Share

Bab 6

Author: El Hawra
last update publish date: 2026-04-10 23:03:31

"Tidak ada," jawab Zevko datar. "Mungkin kamu salah lihat."

Clara terdiam, mencoba mengingat kejadian malam tadi. Suasana saat itu memang sangat kacau, hujan turun sangat deras bercampur angin. Bisa jadi dia memang salah lihat, ditambah kepalanya terasa berat karena masih diserang kantuk.

"Hmm, mungkin," gumam Clara. "Tapi, kamu ngapain ke luar dan masuk ke taman?"

"Hanya memeriksa pohon tumbang."

"Oh."

Clara tidak bertanya lagi, karena sepertinya Zevko tidak ingin membahasnya. Selain itu, Clara juga kurang yakin dengan penglihatannya sendiri, karena suasananya sangat kacau. Mungkin saja Zevko memang ingin mengecek apakah ada pohon yang tumbang supaya tidak menghalangi mobil mereka.

Untuk beberapa saat keduanya terdiam, sibuk dengan pikiran masing-masing. Jeep milik Zevko terus melaju meninggalkan hiruk pikuk kota. Kini mereka sudah berada jauh di luar kota, hingga memasuki jalanan yang tidak lagi mulus, berputar dan menanjak, hingga di satu waktu terjadi guncangan yang cukup keras, Clara yang sedikit mengantuk pun terbentur jendela.

"Awww!" pekik Clara kaget. Zevko segera menghentikan mobilnya, lalu spontan meraih wajah Clara, menyibak sebagian rambut Clara yang menutupi keningnya.

"Sakit?" tanya Zevko sambil memeriksa kening dan kepala Clara. Clara hanya menggeleng heran. Kenapa Zevko jadi begitu perhatian? Bukankah dari kemarin di kantor dia sangat galak, membentak dan menekannya.

Zevko segera mengambil air mineral dan memberikannya kepada Clara. "Kamu lapar?" tanyanya sambil memperhatikan Clara minum. Clara hanya mengangguk pelan.

"Setelah belokan di depan ada desa terakhir. Ada kedai yang menjual makanan dan minuman. Meskipun tidak semewah cafe atau resto di kota, tapi ikan bakarnya cukup enak. Nanti kita singgah di sana untuk makan."

Clara hanya mengangguk. Dia memang merasa lapar karena belum sarapan. Zevko segera melajukan kembali mobilnya. Tidak lama berselang mereka memasuki sebuah desa. Meski terpencil, namun pemandangannya sangat indah. Penduduknya masih jarang, jarak dari satu rumah ke rumah lainnya cukup jauh, namun mereka saling terhubung dan bekerjasama satu sama lain, terutama terkait keamanan, karena desa mereka yang terdekat dengan hutan, maka seringkali mendapat gangguan binatang buas, terutama di saat-saat tertentu. 

Mobil Zevko melewati beberapa rumah, setiap penduduk yang mereka jumpai sangat ramah, apalagi kepada Zevko. 

"Pak, sepertinya mereka mengenalmu."

"Aku sering ke sini. Kamu lihat sendiri bentang alam tempat ini sangat menakjubkan. Banyak pencinta alam yang datang ke sini."

"Hmm, jika resort dibangun, tempat ini juga pasti akan berubah."

Zevko hanya mengedikkan bahu sebagai respon atas ucapan Clara. Dan Clara pun tidak berbicara lagi, dia tahu sepertinya Zevko tidak ingin membahasnya.

Mobil mereka pun berhenti di sebuah kedai tua yang menjual makanan dan minuman. Seorang lelaki tua sedang membersihkan meja, sikapnya tenang dan wajahnya nampak teduh, seperti seorang yang memiliki kebijaksanaan yang dalam.

Lelaki tua itu terdiam memperhatikan mobil yang berhenti di depan kedainya. Tatapannya dalam seolah sedang mengukur siapa yang datang. Tiba-tiba sesuatu yang mengejutkan terjadi. 

