Teilen

Bab 2

Prazas
Suara pria itu terdengar seperti desisan yang berasal dari neraka, membuat sekujur tubuh Alena terasa dingin. Dia ingin melarikan diri. Namun detik berikutnya, sebuah telapak tangan hangat sudah mencengkeram lehernya.

"Tuli? Nggak dengar aku bicara?"

Embusan napas yang terasa begitu dekat itu seolah iblis yang sedang menjeratnya.

Hati Alena terasa seperti ditusuk. Kecelakaan di penjara yang membuat telinga kirinya tuli ternyata memang ulah Larsen.

Menyadari tubuh wanita itu gemetar, suara Larsen justru terdengar semakin lembut dan manis. "Kenapa gemetar? Ketemu teman lama juga nggak nyapa. Pekerjaanmu ini juga aku yang mengaturnya. Nggak berniat mengucapkan terima kasih?"

A ... apa?

Bibir Alena sedikit terbuka. Keputusasaan seketika membanjiri hatinya.

Dia mengira setelah berusaha keras mendapatkan pengurangan hukuman dan keluar lebih awal dari penjara, lalu mencari pekerjaan di sebuah kelab yang tidak terkenal dan menjalani hidup tanpa menarik perhatian, Larsen tidak akan memedulikannya lagi.

Namun ternyata, sejak kakinya melangkah keluar dari penjara, dia sudah kembali terjerat dalam perangkap Larsen.

Alena mendongak dengan tatapan ketakutan. Tiga tahun tidak bertemu, Larsen sudah benar-benar kehilangan kesan kekanak-kanakannya. Dia kini terlihat lebih dingin dan berkelas, dengan tubuh tinggi dan aura yang jauh lebih dewasa.

Alena menatap pria yang dahulu pernah dicintainya.

"Larsen, aku sudah dipenjara selama tiga tahun. Tolong lepaskan aku."

Aku sudah kehilangan ayahku, dipenjara selama tiga tahun, dan kehilangan pendengaran di satu telinga. Bahkan jika aku benar-benar bersalah, hukuman yang kuterima sudah cukup berat.

Tolong lepaskan aku.

Larsen seolah tidak mendengarnya. Dia merangkul Vero, lalu menatap Alena dengan santai. Tatapannya dipenuhi niat jahat.

"Aku sudah berbaik hati mencarikan pekerjaan untukmu, tapi ternyata kamu malah merasa aku mempersulitmu. Kalau begitu, bagaimana kalau mulai sekarang kamu nggak perlu membersihkan kloset lagi? Bukankah lebih bagus kalau kamu bekerja sebagai penari di bagian layanan tamu?"

Bibir Alena membuka dan menutup beberapa kali, tetapi tidak sepatah kata pun mampu keluar.

"Kenapa? Nggak mau?"

'Ya, aku nggak mau!'

Alena tiba-tiba berbalik. "Aku berhenti! Aku mau mengundurkan diri!"

Begitu berlari sampai ke pintu, dua pengawal berpakaian hitam langsung menghalangi jalannya. Dia bahkan tidak berani membayangkan pembalasan seperti apa yang akan dilakukan Larsen kepadanya jika dia terus berada di tempat ini.

Namun, di luar dugaan, Larsen justru berkata, "Biarkan dia pergi."

Alena merasa seperti baru saja mendapat pengampunan. Namun sebelum kakinya melangkah keluar, dia mendengar jelas suara rendah Larsen dari belakang. "Kalau pergi, jangan menyesal."

Langkah Alena tetap teguh. Asalkan bisa menjauh dari Larsen, dia bisa mencari pekerjaan lagi.

Namun, bahkan tanpa campur tangan Larsen sekalipun, Alena tetap kesulitan mendapatkan pekerjaan.

Dia menjalani berbagai pekerjaan serabutan selama hampir setengah bulan. Setelah berkali-kali menurunkan standarnya, akhirnya dia mendapatkan pekerjaan di sebuah proyek konstruksi untuk mengangkut limbah bangunan.

