Beranda / Romansa / Cintai Aku Sepanjang Malam, Pak Dosen / 64 - Genggaman yang Tidak Mau Lepas

Share

64 - Genggaman yang Tidak Mau Lepas

Penulis: Paus
last update Terakhir Diperbarui: 2025-12-30 20:01:48

Saat tubuh itu berpindah dari gendongannya ke atas kasur, Damian hanya memandangi Ivy sambil berdiri di tepian ranjang.

Kalau Ivy tidak sedang tinggal bersamanya, entah siapa yang akan mengurusnya saat dia demam seperti sekarang. Ivy sudah sendirian. Tidak memiliki siapa pun yang bisa diandalkan.

Demam itu mungkin salah satu bentuk protesnya terhadap kematian ayahnya sebelumnya.

“Kalau saya tidak meminta kamu tinggal dengan saya seperti ini, apa kamu punya seseorang untuk merawat kamu saat kamu seperti ini?”

Damian bertanya-tanya. Hanya ada keheningan yang menjawabnya. Tahu-tahu kedua tangannya terkepal tanpa disadari.

Damian mengembuskan napas menyadari betapa kejam takdir terkadang bisa meninggalkan penderitaan yang begitu parah pada seseorang.

“Saya harap kamu lekas membaik,” pesan Damian lembut. Segera menaikkan selimut Ivy.

Baru saja dirinya ingin berbalik pergi untuk tidur di sofa saat tangan itu mencengkeramnya sangat kuat.

“Ivy?” Damian bertanya—kalau-kalau Ivy membutuhkan se
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Cintai Aku Sepanjang Malam, Pak Dosen   86 - Kamu Itu Penghangat Ranjang

    Catherine mengepal garpu dan pisau yang digenggamnya kuat-kuat. Menusuk dan memotong daging di atas piringnya berantakan. Sama sekali tidak minat untuk menikmatinya lagi.Matanya tidak teralihkan dari Damian dan Ivy yang sudah mencapai pintu. Pria itu membukakan pintu untuk Ivy. Membiarkannya Ivy lewat lebih dulu baru Damian sendiri yang menyusulnya.“Gadis sialan itu, aku harus mencakar wajahnya dengan garpu,” gerutu Catherine.Teman perempuan Catherine yang makan bersamanya langsung kebingungan melihat Catherine seperti itu. “Ada apa?” Dia bertanya mengikuti arah pandang Catherine.“Ada Damian di sini dan dia bersama wanita sialan itu.” Catherine menjawabnya.“Wow, tunanganmu itu?” Temannya bertanya dan berusaha mencari-cari, tapi Damian dan Ivy sudah terlanjur hilang. “Lagi pula kenapa sih kamu begitu tertarik dengan pria itu? Karirmu bagus dan kamu juga sangat cantik. Salah satu orang pria menolakmu, kamu bisa mendapatkan 1000 yang jauh lebih baik.”Catherine mendelik kepada tema

  • Cintai Aku Sepanjang Malam, Pak Dosen   85 - ATM Berjalan

    Tubuh Ivy membeku mendengar bisikan tersebut dari Damian. Bagaimana embusan pria itu terasa mengenai bagian telinga dan lehernya membuat bulu kuduknya berdiri.“Jadi anggap saja ini bayaran untuk tanda yang belum kamu dapatkan itu,” sambung Damian menjauhkan diri.Ivy hanya bisa berdeham dan menggeser posisinya agak jauh dari Damian. Agar bisa mengendalikan detak jantungnya yang tiba-tiba menjadi sangat kuat.Damian mengeluarkan kartu untuk membayar semua rangkaian skin care dan make up Ivy. Seperti baru mengeluarkan uang puluhan ribu saja, dia menerima struk pembayaran beserta kartunya kembali dengan wajah sangat tenang.Mereka keluar dari area toko setelah itu. Tapi seolah belum cukup membuat Ivy nyaris gila karena dimanjakan seperti itu, Damian malah berbelok di sebuah toko sepatu tak lama setelah itu.“Pak!” Ivy protes. Kali ini tidak bisa menerimanya. “Kita datang ke sini karena mau beli sepatu untuk bapak, 'kan?”“Bukan. Untukmu.” Lagi-lagi Damian menjawabnya santai dan memasuki

