Share

Bab 4

Author: El Hawra
last update publish date: 2026-03-24 11:27:10

Untuk sesaat Clara membeku. Zevko ini benar-benar gila. Baru saja dia kembali dari hutan itu, besok harus kembali lagi ke sana? Namun, Clara tak punya pilihan selain mengikuti kemauan Zevko. Selain untuk membuktikan profesionalitasnya, dia juga memang ingin ke sana, untuk mencari tahu rahasia apa yang disembunyikan Zevko.

Clara menghela napas pelan, ia menurunkan pandangannya. "Baiklah. Kalau gitu aku selesaikan berkas-berkas ini dulu."

"Bagus!" jawab Zev sambil menarik tubuhnya menjauh, dia kembali ke mejanya. "Satu hal lagi, Clara. Jauhi laki-laki itu."

"Apa? Laki-laki? Siapa?"

"Jangan pura-pura bodoh." Zevko berkata tanpa menoleh, matanya fokus pada layar laptopnya.

"Siapa maksudmu? John?"

"Dia mau mengantarmu pulang, kan?"

"Haha, memang mengapa kalau aku pulang bareng dia?"

Tiba-tiba Zevko mengangkat wajahnya, tatapannya berkilat tajam menusuk ke jantung Clara, membuat gadis itu ciut seketika.

"I-iya, aku hanya bercanda. Siapa juga yang mau diantar. Aku bisa pulang sendiri."

"Ingat Clara. Fokus saja pada pekerjaanmu. Dan satu hal penting, jangan biarkan siapapun tahu mengenai kejadian di hutan itu."

"Iyaa, aku paham.Gak perlu mengingatkanku berkali-kali. Permisi."

Clara meninggalkan ruangan Zevko dengan kesal. Tanpa membuang-buang waktu lagi ia bergegas mengerjakan pekerjaannya. Tubuhnya terasa lelah, ia ingin segera pulang dan tidur. Berkali-kali ia menguap, namun Clara berusaha menahannya. Entah sudah berapa cup kopi ditenggaknya, tapi tak bisa menahan kantuk yang menyerang. Hingga akhirnya ia menenggelamkan kepalanya di meja, terlelap karena kantuk yang tak bisa dibendung lagi.

Clara tertidur sangat nyenyak, bahkan teman-temannya memanggilpun tak digubrisnya lagi. Clara sendirian di ruangan itu hingga malam tiba.

Di luar hujan sangat deras, kabut pun turun menyelimuti kota. Suasana malam itu sangat mencekam. Clara bergegas ke area parkir, sunyi, tidak ada siapapun. Ia segera masuk ke dalam mobil, dan sialnya mobil tidak mau hidup.

"Ah, sial. Kenapa lagi sih nih mobil. Baru bulan lalu di service."

Clara menggerutu kesal. Tiba-tiba kedua matanya melihat bayangan berkelebat. Karena penasaran dia pun keluar, menoleh ke kiri dan kanan, tapi tidak ada siapapun. Namun ketika Clara membalikan badan hendak masuk kembali ke dalam mobil, matanya terbelalak. Sesosok makhluk berbulu hitam dengan cakar tajam dan taring panjang berdiri di depannya, matanya yang kuning menatapnya seolah sedang mengawasinya.

Clara terpekik, ia mundur, namun makhluk itu mengurung Clara dengan kedua lengannya. Clara tak bisa bergerak, napasnya memburu, keringat dingin membasahi sekujur tubuhnya. Ia sangat ketakutan.

Makhluk itu menatapnya, mendekatkan moncongnya ke lehernya lalu mengendusnya. 

"Ti-tidak, tolong ja-jangan…"

"Mate…." 

Tiba-tiba terdengar suara berat dari mulut makhluk itu. Ia menempelkan moncongnya ke leher Clara, membuat Clara menjerit histeris.

"Tidaaaaak!!"

"Clara, bangun!!"

