MasukIvy ingin tahu, kira-kira membutuhkan waktu berapa lama untuk membuat tanda-tanda semacam ‘itu’ menghilang? Selama ini dirinya tidak pernah berhubungan dengan pria manapun apalagi sampai memiliki kekasih, jadi Ivy tidak tahu apakah tanda bekas ciuman seperti itu akan bertahan lama atau tidak.Warnanya sudah agak memudar, tapi masih tetap terlihat. Bahkan sudah ditutupi rambut saja Clara masih bisa melihatnya. Kalau membutuhkan waktu sampai berhari-hari, itu akan membuatnya kesulitan ke depannya.Ia harus menemukan cara. Setidaknya itulah yang dipikirkan Ivy saat memperhatikan tanda di lehernya karena ulah Damian.Cermin kecil yang dipegangnya itu memantulkan warna kemerahan di dekat tulang selangka. Ivy tidak tahu sudah memperhatikannya berapa lama, baru ketika pintu apartemen terbuka dari luar, buru-buru dirinya menurunkan cermin.Ivy memasang senyumnya saat Damian masuk ke apartemen. Ia menurunkan rambut untuk menutupi bagian leher.Tapi Damian melihatnya. Cermin kecil di tangan Iv
Kegiatan kampus sesibuk biasanya. Bedanya, yang selalunya membuat Ivy lelah dan seringkali mengembuskan napas, kali ini suasananya terasa begitu baik. Itu bukan karena tidak ada tugas apa pun dari dosen, bukan juga karena tidak ada materi yang membuatnya pusing, melainkan karena dorongan semalam yang sampai terbawa ke kampus.Tentu, apa yang dilakukan oleh Damian membuat tubuhnya sakit. Tapi pengalaman kedua itu sama seperti pengalaman pertama. Ivy tidak bisa mengabaikan betapa dirinya menikmati membiarkan tubuhnya menyatu dengan tubuh milik Damian.Ya, mau bagaimana lagi? Pria itu adalah dosen hot kampus yang menjadi incaran semua orang, tapi fakta mengejutkannya adalah Damian tidur dengan gadis kumuh seperti dirinya. Sudah dua kali. Bagaimana Ivy bisa mengabaikan hal itu?Clara juga nampak menyadarinya saat bertemu dengannya.“Rasanya hari ini kamu terlihat ceria sekali,” komentar Clara memiringkan kepalanya ke kanan dan kiri memperhatikan Ivy. “Benarkah? Aku rasa biasa saja.” Ivy
Entah berapa kali mereka melakukannya. Bahkan rasa lelah dan napas yang tidak lagi beraturan tidak membuat mereka berhenti. Atau lebih tepatnya tidak membuat Damian berhenti.Ivy meminta, tapi segera setelahnya langsung dibukam oleh milik Damian yang menembus masuk ke dalam tubuhnya. Lagi dan lagi.Saat pagi akhirnya menyambut mereka, Damian menjadi orang pertama yang membuka mata. Tubuhnya terasa pegal dan Damian memperbaiki posisinya menjadi telentang.Napasnya berhembus kasar. Sinar matahari yang baru pecah berwarna kemerahan menembus jendelanya. Masih ada waktu, Damian menyimpulkannya saat melihat jam dinding.Di situlah tatapannya beralih pada Ivy yang meringkuk di samping tubuhnya. Masih terlelap dengan rambut panjangnya yang sedikit menutupi wajah.Damian menyingkirkan rambut itu kemudian mendekat untuk menaikkan selimut. Tapi Damian terkesiap.“Astaga, apa yang sudah saya lakukan?” Damian malah mencengkeram selimut itu saat melihat banyak sekali tanda yang ditinggalkannya di t
Damian bimbang. Ancaman ayahnya yang mengatakan akan menyingkirkan Ivy ternyata mengganggu Damian lebih dari yang Damian duga.Damian merasa marah sekaligus cemas. Tujuan melindungi yang dipilih olehnya sejak awal sekarang berubah menjadi ancaman serius. Dengan menjaga Ivy di sampingnya, mempertahankan gadis itu, sekarang bukan lagi berisi aman, tapi bisa saja malah membahayakan.Saat tiba di depan pintu kamarnya, Damian merasa ragu. Kemarahan itu masih berkumpul di dadanya. Membuatnya banyak mengepalkan tangan selama perjalanan. Tapi Damian tahu pergi juga tidak akan menjadi solusi apa pun.Sebuah kartu dikeluarkan dari dompetnya oleh Damian dan pintu itu didorong terbuka.Damian melepaskan sepatu pantofel miliknya, lantas memperbaiki posisi tas di bahu kirinya. Melangkah semakin jauh, matanya segera bertemu pandang dengan milik Ivy yang sedang duduk di sofa.“Saya pikir Bapak tidak pulang,” kata Ivy berdiri dari sofa. Menatap Damian dari posisinya. “Biasanya Bapak tidak pulang sam
Hari sudah malam saat Damian akhirnya tiba di rumah orang tuanya. Gerbang besar itu langsung terbuka hanya dengan satu klakson kecil darinya.Damian langsung menjalankan mobilnya dan memarkirkannya di halaman utama. Tubuhnya disandarkan pada jok mobil. Malas sekaligus enggan untuk memasuki rumah itu. Terlalu muak, terlalu lelah.Tapi tidak ada pilihan. Ditekannya rasa muak dan lelah itu sampai Damian memilih turun dari mobil dan berjalan menuju pintu utama.Saat akhirnya mendorong pintu itu terbuka, bukan pulang berisi tenang yang ditemukan oleh Damian, seperti anak-anak sudah berkelana jauh dan akhirnya kembali ke rumah. Tidak ada perasaan seperti itu.Yang ada hanya asing dan dingin yang menusuk. Setelah sekian lama memutuskan meninggalkan rumah tersebut, rumah megah nan besar itu rasanya tidak bisa dijadikan tempat pulang.Seorang wanita berlari bersemangat dari ruang utama. Ibu Damian. Maria. Senyumnya sangat hangat. Seperti seorang ibu yang begitu merindukan putranya.“Astaga, ke
Saat membuka matanya, Ivy merasakan sesuatu yang agak keras sekaligus kenyal menempel di bagian belakang lehernya. Saat tubuhnya dimiringkan, tangannya menyentuh hal lainnya yang teksturnya terasa sama.Ivy menggerak-gerakan tangannya itu seperti meremas. Seperti dirinya mengenal tekstur tersebut. Lalu kemudian matanya pelan-pelan terbuka. Langsung membelalak saat menyadari bahwa dirinya sedang menyentuh dada Damian.Ivy melipat bibirnya dan menjauhkan tangannya, tapi tidak sadar bahwa Damian juga sudah bangun. Pria itu malah menyambar tangan Ivy yang hendak dijauhkan. Membuat Ivy terkesiap dan mendongak menatap Damian.“Ternyata tanganmu nakal juga,” kata Damian. Akhirnya langsung melepaskan tangan Ivy.“M-maaf, Pak. Saya tidak bermaksud melakukan hal itu.” Ivy berusaha menjelaskannya. Damian tidak menjawabnya dan hanya tertawa kecil.Ivy cepat beringsut bangun dengan terburu-buru, sampai membuat kepalanya tiba-tiba pening karena gerakan cepatnya itu. Damian ikutan bangun juga dan se







