Masuk"Tidak ada," jawab Zevko datar. "Mungkin kamu salah lihat."
Clara terdiam, mencoba mengingat kejadian malam tadi. Suasana saat itu memang sangat kacau, hujan turun sangat deras bercampur angin. Bisa jadi dia memang salah lihat, ditambah kepalanya terasa berat karena masih diserang kantuk.
"Hmm, mungkin," gumam Clara. "Tapi, kamu ngapain ke luar dan masuk ke taman?"
"Hanya memeriksa pohon tumbang."
"Oh."
Clara tidak bertanya lagi, karena sepertinya Zevko tidak ingin membahasnya. Selain itu, Clara juga kurang yakin dengan penglihatannya sendiri, karena suasananya sangat kacau. Mungkin saja Zevko memang ingin mengecek apakah ada pohon yang tumbang supaya tidak menghalangi mobil mereka.
Untuk beberapa saat keduanya terdiam, sibuk dengan pikiran masing-masing. Jeep milik Zevko terus melaju meninggalkan hiruk pikuk kota. Kini mereka sudah berada jauh di luar kota, hingga memasuki jalanan yang tidak lagi mulus, berputar dan menanjak, hingga di satu waktu terjadi guncangan yang cukup keras, Clara yang sedikit mengantuk pun terbentur jendela.
"Awww!" pekik Clara kaget. Zevko segera menghentikan mobilnya, lalu spontan meraih wajah Clara, menyibak sebagian rambut Clara yang menutupi keningnya.
"Sakit?" tanya Zevko sambil memeriksa kening dan kepala Clara. Clara hanya menggeleng heran. Kenapa Zevko jadi begitu perhatian? Bukankah dari kemarin di kantor dia sangat galak, membentak dan menekannya.
Zevko segera mengambil air mineral dan memberikannya kepada Clara. "Kamu lapar?" tanyanya sambil memperhatikan Clara minum. Clara hanya mengangguk pelan.
"Setelah belokan di depan ada desa terakhir. Ada kedai yang menjual makanan dan minuman. Meskipun tidak semewah cafe atau resto di kota, tapi ikan bakarnya cukup enak. Nanti kita singgah di sana untuk makan."
Clara hanya mengangguk. Dia memang merasa lapar karena belum sarapan. Zevko segera melajukan kembali mobilnya. Tidak lama berselang mereka memasuki sebuah desa. Meski terpencil, namun pemandangannya sangat indah. Penduduknya masih jarang, jarak dari satu rumah ke rumah lainnya cukup jauh, namun mereka saling terhubung dan bekerjasama satu sama lain, terutama terkait keamanan, karena desa mereka yang terdekat dengan hutan, maka seringkali mendapat gangguan binatang buas, terutama di saat-saat tertentu.
Mobil Zevko melewati beberapa rumah, setiap penduduk yang mereka jumpai sangat ramah, apalagi kepada Zevko.
"Pak, sepertinya mereka mengenalmu."
"Aku sering ke sini. Kamu lihat sendiri bentang alam tempat ini sangat menakjubkan. Banyak pencinta alam yang datang ke sini."
"Hmm, jika resort dibangun, tempat ini juga pasti akan berubah."
Zevko hanya mengedikkan bahu sebagai respon atas ucapan Clara. Dan Clara pun tidak berbicara lagi, dia tahu sepertinya Zevko tidak ingin membahasnya.
Mobil mereka pun berhenti di sebuah kedai tua yang menjual makanan dan minuman. Seorang lelaki tua sedang membersihkan meja, sikapnya tenang dan wajahnya nampak teduh, seperti seorang yang memiliki kebijaksanaan yang dalam.
Lelaki tua itu terdiam memperhatikan mobil yang berhenti di depan kedainya. Tatapannya dalam seolah sedang mengukur siapa yang datang. Tiba-tiba sesuatu yang mengejutkan terjadi.
Begitu pintu Jeep dibuka, keheningan pinggiran hutan itu pecah oleh suara kepakan sayap yang berat. Seekor burung gagak dengan bulu hitam yang berkilat kebiruan meluncur turun dari dahan pohon tua, mendarat tepat di kap mobil di depan Clara. Burung itu tidak bersuara, hanya memiringkan kepala, menatap Clara dengan mata hitamnya yang cerdas.
Belum sempat Clara pulih dari keterkejutannya, seekor kucing hitam besar muncul dari balik tumpukan kayu di teras kedai. Kucing itu berjalan dengan anggun, ekornya tegak, dan tanpa ragu langsung mendekat, menggesekkan kepalanya ke betis Clara sambil mengeluarkan suara dengkuran halus.
Zevko yang baru saja turun di sisi kemudi langsung menegang. Matanya menyipit melihat kedua hewan itu. "Hush! Pergi!" usir Zevko dengan suara rendah.