Begitu pintu Jeep dibuka, keheningan pinggiran hutan itu pecah oleh suara kepakan sayap yang berat. Seekor burung gagak dengan bulu hitam yang berkilat kebiruan meluncur turun dari dahan pohon tua, mendarat tepat di kap mobil di depan Clara. Burung itu tidak bersuara, hanya memiringkan kepala, menatap Clara dengan mata hitamnya yang cerdas.

Belum sempat Clara pulih dari keterkejutannya, seekor kucing hitam besar muncul dari balik tumpukan kayu di teras kedai. Kucing itu berjalan dengan anggun, ekornya tegak, dan tanpa ragu langsung mendekat, menggesekkan kepalanya ke betis Clara sambil mengeluarkan suara dengkuran halus.

Zevko yang baru saja turun di sisi kemudi langsung menegang. Matanya menyipit melihat kedua hewan itu. "Hush! Pergi!" usir Zevko dengan suara rendah.

Namun, si gagak tetap bergeming di kap mobil, sementara si kucing justru mengeong pelan seolah sedang menyapa tamu yang sudah lama dinanti.

"Mereka... tidak biasanya menyapa manusia seperti itu." Sebuah suara parau terdengar dari balik pintu kedai.

Lelaki tua pemilik kedai itu berdiri menyambut mereka, bersandar pada kusen pintu yang mulai lapuk. Ia tidak melihat ke arah Zevko, melainkan menatap tajam ke arah Clara, lebih tepatnya, ke arah jemari Clara yang sedang mengelus bulu halus kucing hitam miliknya.

"Hewan punya cara sendiri untuk mengenali cahaya di tengah kegelapan," ucap lelaki itu tenang, matanya berkilat penuh rahasia.

Zevko dan Clara pun melangkah mendekat. Lelaki tua itu menyambut mereka dengan hangat. Bahkan ia menunduk penuh hormat pada Zevko, yang membuat Clara tertegun sesaat. Sikap lelaki tua pemilik kedai itu mengingatkannya pada pemandu yang tempo hari berpapasan dengan Zevko. Sikapnya bukan hanya sikap hormat dan ramah terhadap tamu biasa, tapi lebih sikap hormat terhadap seorang bangsawan atau seorang yang punya pengaruh dan kekuatan.

"Selamat datang tuan Volkov dan nona—"

"Clara Morgan," sahut Clara cepat.

"Ah, ya. Nona Morgan. Saya Gedion Hallow. Mari silahkan masuk."

Clara dan Zevko segera masuk lalu duduk di atas kursi yang telah disiapkan. Sementara itu kucing hitam itu terus mengekori Clara, bahkan melompat naik ke pangkuan Clara. Zevko merasa terganggu melihat hal itu, sedangkan Clara sangat senang, ia tertawa kecil dan membelai kucing itu dengan lembut.

Zevko menghela napas, ia menatap Gedion dengan tajam, seolah memberi perintah. Lelaki tua itu mengangguk dan memanggil kucingnya. Kucing itu seperti mengerti panggilan dan peringatan tuannya. Dia menatap sekilas pada Zevko, lalu melompat turun. 

Gedion segera menyajikan minuman hangat. Namun saat dia meletakan minuman di dekat Clara, tanpa sengaja tangannya menyentuh tangan Clara yang berada di atas meja. Seketika lelaki itu tersentak, tangannya gemetar seolah baru tersengat aliran listrik. Nyaris gelas di meja itu tumpah.

"Ada apa, Pak? Anda baik-baik saja?" tanya Clara heran.

"Oh, tidak apa-apa, nona. Biasa orang tua memang suka begini,"  jawab lelaki tua itu sambil terkekeh. "Apakah kalian akan ke hutan?"

"Benar, pak. Kami akan melanjutkan survey di area barat."

