dedikasi, dan masa depan.”Di atas panggung, MC memberi jeda sejenak. Sorot lampu menyapu penonton. Dari kejauhan tampak Clara bersama kedua temannya baru saja masuk ke barisan kursi penonton.“Namun, izinkan kami mengakui sesuatu yang istimewa.” lanjut MC. “Kadang, di tengah ruang akademik yang sunyi dan penuh disiplin, tumbuh sebuah talenta yang melampaui batas ruang kelas.”Beberapa tamu mulai berbisik. Kamera menangkap barisan penonton yang memegang ponsel.“Dan malam ini, Harrowgate dengan bangga mempersembahkan—bukan hanya seorang mahasiswi yang berprestasi, tetapi seorang seniman dengan ribuan penggemar yang datang dari berbagai penjuru kota.”Tepuk tangan mulai terdengar, perlahan membesar. Sebuah nama terdengar samar diteriakkan. Tapi Clara tak cukup pasti menangkap siapa itu.“Ia adalah penerima beasiswa Sterling. Seorang performer yang telah berdiri di be
Pintu toilet tertutup dengan bunyi pelan. Aerin masih berdiri di sana, punggungnya menempel pada daun pintu yang dingin. Tangannya gemetar. “Apa yang kulakukan? Merengek padanya untuk tetap tinggal?” Aerin tertawa kosong, tubuhnya merosot ke bawah. “Dia bahkan belum selesai bercerai. Apa yang kau harapkan?” Aerin mengusap wajahnya kasar. Sekali ia memukul pelan dadanya, berusaha menyamarkan rasa nyeri yang muncul. Tapi sama sekali tak mempengaruhi. “Fokus, Aerin,” Ia menarik napas panjang, menepuk lembut kedua pipinya. “Aku sudah bertahan sejauh ini. Aku tak boleh goyah.” Beruntungnya, tak ada air mata. Tidak ada isak. Hanya rasa kosong yang berat dan dingin, seperti rongga yang terlalu lama dibiarkan terbuka. Yang kini ia bertekad untuk mengisinya dengan fokus pada hidupnya. Suara getaran ponselnya menambah kesadarannya. Aerin mengeluarkannya dari dalam tas. Satu pesan masuk. Nomor tidak dikenal. Ia membukanya. Sebuah foto muncul di layar. Sosok Ronn—di lorong depan toilet ya







