LOGINKael berdiri tegak, sorot matanya bersinar tajam. Wajahnya memancarkan aura keagungan dan kewibawaan. Ia menatap sekeliling penuh kewaspadaan, namun ia tahu siapa yang ia perintahkan.
Tidak lama berselang, tiga sosok muncul dari balik semak-semak. Mereka melangkah mendekati Kael, lalu menundukan kepala penuh hormat.
"Mengapa kalian kemari?"
"Maaf Alpha, kami mengkhawatirkan Anda. Karena kami tidak bisa menghubungi Anda sejak siang tadi."
"Hmm, aku memang menutup mindlink, karena aku sedang bersama Clara, aku khawatir dia merasa aneh dengan sikapku."
"Tapi Alpha, apakah Anda yakin dia…."
"Ya, Alec. Dia adalah calon Luna kalian. Aku perintahkan kalian untuk melindunginya, tapi jangan pernah menampakan diri, cukup dari kejauhan."
"Tapi Alpha…."
Kael mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi, seketika pria yang dipanggil Alec itu pun terdiam, ia tidak melanjutkan perkataannya.
Kael paham apa yang dipikirkan anak buahnya, namun sekarang bukan waktunya untuk menjelaskan. Karenanya ia harus menghentikan rasa penasaran mereka.
"Sekarang, kalian kembali ke pack. Kawanan membutuhkan kalian. Dan kamu Alec, sebagai beta, kamu harus memimpin pack saat aku tidak di sana. Aku akan segera kembali dan menjelaskan pada para tetua."
Ketiga sosok tinggi yang tubuhnya tertutup mantel hitam itu pun mengangguk patuh, tak berani membantah lagi.
"Oh ya Alec, tolong selidiki siapa Rogue yang kemarin menyerang Clara."
"Baik Alpha, kami permisi."
Ketiganya menunduk hormat pada Kael lalu kembali ke dalam semak. Tidak lama kemudian terdengar lolongan kecil, lalu terlihat samar tiga bayangan hitam melompat dan menghilang di balik kegelapan malam.
Kael menghela napas, ia pun bergegas kembali ke mobil dimana Clara menunggunya. Namun saat ia masuk, Clara sudah terlelap. Kael menatap Clara dengan tatapan yang berbeda, ia menghela napas pelan melihat gadis itu tertidur dengan tenang.
Kael mengulurkan tangannya menyentuh wajah Clara. Mengelus pipi halus itu dengan lembut. Ia meraih tangan Clara dan menciumnya dengan segenap rasa yang bergejolak di dadanya. Ia menghirup sedalam-dalamnya aroma tubuh gadis itu. Aroma vanila bercampur stroberi yang selalu memabukannya.
Kael segera melajukan mobil menuju apartemen Clara. Ia segera turun dan menggendong tubuh Clara yang tertidur seperti bayi. Diletakannya tubuh gadis itu dengan hati-hati di atas tempat tidur, ia melepas sepatu Clara dan menyelimutinya.
Kael menurunkan tubuhnya, menatap wajah bayi gadis di hadapannya. Wajah tampan itu merona bahagia. Ia menggenggam tangan Clara, namun sejurus kemudian ia menghela napas panjang, seolah ada beban berat di pundaknya. Wajah bahagianya pun berubah mejadi kekhawatiran,
"Kamu tahu Cla. Betapa bahayanya berada di dekatku. Pertaruhan antara hidup dan mati. Namun aku tidak akan melepaskanmu."
Kael segera berdiri, ia memrikasa pintu dan jendela untuk memastikan keamanan Clara lalu bergegas keluar meninggalkan apartemen Clara.
Pagi harinya Clara terbangun karena raungan suara jam weker di nakas sisi tempat tidurnya. Ia terkejut mendapati dirinya sudah berada di kamarnya. Clara berusaha mengingat, bukankah terakhir tadi dia berada di mobil menunggu Kael? Tapi mengapa sekarang ada di tempat tidurnya.
Clara segera membuka selimut, dia masih memakai pakaian kerja lengkap, hanya sepatu yang tidak dikenakan. Ia merasa lega, sekaligus mengutuki kebodohannya sendiri. Kenapa dia tidur seperti bangkai begitu, sampai tidak tahu kalau digendong dan dipindahkan.