"Oh, area barat?" Tiba-tiba wajah Gedion menjadi tegang, tanpa sadar dia menatap Zevko yang juga sedang menatapnya dengan tajam, seakan sedang memberi peringatan.

"Ehm, pak Hallow, tolong siapkan dua porsi ikan bakar yang paling lezat buat kami. Satu porsi lagi dibungkus untuk bekal kami nanti." Zevko berkata membuat pesanan.

"Baik tuan."

Lelaki tua itu segera masuk ke dalam untuk menyiapkan makanan. Sedangkan Clara masih tertegun dengan kejadian barusan. Mengapa sikap pemilik kedai itu terlihat aneh.

"Clara, minum susunya. Kamu butuh tenaga untuk perjalanan nanti."

Clara hanya tersenyum sambil mengangguk. Ia segera meneguk susu hangat yang terasa meyegarkan tubuhnya itu. Tiba-tiba Zevko berdiri dan pamit akan ke kamar kecil. Disaat bersamaan kucing hitam itu kembali mendekati Clara, dan bermain di pangkuannya.

Zevko segera masuk ke dalam, namun alih-alih ke kamar kecil dia malah menemui pemilik kedai itu. Gedion yang sedang menyiapkan makanan bangun dan menunduk hormat padanya.

"Alpha."

"Gedion, jelaskan padaku, apa yang kau lihat pada diri Clara? Mengapa kucing dan gagakmu begitu keras kepala bahkan tidak menggubrisku."

"Maafkan mereka, Alpha. Bukan maksud mereka membangkangmu."

"Jelaskan Gedion. Jangan banyak basa-basi. Tadi kamu sempat menyentuhnya, apa yang kamu lihat?" Zevko menjadi tidak sabar dengan sikap lelaki tua itu. Dia menggeram pelan, matanya berkilat dengan cahaya keemasan, cukup membuat lelaki tua itu sedikit gemetar.

"Ampun, Alpha. Karena dia calon lunamu, maka aku tidak berkewenangan untuk menjelaskan. Ada yang lebih berwenang untuk menjelaskan, karena ini terkait masa depan kawanan."

"Apa maksudmu? Jangan bermain-main denganku, Gedion!" Ada kemarahan yang tertahan pada suara Zevko yang bergetar. Tatapan matanya berubah mengerikan.

Lelaki tua itu menghela napas panjang. "Alpha, dia bukan hanya pasangan takdirmu. Dia bukan hanya pendampingmu. Bawa dia segera pada tetua pack, biar tetua yang menentukan dan menjelaskan. Bawa dia segera Alpha, sebelum kegelapan yang lebih dulu menemukannya."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Coworkerku Alpha   Bab 63

    Keesokan harinya, Zevko telah bersiap untuk menghadap ke kantor pusat. Tujuan utamanya menyusup ke perusahaan properti itu telah tercapai; Menggagalkan project besar mereka.Kini, saatnya Zevko kembali ke dunianya yang sebenarnya. Kembali ke pack, membereskan berbagai isu tak sedap yang mulai merebak di kalangan para tetua.Zevko telah mengenakan stelan jasnya dengan rapi. Ia kembali duduk di meja kerjanya, memeriksa ulang draf pengunduran dirinya. Di sampingnya, ia juga mengambil map berisi berkas pengunduran diri Clara yang sudah ditandatangani oleh gadis itu jauh-jauh hari dan disimpan dengan aman oleh Zevko.Zevko tersenyum tipis. Sesuai rencana rahasia mereka, hari ini mereka akan mengajukan pengunduran diri secara bersamaan. Ia sama sekali tidak peduli pada penilaian manusia atau pertanyaan-pertanyaan kepo dari divisi HRD mengenai alasan seorang supervisor lapangan dan analis datanya keluar pada hari yang sama. Jika mereka berani bertanya macam-macam, Zevko tinggal melempar satu

