Beranda / Romansa / Cintai Aku, Pak Dosen! / Ch 7 : Tertangkap Basah di Paddington

Share

Ch 7 : Tertangkap Basah di Paddington

Penulis: Ivy Morfeus
last update Terakhir Diperbarui: 2025-10-10 10:37:26

Ronn terduduk di bangku kerja, tetapi pikirannya terasa jauh. Meja kayunya terasa dingin, sama seperti suasana rumah tangganya. Mata kuliah yang harus ia persiapkan untuk minggu depan terasa seperti debu; ia hanya bisa memikirkan satu hal: Aerin.

|| “Kau memang suami yang sangat romantis, Ronn.” ||

Ronn mendengus keras. Ia mengambil gelas air dan meminumnya hingga tandas.

“Gadis kecil itu. Apa haknya dia menilai pernikahanku?” geramnya. Sindiran seorang remaja. Sebuah evaluasi tajam tentang kegagalannya dari seorang gadis yang baru ia kenal seminggu.

"Masalahnya bukan lagi uang, Lilith, atau utang. Masalahnya adalah kendali," Ronn bergumam pada dirinya sendiri, jemarinya mengetuk-ngetuk ponsel.

Ia membuka aplikasi location tracking yang terpasang di ponsel Aerin. Titik hijau kecil itu sudah jauh dari rumah. Ronn melihat peta dan segera mengonfirmasi: Aerin tidak berada di Bloomsbury, tempat Perpustakaan Nasional seharusnya berada.

Gadis ini berbohong.

"Perpustakaan Nasional untuk riset esai Sastra Abad ke-19," Ronn mengulang alasan Aerin dengan nada mengejek. "Kau menggunakan bahasa akademisku sebagai tameng untuk berkeliaran ."

Bagi Ronn, kebohongan Aerin bukanlah pelanggaran moral, melainkan pelanggaran otoritas. Ia adalah Dosen dan pengawas Aerin. Jika Aerin bisa berbohong semudah itu, berarti Ronn kehilangan kendali atas tugas penting yang dipercayakan Danadyaksa—Ayah Aerin—kepadanya. Tak hanya persahabatan yang dipertaruhkan, tapi jika terjadi sesuatu pada Aerin, karier Ronn bisa terkena dampaknya. Mengingat Aerin bukan “orang biasa” di negara asalnya.

Ronn mengambil kunci mobilnya. Ia harus pergi. Bukan untuk menghadapi Aerin, tetapi untuk memastikan sumber ancaman ini.

***~***

“Stasiun Paddington? Apa yang dia lakukan di sana?”

Tujuan Ronn berubah ketika ia melihat titik Aerin berhenti di dekat Stasiun Paddington. Tempat itu ramai, mudah bersembunyi.

Ronn memarkir mobilnya di jalan kecil. Ia berjalan, membiarkan dirinya tenggelam di antara kerumunan.

‘Itu dia!’ Ia melihatnya.

Aerin, dengan wajah yang tampak jauh lebih cerah dan santai daripada saat di rumah, melambaikan tangan ke arah seorang pria.

“Siapa pria itu? Aerin sudah punya teman dekat di hari pertama kuliah?” gumam Ronn.

Ia mengawasi dari kejauhan. Ronn melihat mereka berpelukan, ciuman yang terlalu lama.

Astaga. Ronn merasa mual, tetapi bukan karena cemburu.

“Dia berbohong tentang risetnya? Dia datang ke sini hanya untuk ini?”

Kemarahan Ronn menggelegak. Bukan karena Aerin bermesraan, tetapi karena Aerin telah memanfaatkannya. Ronn telah mempertaruhkan segalanya untuk menjaga gadis ini, dan gadis ini membalasnya dengan kebohongan remaja yang murahan.

Ronn berbalik, melangkah cepat menuju mobilnya. Ia tidak akan menghadapi mereka. Konfrontasi hanya akan merusak reputasinya di kampus dan memperburuk urusan Danadyaksa. Ronn tidak butuh drama. Ia butuh kekuatan kendalinya.

