Share

Ciuman Perpisahan Di Malam Musim Panas
Ciuman Perpisahan Di Malam Musim Panas
Author: Prazas

Bab 1

Author: Prazas
Ibu Larsen, sang pewaris keluarga elite ibu kota, akhirnya sadar setelah sepuluh tahun menjadi pasien vegetatif karena dikira didorong seseorang hingga jatuh dari tangga.

Semua tokoh terpandang di ibu kota datang menjenguknya. Mereka berlomba-lomba memuji Larsen di hadapan wanita tua itu karena begitu berbakti dan telah menghukum orang yang mencelakai ibunya selama sepuluh tahun penuh.

Meskipun orang yang dianggap bersalah itu adalah pacar Larsen semasa SMA, Larsen tidak pernah sedikit pun berbelaskasihan.

Namun, setelah semua orang selesai bicara, wanita tua yang sudah lama terdiam itu justru tampak kebingungan. "Orang yang bersalah? Nggak ada yang dorong aku, kok. Aku jatuh sendiri."

Brak!

Tangan Larsen bergetar, pisau buah yang dipegangnya jatuh ke lantai. Dia mendongak dengan tercengang. "Bu, apa Ibu bilang?"

Jadi, bukan Alena yang membuat ibunya menjadi pasien vegetatif?

Kepanikan yang luar biasa seketika membuncah dalam hati Larsen.

Selama ibunya tidak sadarkan diri, selama itu pula dia membalas dendam kepada Alena. Namun, sekarang dia malah diberi tahu bahwa Alena tidak bersalah?

"Oh iya, di mana Alena?" tanya Miriam dengan cemas. "Dulu aku nggak suka dia karena dia berasal dari keluarga dengan orang tua tunggal. Aku nggak ingin kamu bersamanya."

"Tapi siapa sangka, anak itu rela mempertaruhkan nyawanya untuk menyelamatkanku saat aku jatuh ke air. Apa kalian masih pacaran? Apa kalian sudah menikah? Sudah punya anak?"

Tiga pertanyaan itu bagaikan hantaman palu berat yang menghantam hati Larsen.

Tenggorokan Larsen terasa kering. Untuk waktu yang lama, dia tidak mampu mengucapkan sepatah kata pun.

Karena setelah Alena keluar dari penjara, dia memaksa Alena hidup bersama seorang pengemis buta. Kejadian itu sudah berlangsung selama tiga tahun ....

....

Tiga tahun lalu.

Di sebuah kelab di ibu kota.

Seorang wanita menggosok kloset dengan susah payah. Seragam kerjanya yang kebesaran membuat tubuhnya terlihat semakin kurus dan mungil. Setelah akhirnya selesai, dia duduk lemas di lantai, lalu mengeluarkan selembar foto. Orang-orang di dalam foto itu adalah ayahnya, dirinya, dan adiknya.

"Alena, ada tamu yang muntah di ruang privat Surgaloka. Pergi bersihkan."

Alena segera menyimpan foto itu dengan hati-hati, lalu bangkit berdiri.

Dia sudah tiga bulan keluar dari penjara. Hal pertama yang sebenarnya ingin dia lakukan adalah pergi ke panti asuhan untuk menjemput adiknya, Arina. Namun, karena dia adalah mantan narapidana, dia harus memiliki pekerjaan tetap sebelum bisa membawa Arina pergi.

Bagi Alena, mencari pekerjaan bukanlah perkara mudah.

Dia hanya lulusan SMA dan memiliki catatan kriminal. Bahkan untuk bekerja sebagai pelayan pun tidak ada yang mau menerimanya. Untungnya, kelab itu dipenuhi berbagai macam orang dan tidak memedulikan masa lalunya.

Suasana di dalam ruang privat sangat ramai. Ada pesta kecil yang dihadiri belasan orang. Para anak muda bermain kartu, berkaraoke, dan bersenang-senang. Tidak ada yang memedulikan seorang petugas kebersihan seperti dirinya.

Alena berlutut di lantai dan mulai membersihkan muntahan.

Tiba-tiba, suara seorang pria terdengar memecah suasana. "Wah, bukannya ini primadona sekaligus siswi teladan dari SMA Kota Faros? Ck, dulu waktu sekolah, kalau ada orang yang meminjam pulpennya, dia sampai harus mensterilkannya dengan alkohol lama sekali. Sekarang berlutut di lantai membersihkan muntahan juga sudah nggak merasa jijik?"

Alena mengenali pria itu sebagai teman sekolah yang pernah mendekatinya. Setelah ditolak olehnya, pria itu bahkan dengan murah hati mengatakan bahwa mereka masih bisa berteman.

Namun setelah kejadian itu terjadi, justru pria inilah yang paling kejam merundungnya.