Seseorang mengguncang-guncang bahu Clara. Gadis itu membuka mata dan mengangkat kepalanya perlahan, napasnya masih tersengal-sengal. Demi melihat Zevko, Clara segera berdiri dan berhambur memeluknya dengan ketakutan.

"Zev, tolong aku. Makhluk itu, makhluk itu menggigitku."

"Makhluk apa Clara. Tidak ada apa-apa di sini. Kamu bukannya kerja malah tidur."

Clara membuka matanya, ia melihat sekeliling, ternyata dia masih di kantor. Sial, ternyata mimpi. Tapi semua terasa begitu nyata. Clara meraba lehernya di tempat bekas gigitan makhluk tadi, masih terasa berdenyut dan gatal. Namun tidak ada luka di sana.

Clara hendak kembali ke kursinya, namun Zevko menahan Clara sehingga gadis itu tetap berada di pelukannya. Untuk sejenak keduanya saling bertatapan, jantung Clara berdegup keras, namun dia tidak bisa beralih dari tatapan Zevko yang menguncinya.

Zevko menundukan wajahnya, menempelkannya ke leher Clara seolah sedang menghirupnya.

"Zev, a-apa yang kamu lakukan?"

"Memeriksa lehermu, tadi kamu memeganginya. Tapi tidak ada apa-apa di sini."

Clara menghela napas lega. Tapi dia masih bisa merasakan denyutannya. "Tapi, tadi makhluk itu menggigitku di sini."

"Sudahlah, aku antar kamu pulang." Zevko melepaskan pelukannya.

"Tidak, terima kasih. Aku bisa pulang sendiri."

Zevko tidak berbicara lagi, ia segera meninggalkan gadis itu sendirian. Clara segera membereskan barang-barangnya, lalu turun ke area parkir. Ia masuk ke dalam mobilnya, namun sial, mobilnya mati.

Clara mulai merasa tidak enak, kejadiannya sangat persis seperti dalam mimpinya. Dia menyesal karena menolak tawaran Zevko untuk mengantarnya pulang. Clara tidak mau apa yang dilihatnya di dalam mimpi menjadi nyata. Tanpa pikir panjang dia ke luar untuk mencari Zevko. Namun dia menubruk seseorang yang tiba-tiba berdiri di depannya.

"Kamu kenapa lagi, Clara?"

"Oh, Zev. Ee–itu, mobilku mati, aku nebeng kamu ya." 

Alih-alih menjawab, Zevko langsung menggenggam tangan Clara dan membawanya ke dalam mobilnya. Mobil itu pun segera meninggalkan gedung kantor, membelah hujan badai yang sangat deras.

Malam itu tidak ada kendaraan yang berani melintas, karena jarak pandang menjadi sangat terbatas. Namun Zevko melajukan mobilnya dengan santai, seolah matanya dapat menembus kegelapan di depannya.

Ketika di persimpangan dekat taman kota, Zevko terpaksa menghentikan mobilnya. Sebuah bayangan hitam berkelebat memotong laju mobinya. 

Zevko menajamkan pandangannya. Bayangan itu masuk ke dalam taman, menghilang diantara rerimbunan pohon.

"Ada apa, Pak?" tanya Clara heran. Tentu saja Clara tidak bisa melihat kelebatan bayaangan tadi.

"Clara, kamu tunggu di dalam mobil. Ingat! jangan keluar!"

"Terus kamu mau ke mana? Aku takut sendirian."

"Sudahlah, pokoknya kamu diam di dalam mobil, jangan keluar sampai aku kembali, paham?"

"Oke."

Zevko segera mengenakan mantelnya, lalu ke luar dan masuk ke dalam taman. Ia berdiri mengamati sekelilingnya. Tatapannya tajam menyapu area taman. Tiba-tiba dia menggeram dan berteriak rendah.

"Keluar kalian!"