Ia menyalakan headset mobilnya dan menelepon Dr. Ellis, asistennya di Harrowgate.

"Ellis, aku butuh bantuanmu," suara Ronn terdengar dingin dan terukur. "Mulai hari pertama perkuliahan, Aerin tidak boleh memiliki waktu luang."

"Tolong susun jadwal penuh untuknya. Delapan pagi hingga delapan malam. Setiap jam harus diisi dengan tutorial, riset, atau bimbingan yang ketat. Kau harus pastikan ia sibuk, bahkan jika itu harus mengambil modul dari departemen lain." tambahnya lagi.

Ellis, yang terkejut, bertanya, "Tapi, Dr., Aerin baru freshers—"

Ronn memotongnya tajam. "Ini adalah program percepatan khusus untuk mahasiswa yang menunjukkan potensi luar biasa. Jika dia protes, katakan padanya aku ingin melihat komitmennya terhadap studi."

Ronn menarik napas, matanya dingin menatap jalanan London yang basah.

"Katakan padanya, Mata Kuliah Intens dari Dosen Gila baru saja dimulai."

***~***

“Ah, akhirnya,”

Aerin turun dari kereta, tubuhnya terasa ringan, tetapi pikirannya terasa berat. Pertemuan dengan Rafferty terasa menyenangkan, tetapi juga aneh.

“Mungkin ini hanya perasaanku saja, tapi rasanya Raff sedikit terburu-buru sejak menerima telepon. Dia jadi teralihkan, dan perhatiannya tidak sepenuhnya fokus.” gumam Aerin, ia membuka galeri foto di ponselnya, ia tersenyum melihat beberapa foto mereka berdua tadi.

“Ada apa, ya?” Aerin menutup galerinya, lalu memasukkan ponsel ke dalam sakunya, “Mungkin sebaiknya aku tunggu dia memberitahuku lebih dulu, kalau memang itu hal penting.”

Ia melangkah masuk ke rumah, yang sunyi seperti biasa. Lilith belum kembali. Dan Ronn, Aerin menerka ia pasti di ruang kerjanya, tenggelam dalam bukunya.

Aerin berjalan menaiki tangga. Ia merasa bersalah karena berbohong kepada Ronn. Ronn mungkin dosen yang sinis, tetapi setidaknya Ronn tidak sepenuhnya membiarkannya mati di bawah sindiran Lilith.

Saat ia membuka pintu kamar, matanya langsung tertuju pada amplop besar putih tergeletak di atas karpet.

“Hm? Apa ini?”

Aerin mengambilnya. Amplop itu memiliki kop surat Harrowgate University. Dengan rasa penasaran, merobeknya dengan tergesa-gesa.

Dengan seksama, ia membacanya. Hal pertama yang ia lihat adalah sebuah jadwal yang dicetak dengan rapi dan detail, dengan judul tebal:

MATA KULIAH INTENSIF DR. NATHANIEL

(PROGRAM PERCEPATAN WAJIB BAGI AE. K. W.)

Aerin membaca jam-jam yang tercantum:

| Waktu | Kegiatan | Lokasi |

| 08.00–09.30 | Tutorial Wajib: Filsafat Sastra Kontemporer | Perpustakaan Kampus |

| 09.30–12.00 | Riset Pustaka Intensif (Pengumpulan Sumber) | Ruang Riset Dr. Nathaniel (Dosen) |

| 16.00–18.00 | Pertemuan Konsultasi Wajib dengan Dosen Wali | Kantor Dr. Natahaniel |

| 18.00–20.00 | Pengantar Sastra Musik (Tutor Khusus) | Ruangan Privat |

Aerin menjatuhkan jadwal itu ke kasur.

“Ronn gila.” Ia hampir memaki. Kepalan tangannya yang erat menahannya.