Mandor proyek itu berkata dengan gaya tengil, "Gadis kecil, semua limbah ini masih akan dijual. Jangan sampai kamu menjatuhkannya. Kalau sampai rusak, kamu harus ganti rugi. Upah dibayar harian. Setelah selesai mengangkut semuanya, cari aku untuk ditimbang dan ambil upahmu."

Potongan limbah itu berukuran besar, sementara tenaga Alena tidak terlalu kuat. Dia bolak-balik mengangkutnya dengan sangat hati-hati. Tumpukan limbah yang menjadi tanggung jawabnya pun tersusun dengan aman di atas truk pengangkut.

Setelah bersusah payah menyelesaikan semuanya, sekujur tubuhnya sudah basah oleh keringat dan berbau tidak sedap. Namun, ketika dia memanggil mandor untuk menimbangnya, limbah yang semula masih utuh ternyata sudah hancur berantakan di mana-mana.

"Dasar gadis sialan! Limbah sebanyak ini kamu hancurkan semuanya? Kamu tahu nggak, satu truk limbah ini membuatku rugi puluhan juta?!"

Mandor itu menendang tubuh Alena. "Dasar mantan napi! Kalau tahu begini, dari awal aku nggak mau pekerjakan kamu!"

Dengan wajah garang, dia membentak, "Ganti rugi!"

Tidak! Kenapa bisa begini?

Seluruh tubuh Alena menegang. Dia tidak tahu mengapa limbah yang tadinya baik-baik saja tiba-tiba hancur. Dia juga tidak tahu bagaimana harus menghadapi kemarahan sang mandor.

Saat itulah, sesosok pria bertubuh tinggi berjalan mendekat dan melemparkan setumpuk uang kepada mandor. "Dua ratus juta. Pergi."

Mandor itu segera memungut uang tersebut. Wajahnya langsung berseri-seri sebelum bergegas pergi.

Sementara itu, Alena terduduk lemas di tanah. Dia menatap Larsen dengan tatapan kosong dan tenggelam dalam keputusasaan.

"Ini ulahmu."

Pria ini ternyata masih belum berniat melepaskannya.

Larsen berjongkok. Wajahnya yang tampan dihiasi senyum nakal.

"Alena bodoh, aku nggak punya waktu luang sebanyak itu. Limbah itu sengaja dirusak mandor tadi supaya dia bisa memerasmu."

Alena bodoh.

Panggilan itu ....

Ketika mereka masih remaja, Larsen sering mengusap hidung kecilnya sambil berkata, "Alena bodoh, kalau kamu masih terus terpesona melihat anak-anak cowok yang main basket itu, pacarmu ini bisa cemburu."

Sedangkan Alena akan menjawab dengan manja, "Kalau kamu memang nggak bodoh, coba kalahkan nilaiku di ujian berikutnya."

Namun setelah kejadian itu, ketika Alena dikurung di toilet dan dirundung orang-orang, Larsen juga menggunakan nada yang sama saat berkata dengan mesra, "Alena bodoh, kamu suka neraka yang kubuat sendiri untukmu?"

"Kalau hukum negara nggak bisa menjeratmu, biar aku yang menghukummu."

Pikiran Alena kembali ke saat ini.

Larsen berkata, "Lihat? Selain aku, nggak ada seorang pun yang bersedia memberimu makan."

Nada bicara pria itu seolah sedang memberikan belas kasihan, sangat bertolak belakang dengan Alena yang sudah berada di ambang kehancuran.

"Kembalilah ke kelab. Karena kamu suka membersihkan kloset, lanjutkan saja pekerjaan itu. Jangan berpikir untuk melarikan diri. Kamu tahu sendiri apa yang bisa kulakukan."

Setelah mengatakan itu, Larsen pergi dengan langkah santai.

Alena menatap punggung pria yang tinggi dan tampan itu, lalu tiba-tiba tersenyum getir. Dia terus tertawa, tetapi beberapa saat kemudian wajah kecilnya mengernyit dan dia memuntahkan darah.

