Share

Bab 01

“Sepertinya, bagiku memang sulit untuk mendapatkannya ya?” Aruna melirik sejenak ke arah Arsen, benar-benar tidak mempedulikan kehadirannya. 

Aruna tidak mengerti, Arsen seakan menganggap dirinya tidak ada. Lantas, kenapa dirinya dijadikan kekasih? Kalau terus saja diabaikan, dan memilih meluangkan waktu berdua dengan yang lain?

Aruna menghela napas sejenak, mulai melangkah pergi dari tempat mereka berdua bercengkerama.

Tenangkan dirimu, Aruna!

Arsen siswa dengan temperamen buruk, selalu angkuh pada siapa pun. Tidak suka diatur, itu sebabnya mudah sekali membantah. Terkadang, ada masanya selalu bermasalah dengan siswa satu sekolah atau sekolah lain.

Membuatnya dianggap siswa berbahaya, setiap kali diusik lebih lagi emosinya terpancing. Berakhir luka parah, yang paling buruk koma. Aruna sebagai status kekasih Arsen, meskipun hampir tidak pernah bersama dengan Arsen di sekolah. Ada masanya, satu guru meminta agar dirinya mengingatkan atau membantu mengubah Arsen—menjadi pribadi yang lebih baik.

Aruna memilih kembali ke kelas, mengingat jam istirahat hampir usai. Seperti biasa, selalu menghabiskan waktu istirahat di perpustakaan. Jujur, di sana amat menenangkan. Daripada harus berbaur di kantin dengan lainnya, lebih lagi harus melihat mereka berdua.

Lalu terusik saat ponselnya bergetar, ternyata pesan singkat dari Arga—ayahnya. Ah iya, Aruna berusaha melupakan masalahnya dengan Arsen. Memilih fokus dengan masalah keluarga, maklum terlahir dari keluarga sederhana. Kebetulan, saat ini sedikit bermasalah dengan ekonomi.

Aruna harus memutar otak, membagi waktu untuk sekolah dan kerja. Itu juga, kalau Aruna berhasil mendapatkan pekerjaan cocok untuk anak SMA sepertinya. Aruna menonaktifkan ponsel dan memasukkannya ke dalam saku, kemudian menelungkupkan kepalanya di atas meja.

Beberapa minggu ini, Aruna kurang tidur. Seharian penuh setelah pulang sekolah, mencari pekerjaan yang cocok itu sulit. Namun, bukan berarti akan menurunkan niatnya untuk membantu orang tua. 

“Kerja apa ya?” 

Aruna memainkan pulpen yang tergeletak—melempar tangkap, sembari memikirkan pekerjaan yang cocok. Part time, ya pulang sekolah nanti Aruna akan berkunjung ke setiap kedai hingga restoran besar di pusat kota.  Semoga saja berhasil, ada yang mau menerimanya menjadi pegawai part time.

****

Sesuai rencananya tadi, Aruna kini menyusuri sepanjang trotoar di pusat kota dan akan berhenti—tepatnya singgah setiap kali melewati kedai atau restoran. Namun, belum ada yang berbaik hati untuk menerimanya sebagai pegawai part time.

Aruna mendengkus kesal. “Sulit.” Kini memutuskan singgah ke taman kota, ya setelah berjalan cukup lama membuatnya lelah. 

Lagi-lagi, terusik kala menangkap siluet mobil hitam melintas. Dari kaca mobil kebetulan sedikit terbuka, terlihat dua pasang remaja. Memang terusik, tetapi sorot mata Aruna begitu hampa dan gusar. Yap, dipikirannya saat ini adalah mendapatkan pekerjaan. Benar-benar mengabaikan gelagat sang kekasih tengah jalan bersama dengan perempuan lain.

“Tenanglah!” gerutu Aruna, kemudian melangkah pergi.

Di sisi lain, Arsen  kalau diperhatikan hanya diam—fokus menyetir, meskipun perempuan di sebelahnya terus berbicara. Terkadang memilih, memutar lagu dan dengan sengaja volume suara begitu kencang, benar-benar tidak peduli dengan ocehan Desty.

“Kau jahat! Diam terus!”

Arsen hanya menoleh, setelah mematikan mesin mobil. Bisa dikatakan menunggu, Desty keluar. Meskipun, sering berangkat dan pulang bersama, Arsen enggan membukakan pintu mobil.

“Kau mau ke mana lagi?” Desty sebal, karena Arsen selalu mengantarnya sampai depan perumahan. Benar saja, pertanyaannya tidak digubris sama sekali.

Arsen langsung menutup pintu dan juga kaca mobil, lalu menjalankan mobilnya menjauh dari perumahan tempat Desty tinggal. Manik hitam yang selalu menyorot datar pada siapa pun, kini tertuju pada seseorang. Tidak lain Aruna, yang terlihat baru saja keluar dari restoran lain yang mencoba untuk bertanya mungkin saja ada lowongan pekerjaan—part time untuknya.