Muntahan itu sangat menjijikkan. Alena hanya diam dan mempercepat gerakan tangannya.

Pria di belakangnya tiba-tiba menendangnya hingga tubuhnya terjerembap ke dalam tumpukan cairan yang lengket itu. "Aku sedang bicara sama kamu! Kamu tuli?"

"Ah!"

Alena menahan rasa sakit dan jijik, sementara kepahitan memenuhi hatinya.

Tuli? Bukankah dia memang sudah tuli?

Setelah Larsen menjebloskannya ke penjara atas tuduhan yang tidak pernah dia lakukan, Alena mendapat "perlakuan khusus" yang telah diatur oleh Larsen. Baru sebulan dipenjara, sebuah kecelakaan membuat telinga kirinya kehilangan pendengaran akibat ledakan.

Pria itu masih ingin melanjutkan, tetapi seorang teman lama menghentikannya. "Sudahlah. Buat apa kamu marah sama orang seperti dia?"

"Dulu, si primadona Alena begitu angkuh dan tinggi hati. Latar belakang keluarganya bagus. Meskipun ibunya meninggal sejak dia masih kecil, ayahnya adalah ahli bedah nomor satu di ibu kota. Dia sendiri cantik dan juga gadis kesayangan pewaris Keluarga Hargasa."

"Sekarang, bukankah dia sudah jadi pengecut yang nggak berani membalas saat dipukul ataupun dihina?"

Cuih!

Alena bisa merasakan dengan jelas segumpal ludah yang jatuh di atas kepalanya. Kalau ini terjadi pada dirinya yang dulu, dia pasti sudah melawan.

Namun ... perundungan saat kelas tiga SMA, penyiksaan selama tiga tahun setelah lulus, ditambah siksaan tiga tahun di dalam penjara, sudah lama menghancurkan seluruh harga diri dan keangkuhannya.

Kalau dia hanya hidup sebatang kara, mungkin tidak masalah. Bahkan jika harus mati, dia tetap akan memperjuangkan harga dirinya.

Namun, Alena tidak bisa. Dia masih memiliki seorang adik. Jika dia melawan, adiknya akan menjadi sasaran pelampiasan orang itu.

"Pantas saja! Dulu Larsen sebaik itu sama dia. Waktu ruang penyimpanan peralatan sekolah terbakar, Larsen nyaris kehilangan nyawa waktu berhasil keluar."

"Tapi begitu mendengar Alena masih terjebak di dalam, dia langsung menerobos masuk tanpa ragu untuk menyelamatkannya. Sampai sekarang masih ada bekas luka besar di punggungnya, bahkan suaranya rusak selama setengah tahun!"

"Tapi bagaimana dengan dia? Dia malah membenci Tante Miriam karena menghalangi hubungannya dengan Larsen. Saat Larsen sedang memulihkan diri, dia mendorong Tante Miriam sampai jadi pasien vegetatif!"

Begitu kejadian lama itu disinggung, semua teman sekolah mereka langsung dipenuhi kemarahan.

Tatapan yang tak terhitung jumlahnya tertuju pada Alena, membuatnya kembali teringat pada masa kelas tiga SMA yang bagaikan mimpi buruk.

Tahun itu, semua orang mengatakan bahwa Alena-lah yang mencelakai Miriam. Bahkan, Larsen juga sangat membencinya.

Hanya dengan satu ucapan, Larsen membuat ayah Alena yang semula seorang dokter ternama berubah menjadi pembunuh yang dihujat semua orang, hingga akhirnya bunuh diri di dalam penjara karena dianggap takut mempertanggungjawabkan kejahatannya.

Larsen mengubah SMA Kota Faros menjadi neraka bagi Alena, membuat setiap hari yang dia jalani di sekolah dipenuhi perundungan. Awalnya, Alena berusaha keras melawan, bahkan ingin pindah sekolah demi melarikan diri.

Namun setiap kali dia melawan, kabar bahwa ayahnya terluka di penjara akan segera terdengar. Sampai ketika dia benar-benar mencoba pindah sekolah, kabar kematian ayahnya pun datang.

Pada hari pemakaman ayahnya, untuk pertama kalinya Larsen membawa setangkai bunga daisy dan membungkuk hormat di hadapan makam ayah Alena. Namun, sesopan apa pun gerakannya, kata-kata yang keluar dari mulutnya justru sedingin es.

"Tetaplah patuh di penjara yang kubuat khusus untukmu, maka adikmu akan aman. Kamu nggak mau adikmu juga berubah menjadi abu, 'kan?"

Alena akhirnya berhasil bertahan sampai ujian masuk perguruan tinggi. Meskipun mendapatkan nilai yang sangat tinggi, campur tangan Larsen membuatnya tidak diterima di universitas mana pun, sehingga dia hanya bisa bekerja.

