Home / Romansa / Pura Pura Pacaran dengan Selebriti 90 Hari / Bab 12 Antara Fakta dan Paranoid

Share

Bab 12 Antara Fakta dan Paranoid

Author: Aira Jiva
last update Last Updated: 2025-10-05 16:27:24

“Jangan tegang gitu, Damian. Gue cuma lagi benerin posisi punggung lo. Kalau dibiarkan, besok bisa makin sakit,” suara Rafael terdengar santai, kayak orang yang udah biasa.

“Aduh, Rafael! Sakit banget! Jangan ditekan di situ!” Damian meringis, nadanya setengah marah setengah rengek. “Ini nolongin atau nyiksa sih?!”

Rafael ngakak kecil. “Dasar drama king. Ini teknik fisioterapi biasa, sabar bentar. Percaya sama gue, nanti rasanya enteng.”

“Tapi…ARGH! Gila sakit banget sumpah!” Damian nyaris kejungkel, suaranya pecah. “Kalau besok punggung gue lebam, gue balas dendam ke lo.”

“Lebay. Udah, tarik napas dalam… sekarang.”

Bunyi krek! kecil terdengar jelas.

“AAHHHH!!” jerit Damian singkat, sebelum akhirnya terdiam, napasnya ngos-ngosan.

Beberapa detik kemudian… “Hhh… gila… ternyata enak juga. Lega banget.”

Rafael nyengir puas. “Tuh kan, gue nggak salah jurus. Lo tuh tinggal nurut aja. Gue di sini bukan buat yang aneh-aneh, anggep aja ini servis spesial sahabat… gratis pula.”

***

Di luar kamar, Ayla berdiri kaku. Yang masuk ke kupingnya cuma potongan suara… jeritan Damian, suara Rafael yang sok santai, terus desahan Damian yang… sumpah… kedengeran kayak adegan nggak halal.

Mata Ayla langsung melotot. “Ya ampun… fix banget gosip itu bener…” batinnya meledak. Jantungnya nyaris copot, kepala penuh gosip lama yang makin liar.

“Ya Tuhan, kenapa gue harus denger semua ini sih…” gumamnya panik.

Dia nggak berani nepak pintu, nggak berani nanya.

Insting pertama: KABUR.

Tanpa mikir panjang, Ayla langsung nyambar jaket tipisnya, dompet, terus ngacir keluar apartemen kayak maling ketauan.

***

Ayla jalan cepat di trotoar malam itu, kayak dikejar debt collector. Jantungnya masih deg-degan, kepalanya penuh suara-suara absurd.

“Ya Allah… sumpah itu tadi kayak film bokep terselubung…” gumamnya sendiri, sambil nunduk. “Jerit-jerit, desahan, terus tiba-tiba bilang lega. YA ELAAAH!!”

Dia nyengir miris, hampir nangis, hampir ketawa. “Fix banget Damian tuh homo! Gue tinggal bareng cowok LGBT! Ya Tuhan… terus gimana nasib gue? Gue harus ikut reality show sama doi… Nanti netizen bilang apa?!”

Langkahnya makin cepet, sampai akhirnya dia nyangkut di minimarket 24 jam deket apartemen. Pintu kaca cling kebuka, AC dingin langsung nyambar, tapi kepalanya tetep panas.

Ayla nyelonong masuk, nyari rak snack, terus ngegenggam satu bungkus keripik kayak pegang jimat. “Oke, Ayla, lo masih normal. Tenang. Jangan mikir aneh-aneh. Bisa aja tadi… mereka cuma main catur gaya baru….”

Tapi otaknya nolak tenang. Imajinasi kebablasan lagi. “Atau jangan-jangan… Damian sama Rafael tuh udah lama backstreet?!”

Dia buru-buru nutup mulut, takut kepikiran sendiri.

Malah makin panik. “Astaga, gue tinggal satu apartemen sama dua cowok yang… ya gitu lah! Ntar kalo ketularan gimana?! HIV… AIDS… oh no no no!!”