  • Cintai Aku Sepanjang Malam, Pak Dosen   84 - Bukan Tanda Terakhir

    Ivy ingin tahu, kira-kira membutuhkan waktu berapa lama untuk membuat tanda-tanda semacam ‘itu’ menghilang? Selama ini dirinya tidak pernah berhubungan dengan pria manapun apalagi sampai memiliki kekasih, jadi Ivy tidak tahu apakah tanda bekas ciuman seperti itu akan bertahan lama atau tidak.Warnanya sudah agak memudar, tapi masih tetap terlihat. Bahkan sudah ditutupi rambut saja Clara masih bisa melihatnya. Kalau membutuhkan waktu sampai berhari-hari, itu akan membuatnya kesulitan ke depannya.Ia harus menemukan cara. Setidaknya itulah yang dipikirkan Ivy saat memperhatikan tanda di lehernya karena ulah Damian.Cermin kecil yang dipegangnya itu memantulkan warna kemerahan di dekat tulang selangka. Ivy tidak tahu sudah memperhatikannya berapa lama, baru ketika pintu apartemen terbuka dari luar, buru-buru dirinya menurunkan cermin.Ivy memasang senyumnya saat Damian masuk ke apartemen. Ia menurunkan rambut untuk menutupi bagian leher.Tapi Damian melihatnya. Cermin kecil di tangan Iv

  • Cintai Aku Sepanjang Malam, Pak Dosen   83 - Jangan-jangan...

    Kegiatan kampus sesibuk biasanya. Bedanya, yang selalunya membuat Ivy lelah dan seringkali mengembuskan napas, kali ini suasananya terasa begitu baik. Itu bukan karena tidak ada tugas apa pun dari dosen, bukan juga karena tidak ada materi yang membuatnya pusing, melainkan karena dorongan semalam yang sampai terbawa ke kampus.Tentu, apa yang dilakukan oleh Damian membuat tubuhnya sakit. Tapi pengalaman kedua itu sama seperti pengalaman pertama. Ivy tidak bisa mengabaikan betapa dirinya menikmati membiarkan tubuhnya menyatu dengan tubuh milik Damian.Ya, mau bagaimana lagi? Pria itu adalah dosen hot kampus yang menjadi incaran semua orang, tapi fakta mengejutkannya adalah Damian tidur dengan gadis kumuh seperti dirinya. Sudah dua kali. Bagaimana Ivy bisa mengabaikan hal itu?Clara juga nampak menyadarinya saat bertemu dengannya.“Rasanya hari ini kamu terlihat ceria sekali,” komentar Clara memiringkan kepalanya ke kanan dan kiri memperhatikan Ivy. “Benarkah? Aku rasa biasa saja.” Ivy

  • Cintai Aku Sepanjang Malam, Pak Dosen   82 - Maaf Untuk Semalam

    Entah berapa kali mereka melakukannya. Bahkan rasa lelah dan napas yang tidak lagi beraturan tidak membuat mereka berhenti. Atau lebih tepatnya tidak membuat Damian berhenti.Ivy meminta, tapi segera setelahnya langsung dibukam oleh milik Damian yang menembus masuk ke dalam tubuhnya. Lagi dan lagi.Saat pagi akhirnya menyambut mereka, Damian menjadi orang pertama yang membuka mata. Tubuhnya terasa pegal dan Damian memperbaiki posisinya menjadi telentang.Napasnya berhembus kasar. Sinar matahari yang baru pecah berwarna kemerahan menembus jendelanya. Masih ada waktu, Damian menyimpulkannya saat melihat jam dinding.Di situlah tatapannya beralih pada Ivy yang meringkuk di samping tubuhnya. Masih terlelap dengan rambut panjangnya yang sedikit menutupi wajah.Damian menyingkirkan rambut itu kemudian mendekat untuk menaikkan selimut. Tapi Damian terkesiap.“Astaga, apa yang sudah saya lakukan?” Damian malah mencengkeram selimut itu saat melihat banyak sekali tanda yang ditinggalkannya di t

  • Cintai Aku Sepanjang Malam, Pak Dosen   81 - Pelampiasan Panas (21+)

    Damian bimbang. Ancaman ayahnya yang mengatakan akan menyingkirkan Ivy ternyata mengganggu Damian lebih dari yang Damian duga.Damian merasa marah sekaligus cemas. Tujuan melindungi yang dipilih olehnya sejak awal sekarang berubah menjadi ancaman serius. Dengan menjaga Ivy di sampingnya, mempertahankan gadis itu, sekarang bukan lagi berisi aman, tapi bisa saja malah membahayakan.Saat tiba di depan pintu kamarnya, Damian merasa ragu. Kemarahan itu masih berkumpul di dadanya. Membuatnya banyak mengepalkan tangan selama perjalanan. Tapi Damian tahu pergi juga tidak akan menjadi solusi apa pun.Sebuah kartu dikeluarkan dari dompetnya oleh Damian dan pintu itu didorong terbuka.Damian melepaskan sepatu pantofel miliknya, lantas memperbaiki posisi tas di bahu kirinya. Melangkah semakin jauh, matanya segera bertemu pandang dengan milik Ivy yang sedang duduk di sofa.“Saya pikir Bapak tidak pulang,” kata Ivy berdiri dari sofa. Menatap Damian dari posisinya. “Biasanya Bapak tidak pulang sam

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status