Larsen begitu membencinya. Dia bahkan tidak mengizinkan Alena melakukan pekerjaan yang sedikit lebih layak. Dia hanya membiarkannya menggelandang, mengamen, memulung, mengemis ....

Larsen merampas semua kemungkinan bagi Alena untuk menjalani kehidupan yang layak, membuatnya benar-benar menjadi gelandangan kumal yang dibenci semua orang.

Hanya dengan sebuah jebakan sederhana, Larsen bahkan berhasil membuatnya mendekam di penjara selama tiga tahun.

Alena akhirnya selesai membersihkan muntahan itu.

Dia berlari keluar dari ruang privat seperti sedang melarikan diri. Namun begitu berbalik, dia malah menabrak seorang wanita.

"Maaf, maaf!" Alena membungkuk sambil meminta maaf.

"Ah! Tas Chanel-ku! Kamu menjijikkan sekali! Pergi sana!"

Alena tertegun. Dia mengenal wanita ini.

Wanita ini adalah pacar Larsen semasa kuliah. Ketika Alena bekerja di kampus mereka, berkali-kali dia melihat betapa lembut dan mesranya Larsen saat mencium Vero. Larsen benar-benar menyukai Vero.

Saking sukanya sampai ketika Alena tidak sengaja mengotori salah satu sepatu kulit Vero, Larsen menjebloskannya ke penjara hanya demi membuat Vero senang.

"Maaf, aku akan segera pergi!"

Kalau Vero ada di sini, berarti Larsen ....

Tidak! Dia tidak boleh sampai ditemukan oleh Larsen!

Alena membungkukkan tubuh dan buru-buru menyelinap melewati wanita itu.

Namun, tiba-tiba terdengar suara yang membuat darahnya seakan membeku, "Alena."

Kemudian terdengar tawa sinis yang menusuk tulang, "Lama nggak ketemu."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Ciuman Perpisahan Di Malam Musim Panas   Bab 16

    Sebuah mobil mewah seharga puluhan miliar muncul dengan tenang di kawasan kumuh.Di bangunan kecil bobrok tempat Alena dan Andre tinggal selama tiga tahun terakhir, pipa-pipa baja yang berkarat dan dinding bata yang rusak dihiasi bunga plastik warna-warni. Di balkon tergantung lampu hias murah yang berkelap-kelip, sementara jendela yang sudah menguning ditempeli kertas warna-warni dengan motif kekanak-kanakan.Semua itu dihias sendiri oleh Andre setelah mengetahui bahwa Alena akan pulang.Wajah pria difabel itu masih menyisakan luka akibat pukulan Larsen beberapa waktu lalu. Namun, senyum Andre begitu lembut, sangat bertolak belakang dengan rongga matanya yang gelap dan bekas luka mengerikan di wajahnya.Dia sudah menyiapkan semeja penuh dengan makanan kesukaan Alena. Sambil menggosok-gosokkan kedua tangannya dengan gugup, dia menunggu kedatangan Alena.Begitu melihat Alena turun dari mobil mewah itu, Andre langsung menyambutnya dengan gembira. Dia memeriksa tubuh Alena dari atas sampa

  • Ciuman Perpisahan Di Malam Musim Panas   Bab 15

    Setiap hari, Larsen memaksa Alena minum obat, menerima suntikan, menjalani kemoterapi, dan mendapatkan asupan nutrisi.Setiap kali Alena tidak mau bekerja sama, dia akan menggunakan Andre untuk mengancamnya. Meskipun cara ini membuat Larsen cemburu sekaligus sakit hati, cara tersebut selalu berhasil.Dengan perawatan intensif dari hari ke hari, kondisi Alena ternyata terlihat semakin membaik. Wajahnya tampak lebih segar, bahkan berat badannya juga bertambah.Melihat kondisi Alena yang semakin membaik setiap hari, Larsen sangat bahagia. Dia mengira dirinya benar-benar bisa menyembuhkan Alena.Namun ketika dia kembali membawa Alena menjalani pemeriksaan, laporan hasil pemeriksaan menghancurkan segalanya, termasuk harapan Larsen yang sempat membuncah. Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa kondisi tubuh Alena sama sekali tidak membaik.Obat terapi target dan obat khusus yang sangat mahal itu sama sekali tidak mampu menghentikan penyebaran sel kanker. Hidup Alena bahkan tidak berhasil diperpa