  • Coworkerku Alpha   Bab 62

    Zevko tersentak. Ia langsung berdiri dari kursi kerjanya, matanya yang berkilat keemasan memindai setiap sudut ruangan. Kantornya tertutup rapat, pendingin ruangan pun diatur pada suhu normal, tapi bulu kuduknya meremang oleh rasa dingin yang sangat familiar.Hawa dingin yang membawa aroma musim dingin dan wangi tubuh Clara. "Cla?" bisik Zevko, suaranya tercekat di tenggorokan."Zev...!"Suara itu kembali terdengar, kali ini berupa bisikan halus yang menggema langsung di dalam kepalanya lewat jalur mate bond yang sempat tersumbat. Suara Clara terdengar samar, terengah-engah, dan sarat akan perjuangan, seolah gadis itu sedang mengerahkan seluruh tenaganya di suatu tempat yang jauh.Bersamaan dengan itu, dada Zevko berdenyut seolah dihantam gelombang energi perak. Sisi serigalanya di dalam dada langsung melolong resah, mencakar ingin keluar untuk melindungi pasangannya.Zevko tahu apa yang sedang terjadi. Clara sedang menghadapi ujian dari Gideon, dan di tengah rasa terdesaknya, alam baw

  • Coworkerku Alpha   Bab 61

    Setelah kepergian utusan pack, keheningan kembali menguasai ruangan. Zevko mengendurkan dasinya dengan kasar, lalu menjatuhkan dirinya kembali ke kursi kerja."Apa kamu baik-baik saja, Zev?" tanya Alec pelan, melangkah mendekat."Para tetua sialan itu mulai melunjak karena aku terlalu lama membiarkan mereka," geram Zevko. Ia meraih ponselnya di atas meja, berniat mengirim pesan atau menelepon Clara untuk menenangkan diri—seperti yang biasa ia lakukan setelah hari yang melelahkan.Namun, dahi Zevko mendadak berkerut dalam saat menatap layar ponselnya. Aplikasi komunikasi khusus yang terhubung dengan laptop Clara di kastil tiba-tiba mati total. Indikatornya menunjukkan status Disconnect secara paksa, seolah-olah seluruh jaringan di area kastil lenyap ditelan bumi.Zevko mencoba menekan tombol panggil ulang, namun gagal. Tepat pada detik itu, dada Zevko mendadak berdenyut nyeri. Lewat jalur mate bond, ia bisa merasakan ada riak energi yang sangat dingin, pekat, dan bergejolak hebat dari

  • Coworkerku Alpha   Bab 60

    Clara memejamkan mata di tengah kegelapan dan badai yang menusuk kulitnya. Ia menolak untuk menyerah. Alih-alih meraba-raba maju menggunakan kaki, Clara merentangkan kedua tangannya ke udara, membiarkan kulitnya merasakan arah hembusan angin sihir Gideon.Saat itu, Clara merasakan ada satu titik di sebelah kirinya di mana angin terasa berputar lebih keras—seperti menabrak sebuah dinding tak kasat mata.Sambil menggertakkan gigi menahan dingin, Clara memfokuskan pikirannya. Ia memanggil kembali aliran sungai es di dalam dadanya, lalu memaksanya mengalir deras menuju telapak tangan kanannya. Detik berikutnya, tangan Clara mulai memancarkan pendaran cahaya perak keunguan yang terang, disusul lapisan es padat yang mulai membungkus jemarinya seperti sarung tangan kristal.Dengan satu teriakan tegas, Clara melangkah maju dan menghantamkan telapak tangan kanannya yang membeku itu tepat ke arah pusaran angin di sebelah kirinya.PRANGGG!Suara nyaring seperti kaca raksasa yang pecah menggema d