Namun, si gagak tetap bergeming di kap mobil, sementara si kucing justru mengeong pelan seolah sedang menyapa tamu yang sudah lama dinanti.
"Mereka... tidak biasanya menyapa manusia seperti itu." Sebuah suara parau terdengar dari balik pintu kedai.
Lelaki tua pemilik kedai itu berdiri menyambut mereka, bersandar pada kusen pintu yang mulai lapuk. Ia tidak melihat ke arah Zevko, melainkan menatap tajam ke arah Clara, lebih tepatnya, ke arah jemari Clara yang sedang mengelus bulu halus kucing hitam miliknya.
"Hewan punya cara sendiri untuk mengenali cahaya di tengah kegelapan," ucap lelaki itu tenang, matanya berkilat penuh rahasia.
Zevko dan Clara pun melangkah mendekat. Lelaki tua itu menyambut mereka dengan hangat. Bahkan ia menunduk penuh hormat pada Zevko, yang membuat Clara tertegun sesaat. Sikap lelaki tua pemilik kedai itu mengingatkannya pada pemandu yang tempo hari berpapasan dengan Zevko. Sikapnya bukan hanya sikap hormat dan ramah terhadap tamu biasa, tapi lebih sikap hormat terhadap seorang bangsawan atau seorang yang punya pengaruh dan kekuatan.
"Selamat datang tuan Volkov dan nona—"
"Clara Morgan," sahut Clara cepat.
"Ah, ya. Nona Morgan. Saya Gedion Hallow. Mari silahkan masuk."
Clara dan Zevko segera masuk lalu duduk di atas kursi yang telah disiapkan. Sementara itu kucing hitam itu terus mengekori Clara, bahkan melompat naik ke pangkuan Clara. Zevko merasa terganggu melihat hal itu, sedangkan Clara sangat senang, ia tertawa kecil dan membelai kucing itu dengan lembut.
Zevko menghela napas, ia menatap Gedion dengan tajam, seolah memberi perintah. Lelaki tua itu mengangguk dan memanggil kucingnya. Kucing itu seperti mengerti panggilan dan peringatan tuannya. Dia menatap sekilas pada Zevko, lalu melompat turun.
Gedion segera menyajikan minuman hangat. Namun saat dia meletakan minuman di dekat Clara, tanpa sengaja tangannya menyentuh tangan Clara yang berada di atas meja. Seketika lelaki itu tersentak, tangannya gemetar seolah baru tersengat aliran listrik. Nyaris gelas di meja itu tumpah.
"Ada apa, Pak? Anda baik-baik saja?" tanya Clara heran.
"Oh, tidak apa-apa, nona. Biasa orang tua memang suka begini," jawab lelaki tua itu sambil terkekeh. "Apakah kalian akan ke hutan?"
"Benar, pak. Kami akan melanjutkan survey di area barat."
"Oh, area barat?" Tiba-tiba wajah Gedion menjadi tegang, tanpa sadar dia menatap Zevko yang juga sedang menatapnya dengan tajam, seakan sedang memberi peringatan.
"Ehm, pak Hallow, tolong siapkan dua porsi ikan bakar yang paling lezat buat kami. Satu porsi lagi dibungkus untuk bekal kami nanti." Zevko berkata membuat pesanan.
"Baik tuan."
Lelaki tua itu segera masuk ke dalam untuk menyiapkan makanan. Sedangkan Clara masih tertegun dengan kejadian barusan. Mengapa sikap pemilik kedai itu terlihat aneh.
"Clara, minum susunya. Kamu butuh tenaga untuk perjalanan nanti."
Clara hanya tersenyum sambil mengangguk. Ia segera meneguk susu hangat yang terasa meyegarkan tubuhnya itu. Tiba-tiba Zevko berdiri dan pamit akan ke kamar kecil. Disaat bersamaan kucing hitam itu kembali mendekati Clara, dan bermain di pangkuannya.
Zevko segera masuk ke dalam, namun alih-alih ke kamar kecil dia malah menemui pemilik kedai itu. Gedion yang sedang menyiapkan makanan bangun dan menunduk hormat padanya.
"Alpha."
"Gedion, jelaskan padaku, apa yang kau lihat pada diri Clara? Mengapa kucing dan gagakmu begitu keras kepala bahkan tidak menggubrisku."
"Maafkan mereka, Alpha. Bukan maksud mereka membangkangmu."
"Jelaskan Gedion. Jangan banyak basa-basi. Tadi kamu sempat menyentuhnya, apa yang kamu lihat?" Zevko menjadi tidak sabar dengan sikap lelaki tua itu. Dia menggeram pelan, matanya berkilat dengan cahaya keemasan, cukup membuat lelaki tua itu sedikit gemetar.
