로그인Tres años de matrimonio, y Cecilia estuvo junto a su esposo en todo el tratamiento por su disfunción eréctil, tres años viviendo como una viuda en vida, sin una sola queja. Lo que recibió a cambio no fue el arrepentimiento de su esposo, sino una traición: él se enredó con su propia psicóloga. Le susurraba palabras de amor mientras se hundía en el placer físico que le daba su amante. Y ni siquiera pensaba que estuviera engañándola, estaba convencido, con total firmeza, de que aquello era parte del tratamiento. También estaba seguro de que Cecilia jamás lo dejaría. Lo que no sabía era que Cecilia ya lo había engañado para que firmara el divorcio, y que llevaba tiempo reuniendo pruebas en secreto para destruirlo a él y a su amante. La pasión de Cecilia era la perfumería, pero para Leonardo, su sueño no era más que andar perdiendo el tiempo. Hasta que un día ella apareció bajo los flashes, coronada como la reina de los perfumes de la que todos los medios hablaban, y junto con eso salió a la luz su otra identidad secreta. Fue entonces cuando Leonardo entendió que la esposa que siempre había menospreciado era esa inversionista misteriosa y esquiva con la que él tanto había querido asociarse sin lograrlo. Leonardo, consumido por el arrepentimiento, se arrodilló para suplicarle que volviera: —Cecilia, me equivoqué. ¡Dame una oportunidad más! Cecilia soltó una risa fría: —Te ves mucho mejor arrepentido ahora que cuando me traicionaste. El desgraciado no se dio por vencido. Compró el estudio de al lado y todos los días le llevaba un desayuno preparado por él mismo: —Puedo esperarte, un año, dos años, o toda la vida. Sebastián, el gran magnate, tomó la bandeja del desayuno y la tiró directo a la basura. La tomó por la cintura y declaró con firmeza: —Lárgate. Mi mujer no es para que andes detrás de ella. Pasó de ser la esposa abandonada, condenada a una viudez en vida, a ser la mujer consentida y adorada por el hombre más poderoso. De un matrimonio destrozado, a un hombre que hizo suyos sus sueños. Cecilia lo entendió por fin: el amor de verdad nunca te obliga a mirar atrás.
더 보기Bab 1
Pukul tujuh malam, Kediaman Miller terasa sunyi dan menekan.
Meski shiftnya sebagai pelayan baru sudah berakhir, Lila Laven masih harus bekerja. Ia butuh uang secepat mungkin.
Gadis berusia 26 tahun dengan kulit putih bersih dan rambut hitam pekat yang sedikit bergelombang tergerai di punggung itu, menyeka keringat tipis di pelipisnya.
Ia mengenakan seragam pelayan berwarna hitam dan putih yang kontras dengan matanya yang bulat dan ceria, kontras pula dengan beban yang dipikulnya.
Ibunya, Susan, terbaring lemah karena kanker dan butuh operasi segera. Biayanya? 1,5 Milyar. Sebuah angka yang mencekik.
Sudah seminggu ia menggantikan ibunya di rumah megah Jonathan Miller, 49 tahun, seorang pengusaha duda yang selalu bersikap ramah, meski matanya terkadang memancarkan sorot aneh.
Memiliki dua pekerjaan sekaligus, pelayan di siang hari di kediaman Miller dan pelayan di bar eksklusif di tengah malam membuat Lila berjalan di atas benang tipis kelelahan.
Malam ini, ia mendapat tugas membersihkan kamar tamu yang jarang dipakai, yang terletak di ujung koridor lantai dua. Ruangan itu gelap dan sedikit berdebu, dimana terlihat jika yang empunya rumah memang tidak punya tamu. Lila mengambil kemoceng dan mulai membersihkan. Ia bergumam pelan, mencemaskan shiftnya di bar.'Ya Tuhan, dari mana aku dapat uang untuk pengobatan Ibu?'