  • Ciuman Perpisahan Di Malam Musim Panas   Bab 14

    Di kediaman pribadi Larsen.Di taman pribadi yang bermandikan sinar matahari cerah, Alena mengenakan pakaian rumah yang longgar dan nyaman sambil duduk di bawah payung taman.Larsen memandangi siluet wanita itu yang kurus dan rapuh, tetapi tetap cantik, sampai terpaku.Setelah cukup lama, barulah dia berjalan menghampiri sambil membawa obat. Dia mengambil buku dari tangan Alena. "Alena, waktunya minum obat."Pikirannya yang terputus membuat Alena memalingkan tubuh dengan penuh rasa muak.Sejak Larsen membuatnya pingsan dan membawanya ke kediaman pribadi ini, Alena sudah tinggal di sini selama sebulan.Setiap hari, tenaga medis keluar masuk kediaman. Dia menjalani kemoterapi, terapi target, minum obat, akupunktur ....Rambutnya yang semula sudah kering dan kasar, kini telah rontok seluruhnya. Sekarang, dia hanya bisa mengenakan topi bucket untuk menutupi kepalanya yang botak.Melihat penolakan Alena yang begitu jelas, Larsen tetap sabar. "Alena, setelah minum obat, kamu nggak akan kesak

  • Ciuman Perpisahan Di Malam Musim Panas   Bab 13

    Satu kalimat itu membuat seluruh emosi Larsen bergolak hebat.Dia memeluk Alena dengan erat. "Aku bajingan, aku memang bukan manusia! Alena, aku datang untuk menjemputmu. Mulai sekarang, kamu nggak perlu lagi menderita di sisi sampah seperti ini!"Alena perlahan mendorongnya menjauh, lalu berjalan ke sisi pria buta sebelah itu. Dengan penuh perhatian, dia membantu pria itu berdiri dan bertanya pelan, "Kamu nggak apa-apa?"Setelah itu, dia menatap Larsen dan berkata, "Nggak perlu merepotkan Pak Larsen. Aku tidak merasa menderita setelah menikah dengan suamiku. Aku justru sangat berterima kasih karena dulu Pak Larsen membuangku di sini. Kalau nggak, aku nggak akan pernah bertemu dengan suamiku yang sebaik ini. Satu lagi, suamiku bukan sampah. Dia punya nama. Namanya Andre."Hati Larsen terasa seperti disayat pisau.Untuk sesaat, dia tidak tahu apakah ucapan Alena benar-benar berasal dari lubuk hatinya atau hanya sengaja diucapkan untuk membuatnya marah.Ekspresi Larsen berubah dingin. Di

  • Ciuman Perpisahan Di Malam Musim Panas   Bab 12

    Tidak ada kelahiran kembali. Tidak ada kesempatan untuk menebus kesalahan.Ayah Alena sudah meninggal sepuluh tahun lalu. Arina juga sudah meninggal. Sedangkan Alena ... Larsen bahkan tidak tahu di mana dia dimakamkan. Dia tidak berhasil mengubah apa pun. Dia hanya orang malang yang mencoba bunuh diri, tetapi kemudian diselamatkan.Setelah kejadian itu, Jarvis juga tidak berani lagi mengurungnya.Larsen datang ke kawasan kumuh. Di persimpangan tempat dia meninggalkan Alena dulu, dia mengerahkan orang-orangnya untuk mencari dalam waktu lama.Namun, mereka tetap tidak menemukan jejak Alena.Kawasan kumuh itu masih sama bobrok dan kotornya. Tidak banyak yang berubah. Hanya saja, para pengemis dan tunawisma yang berkeliaran di sekitar sana sudah berganti. Bahkan pengemis buta yang dulu pun tidak berhasil dia temukan.Alena seolah menghilang begitu saja dari muka bumi. Meskipun Larsen memiliki koneksi dan kekuasaan yang sangat besar, dia tetap tidak mampu menemukan jejak Alena sedikit pun.

  • Ciuman Perpisahan Di Malam Musim Panas   Bab 11

    Dia terlahir kembali!Dia kembali ke masa ketika pembalasannya terhadap Alena baru saja dimulai. Saat ini, Alena belum meninggal, Arina belum meninggal, dan ayah Alena juga masih hidup. Semuanya masih sempat diperbaiki!Tanpa ragu sedikit pun, Larsen langsung berlari menuju ruang penyimpanan peralatan olahraga.Ketika tiba di sana, beberapa siswa laki-laki sedang melempari Alena dengan bola voli. Bola demi bola menghantam kaki dan perut Alena dengan keras. Alena hanya bisa meringkuk di sudut ruangan sambil memeluk kepalanya untuk melindungi diri.Begitu menemukan kesempatan, dia mengambil sebuah bola voli dan melemparkannya sekuat tenaga ke wajah siswa yang memimpin kelompok itu. Wajah siswa itu terkena bola. Dia langsung murka dan berjalan menghampiri Alena dengan garang."Sialan, dasar jalang! Berani sekali kamu memukulku!"Sambil berkata demikian, dia mengangkat kaki yang mengenakan sepatu berpaku dan hendak menginjak lengan Alena yang ramping.Alena sudah tidak punya tempat untuk m

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status