"Ampun, Alpha. Karena dia calon lunamu, maka aku tidak berkewenangan untuk menjelaskan. Ada yang lebih berwenang untuk menjelaskan, karena ini terkait masa depan kawanan."
"Apa maksudmu? Jangan bermain-main denganku, Gedion!" Ada kemarahan yang tertahan pada suara Zevko yang bergetar. Tatapan matanya berubah mengerikan.
Lelaki tua itu menghela napas panjang. "Alpha, dia bukan hanya pasangan takdirmu. Dia bukan hanya pendampingmu. Bawa dia segera pada tetua pack, biar tetua yang menentukan dan menjelaskan. Bawa dia segera Alpha, sebelum kegelapan yang lebih dulu menemukannya."
'Zev, tolong fokus. Sekarang sentuh liontin itu dan dekatkan ke penciumanmu,' bisik Clara melalui mind-link pada Zevko.'Ada apa, Cla? Apakah ada serangan sihir?' tanya Zevko bingung."Lakukan sekarang, Zev. Nanti kamu akan tahu.'Zevko mengangguk, ia membuka sedikit mantelnya lalu menggenggam liontin perak yang mulai berpendar. Zevko mengecup liontin itu dan menghirupnya dalam-dalam.Suasana di meja makan itu seketika terasa menegangkan. Valdas dan Valida yang tidak menyadari hanya termangu bingung. Mereka memperhatikan apa yang dilakukan Zevko dan Clara. Zevko fokus menggenggam kalung yang memendarkaan cahaya keperakan. Sedangkan Clara memejamkan mata. Satu tangannya disilangkan di dada. Ia nampak sedang berkonsentrasi."Valeska, aku Cla. Tolong bantu amankan tempat ini dari serangan luar. Gunakan sihir perlindungan. Aku harus melindungi Zev dan orang tuanya serta semua yang ada di mansion ini,"Valeska sedikit terkejut, karena Clara bisa menghubunginya melalui tautan batin. Namund
Keesokan harinya, pagi-pagi sekali, ketika sinar matahari baru saja menerobos celah tirai, suara ketukan pelan di pintu kamar terdengar.Clara terbangun dan perlahan membuka matanya. Ia merasakan lengan kekar Zevko masih melingkar erat di pinggangnya, memeluknya hangat. Pria itu masih terpejam lelap dengan napas yang teratur. Clara tersenyum tipis, lalu mengusap lembut pipi Zevko untuk membagungkannya."Zev... Zev, bangun. Ada yang mengetuk pintu," bisik Clara pelan.Zevko melenguh pelan, mempererat pelukannya sebentar sebelum akhirnya membuka mata menatap Clara. Ia mengecup kening Clara singkat, lalu beranjak dari tempat tidur dan berjalan membukakan pintu.Ternyata yang datang adalah seorang pelayan mansion. Dengan sikap sangat sopan dan menunduk hormat, pelayan itu membawa gaun indah lengkap dengan kotak perhiasan mewah."Maaf mengganggu, Alpha. Saya diutus oleh Luna Valida untuk menyerahkan gaun dan perhiasan ini kepada Nona Clavira," ujar pelayan tersebut.Zevko menerima barang-b
Dari balik tempat tersembunyi, seorang pria menatap Zevko dan Clara dengan tajam. Ia memperhatikan interaksi manis antara Zevko dan Clara. Pria itu menyaksikan sendiri bagaimana sang Alpha merengkuh pinggang gadis itu dengan begitu protektif, seolah ia adalah sosok berharga yang tak boleh tersentuh sedikit pun. Tanpa membuang waktu, pria itu berbalik dan menghilang ke dalam kegelapan malam, bergegas menemui Thalia yang memberinya imbalan emas. Thalia berjalan bolak-balik di kamarnya dengan gelisah. Pikirannya dipenuhi rasa kesal atas sikap dingin orang tua Zevko dan sindiran Alec tadi. Namun, ketukan pelan di jendela kamarnya langsung memotong kegelisahannya. Thalia bergegas membuka jendela, mendapati mata-matanya berdiri di bawah bayangan pohon. "Ada berita apa? Apakah Zevko sudah kembali?" desak Thalia cepat. "Sudah, Nona. Alpha Zevko baru saja tiba di mansion utama," lapor pria itu setengah berbisik. "Tapi... beliau membawa seorang gadis. Alpha sendiri yang menuntunnya masuk ke