Dia langsung nenggak air mineral botol ukuran gede, padahal belum bayar. Untung kasirnya cuek. “Gue udah makan di meja yang sama, minum gelas yang sama… astaga… jangan bilang gue ikut terancam…”

Ayla geleng-geleng kepala, langkahnya luntang-lantung antara rak es krim sama rak mie instan. Kepalanya ribut kayak pasar malam.

“Gue harus gimana ya? Pulang ke apartemen? Atau… nginep aja di kantor?!” Dia garuk-garuk kepala sendiri. “Eh, tapi nanti kalo ke kantor tengah malam, satpam nyangka gue maling printer…”

Akhirnya dia jongkok di lantai minimarket, depan rak indomie, kayak orang putus asa. “Hidup gue bener-bener sinetron. Gue cuma pengen rumah sendiri, tapi malah dapet drama cinta segitiga LGBT berbonus penyakit mematikan. Tuhan, bercandanya kebangetan banget…”

***

HP Ayla bergetar di kantong. Notif cling cling cling kayak musik EDM, bikin kepalanya makin pusing. Dengan wajah setengah putus asa, dia akhirnya liat layar.

Chat Grup: ORBIT SQUAD

Sofia: “La! Lo kemana sih? Kok offline dari tadi? Jangan bilang lo lagi sibuk sama Damian ya… Uwuuuu…”

Hanna: “Ih bener! Jangan-jangan lo udah dihipnotis tuh cowok bangke. Fix banget. Dia tuh manipulatif, La. Hati-hati…”

Sofia: “Jangan bikin Ayla panik! Dia kan cuma… ya, capek habis syuting live.”

Hanna: “Capek apaan, paling capek bikin konten drama murahan.”

Ayla melotot ke layar, jempolnya gemeter. Dia pengen teriak, pengen cerita semua hal absurd yang barusan dia lihat…Rafael, Damian, suara-suara mencurigakan, gosip LGBT, sampe ketakutannya soal HIV.

Tapi… bibirnya kunci rapet.

Jempolnya ngetik.

Ayla: “Aku lagi di luar bentar. Jangan ribut deh. Aku aman kok.”

(Stiker: bayi tidur sambil megang bantal)

Sofia langsung bales: “Huft legaaa… jangan bikin kaget bestie. Pokoknya hati-hati yaa. Jangan kebanyakan mikir. Nikmatin aja momen lo sama Damian.”

Hanna: “Nikmatin apaan. Itu cowok toxic banget. La, kalo ada apa-apa kabarin ya. Gue bakal jemput pake motor, sumpah.”

Ayla diem. Dia nyimpen HP, narik napas panjang, lalu menenggak sisa air mineral yang tadi masih setengah. Dadanya sesak, pikirannya ribut.

“Gue nggak bisa cerita ke mereka… gue nggak mau bikin panik. Nanti malah makin ribet. Gue harus… harus tahan sendiri.”

Dia ngeliatin pantulan dirinya di pintu kaca minimarket. Wajahnya pucat, mata sayu, rambut awut-awutan kayak kena angin ribut.

“Ayla, lo harus waras. Harus. Lo bisa survive. Nggak ada yang boleh tau kalo lo nyimpen gosip gila ini…”

Langkahnya pelan keluar dari minimarket, bungkus keripik masih kejepit di tangan. Malam kota kayak ngejek dirinya… lampu jalan nyala terang, tapi kepalanya makin gelap.

“Ya Tuhan… gue cuma pengen rumah impian. Kok malah jadi hidup serumah sama misteri duniawi begini?”

Dan Ayla jalan terus ke arah halte terdekat, entah mau pulang atau kabur. Yang jelas, hatinya makin ribut, pikirannya makin liar, dan… rahasia itu cuma dia simpan sendirian.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pura Pura Pacaran dengan Selebriti 90 Hari   Bab 80 Papan Nama Nyata 

    Satu tahun berlalu sejak Damian Lee berlutut di panggung Grand Finale. Hari ini, udara musim gugur terasa sejuk, dan Ayla Morgan, yang kini sudah menjadi Nyonya Ayla Lee, terbangun bukan oleh alarm studio atau dering telepon darurat, melainkan oleh aroma kopi dan roti panggang dari lantai bawah.Mereka tidak lagi tinggal di apartemen mewah Damian. Mereka tinggal di rumah yang mereka bangun bersama: sebuah duplex modern yang dinamai "T.S." (Terusan Senja). Rumah ini terletak di lingkungan perbukitan yang tenang, jauh dari hiruk pikuk media, dengan banyak jendela kaca yang menyambut matahari pagi.Ayla ters

