Mag-log inWho knew that bumping on to a stranger's car would give someone a one way ticket to a world they so despise and desperately avoid? Sienna Melendez doesn't want to be married, nor fall in love. She had that tattooed across her brain. She doesn't need these things, she can live and be happy just by herself. Plus, she doesn't want the pain that comes with love. It hurts, anesthetics could never help, and time doesn't seem to heal it at all. But when she bumped into a guy's car, she thought that after a few negotiations and her paying for the damages, they would just forget and move on. No, her parents thought she was being too friendly with him and thought it was best for the both of their companies if they were married. Things did not end well, and now, she's facing a life being trapped in a marriage with the heir of the Valencia empire, the "demon" as she had nicknamed him, Neo Valencia. ** "Damn it!" marahas niyang itinapon ang tuwalyang hawak sa sofa. "You know what? I hate you! I hate your dumb voice, your stupid muscles and your annoyingly attractive face!" "And you know what they say," his lips twitched into a smirk. "- that love and hate are two sides of a very... very thin line," tinalikuran siya nito at pumasok na sa banyo. And she just stood there, trying to process what he just said when she realized something. "Hoy! Ako na dapat 'yong mauuna sa banyo eh!"
view more“Sheza agak cemberut gue tinggal touring. Padahal pulang touring gue janji bakal ngajak makan malam di luar. Dio juga udah rewel banget minta mainan VR.” Prabu harus sedikit berteriak agar Satria menangkap suaranya dari balik helm.
“Kenapa nggak bilang kalau lo punya janji di rumah? Dua minggu lagi ada touring lain. Harusnya kita bisa ikut yang itu aja. Gue jadi nggak enak, Prabu …. Kan gue yang ngajak. Ck!” Satria mengacungkan tinjunya. “Gue cuma kasian sama duda kalau nggak ada yang nemenin. Coba Roman doyan motor dan masuk club kita. Bisa berduaan terus lo berdua karena berstatus pria single,” seru Prabu lagi. “Roman, sih, doyannya night club, bukan club motor!” balas Satria, terbahak di motornya. “Atau sekali-kali lo ikut Roman ke night club. Biar aura lajang Roman nular. Lo nggak kayak duda anak satu lagi!” Prabu lalu tertawa terbahak-bahak. Setengah jam saling berbalas omongan, jalan yang ditempuh semakin mendaki. Permainan gas, kopling dan rem dilakukan dengan handal oleh peserta tour agar motor tetap stabil di tanjakan. Jalan berliku-liku dan mereka nyaris tiba di titik istirahat pertama saat hujan mulai turun. Awalnya hujan tipis, namun kemudian semakin deras. Airnya meluncur membasahi jaket kulit yang membalut rapat tubuh mereka. Dua pria bertubuh nyaris sama tinggi dan tegapnya saling pandang. Satria melirik langit. Terlihat awan gelap bergulung makin menebal. Di sisi kirinya, Prabu menoleh sambil tertawa kecil. "Gas, nggak?" "Tunggu reda dikit, Bu. Anginnya kenceng banget. Neduh dulu, yuk.” Satria menyalakan lampu sen, menuju bawah jembatan kecil. Satria tidak punya firasat apa pun. Pagi itu semuanya normal dan semuanya baik-baik saja. Prabu ada janji dengan keluarga kecilnya dan ia sendiri berjanji akan menjemput Nayla; putrinya di rumah mantan istrinya. Akhir pekan adalah giliran ia menjalankan co-parenting untuk gadis kecil semata wayangnya. Bagi Satria sendiri, ia merasa tidak ada yang berbeda dengannya. Prabu juga cerita seperti biasa. Kecuali kalau boleh dibilang agak berbeda, Prabu memang kadang-kadang diam dan mengecek ponselnya sedikit lebih lama. Prabu kadang berdecak dan menghela napas panjang. Meski sepintas, Satria melihat perubahan wajah sahabatnya itu. “Ada masalah?” tanya Satria saat mereka berdiri bersisian di bawah jembatan. “Nggak adalah. Memangnya muka gue keliatan muka pria ada masalah?” Prabu meninju lengan Satria sambil tertawa. Sama cerianya seperti kemarin-kemarin. "Itu yang lain udah pada jalan. Ada iring-iringan