  • Coworkerku Alpha   Bab 59

    "Clavira!"Suara Gideon yang mendadak berat dan penuh penekanan langsung menghapus sisa senyum di wajah Clara. Ia menurunkan ponselnya, menatap sang paman yang kini berdiri tegak di dekat perapian dengan tatapan mata yang sangat tajam. Riak sihir yang melingkupi ruangan itu perlahan meremang, memancarkan aura dingin yang menuntut kepatuhan."Ada apa, Paman?" tanya Clara, mendadak merasa waswas.Gideon melangkah mendekat, tongkat kayunya mengetuk lantai batu kastil hingga memunculkan gema yang sunyi. "Pikiranmu terlalu bising. Detak jantungmu terlalu cepat. Rasa senang dan kerinduanmu pada Alpha itu... terlalu meluap-luap."Clara tertegun, refleks menyentuh dadanya sendiri. "Aku hanya baru saja selesai berbicara dengannya. Apa itu salah?""Bagi manusia biasa, itu hal yang wajar. Tapi bagi seorang pewaris darah Hallow, emosi yang tidak stabil adalah racun mematikan," ujar Gideon tanpa tedeng aling-aling. "Inti sihir es yang ada di dalam tubuhmu menuntut ketenangan mutlak. Jika hatimu te

  • Coworkerku Alpha   Bab 58

    Keesokan harinya, setelah sarapan Clara bersiap untuk meeting virtual dengan dewan direksi. Sebagai analis, dia harus mempresentasikan analisanya di hadapan mereka. Hari itu, ia meminta izin pamannya untuk menunda latihan.Clara telah bersiap dengan pakaian kerja, ia menghadap ke laptopnya. Sementara riak sihir pelindung dari Paman Gideon masih membungkus ruang tengah kastil dengan sempurna, memastikan bahwa sinyal digital yang dipancarkan dari laptop Clara terenkripsi sepenuhnya. Namun, atmosfer di dalam ruangan itu mendadak berubah tegang saat layar aplikasi rapat daringnya dipenuhi oleh belasan wajah serius dari jajaran dewan direksi perusahaan pusat.Di salah satu kotak layar, Zevko duduk dengan setelan jas formalnya, memasang ekspresi dingin yang tak tersentuh."Selamat pagi, Dewan Direksi," suara Clara terdengar tenang dan profesional saat ia memulai presentasinya. "Berdasarkan sampel tanah terakhir yang dikirim dari lokasi proyek wilayah barat, saya telah menyelesaikan analisa

  • Coworkerku Alpha   Bab 18

    Di balik pintu kamarnya, Gideon menyandarkan punggung pada kayu pintu yang dingin, napasnya tersengal seolah baru saja berlari jauh. Di tangannya, batu black onyx itu terasa sangat berat, seakan membawa beban rahasia yang hampir meledak.Ia menunduk, menatap batu hitam itu dengan tangan gemetar. Ia

  • Coworkerku Alpha   Bab 17

    Zevko terdiam, rahangnya mengeras. Ia paham apa yang dimaksudkan Gideon. Thor memang telah melakukan marking spiritual, tapi secara fisik dia belum melakukan marking sedangkan mereka telah melakukan penyatuan bukan hanya spiritual tetapi juga fisik."Jiwa kalian sudah terikat, insting dan fisik kal

  • Coworkerku Alpha   Bab 16

    Zevko segera menghentikan mobilnya lalu beralih pada Clara yang terkulai lesu di pundaknya. Zevko segera meraih Clara dan membawa ke dadanya. Ia menyentuh wajah dan dahi Clara yang mulai menghangat. "Kamu kenapa, sayang? Sakit?" Zevko kembali bertanya dengan panik. Clara memperbaiki posisi kepalany

  • Coworkerku Alpha   Bab 15

    Zevko melanjutkan makannya, dia menyantap daging di hadapannya dengan sangat lahap. Ia memotong daging itu dengan gerakan efisien, lalu menyuapnya dengan tempo yang sedikit lebih cepat dari biasanya.Clara tertegun, ia memperhatikan bagaimana rahang tegas pria itu bekerja—kuat, bertenaga, seolah-ol

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status