Tiba-tiba, suara pintu depan dibanting dengan keras menggema di kesunyian malam. Langkah kaki berat, cepat, dan tergesa-gesa memecah kesunyian. Langkah itu bukan langkah Tuan Miller. Langkah ini terlalu tegap, terlalu cepat, dan memancarkan aura bahaya. Jantung Lila mencelos. Ia menahan napas, mengira ada perampok. Ia segera meringkuk di balik tirai tebal yang menutupi jendela besar kamar tamu. Pintu kamar itu didorong terbuka dengan sebuah hentakan keras. Bukan perampok. Seorang pria bertubuh tinggi tegap, berbalut setelan mahal yang sedikit kusut, berdiri di ambang pintu. Pria tampan yang baru pertama kali ia lihat, wajahnya tertekuk, rahangnya mengeras, dan mata hitamnya memancarkan kemarahan yang mencekam. Nafasnya terdengar memburu. Lila tidak dapat melihat dengan jelas. “Siapa pria itu?” batinnya, menggigit bibir bawahnya, kedua tangannya mencekam erat pakaian seragam pelayannya. Sedangkan pria tersebut tidak menyadari kehadiran Lila di balik tirai. Ia berjalan gontai menuju ranjang king size di tengah ruangan, mencampakkan tas kerja mewahnya, lalu menyentuh keningnya yang berdenyut. Dia baru saja selamat dari jebakan yang nyaris merenggut nyawanya dalam perjalanan pulang. Kini badannya terasa begitu panas. Ada yang aneh. “Shit! Aku lengah!” geram pria yang merupakan pemilik asli rumah ini. Dia Adalah Oliver James Monfalco, pria berusia 33 tahun. Pria yang terkenal begitu dingin dan di takuti di kalangan para pebisnis dan dunia bawah tanah. Pria yang misterius, tidak pernah menunjukkan jati dirinya di muka public. Saat Oliver mulai melonggarkan dasinya, mata tajamnya menangkap gerakan halus di balik tirai jendela. Ia melihat bayangan tubuh mungil di sana. Mata Oliver seketika berubah dari lelah menjadi tajam dan dingin. Ia tahu betul rumah ini seharusnya kosong saat ini. "Siapa di sana?!" suaranya serak, menusuk. Lila tersentak, lalu perlahan keluar dari persembunyiannya. Ia menunduk takut, jari-jarinya meremas gagang kemoceng. "M-maaf, Tuan. Saya pelayan baru, saya sedang membersihkan kamar ini." Oliver melangkah maju. Satu langkahnya sudah cukup membuat Lila mundur dua langkah. Ia mengamati Lila dari ujung kaki hingga kepala. Tubuh indah di balik seragam pelayan, payudara ranum yang menekan kain, bibir tipis yang bergetar. Wajah polos dan ketakutan itu entah mengapa menarik perhatiannya, memicu sesuatu yang gelap di dalam dirinya. "Pelayan?" Oliver mendengus dingin. "Jonathan sudah bosan dengan pelayan tua dan menggantinya dengan... mainan baru?" Lila mendongak, matanya memancarkan amarah tipis. "Saya tidak mengerti maksud Anda, Tuan. Saya disini menggantikan ibu saya." Oliver tidak peduli. Tidak ada orang yang ia percayai di dunia ini. Ia hampir saja celaka dan situasi saat ini bukannya seperti jebakan yang tertunda. Pria ini haus akan kendali, dan Lila, yang tampak kecil tak berdaya, adalah target yang sempurna. Setidaknya ia berada di kediamannya saat ini. Dan semua berada di bawah kendalinya, termasuk pelayan kecil yang ada di depannya. Dalam sekejap, Oliver menghapus jarak di antara mereka. Ia meraih lengan Lila dengan cengkeraman baja, menyeret tubuh mungil itu menuju tempat tidur. "Lepaskan! Tuan, apa yang Anda lakukan?!" Lila meronta, suara cerianya berubah menjadi jeritan tertahan. Oliver menindih tubuh Lila di atas ranjang empuk. Nafasnya yang panas menerpa telinga Lila. Membuat pelayan cantik itu memukul-mukul dada Oliver, tapi tenaganya tidak berarti apa-apa. "Diam." Perintah Oliver rendah, dingin, dan tegas. Dia mencengkeram rahang Lila, memaksa wanita itu menatap matanya. Kemudian, ia mencium Lila. Ciuman brutal, kasar, seperti menuntut pengakuan dari tubuhnya. Lila merasakan sakit di bibirnya, bercampur dengan aroma whisky dan parfum mahal pria asing yang kini menindihnya. Saat Lila berusaha memalingkan wajah, Oliver berbisik, nadanya terdengar seperti seorang diktator yang tengah menawarkan amnesti. "Kau butuh uang, bukan?" Oliver menarik diri sedikit, matanya yang kelam menatap langsung ke mata bulat Lila yang kini berkaca-kaca. Lila terkejut. "Ba-bagaimana Anda tahu?" "Semua pelayan di rumah ini butuh uang. Tapi kau," Oliver menjilat sudut bibirnya, tatapannya menyapu setiap lekuk tubuh Lila. "Kau terlihat sangat putus asa." Oliver menyelipkan tangan ke saku celananya, mengeluarkan dompet tebal, dan melemparkan selembar cek yang sudah ditandatangani ke atas bantal di samping kepala Lila. "Tiga ratus juta. Dan layani aku malam ini, sekarang juga."Después, Cecilia fue a una relojería.Sacó el reloj de bolsillo y explicó el motivo de su visita.El relojero lo examinó un buen rato y negó con la cabeza.