Clara hendak turun ketika ponselnya berdering. Kael, pria itu sudah berada di ujung telepon. Clara menghela napas, namun tanpa sadar dia tersenyum.
"Selamat pagi, Clara. Kamu sudah bangun?"
"Pagi, Kael. Ya, aku baru bangun," jawab Clara sambil menguap.
"Cepat bersiap, kita berangkat sekarang. Aku tunggu di bawah."
"Hah? Kamu sudah di bawah?"
"Jangan buang-buang waktu. Cepat sana siap-siap."
Clara mengangguk meskipun masih terlihat linglung. Ia segera mematikan panggilan dan melihat ke jendela. Benar saja, mobil kael sudah terparkir di bawah. Ia heran, apa pria itu tidak tidur? Semalam Clara tertidur saat dia pergi, dan sekarang Clara baru buka mata, pria itu sudah kembali di situ.
Clara segera ke kamar mandi lalu berganti pakaian. Ia menyiapkan segala keperluan sekedarnya lalu bergegas turun.
Clara terdiam sejenak di depan mobil Kael, ia nampak sedikit ragu. Namun Kael segera memanggilnya.
"Ngapain kamu bengong di situ Clara? Cepat masuk!"
Clara mengangguk, ia segera masuk ke dalam jeep hitam milik Kael yang segera meluncur meninggalkan apartemen Clara.
"Kael, benerak kita akan kembali ke hutan itu? Berdua saja?"
"Ya, kenapa? Takut?"
Clara tidak menjawab, dia hanya menggeleng pelan. Sejenak keduanya terdiam.
"Kael, sepertinya semalam aku ketiduran di mobilmu, apa kamu yang memindahkanku ke kamar?"
"Kalau iya, kenapa? Keberatan?"
"Kenapa nggak dibangunkan saja, sih?"
"Kamu tidur seperti kayu. Kalau teman-temanmu yang banyak saja tidak bisa membanagunkanmu, apalagi aku yang sendirian."
Clara menggaruk kepalanya yang tak gatal. "I-iya biasanya nggak gitu juga sih. Mungkin karena kemarin aku nggak tidur, jadi ngantuknya double."
"No comment," jawab Kael datar.
"Tapi Kael, ada yang ingin aku tanyakan."
"Ya."
"Semalam sebelum aku tertidur, aku melihat kamu masuk ke taman. Aku juga sempat melihat kamu berbicara dengan tiga orang bermantel hitam. Siapa mereka, Kael?"
Kael berdiri tegak, sorot matanya bersinar tajam. Wajahnya memancarkan aura keagungan dan kewibawaan. Ia menatap sekeliling penuh kewaspadaan, namun ia tahu siapa yang ia perintahkan.Tidak lama berselang, tiga sosok muncul dari balik semak-semak. Mereka melangkah mendekati Kael, lalu menundukan kepala penuh hormat. "Mengapa kalian kemari?""Maaf Alpha, kami mengkhawatirkan Anda. Karena kami tidak bisa menghubungi Anda sejak siang tadi.""Hmm, aku memang menutup mindlink, karena aku sedang bersama Clara, aku khawatir dia merasa aneh dengan sikapku.""Tapi Alpha, apakah Anda yakin dia….""Ya, Alec. Dia adalah calon Luna kalian. Aku perintahkan kalian untuk melindunginya, tapi jangan pernah menampakan diri, cukup dari kejauhan.""Tapi Alpha…."Kael mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi, seketika pria yang dipanggil Alec itu pun terdiam, ia tidak melanjutkan perkataannya.Kael paham apa yang dipikirkan anak buahnya, namun sekarang bukan waktunya untuk menjelaskan. Karenanya ia harus
Untuk sesaat Clara membeku. Kael ini benar-benar gila. Baru saja dia kembali dari hutan itu, besok harus kembali lagi ke sana? Namun, Clara tak punya pilihan selain mengikuti kemauan Kael. Selain untuk membuktikan profesionalitasnya, dia juga memang ingin ke sana, untuk mencari tahu rahasia apa yang disembunyikan Kael.Clara menghela napas pelan, ia menurunkan pandangannya. "Baiklah. Kalau gitu aku selesaikan berkas-berkas ini dulu.""Bagus!" jawab Kael sambil menarik tubuhnya menjauh, dia kembali ke mejanya. "Satu hal lagi, Clara. Jauhi laki-laki itu.""Apa? Laki-laki? Siapa?""Jangan pura-pura bodoh." Kael berkata tanpa menoleh, matanya fokus pada layar laptopnya."Siapa maksudmu? John?""Dia mau mengantarmu pulang, kan?""Haha, memang mengapa kalau aku pulang bareng dia?"Tiba-tiba kael mengangkat wajahnya, tatapannya berkilat tajam menusuk ke jantung Clara, membuat gadis itu ciut seketika."I-iya, aku hanya bercanda. Siapa juga yang mau diantar. Aku bisa pulang sendiri.""Ingat Cl