  • Pura Pura Pacaran dengan Selebriti 90 Hari   Bab 79 Babak Baru dan Closure

    Beberapa bulan telah berlalu sejak Grand Finale Couple 90 Days. Sekarang, udara Jakarta sudah selesai musim kemarau, membawa harapan dan aroma bunga yang segar. Ayla dan Damian tidak lagi tinggal di apartemen mewah Damian yang dikepung media. Berkat bonus kemenangan dan reward mereka, mereka sedang dalam proses membangun rumah impian Ayla di pinggiran kota yang lebih tenang.Ayla, yang kini resmi bertitel CEO perusahaan event organizer kecil bernama 'The TS Events' (singkatan dari Terusan Senja), berdiri di lahan kosong tempat calon rumah mereka. Ia mengenakan helm

  • Pura Pura Pacaran dengan Selebriti 90 Hari   Bab 78 Gema Kemenangan dan Realitas Baru

    Alarm di apartemen Damian berbunyi, bukan dari jam weker, melainkan dari dering telepon Ayla yang tak henti-henti. Matahari Minggu pagi sudah terbit, tetapi di luar jendela apartemen penthouse itu, suasana terasa seperti pusat gempa.Ayla menggeliat, merasakan lengan Damian yang melingkar erat di pinggangnya. Mereka terbangun sebagai pasangan tunangan yang nyata untuk pertama kalinya. Tadi malam, setelah gemuruh studio mereda, mereka kembali ke apartemen ini, bukan lagi sebagai partner kasus, melainkan sebagai sepasang kekasih yang baru bertunangan, bebas dari kontrak, dan kaya raya."Pagi, tunanganku," bisik Damian, mencium rambut Ayla. Suaranya terdengar serak dan sangat lega.

  • Pura Pura Pacaran dengan Selebriti 90 Hari   Bab 77 The Grand Finale

    Di ruang tunggu yang dingin, di balik panggung Grand Finale, udara terasa tipis karena ketegangan. Ayla dan Damian, yang kini bukan lagi aktor, merasakan beban emosi yang nyata. Mereka sama-sama mengenakan mic yang merekam setiap bisikan mereka."Gue nggak tahu kenapa Bu Lena harus bikin ini se-dramatis ini," bisik Ayla, memutar cincin keychain T.S. di jarinya."Karena kita yang paling dramatis, La," balas Damian, merapikan gaun emerald green Ayla. "Kita adalah plot twist

  • Pura Pura Pacaran dengan Selebriti 90 Hari   Bab 76 Ujian Final dan Keraguan

    Minggu ke-12, minggu terakhir Couple 90 Days, terasa seperti berada di dalam pressure cooker. Safe house yang awalnya tempat sembunyi, kini terasa seperti sangkar berlapis kamera. Hanya tersisa dua pasangan: Ayla Morgan dan Damian Lee versus Leo dan Maya.Host Risa membuka sesi Minggu ke-12 dengan senyum bengis."Selamat datang di Minggu Grand Finale! Kalian berdua adalah yang terkuat, yang tersisa setelah drama fake dating dan konspi

  • Pura Pura Pacaran dengan Selebriti 90 Hari   Bab 75 Cinta Sejati di Bawah Lampu Sorot 

    Studio Couple 90 Days terasa segar sekaligus tegang. Papan nama baru sudah terpasang, mencerminkan reality show yang kini diposisikan sebagai "Cinta Setelah Konspirasi." Host baru yang energik, Risa, membuka siaran langsung Minggu ke-11 dengan senyum yang dipaksakan."Selamat siang, pemirsa! Minggu ini terasa berbeda! Setelah plot twist yang menggemparkan, kita memasuki babak baru: Minggu Keterbukaan dan Komitmen! Di sofa tersisa dua pasangan: Leo dan Maya, yang dikenal sweet dan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status