Darah dan air mata bercampur di wajahnya.

Alena mendongak sambil tersenyum getir.

'Larsen, kamu memang hebat. Kalau kamu sehebat itu, kenapa kamu nggak tahu kalau aku sebentar lagi akan mati?'

Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen

Aktuellstes Kapitel

  • Ciuman Perpisahan Di Malam Musim Panas   Bab 16

    Sebuah mobil mewah seharga puluhan miliar muncul dengan tenang di kawasan kumuh.Di bangunan kecil bobrok tempat Alena dan Andre tinggal selama tiga tahun terakhir, pipa-pipa baja yang berkarat dan dinding bata yang rusak dihiasi bunga plastik warna-warni. Di balkon tergantung lampu hias murah yang berkelap-kelip, sementara jendela yang sudah menguning ditempeli kertas warna-warni dengan motif kekanak-kanakan.Semua itu dihias sendiri oleh Andre setelah mengetahui bahwa Alena akan pulang.Wajah pria difabel itu masih menyisakan luka akibat pukulan Larsen beberapa waktu lalu. Namun, senyum Andre begitu lembut, sangat bertolak belakang dengan rongga matanya yang gelap dan bekas luka mengerikan di wajahnya.Dia sudah menyiapkan semeja penuh dengan makanan kesukaan Alena. Sambil menggosok-gosokkan kedua tangannya dengan gugup, dia menunggu kedatangan Alena.Begitu melihat Alena turun dari mobil mewah itu, Andre langsung menyambutnya dengan gembira. Dia memeriksa tubuh Alena dari atas sampa

  • Ciuman Perpisahan Di Malam Musim Panas   Bab 15

    Setiap hari, Larsen memaksa Alena minum obat, menerima suntikan, menjalani kemoterapi, dan mendapatkan asupan nutrisi.Setiap kali Alena tidak mau bekerja sama, dia akan menggunakan Andre untuk mengancamnya. Meskipun cara ini membuat Larsen cemburu sekaligus sakit hati, cara tersebut selalu berhasil.Dengan perawatan intensif dari hari ke hari, kondisi Alena ternyata terlihat semakin membaik. Wajahnya tampak lebih segar, bahkan berat badannya juga bertambah.Melihat kondisi Alena yang semakin membaik setiap hari, Larsen sangat bahagia. Dia mengira dirinya benar-benar bisa menyembuhkan Alena.Namun ketika dia kembali membawa Alena menjalani pemeriksaan, laporan hasil pemeriksaan menghancurkan segalanya, termasuk harapan Larsen yang sempat membuncah. Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa kondisi tubuh Alena sama sekali tidak membaik.Obat terapi target dan obat khusus yang sangat mahal itu sama sekali tidak mampu menghentikan penyebaran sel kanker. Hidup Alena bahkan tidak berhasil diperpa

  • Ciuman Perpisahan Di Malam Musim Panas   Bab 14

    Di kediaman pribadi Larsen.Di taman pribadi yang bermandikan sinar matahari cerah, Alena mengenakan pakaian rumah yang longgar dan nyaman sambil duduk di bawah payung taman.Larsen memandangi siluet wanita itu yang kurus dan rapuh, tetapi tetap cantik, sampai terpaku.Setelah cukup lama, barulah dia berjalan menghampiri sambil membawa obat. Dia mengambil buku dari tangan Alena. "Alena, waktunya minum obat."Pikirannya yang terputus membuat Alena memalingkan tubuh dengan penuh rasa muak.Sejak Larsen membuatnya pingsan dan membawanya ke kediaman pribadi ini, Alena sudah tinggal di sini selama sebulan.Setiap hari, tenaga medis keluar masuk kediaman. Dia menjalani kemoterapi, terapi target, minum obat, akupunktur ....Rambutnya yang semula sudah kering dan kasar, kini telah rontok seluruhnya. Sekarang, dia hanya bisa mengenakan topi bucket untuk menutupi kepalanya yang botak.Melihat penolakan Alena yang begitu jelas, Larsen tetap sabar. "Alena, setelah minum obat, kamu nggak akan kesak