Ia tidak punya waktu bebas sama sekali. Ronn telah berhasil menjadwal setiap jam Aerin, membuatnya menjadi tahanan di bawah pengawasan akademik.

"Riset Pustaka Intensif?" gerutu Aerin. "Itu pasti karena aku berbohong tentang perpustakaan."

Ia bangkit, bergegas menghampiri Ronn. Dan seperti dugaannya sebelumnya, Ronn sedang fokus membaca. Celah pintu yang terbuka sedikit memperlihatkan itu.

Aerin menarik napas panjang, berusaha mengendalikan emosinya. Tapi ketukannya tak menggambarkan itu. Cepat, kencang dan tak sabaran. Ia melongok dari balik pintu, tanpa menunggu jawaban dari Ronn.

Dengan tenang, pandangan Ronn naik, menatap sosok Aerin yang kini sudah berdiri di hadapannya. Seakan tahu, gadis muda itu akan melakukan ini.

“Apa maksudnya? Aku tahu ini hanya akal-akalanmu saja, kan?” Aerin menyodorkan kertas putih itu. Wajahnya memerah menahan amarah. Ronn hanya melirik sekilas, lalu menatap kembali Aerin.

“Ada yang tak kau pahami soal jadwalnya? Mau aku jelaskan lebih detail?” Ronn menutup bukunya, dan menegakkan posisi duduknya. Kini matanya hanya fokus pada Aerin.

Aerin menelan ludah. Berbagai pikiran berkecamuk di kepalanya. Sejujurnya ia ingin berteriak dan membentak, tapi ia teringat sopan santun, terlebih lagi etika dari negara asalnya yang sangat dijunjung tinggi untuk tidak meninggikan suara di depan orang tua. Ya, dan pria berkacamata dengan janggut tipis di hadapannya ini seharusnya disebut orangtua juga, pengganti ayahnya selama di London.

Aerin masih menatap tajam. Dadanya bergerak naik turun dengan cepat.

“Aku tahu ini ulahmu, Ronn. Kau sendiri yang bilang kalau kau tidak mengajar di kelas dasar. Lalu, ini apa? Kenapa ada namamu di jadwalku?”

Ronn melepas kacamata bacanya. Lalu meletakkannya di atas meja. Ia bangkit dengan tenang, berjalan perlahan ke arah Aerin. Refleks Aerin bergerak mundur. Perbedaan tinggi badan antara mereka begitu jauh, membuat Aerin merasa terintimidasi.

‘Apa yang mau dia lakukan??’ teriak Aerin panik di dalam hatinya. Tanpa sengaja Aerin menghirup aroma Cedarwood samar dari tubuh Ronn. Tajam dan berat. Bukan tipe aroma yang Aerin suka. Hingga pinggangnya menabrak sudut meja dengan keras.

“Aw!” Aerin mengaduh tanpa sadar. Rasa nyeri langsung menghantam pinggangnya. Ia meringis sambil mengusap-usap bagian yang sakit. Ronn bergeming di hadapannya. Ia melirik sebentar ke pinggang Aerin tapi seakan tak peduli, ia menyandarkan satu tangannya ke meja di blakang Aerin. Tubuhnya sedikit membungkuk, sehingga mata mereka kembali bertemu sejajar.

“Ingat, aku adalah walimu di sini—dan tentu saja aku tidak ingin siapapun tahu—tapi aku tetap mempunyai kendali untuk melakukan apapun terhadap pendidikan mu,” ucapnya tegas, “jadi sebaiknya, fokus pada kuliahmu. Atau aku akan mengurungmu di rumah agar kau tak berkeliaran menggoda pria.”