Clara terdiam sesaat, ia menjadi bingung dengan sikap Kael.Rahasia apa yang sebenarnya disembunyikan pria ini. Bukankah seharusnya dia senang jika project ini sukses. Tapi mengapa dia bilang tidak peduli dengan project?"Lalu bagaimana dengan rapat nanti siang? Tidak mungkin untuk dibatalkan karena waktunya sudah mepet. Semua sudah bersiap.""Kamu tahu apa yang harus kamu katakan nanti. Tanpa tanda tanganku, laporan itu tidak sah.""Baiklah, aku pemisi."Clara segera meninggalkan ruangan Kael dengan kesal. Ia sudah susah payah menyusun laporan itu dan berkali-kali mengeceknya, tapi dengan seenaknya dibilang sampah.Clara duduk termangu, kekesalan masih melintasi wajahnya. Teman-temannya segera menghampiri."Clara, bagaimana?" tanya Emma yang sudah berdiri di sampingnya."Kenapa, Clara. Wajah kamu kusut banget, apa kamu dimarahi pak Kael?" Melly menimpali sambil menyodorkan minuman kaleng."Makasih Mel," jawab Clara sambil membuka kaleng dan menenggak isinya. Ia menatap kedua temannya
Kael tak menggubris pertanyaan Clara. Alih-alih menjawab ia langsung membuka pintu dan meletakkan Clara di kursi penumpang, lalu duduk di belakang kemudi.Kael masih terdiam setelah menyalakan mesin. Tangannya menggenggam kemudi sambil mengetuk-ngetukan satu jarinya. Namun kemudian dia berkata dengan dingin. "Jangan terlalu ingin tahu yang bukan urusanmu."Deg!Clara terkejut dengan ucapan Kael yang seolah sedang mengancamnya. Apa maksudnya? Bukankah hal yang wajar jika dia bertanya hal yang menurutnya aneh itu?Kael tidak berkata lagi. Dia langsung melajukan mobilnya meninggalkan kawasan Olympic National Forest. Sebuah kawasan dengan bentang alam yang sangat menakjubkan, itu sebabnya akan dibangun sebuah resort mewah di sana, dan silverstar development—perusahaan tempat mereka bekerja—yang akan menjadi pengembangnya. Clara masih belum puas dengan sikap Kael, ia pun kembali mengulangi pertanyaannya."Apakah pertanyaanku tadi salah? Aku hanya heran, mengapa bapak pemandu tadi begitu k
"Suara apa itu?" gumam Clara pelan. Ia menghentikan langkahnya dan mempertajam pendengarannya. Semakin lama suara itu semakin jelas terdengar dan dekat. Suara geraman.Jantung Clara berdegup keras, ia memperhatikan sekeliling. Sunyi, bahkan tidak ada suara burung-burung ataupun serangga. Pohon-pohon di sekitarnya tinggi menjulang dengan semak-semak rimbun diantara pepohonan. Clara mengotak atik ponselnya untuk menghubungi tim lainnya, namun tak ada sinyal. Kini ia sadar sepertinya ia sudah tersesat jauh ke dalam hutan.Suara geraman itu kembali terdengar dari arah samping tempatnya berdiri. Clara membalikan badan ke arah semak yang mulai bergerak. Dan seperdetik kemudian matanya terbelalak demi melihat sesosok makhluk yang keluar dari semak-semak itu."Oh, tidak!! Apa itu?!"Clara mematung, mulutnya ternganga lebar. Ia ingin kabur, tapi kakinya seakan menempel di tanah tempatnya berdiri. Keringat dingin membasahi tubuhnya.Dari semak-semak itu, seekor serigala besar melangkah keluar.