Aruna menghela napas pasrah, karena tidak mendapatkan lagi. Lalu tersentak, saat tangannya dicengkeram dan berefek tertarik paksa oleh seseorang—tidak lain Arsen. Aruna mencoba melepaskan diri, tetapi langsung bergidik. Karena Arsen melirik datar ke arahnya. Meski begitu, tetap berusaha.

“Lepas, aku sedang sibuk! Bisa kau mengerti sedikit?” Aruna enggan berseteru dengan Arsen. “Kau de—”

“Diam!” sentak Arsen, semakin mencengkeram tanpa mempedulikan ringisan Aruna. Juga, berusaha menyamakan langkah kakinya yang begitu cepat. 

Aruna tertunduk sembari menahan sakit pergelangan tangannya, yakin akan memerah karena Arsen kasar. Seketika lega, karena genggamannya kasar terlepas. Aruna langsung mengusap pergelangan tangan yang memerah karena ulah Arsen.

“Masuk!”

Aruna menggeleng. “Kali ini nggak, a-aku harus mencari pekerjaan.” Hendak pergi, tetapi Arsen kembali menarik paksa.

“Kubilang masuk ya masuk!” Arsen membuka pintu mobil dan mendorong kasar Aruna agar masuk. 

Aruna heran, di sekolah mengabaikan tetapi Arsen selalu saja menarik paksa agar ikut ke rumah. Dengan alasan tidak jelas, atau cukup aneh. Seperti dibuatkan makanan atau apapun, terasa seperti pembantu—bukan pacar.

Keheningan mulai menyelimuti perjalanan pulang mereka, tepatnya sih hanya bagi Arsen saja. Sedangkan Aruna, pikirannya terus tertuju untuk mendapat pekerjaan lebih cepat. Setidaknya, bisa membuat Aruna mengumpulkan uang dari jauh-jauh hari.

Lagi-lagi Aruna pasrah, karena Arsen kembali menarik paksa. Ya, mereka berdua telah sampai di rumah—Arsen. Memang selalu terlihat kosong, sesekali penjaga rumah dan pembantu datang untuk membersihkan dan menyiapkan makanan. Selebihnya, kembali pulang dan akan datang saat pagi hingga sore tiba.

“Kau tinggal di sini.”

“Apa maksudmu?” Aruna tidak terima, Arsen seenaknya mengatur.

“Menurut saja!” bentak Arsen. “Kau ingin bekerja bukan? Bersihin semua ruangan!” Setelahnya, pergi ke kamar.

Aruna menghela napas gusar. “Dia menjadikanku pembantu!”

Arsen melangkah keluar sembari memakai kaus oblong tanpa lengan, matanya teralihkan sejenak ke arah Aruna setelahnya pergi ke dapur.

Tidak ada reaksi apapun, walau di hadapannya kini ada seporsi makanan untuknya. Arsen mendudukkan diri di kursi, mulai memakan makanan yang telah dibuat Aruna. Matanya kembali fokus pada ponsel yang bergetar di atas meja, ternyata pesan singkat dari Desty. Ingin jalan. 

Arsen dekat dengan Desty bukan berarti langsung menurut, seperti yang sudah dikenal lama Aruna. Arsen tidak suka ada yang mengajak atau mengaturnya lebih dulu, karena yang harus mengatur atau mengajak Arsen saja. Bukan yang lain.

Makanan telah tandas, saat itu juga melirik karena Aruna sudah berdiri di sampingnya.

“Aku pulang ya? Lagi pula, rumahmu sudah bersih. Hanya, nggak ada makanan saja.” Aruna ingin istirahat, meskipun sempat tertidur sebentar, bisa sedikit menghilangkan penat. Tetap saja, ingin pulang.

“Tinggal di sini.”

“Tap—”

“Sudah kubilang bukan? Tinggal di sini!” Arsen membentak, sembari menggebrak meja makan.

Aruna mematung, lagi-lagi hanya bisa mengalah. “Ba-baiklah, tapi boleh pulang seben—”

Arsen berdecih. “Kubilang nggak tuli, ‘kan?”

Aruna menggeleng cepat, agak beringsut jauh dari Arsen karena takut diperlakukan kasar lagi. “Tap—”

“Diam sialan!” Pupil mata Arsen mengecil, benar-benar emosi. 

Aruna kembali mengangguk pasrah, sembari menahan sakit karena cengkeraman Arsen kasar pada wajah—tepatnya di pipi hingga dagu. Ada setitik rasa lega, karena Arsen tidak memukul atau lebih mengerikan melempar barang seakan memang ingin mengenainya. Nyatanya, menghantam dinding sebelahnya atau benda apapun di dekat Aruna.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status