club mobil juga kayaknya. Kita ikut aja. Biar cepet sampai." Prabu naik ke motor dan menyalakannya. "Udah, santai aja. Kita nggak perlu nyusulin yang lain. Masih deras,” kata Satria, berjalan ke tepi jembatan dan mendongak. “Ayo, deh. Gue nggak mau kalau Sheza dan Dio nunggu gue kelamaan.” Prabu bersiap-siap memakai sarung tangannya. Satria meraih lengan Prabu, menahannya. Rautnya jadi ikut gelisah. “Lo tuh, ya. Kalau memang ada janji sama Sheza dan Dio harusnya nggak perlu iyain kalau gue ajak. Asli gue jadi kasian sama mereka. Mau digas sekarang juga jalanan licin, Bu.” Jawaban Prabu saat itu hanya mengangkat bahu. Ia menepuk lengan Satria sebelum melaju. “Ayo, Sat! Gue tinggal juga, nih,” katanya. Entah karena memang firasat, atau entah karena ia yang ingin menghabiskan waktu sedikit lebih lama untuk bercakap-cakap sesama pria. Yang jelas, tak ada alasan lagi untuk berdiri di bawah jembatan kecil itu tanpa Prabu. Satria segera menyalakan motor dan melesat untuk memperpendek jarak dengan sahabatnya. Tikungan sempit. Aspal basah. Kabut putih menelan pandangan. Satria menahan napas. Ia tak melihat lampu belakang motor Prabu. Tangan kanannya menekan gas tapi kemudian urung karena dari arah berlawanan terlihat padat. Ketika pikiran ragu-ragu itu muncul, sebuah bunyi memekakkan telinga membuat matanya terpejam sepersekian detik. BRAAAK! Raungan klakson panjang. Suara besi menghantam besi. Suara yang membuat ulu hati siapa pun mencelos. Satria baru saja keluar dari tikungan ketika dunia dirasanya melambat. Ia melihat sesuatu terlempar ke udara. Sebentuk siluet yang sangat ia kenal. Helm pecah dan serpihannya melayang bersama air hujan. Mata Satria tertuju pada sesuatu. Motor Prabu yang menghantam pembatas jalan, lalu tergilas keras oleh truk kontainer yang tak sempat mengerem. Dentuman logam menggemuruh membuat detik itu tangannya reflek menarik rem. Semua kendaraan di depannya kini terhenti dan gaduh. Satria melompat turun dari motornya. Jantungnya berdebar tak karuan. Ia berlari dengan teriakan tanpa suara. Tak tahu harus berlari ke mana. Darah di mana-mana. Helm Prabu pecah. Ringsek. Tangannya terangkat ke atas. Gemetar menggapai udara. Memegangi kepalanya dengan linglung. “PRABU!” jerit Satria. “Prabu …!” Satria kembali menjerit. Tubuh sahabatnya itu tergeletak di bawah truk. Masih bernapas. Ia masih melihat Prabu menghela napas meski kepayahan. Matanya separuh terbuka. Bibirnya terbuka pelan. Mencoba mengatakan sesuatu yang tak bisa ditangkap telinga. “Tolong! Tolong!” jerit Satria, meraba-raba ponsel dan menekan nomor darurat yang bisa diingatnya saat itu. ***** (IGD Rumah Sakit Pinggiran Kota) Satria berdiri membeku. Bajunya basah kuyup. Sepatunya berlumpur. Jaket kulitnya tertempel bercak darah yang sudah mengering. Sejak tadi tatapannya tak beranjak dari sosok tampan yang kini bergeming dengan wajah penuh luka lecet. Bagian sisi kanan kepalanya ada jahitan besar. Seorang dokter menutup catatan medis, suaranya datar. “Kepalanya parah, ada pendarahan masif. Kami sudah berusaha, Pak.” Kalimat itu seperti palu godam, tapi Satria bergeming. Rahangnya mengeras, matanya memerah. Ia hanya menatap kain putih yang kini menutupi sahabatnya hingga dada. Tangan Prabu sudah rapi disedekapkan. Suster berjalan pelan ke arahnya. "Bapak kenal korban?" Satria mengangguk seraya menelan ludah. Rahangnya tiba-tiba saja mengeras. "Saya kenal istrinya. Biar saya yang kasih tau,” ucapnya. Entah sudah berapa kali ia mengusap wajahnya sejak tadi. Air mata yang berusaha dihalaunya tak kunjung berhenti. “Bapak telepon atau kita….” “Saya yang kabari langsung. Saya ke rumahnya sekarang.” Satria menggigit bibir bawahnya. “Sekalian urus surat-suratnya juga,” tambahnya pelan. Kali ini sepertinya ia harus benar-benar meninggalkan perawat itu. …"You look good," matamis ang ngiting nakapaskil sa mga labi ni Neo nang sabihin niya iyon. I fought the urge to roll my