El Hawra

Mate: Pasangan takdir yang ditetapkan Moon Goddes/Dewi bulan

| 2
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (2)
goodnovel comment avatar
Elum
semakin penasaran
goodnovel comment avatar
Agustina
semakin menarik
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Coworkerku Alpha   Bab 52

    Clara terdiam, ia mengusap wajah lelaki yang ada di atasnya itu dengan lembut. "Paman menunggu kita, Zev." Zevko menghela napas sambil memejamkan mata, berusaha menenangkan dirinya. "Nanti setelah makan malam dan berbincang-bincang dengan paman baru kita lanjutkan, supaya nggak tergesa-gesa dan lebih leluasa."Zevko membuka mata, bertemu dengan mata Clara yang mengerjap indah. Seketika ia merasa tenang dan nyaman. Ia segera menyambar bibir sang mate, melumatnya dengan lahap."Baiklah sayang. Sekarang kenakan pakaianmu. Kita akan segera turun menemui pamanmu."Zevko segera turun dari ranjang, ia menuju lemari yang ada di sudut kamar. "Kemarilah, sayang."Clara pun turun dari ranjang, lalu mendekat ke lemari. Ia tertegun melihat pakaian di dalam lemari itu. Ada beberapa potong pakaian yang modelnya berbeda dengan yang biasa ia pakai. Ada juga pakaian untuk Zevko."Zev, ini pakaian siapa?" tanya Clara bingung. "Pakaian kamu lah, sayang. Pakaian untuk aku yang di sebelah sini. Pamanmu s

  • Coworkerku Alpha   Bab 51

    Clara memanggil sang paman dengan lirih, penuh kebimbangan. Gideon mendekat selangkah memberikan tatapan hangat pada keponakannya itu."Iya, Cla. Ada yang ingin kamu katakan? Paman di sini untuk mendengarkan.""Apa yang harus aku lakukan, paman?"Gideon menghela napas pelan. Tangannya terulur, mengusap rambut Clara dengan lembut. "Ikuti kata hatimu, Nak."Clara kembali menoleh ke luar jendela. Dia menggigit bibirnya sendiri, merasakan sakit melihat Zevko seperti itu. Namun dia bingung dan takut. Semua bercampur menjadi satu."Paman, barusan aku bermimpi bertemu ayah dan ibu." Gideon sedikit tersentak, namun dia tetap tenang dan diam mendengarkan Clara menceritakan semua mimpinya barusan."Cla. Itu bukan sekedar mimpi. Itu adalah petunjuk dan pengingat dari ayah dan ibumu.""Tapi paman. Aku takut…" ucap Clara lirih."Takut? Takut kenapa, sayang?""Aku takut, paman. Aku takut apa yang terjadi pada ayah dan ibu, terulang padaku dan Zev. Aku takut musuh-musuh kita menghancurkan pack Volk

  • Coworkerku Alpha   Bab 50

    "Ja-jangan. Jangan ganggu aku," rintih Clara sambil terus melangkah mundur. Napasnya memburu, terkunci oleh tatapan mata kuning keemasan dari serigala hitam raksasa di depannya. Bulu hitam makhluk itu tampak berkilat magis di tengah lembah yang dipenuhi bunga ungu purple saxifrage yang tumbuh di antara bebatuan es. Dinginnya cuaca ekstrem Utara sama sekali tidak menghalangi perkembangan bunga-bunga itu untuk tetap mekar dengan indah.Namun, alih-alih menyerang, serigala hitam yang sangat besar dan agung itu justru menundukkan kepalanya yang perkasa ke atas tanah—sebuah gestur tunduk dan hormat yang mutlak di hadapan Clara. Perlahan, tubuh raksasa itu diselimuti pendaran cahaya kelabu yang pekat. Tulang-tulangnya terdengar berderak, wujud berbulu itu menyusut dan bertransformasi menjadi sosok pria jangkung berwibawa dengan pakaian khas panglima Utara. Di sampingnya, mendadak muncul seorang wanita anggun berambut hitam pekat dengan gaun sutra ungu yang melambai lembut ditiup angin sedin