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Cintai Aku, Pak Dosen!   Ch 98 : Kepercayaan yang Patah

    Danadyaksa berdiri di depan rumah bergaya Georgian yang tenang dan menjulang tinggi. Beberapa waktu lalu, dia sempat menghubungi Nenek Ronn, Elara Nathaniel, hanya untuk bertukar kabar dia akan berkunjung ke London. Karena tahun lalu saat mengantar Aerin, ia belum sempat berkunjung.‘Oh, kau ingin menemui Aerin? Aku sangat senang Aerin tinggal di sini. Semenjak dia ada di rumah ini, suasana rumah jadi lebih ceria.’Itu yang dia dengar dari Nenek Elara. Kabar yang anehnya dia baru tahu.“Sejak kapan Aerin tinggal di rumah Nenek Elara? Kenapa aku tidak dianggap perlu tahu tentang ini?” gumamnya.Ia menarik napas panjang, sebelum akhirnya menekan bel rumah.***~***Danadyaksa mempercepat langkahnya. Ia sudah bertemu dengan Helena di depan pintu, dan mengatakan kalau Aerin sedang berada di kolam renang belakang rumah.Banyak hal yang ingin ia tanyakan pada putrinya itu—sesuatu yang sepertinya dia sembunyikan.“Aerin—”Danadyaksa berhenti di tepi koridor kolam renang , langkahnya terputus

  • Cintai Aku, Pak Dosen!   Ch 97 : Jarak

    Di sela-sela kesadarannya, aroma Cedarwood itu muncul lagi. Hangat. Menenangkan. Lengan besar yang mengangkatnya. Detak jantungnya cepat—terlalu cepat untuk seseorang yang selalu terlihat tenang.Aerin mencengkeram jas Ronn lebih erat.‘Please, God… hentikan waktu. Biarkan aku bisa seperti ini lebih lama.’ doanya.“Dokter!” suara bass Ronn memecah udara di ruang IGD itu.Beberapa perawat menghampirinya, memindahkan tubuh Aerin di ranjang rumah sakit.“Dia tiba-tiba berkeringat, matanya tidak fokus dan pingsan…”Samar-samar Aerin mendengar suara Ronn saat menjelaskan kondisinya pada dokter yang menjaga.Dan setelah itu, gambaran lain berganti.Kini ia sudah berada di sebuah kamar, dengan dinding dan atap berwarna putih bersih. Saat tangannya sedang meraba, ia tak sengaja menyentuh sesuatu.Rambut. Ada seseorang yang sedang tertidur di bawah ranjangnya. Aerin sedikit menunduk.“R-ronn…”“Kau sudah bangun?”Ronn tiba-tiba saja mendongak. Ia segera berdiri, membungkukkan tubuhnya untuk me

  • Cintai Aku, Pak Dosen!   Ch 96 : Tersudut

    ‘Papa akan ke London.’Suara Danadyaksa beberapa waktu lalu terngiang di telinga Aerin. Ia masih duduk di tempat yang sama, punggungnya bersandar ke kursi kamar kecil itu, napasnya tenang—walau gemuruh dadanya terdengar keras.Ia mulai menggesek-gesek ujung kuku ibu jarinya dengan jari tengahnya.“Aku harus memberitahu Ronn ‘kan?” gumamnya bimbang. Aerin menatap layar ponselnya agak lama.“Tapi, bagaimana kalau itu justru menambah bebannya? Dia sudah banyak tertekan saat ini,”Tanpa sadar, kakinya melangkah bolak-balik di kamar itu. “Dia akan lebih shock jika tiba-tiba melihat Papa muncul di London,”Langkahnya terhenti. “Lagipula… aku tak tahu apakah harus berbohong pada Papa atau mengatakan segalanya,”Ia menekan satu nama. Nada sambung terdengar.Sekali. Dua kali.Tak diangkat.Aerin memutuskan mengirim pesan.[“Papa akan ke London. Kita perlu bicara.”]Aerin mengernyitkan alis. Kurang dari sepuluh detik, notifikasi muncul di layar ponselnya. Balasan datang cepat. Terlalu cepat.[“