Valeska berlutut dengan gugup. "Ampun Alpha. Saya menemukan sesuatu, tapi belum sempat melaporkannya."Zevko menatap Alec dengan wajah serius. "Ada apa, Alec? Apa kamu juga tidak tahu?"Alec menggeleng seraya mendekati Valeska. "Vale, kamu belum memberikan laporan mengenai wilayah perbatasan utara. Apa di sana tidak aman?""Maafkan aku, Alec. Belakangan kita sangat sibuk, jadi aku lupa menceritakan tentang ini.""Hmh, baiklah, Vale. Sekarang ceritakan ada apa?""Beberapa waktu lalu, anak buahku melaporkan adanya serangan kecil di sana. Aku sudah memeriksa. Ada serangan sihir yang mencoba menerobos wilayah kita."Hening sejenak, semua terdiam mendengarkan laporan Valeska. "Apa kamu bisa mengatasinya?""Ya, tapi…""Tapi apa, Vale?" potong Alec tak sabar."Aku merasa serangan itu hanya penjajakan. Tapi aku merasakan energinya cukup besar. Aku berencana melaporkan ini kepada dewan tetua karena aku merasakan aliran sihir yang terasa asing.""Jangan ceritakan kepada siapa pun di dewan tetua
Zevko segera menghubungi Alec melalui mind-link. "Alec, segera ke perbatasan timur. Ada yang tidak beres di sini," titah Zevko, penuh tuntutan. "Zev, biar aku yang hadapi mereka. Anggap saja praktik lapangan," ujar Clara santai. "Tidak, Cla. Meskipun kamu memiliki kekuatan, tapi kamu belum terbiasa bertarung." "Ya, makanya aku harus sering terjun ke pertarungan yang sesungguhnya, kan? Supaya punya pengalaman. Lagi pula ada kamu yang akan memback-up-ku," Clara masih bersikukuh. Zevko terdiam, ia masih nampak ragu. "Tapi, Cla. Pamanmu mengingatkan kamu tidak boleh sembarang atau sering-sering menggunakan kekuatanmu—" "Itu kan kalau di depan tetua nanti," potong Clara cepat. Zevko menghela napas. "Baiklah, kita ke sana bersama," ujar Zevko, menyerah pada desakan mate-nya. Clara dan Zevko menoleh kembali pada pengeroyokan itu, namun mereka terkejut karena para pengeroyok itu mulai melakukan penyerangan. Tiga orang menyerang pemuda, dan dua orang lainnya menyerang si wanita. Melihat
Seorang gadis dengan riasan tebal dan pakaian mewah melangkah dengan anggun mendekati mereka. Tentu saja Valdas dan Valida mengenalinya. Dia adalah Thalia, putri salah seorang anggota dewan tetua, sekaligus keponakan Silas, pimpinan dewan tetua Pack Volkov."Thalia? Kamu Thalia, kan?" tanya Valida memastikan."Benar, bibi. Aku Thalia," jawab gadis itu seraya mendekat, lalu memeluk Valida. "Apa kabar, Bi. Senang sekali mendengarnya. Ternyata Bibi masih mengenaliku.""Kabar baik, Ta. Tentu saja bibi masih ingat. Kamu teman kecil Zev. Dulu kalian sering bermain bersama Alec juga, kan?" sahut Valida sambil melirik Alec. Sedangkan Alec hanya terdiam, wajahnya datar tanpa ekspresi. "Kamu makin cantik saja, Ta."Thalia tersipu malu, namun juga tersenyum bangga. "Ah, terima kasih, Bi. Bibi juga masih terlihat cantik dan awet muda." "Ah, kamu bisa aja," sahut Valida sambil tersenyum. "Oh ya, bagaimana kabar ibumu?""Ibu sudah meninggal, Bi. Sekarang aku tinggal bersama Bibi Camilla.""Oh, maa
Zevko berdiri tegak, sorot matanya bersinar tajam. Wajahnya memancarkan aura keagungan dan kewibawaan. Ia menatap sekeliling penuh kewaspadaan, namun ia tahu siapa yang ia perintahkan.Tidak lama berselang, tiga sosok muncul dari balik semak-semak. Mereka melangkah mendekati Zevko, lalu menundukan k
Untuk sesaat Clara membeku. Zevko ini benar-benar gila. Baru saja dia kembali dari hutan itu, besok harus kembali lagi ke sana? Namun, Clara tak punya pilihan selain mengikuti kemauan Zevko. Selain untuk membuktikan profesionalitasnya, dia juga memang ingin ke sana, untuk mencari tahu rahasia apa ya
Clara terdiam sesaat, ia menjadi bingung dengan sikap Zevko. Rahasia apa yang sebenarnya disembunyikan pria ini. Bukankah seharusnya dia senang jika project ini sukses. Tapi mengapa dia bilang tidak peduli dengan project?"Lalu bagaimana dengan rapat nanti siang? Tidak mungkin untuk dibatalkan karen
Zevko tak menggubris pertanyaan Clara. Alih-alih menjawab ia langsung membuka pintu dan meletakkan Clara di kursi penumpang, lalu duduk di belakang kemudi. Zevko masih terdiam setelah menyalakan mesin. Tangannya menggenggam kemudi sambil mengetuk-ngetukan satu jarinya. Namun kemudian dia berkata de