  • Coworkerku Alpha   Bab 49

    Seketika ruangan itu berubah mencekam. Zevko dan Gideon saling berpandangan namun tak ada kata-kata yang bisa diucapkan. Sedangkan Clara terus melangkah menapaki anak tangga, tanpa keraguan. Tiba-tiba Zevko melompat lalu berlutut di bawah anak tangga. "Tunggu, Clara. Aku mohon maafkan aku. Aku bersumpah tak akan pernah membohongi atau menyakitimu lagi."Langkah Clara terhenti. Dia diam mematung, menyisakan ketegangan sesaat. "Aku, bukan Clara yang bodoh itu, yang bisa dengan mudah dibohongi. Aku adalah Clavira, Clavira Lodur Hallow."Clara berkata tanpa menoleh. Ucapannya tegas dan dingin. Sangat berbeda dengan Clara yang selama ini dikenal oleh Zevko. Aura tegas seorang alpha, dan misterius seorang penyihir terpancar kuat dari suara Clara. "Baiklah Clavira Lodur Hallow. Tolong katakan padaku, apa yang harus aku lakukan agar kamu mau memaafkanku."Zevko nampak putus asa, dia tidak tahu lagi bagaimana caranya membujuk mate-nya yang sedang marah itu. Ia sudah merendahkan dirinya denga

  • Coworkerku Alpha   Bab 48

    Zevko menghela napas panjang. Kali ini dia tidak bisa berkelit lagi. Zevko hanya bisa mengangguk pelan. "Benar, Cla. Aku adalah Alpha yang memimpin Pack Volkov di wilayah barat ini. Sedangkan ayahmu adalah seorang Alpha dari Pack Lodur di utara."Clara terdiam, ia menoleh pada Gedion. "Benarkah itu, Paman?"Gideon mengangguk. "Benar, Cla. Alpha adalah sebutan untuk pemimpin pack manusia serigala. Ayahmu memimpin pack Lodur di wilayah utara. Sedangkan Alpha Zevko memimpin pack di wilayah barat ini. Tapi tugas mereka sama."Clara kembali menoleh pada Zevko. Wajahnya terlihat penuh kekecewaan. "Mengapa kamu tega membohongiku, Zev?" Suara Clara terdengar dingin, begitupun wajahnya. Tidak ada lagi senyuman manis di sana. "Kamu membiarkan aku terlihat seperti orang bodoh, yang mempercayai ucapanmu bahwa Alpha adalah panggilan sayang dari keluargamu.""Maafkan aku, Cla. Aku terpaksa melakukan itu sambil menunggu waktu yang tepat untuk mengatakannya. Karena aku sendiri bingung bagaimana menjel

  • Coworkerku Alpha   Bab 47

    Tubuh Vesvera ambruk. Darah hitam keluar dari mulut, hidung dan pori-pori kulitnya. Gideon segera mengangkat kakaknya, mendudukkannya bersender pada dinding gua, lalu membantu menyalurkan energi nya. Setelah tubuh Ve stabil, ia segera membaringkannya. Vesvera benar-benar kehilangan seluruh tenaganya demi merajut sihir segel di tubuh putrinya. Tidak lama berselang Vesvera membuka matanya. Gideon membantu kakaknya meminum ramuan yang ia buat. "Bagaimana segel yang aku buat, Gid?" tanya Vesvera, karena dia belum sempat melihat hasil akhirnya, keburu ambruk. "Kamu berhasil, Ve. Tanda itu sudah aktif mengurung energy Moon Goddes." Gideon menggendong Clara kecil lalu menyerahkannya pada Vesvera. Vesvera memeperhatikan tanda berbentuk kelopak bunga purple saxifie yang melingkari tanda bulan sabit di leher putrinya. "Maafkan ibu, sayang. Semua demi keamananmu. Mulai sekarang tidak akan ada yang mengenali energimu ini." "Lalu apa rencanamu selanjutnya, Ve?" "Aku butuh istirahat dulu se

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status