Mag-log in"Kamu!" Wanita itu langsung menghampiri Sarah dan menarik rambutnya.
"Aduh!" Sarah mengerang kesakitan sembari berupaya melepaskan cengkeraman tangan wanita tersebut yang menarik rambutnya dengan kuat. “Oh, jadi ini wanita simpanan kamu?!” Di belakang wanita itu, seorang perempuan lain sudah mengeluarkan ponselnya. Kamera diarahkan tepat kepada Sarah. “Dasar pelakor! Perempuan murahan!” “Bu, lepaskan saya!” Sarah akhirnya berhasil melepaskan tangan wanita itu dari rambutnya. “Saya bukan perempuan seperti itu!” Sarah membenarkan rambutnya yang berantakan. "Saya datang ke sini karena mendapat undangan untuk wawancara. Suami Ibu yang justru mencoba merayu saya!" Sarah mencoba menjelaskan. “Alah! Kamu yang kegatelan sama suami orang!” Wanita itu kembali hendak menjambak rambut Sarah, tetapi Sarah berhasil menghindar. “Kalau Ibu tidak percaya, ayo kita ke kantor polisi. Kita jelaskan semuanya di sana.” Sarah sama sekali tidak merasa bersalah. Ia yakin tidak melakukan apa pun. “Tidak perlu!” Wanita itu mengangkat ponselnya. “Saya sudah punya bukti. Saya akan viralkan kamu!” “Ibu tidak bisa sembarangan menuduh saya!” ucap Sarah yang mulai kehilangan kesabarannya. “Kita lihat saja nanti siapa yang hancur.” Wanita itu menunjuk wajah Sarah. “Jangan harap kariermu masih bisa diselamatkan setelah semua orang tahu siapa kamu!” Sarah terdiam.Ucapan itu terasa seperti ancaman. Wanita tersebut kembali hendak memukul Sarah, tetapi Hadi segera menghalanginya. Kemudian Hadi menoleh kepada Sarah.“Kamu keluar sekarang !!.” Sarah menatapnya tidak percaya. “Bapak yang mengundang saya ke sini !.” “Keluar!” Sarah mengepalkan tangannya. Ia ingin membantah, tetapi percuma. Tanpa mengatakan apa-apa lagi, Sarah berbalik dan meninggalkan rumah tersebut. Begitu masuk ke mobil, Sarah langsung menghela napas panjang. