Share

Bab 6

Penulis: Pir
Namun, Sandra harus menerima hingga 101 tamparan sebelum akhirnya kehilangan kesadaran. Selama tiga hari penuh, dia tidak sadarkan diri.

Tiga hari kemudian, suara klakson yang memekakkan telinga membangunkannya.

Dalam keadaan masih linglung, Sandra berusaha menegakkan tubuh. Saat itulah dia menyadari kedua tangan dan kakinya diikat dan dirinya disekap di kursi belakang mobil. Di depan, Julian memacu mobil hingga 200 kilometer per jam di tengah lalu lintas. Urat di punggung tangannya menonjol karena cengkeramannya pada kemudi begitu kuat.

"Mau dibawa ke mana aku?" Suara Sandra serak dan lemah.

Julian bahkan tidak menoleh. Suaranya terdengar sedingin gletser yang tak pernah mencair. "Nadine diculik sama suaminya."

"Dia bilang, kalau aku mau bebasin dia, aku harus nyerahin istriku sebagai gantinya. Katanya, aku sudah merebut istrinya."

Sandra hampir tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. "Coba ulangi?"

Julian mengatupkan bibir tipisnya hingga membentuk garis lurus. Dia tidak menjawab.

Telinga Sandra berdenging. Sambil menatap garis rahang Julian yang keras dan dingin, berbagai emosi seolah berkecamuk sekaligus di dalam dadanya.

Amarah dan penghinaan akibat 101 tamparan itu. Rasa kaget dan terhina karena diperlakukan seperti barang yang bisa ditukar. Dan yang paling menyakitkan, perasaan diremehkan oleh pria yang pernah begitu dia cintai.

Air mata yang selama ini ditahannya akhirnya jatuh. Mulut Sandra masih penuh rasa amis darah, tetapi dia malah tertawa. Bahunya yang kurus berguncang hebat. "Istri ...." Dia menatap Julian dengan mata berkaca-kaca. "Julian, apa kamu benar-benar pernah nganggap aku istrimu?"

"Atau aku baru dianggap sebagai istrimu ketika kamu butuh seseorang buat ditukar?"

Kesedihan dan keputusasaan dalam tatapan Sandra begitu pekat hingga membuat Julian seketika tercekat. Untuk sesaat, napasnya terasa berat.

Namun, bayangan Nadine kembali melintas di benaknya. Julian segera mengendalikan emosinya. "Jangan berpikir macam-macam."

"Aku sudah nyiapin orang-orang. Kamu hanya perlu bertahan sebentar. Kamu nggak akan berada dalam bahaya."

Untuk sesaat, suasana di dalam mobil kembali hening.

Ketika Julian mengira Sandra sudah tenang, suara wanita itu terdengar lirih, hampir seperti bisikan. "Julian, seandainya kita nggak pernah bertemu ... mungkin akan jauh lebih baik."

Kalau mereka tidak pernah bertemu, Sandra tidak akan terluka separah ini. Dia bisa tetap hidup bebas, menjadi dirinya sendiri, tanpa harus terikat oleh siapa pun.

Itu hanya keluhan lirih, ringan seperti hembusan angin. Namun entah mengapa, mendengarnya justru membuat amarah Julian kembali berkobar.

Dia menginjak pedal gas makin dalam. Wajahnya mengeras, diselimuti hawa dingin yang sulit ditembus. "Sandra, sudah kubilang kamu nggak akan kenapa-kenapa. Aku juga akan tebus semua ini."

"Kamulah Nyonya Pratama. Seumur hidup, kamu akan nikmati kemakmuran dan kemewahan. Setelah anak kita lahir, aku akan kasih semua yang terbaik."

"Jangan katakan hal-hal seperti itu hanya karena sedang marah." Nada suara Julian tetap dingin. "Aku tahu kamu sangat cinta sama aku. Kamu bahkan pernah bilang bahwa bertemu denganku adalah keberuntungan terbesar dalam hidupmu."

Sandra berkedip pelan. Tatapannya kosong.

Jadi, Julian tahu bahwa Sandra mencintainya.

Memang. Sandra tidak pernah menyembunyikan perasaannya. Dia selalu mencintai Julian dengan terang-terangan dan tanpa ragu.

Justru karena itulah, cinta itu bisa Julian manfaatkan sesuka hatinya. Yang tidak diketahui Julian adalah bahwa anak mereka telah pergi karena dirinya. Dan bersamaan dengan itu, cinta Sandra kepadanya pun perlahan mati, terkubur di bawah luka yang tak terhitung jumlahnya.

….

Mobil itu membawa mereka ke sebuah daerah terpencil yang jauh dari permukiman.

Sekali lagi, Julian membungkuk dan berbisik di telinga Sandra, "Tunggu aku sebentar lagi." Setelah itu, dia mendorong Sandra keluar dari mobil dengan kasar, lalu berbalik memeluk Nadine yang sedang terisak.

Tubuh Sandra digantung di udara. Bilah-bilah pisau tajam berkali-kali menggores tubuhnya hingga dia hanya mampu mengerang tertahan.

Julian sempat terdiam. Namun, dia hanya mengecup dahi Nadine dengan lembut, memastikan wanita itu baik-baik saja, kemudian berbalik dan pergi dengan langkah lebar.

Satu jam berlalu. Tubuh Sandra sudah penuh luka menganga, darah merah mengalir di sekujur tubuhnya.

Dua jam berlalu. Seember air garam berkonsentrasi tinggi disiramkan ke tubuhnya. Rasa perih yang menusuk membuat Sandra tak mampu lagi menahan jeritan.

Tiga jam. Empat jam. Hingga fajar mulai menyingsing, para pelaku penyiksaan itu akhirnya kelelahan.

Sandra dibiarkan begitu saja di tanah lapang.

Ketika para pengawal datang mencarinya, mereka menemukan Sandra dengan napas yang sudah sangat lemah. Mereka segera mengangkatnya ke dalam mobil dan membawanya ke rumah sakit.

Salah seorang pengawal menghela napas. "Benar-benar menderita sia-sia …. Padahal orang-orang kita sudah berkumpul sejak tadi malam. Kenapa baru bertindak sekarang?"

Kepala pengawal menggeleng. "Tadi malam, Nona Nadine ketakutan. Seluruh perhatian Pak Julian tertuju pada dia."

"Aku sebenarnya sudah mau melapor bahwa kami siap berangkat. Tapi dia malah membentakku. Katanya, nggak ada yang lebih penting daripada Nona Nadine dan kami nggak boleh mengganggu."

Tanpa sengaja, salah seorang pengawal melirik kaca spion, dan seketika, dia terdiam.

Sandra yang seharusnya sudah tidak sadarkan diri ternyata masih menangis dalam diam. Air mata mengalir di wajahnya yang pucat dan kurus, lalu lenyap di antara rambut hitamnya yang kusut.

"Nona Sandra ...." Melihat keadaannya, pengawal itu merasa iba. "Tenang saja. Pak Julian nggak ngelupain Nona. Dia pasti akan segera datang menjenguk ke rumah sakit."

Namun, hingga Sandra keluar dari rumah sakit, Julian tidak pernah datang.

Selama itu, dia justru sibuk menemani Nadine berjalan-jalan untuk melepas penat.

Mereka pergi ke pelelangan dan Julian menghabiskan banyak uang untuk membeli sebuah kalung bertabur berlian kecil. Kemudian dia langsung memberikannya kepada Nadine.

Mereka pergi ke pantai dan menyalakan kembang api sepanjang malam. Di langit, rangkaian kembang api membentuk kalimat romantis: [Nadine, semoga kamu selalu bahagia.]

Mereka bahkan pergi ke taman bunga. Di tengah lautan mawar, Julian berjalan bergandengan tangan dengan Nadine, dan setiap gerak-geriknya dipenuhi kelembutan.

"Nona Sandra, semua prosedurnya sudah selesai. Akta cerainya juga sudah selesai dibuat."

Sandra mengambil salah satu akta cerai itu, lalu meninggalkan alamat Keluarga Pratama dan kontak Julian. "Yang untuk Julian, kirimkan saja ke alamat ini."

Dia terdiam sejenak, kemudian menyerahkan surat keterangan kegugurannya. "Oh, ya. Tolong kirimkan ini juga ke dia."

Pak Andre tampak ragu sebelum akhirnya bertanya, "Nona Sandra, lalu bagaimana dengan Anda?"

Sandra mengangkat tiket pesawat yang ada di tangannya. Kebetulan, penerbangannya berangkat hari itu.

"Aku?" Sandra tersenyum tipis. Perlahan, keberanian dan keceriaan yang dulu menjadi bagian dari dirinya kembali terlihat. "Aku akan mulai kehidupan baru yang benar-benar jadi milikku sendiri."

Dia tidak menginginkan Julian lagi.

Sedangkan Nadine ....

Dia juga tidak akan membiarkan perempuan itu lolos.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Cintamu Sudah Nggak Laku   Bab 15

    Julian dirawat di rumah sakit selama sebulan penuh.Dokter menatapnya dengan raut wajah berat, seolah ada sesuatu yang ingin dikatakan tetapi urung diucapkan. "Pak Julian, kalau sampai ini terjadi lagi, Anda nggak akan mungkin selamat."Julian sama sekali tidak memedulikannya.Pikirannya hanya tertuju pada satu hal, diam-diam mencari tahu kabar terbaru tentang Sandra.Dia tahu bahwa kini Sandra menjadi pengelola sebuah studio seni dan telah menjadi seorang seniman yang sangat berbakat. Baru-baru ini, Sandra menggelar pameran lukisan yang menarik perhatian dunia dan mendapat banyak pujian dari para profesional di bidangnya.Dia juga tahu bahwa kehidupan pernikahan Sandra sangat bahagia. Keluarga Jinata sama sekali tidak mempermasalahkan statusnya sebagai janda maupun fakta bahwa dia pernah mengalami keguguran. Sebaliknya, mereka justru sangat menerima Sandra sebagai keluarga.Dia tahu betapa berat dan sulitnya perjuangan Sandra selama dua tahun terakhir. Namun, selama itu pula Fredy sel

  • Cintamu Sudah Nggak Laku   Bab 14

    Di sisi lain, Sandra sudah masuk ke dalam mobil.Malam ini adalah malam pertama pernikahannya. Fredy telah menghabiskan lebih dari setengah tahun untuk mempersiapkan pernikahan ini, tetapi karena kemunculan Julian, suasana yang seharusnya sempurna itu sempat mengalami sedikit kekacauan."Maaf."Baru saja Sandra membuka mulut, Fredy sudah lebih dulu meminta maaf dengan suara rendah.Fredy menepikan mobil, lalu dengan lembut menyibakkan rambut yang jatuh di sisi wajah Sandra. "Maaf. Aku yang nggak meriksa daftar tamu dengan baik."Namun, Keluarga Jinata adalah keluarga elite dengan kekayaan yang bahkan berkali-kali lipat lebih besar daripada Keluarga Pratama. Para tamu yang mereka undang hampir mencakup para pengusaha dari seluruh dunia. Dengan jumlah sebanyak itu, bagaimana mungkin daftar tamu diperiksa satu per satu tanpa ada yang terlewat?Melihat cinta di mata Fredy yang sama sekali tidak berubah, hati Sandra pun perlahan luluh.Dia tahu betul bahwa cintanya kepada Fredy berbeda deng

  • Cintamu Sudah Nggak Laku   Bab 13

    Rasa hampa yang selama ini seperti menghantuinya seketika lenyap saat Julian memeluk Sandra.Julian memeluknya makin erat, seolah ingin meleburkan wanita itu ke dalam tulang-belulangnya agar mereka tidak pernah terpisahkan lagi.Namun, Sandra segera melepaskan diri sekuat tenaga, lalu menampar wajah pria itu!"Plak!" Suara tamparan nyaring menggema.Saat Julian masih tertegun, Sandra mendorongnya dengan kuat."Kita sudah nggak punya hubungan apa-apa lagi." Suara Sandra terdengar datar. "Tolong jaga sikapmu, Pak Julian."Napas Julian memburu. Dia ingin sekali membawa Sandra pergi dengan paksa, tetapi dia takut tindakan itu justru akan membuat Sandra makin membencinya.Dia tidak bisa menerima kenyataan ini. Bagaimanapun juga, dialah yang telah mengecewakan Sandra."Sandra, aku cinta padamu." Julian rela membuka seluruh isi hatinya di hadapan Sandra, asalkan wanita itu mau mendengarkan perasaannya.Pria yang biasanya tetap tenang bahkan saat menandatangani kontrak kerja sama bernilai ratu

  • Cintamu Sudah Nggak Laku   Bab 12

    Sandra sama sekali tidak menyadari tatapan penuh cinta Julian yang tertuju kepadanya.Di momen sepenting ini, seluruh perhatian tertuju kepada dirinya dan Fredy. Telapak tangannya sedikit berkeringat, sementara jantungnya berdegup kencang.Menyadari kegugupan Sandra, Fredy tersenyum lembut, lalu mengambil cincin pernikahan dari tangan pelayan. Setelah itu, dia berlutut dengan satu kaki dan menjalani momen tersebut dengan begitu khidmat, seolah tengah mempersembahkan permata paling berharga dalam hidupnya. "Sandra, aku mencintaimu. Maukah kamu menikah denganku?"Di tengah sorak-sorai para tamu, mata Sandra perlahan berkaca-kaca. Rasanya seperti berada di dalam mimpi.Ini adalah pernikahan keduanya. Bahkan Sandra sendiri merasa sedikit terkejut karena dalam waktu sesingkat ini, dia kembali melangkah ke jenjang pernikahan.Dulu, dia mengira tidak akan pernah lagi memercayai siapa pun seumur hidupnya. Namun, Fredy hadir dalam hidupnya. Dengan kelembutan, kesabaran, dan perhatian yang diber

  • Cintamu Sudah Nggak Laku   Bab 11

    Dua tahun kemudian.Gemerlap lampu memenuhi sebuah bar yang masih ramai meski malam telah larut.Seorang wanita dengan bando telinga kelinci mendekat, nyaris menempel pada tubuh Julian. Dengan bibir merahnya, dia meniupkan napas ke telinga pria itu sambil bertanya manja, "Pak Julian, mau minum?"Namun, hanya satu kata yang keluar dari mulut Julian, dingin tanpa sedikit pun kehangatan. "Pergi." Wanita itu langsung pucat dan buru-buru menjauh.Sahabat dekat Julian yang menyaksikan semuanya hanya bisa menghela napas panjang. "Julian, sudah dua tahun berlalu. Jangan nyiksa diri terus kaya begini."Bukan pertama kalinya dia mengajak Julian keluar untuk mengalihkan pikirannya. Namun, setiap kali seorang wanita mencoba mendekat, satu tatapan dingin Julian sudah cukup untuk membuat mereka mundur.Sahabatnya menatapnya serius. "Julian, lepasin Sandra. Cari seseorang yang lebih baik. Suatu hari nanti, kamu pasti bisa lupain dia, sama kayak dulu waktu kamu berhasil bangkit dari luka yang ditingg

  • Cintamu Sudah Nggak Laku   Bab 10

    Julian perlahan menundukkan kepala. Wanita yang dulu begitu dicintainya masih gemetar dalam pelukannya, tetapi yang memenuhi pikirannya kini justru bukti-bukti yang diunggah Sandra ke internet.Nadine-lah yang memerintahkan para pengawal untuk memaksa Sandra berlutut dan memohon ampun, lalu menginjak-injak harga dirinya sampai tak tersisa.Bahkan Nadine bersekongkol dengan mantan suaminya dan memberinya sejumlah besar uang, hanya demi menyiksa Sandra dengan sengaja.Untuk pertama kalinya, Julian merasa wanita di hadapannya begitu asing. Seolah-olah Nadine bukan lagi gadis polos dan murni yang dulu dia cintai."Apa sebenarnya yang sudah kamu lakukan pada Sandra?" Suara Julian terdengar tenang. Tatapan gelapnya terpaku pada Nadine, dalam dan dingin, seolah mampu menenggelamkannya ke dasar jurang."Jangan bohong, Nadine. Kamu tahu kayak apa aku. Aku paling benci pengkhianatan, apalagi kebohongan."Suara dingin itu membuat tangisan Nadine seketika terhenti.Nadine terisak, lalu mengalihkan

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status