—Esto tiene que llevarlo a un lugar especializado en extracción de tarjetas. Los relojes que vendo aquí no tienen tarjeta de memoria, así que no tengo las herramientas para sacarla. Si se la rompo al intentarlo, ¿quién se hace responsable?Cecilia pensó que tenía razón.Después de buscar por varios lugares, terminó llegando a una empresa de software.Después de un buen rato de trabajo, finalmente lograron sacar la tarjeta, pero lo que temía terminó pasando.Esa delgada tarjeta de memoria, por haberse mojado, todavía podía ser reconocida, pero los archivos que contenía estaban dañados.Al final dejó la tarjeta ahí, pidiéndole al ingeniero que intentara repararla.En cuanto lograran repararla, la llamarían de inmediato.A las cuatro de la tarde, Leonardo no faltó a la cita y llegó puntual con el auto frente al estudio de Cecilia.Ceci
Rocío se apresuró a tomar el reloj de bolsillo y mintió descaradamente:—Es mío.Al ver lo mucho que le importaba ese reloj, Cecilia se convenció aún más de que dentro de él se escondía algún secreto.—Doctora Rocío, ese reloj es claramente mío, ¿cómo es que ahora es suyo?Cecilia habló con severidad.—Si insiste en que este reloj es suyo, entonces podemos comprobarlo en la oficina del Señor Sebastián. Mi reloj tiene una tarjeta de memoria dentro. La sacamos y vemos si lo que hay ahí dentro es suyo o mío.La mano con la que Rocío sujetaba el reloj delató claramente su inquietud.Cuanto más nerviosa se ponía, más se confirmaban las sospechas de Cecilia.Después de todo, era experta en psicología. Después del pánico inicial, Rocío se recompuso rápidamente.Si de verdad hubiera algo en ese reloj, Cecilia ya lo habría sacado a relucir anoche frente a toda la familia Chaves.¿Por qué esperar hasta ahora?Estaba intentando engañarla a propósito.Pero tampoco podía estar segura de que no hubi
Para evitar que Leonardo volviera a presionar a Cecilia para que se disculpara, Sebastián se levantó.—Está bien. Ya que el Señor Leonardo vino personalmente a disculparse, dejaré pasar el asunto. Pueden irse.Al escuchar eso, Leonardo se puso contento de inmediato y se levantó también, pero aprovechó para pedir más.—Sabía que el Señor Sebastián era un hombre que sabía dejar pasar las cosas. Entonces, sobre lo de comprar acciones de Grupo Horizonte...Sebastián apretó los puños y respondió con tono sombrío.—Solo lo mencioné. No he hecho nada al respecto.Al obtener la respuesta que quería, Leonardo sonrió encantado.—Bien, bien, entonces no lo molestamos más, Señor Sebastián, ya nos vamos.Justo cuando los tres se disponían a salir.Sebastián habló de repente.—Señorita Cecilia, quédese un momento. ¿Usted se inscribió en el concurso de perfumería de Grupo Oran? Tengo un par de cosas que preguntarle.Leonardo no sabía nada de que Cecilia se había inscrito en el concurso de perfumería.
Lo que Rocío miraba fijamente era la muñeca de Sebastián.Llevaba puesto un reloj de lujo cuyo nombre no reconocía, pero le resultaba extrañamente familiar. Le parecía haberlo visto en alguna parte.Hizo memoria, tratando de recordar dónde lo había visto antes.Por su parte, Leonardo también se recuperó de su sorpresa. La actitud que Sebastián había tenido hacia Rocío hacía un momento realmente lo había dejado perplejo.No lograba entender qué pretendía con ese cambio de mostrarse cortés para luego ponerse tan duro.Volvió a hablar con sinceridad.—Señor Sebastián, aquel día todo fue culpa mía, le pido disculpas sinceras. Espero que, considerando que hoy vine personalmente con mi esposa a disculparme, me perdone esta vez. De ahora en adelante seré más cuidadoso con mis palabras, nunca más volveré a ser tan arrogante.Mientras Leonardo decía todo eso, Sebastián ni siquiera lo escuchaba.Aunque Cecilia se había cambiado de ropa, la que llevaba debajo seguía húmeda. Tampoco había tenido t






Bienvenido a Goodnovel mundo de ficción. Si te gusta esta novela, o eres un idealista con la esperanza de explorar un mundo perfecto y convertirte en un autor de novelas originales en online para aumentar los ingresos, puedes unirte a nuestra familia para leer o crear varios tipos de libros, como la novela romántica, la novela épica, la novela de hombres lobo, la novela de fantasía, la novela de historia , etc. Si eres un lector, puedes selecionar las novelas de alta calidad aquí. Si eres un autor, puedes insipirarte para crear obras más brillantes, además, tus obras en nuestra plataforma llamarán más la atención y ganarán más los lectores.
리뷰