eyes at how fake he was, and instead, just returned his fake smile to further amuse our parents. "I know," I said and looked at him from head to toe, "you look good too, by the way." Inilahad niya ang kamay niya sa akin, tumaas ang kilay ko roon ngunit tinanggap ko rin naman, pagkatapos no'n ay nagpaalam ito sa mga magulang namin at iginiya ako papalayo sa table na iyon. "So, where's the sudden kindness coming from?" sarkastikong tanong ko habang naglalakad kami palabas. "They changed their mind," sagot niya. "Ha?" tanong ko ulit. What did he mean? Hindi na ba kami ikakasal? Eh para saan 'tong party? "They changed their minds, there's no engagement tonight, just the announcement I guess," he shrugged. Nakahinga ako nang maluwag, I didn't even notice that I had been holding my breath since the party started. Delaying t
Muntik na akong mapamura nang paglabas ko ay napagtanto kong wala nga pala akong sasakyang dala.Umuwi rin naman ang driver na naghatid sa amin dito kanina at tatawagan lang siya ni dad kapag magpapasundo na kami.Napalingon ako sa mansion, it would be embarrassing to go back in now that I have walked out, kaya naman ininda ko na lamang ang pananakit ng paa ko dahil sa heels na suot ko at naglakad papunta sa labasan ng subdivision kung nasaan ang mansion ng mga Valencia.Dahil nga gabi na ay wala na ring nagbi-biyaheng taxi. I had no choice so I chose to call Zach, alam ko kasi na wala na siyang trabaho during this time dahil Sunday naman, at hindi rin siya maagang natutulog dahil naglalaro pa siya ng kung anong online game.[Yow
My head hurts.That's the first thought that went in my head the moment I felt my consciousness coming back.It felt like it was being hacked open with a mallet, subukan ko mang diinan ang pagkakahiga ko sa unan na nasa ilalim ng ulo ko ay hindi man lang nito nababawasan ang sakit. These are the moments that just makes me say that I won't ever drink again.When I woke up the day after and my head just hurts so much, when my face is still caked with make up from the night before, and when I can't endure staying in bed longer in hopes of soothing the pain I feel kasi may balak akong patayin ng sarili kong hininga.Pero kapag may nag-aya na ay hindi rin naman makatanggi.&
Inilapag ni Sage ang bote ng vodka sa mesa, pang pregame lang naman iyon habang nag-aayos kami, we're going bar-hopping tonight. Something like a tradition that we developed after we graduated from college, once a week, it could be friday nights or saturday nights, we get wasted. Iyon lang naman kasi ang mga araw na makakatakas kami mula sa respinsibilidad na dala ng pagiging adult.Goodness, I freaking hate adulting."O ba't isa lang 'yan?" napatingin kaming dalawa kay Zach na kakarating lamang, kasunod nitong pumasok si Hya na agad tumakbo papunta sa amin ni Sage at yumakap."Ah damn it, I had such a long week," she groaned amd laid down on the couch, getting her head comfortable on Sage's lap. Nakaupo si Sage sa isang gilid ng couch, nakaupo naman ako sa harap niya dahil nagpapatali ako ng buhok."Pregame lang 'yan tangek," wika ni Sage at tinaniman ng halik ang noo ni Hya, ngumiti naman ito sa gi












Maligayang pagdating sa aming mundo ng katha - Goodnovel. Kung gusto mo ang nobelang ito o ikaw ay isang idealista,nais tuklasin ang isang perpektong mundo, at gusto mo ring maging isang manunulat ng nobela online upang kumita, maaari kang sumali sa aming pamilya upang magbasa o lumikha ng iba't ibang uri ng mga libro, tulad ng romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel at iba pa. Kung ikaw ay isang mambabasa, ang mga magandang nobela ay maaaring mapili dito. Kung ikaw ay isang may-akda, maaari kang makakuha ng higit na inspirasyon mula sa iba para makalikha ng mas makikinang na mga gawa, at higit pa, ang iyong mga gawa sa aming platform ay mas maraming pansin at makakakuha ng higit na paghanga mula sa mga mambabasa.