  • Cintai Aku, Pak Dosen!   Ch 95 : Rumor Menyebar di Indonesia

    Ruangan itu terlalu rapi untuk sebuah percakapan yang berpotensi menghancurkan hidup seseorang.‘Aku sudah muak dengan ruangan ini.’ rutuk Ronn dalam hati.Ini sudah ketiga kalinya ia dipanggil ke ruangan Dekan Whitmore dalam seminggu. Angka yang ‘fantastis’ jika untuk keperluan umum kampus. Tapi dia sadar, dia sedang diinterogasi atas kasus foto itu.‘Apa aku perlu memberitahu Danadyaksa tentang ini?’ pikirannya tiba-tiba teringat pada Aerin. Senyuman di wajahnya, suaranya, kembali terngiang di kepalanya. ‘Tidak. Saat ini sudah sangat buruk. Aku tak ingin membuat wajahnya itu redup.’Lagi-lagi ia membayangkan wajah Aerin saat terakhir kali mereka bicara berdua di kelas. Yang membuat hatinya sedikit berdenyut nyeri melihat ekspresi kekhawatirannya bukan untuk dirinya sendiri, tapi justru untuk dosennya yang jelas-jelas menyeretnya ke permasalahan ini.‘Dasar bodoh.’ Satu sudut bibirnya terangkat sedikit. Pikiran itu menciptakan sebersit rasa bahagia di antara kekhawatiran yang bertum

  • Cintai Aku, Pak Dosen!   Ch 94 : Seseorang Harus Jatuh

    ‘Seseorang harus jatuh. Yang lain… harus diam.’Kalimat Liz itu tidak pergi dari kepala Aerin.Ia mengulanginya berkali-kali, seperti mantra yang menolak pudar. Bahkan saat Aerin menatap layar ponselnya yang gelap, kalimat itu tetap ada—menggantung, mengancam, menuntut makna.“Apa maksudmu, Liz?” gumamnya pelan, sendirian di halte bus.Bukan soal siapa yang salah. Bukan soal siapa yang memulai. Tapi siapa yang akan dikorbankan agar sistem tetap terlihat bersih.Tiba-tiba ponsel Aerin bergetar. Nama itu muncul di layar.Ronn.Aerin menatapnya lama sebelum mengangkat.‘Kau di mana?’ suara Ronn terdengar rendah. Terlalu terkendali. Terlalu tenang untuk situasi yang sedang membakar kampus.“Di luar,” jawab Aerin singkat.‘Kita tidak boleh terlihat bersama sekarang.’Aerin menelan ludah, ia sudah tahu. Tapi setelah mendengarnya sendiri, ternyata kalimat itu menusuk lebih dalam dari yang seharusnya. “Untuk menjaga reputasimu?” tanya Aerin, suaranya bergetar tipis. “Kau tak tanya apakah aku

  • Cintai Aku, Pak Dosen!   Ch 93 : Reputasi Goyah

    “Selamat, Aerin.”Di hari berikutnya, lorong perpustakaan kampus itu sepi, kecuali suara langkah sepatu yang terukur.Aerin menoleh.Clara berdiri di belakangnya, dengan senyum yang terlihat seperti formalitas. Blazer abu-abu gelapnya rapi, rambutnya tersisir tanpa satu helai pun memberontak. Ia tampak seperti seseorang yang sejak lahir tahu bahwa dunia memang disiapkan untuknya.“Beasiswa Sterling,” lanjut Clara. “Cukup mengesankan. Pantas kau berbesar kepala mengabaikan pesanku.”“Terima kasih,” jawab Aerin sekenanya. Ia tak tertarik untuk terlibat dengan gadis itu. Ia akan melangkah pergi, tapi sepertinya, Clara masih ingin berbicara.“Padahal kau hanya seseorang yang datang dari…” Clara berhenti sejenak, matanya menyapu Aerin dari ujung rambut hingga sepatu. “Negara kecil.”Aerin tidak langsung menjawab.Ia pernah mendengar rasisme seperti ini sebelumnya—lebih halus, lebih berlapis, dan selalu datang dari orang-orang yang merasa dunia berutang pada mereka.Tapi dadanya tetap berge

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status