  • Ciuman Perpisahan Di Malam Musim Panas   Bab 13

    Satu kalimat itu membuat seluruh emosi Larsen bergolak hebat.Dia memeluk Alena dengan erat. "Aku bajingan, aku memang bukan manusia! Alena, aku datang untuk menjemputmu. Mulai sekarang, kamu nggak perlu lagi menderita di sisi sampah seperti ini!"Alena perlahan mendorongnya menjauh, lalu berjalan ke sisi pria buta sebelah itu. Dengan penuh perhatian, dia membantu pria itu berdiri dan bertanya pelan, "Kamu nggak apa-apa?"Setelah itu, dia menatap Larsen dan berkata, "Nggak perlu merepotkan Pak Larsen. Aku tidak merasa menderita setelah menikah dengan suamiku. Aku justru sangat berterima kasih karena dulu Pak Larsen membuangku di sini. Kalau nggak, aku nggak akan pernah bertemu dengan suamiku yang sebaik ini. Satu lagi, suamiku bukan sampah. Dia punya nama. Namanya Andre."Hati Larsen terasa seperti disayat pisau.Untuk sesaat, dia tidak tahu apakah ucapan Alena benar-benar berasal dari lubuk hatinya atau hanya sengaja diucapkan untuk membuatnya marah.Ekspresi Larsen berubah dingin. Di

  • Ciuman Perpisahan Di Malam Musim Panas   Bab 12

    Tidak ada kelahiran kembali. Tidak ada kesempatan untuk menebus kesalahan.Ayah Alena sudah meninggal sepuluh tahun lalu. Arina juga sudah meninggal. Sedangkan Alena ... Larsen bahkan tidak tahu di mana dia dimakamkan. Dia tidak berhasil mengubah apa pun. Dia hanya orang malang yang mencoba bunuh diri, tetapi kemudian diselamatkan.Setelah kejadian itu, Jarvis juga tidak berani lagi mengurungnya.Larsen datang ke kawasan kumuh. Di persimpangan tempat dia meninggalkan Alena dulu, dia mengerahkan orang-orangnya untuk mencari dalam waktu lama.Namun, mereka tetap tidak menemukan jejak Alena.Kawasan kumuh itu masih sama bobrok dan kotornya. Tidak banyak yang berubah. Hanya saja, para pengemis dan tunawisma yang berkeliaran di sekitar sana sudah berganti. Bahkan pengemis buta yang dulu pun tidak berhasil dia temukan.Alena seolah menghilang begitu saja dari muka bumi. Meskipun Larsen memiliki koneksi dan kekuasaan yang sangat besar, dia tetap tidak mampu menemukan jejak Alena sedikit pun.

  • Ciuman Perpisahan Di Malam Musim Panas   Bab 11

    Dia terlahir kembali!Dia kembali ke masa ketika pembalasannya terhadap Alena baru saja dimulai. Saat ini, Alena belum meninggal, Arina belum meninggal, dan ayah Alena juga masih hidup. Semuanya masih sempat diperbaiki!Tanpa ragu sedikit pun, Larsen langsung berlari menuju ruang penyimpanan peralatan olahraga.Ketika tiba di sana, beberapa siswa laki-laki sedang melempari Alena dengan bola voli. Bola demi bola menghantam kaki dan perut Alena dengan keras. Alena hanya bisa meringkuk di sudut ruangan sambil memeluk kepalanya untuk melindungi diri.Begitu menemukan kesempatan, dia mengambil sebuah bola voli dan melemparkannya sekuat tenaga ke wajah siswa yang memimpin kelompok itu. Wajah siswa itu terkena bola. Dia langsung murka dan berjalan menghampiri Alena dengan garang."Sialan, dasar jalang! Berani sekali kamu memukulku!"Sambil berkata demikian, dia mengangkat kaki yang mengenakan sepatu berpaku dan hendak menginjak lengan Alena yang ramping.Alena sudah tidak punya tempat untuk m

Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status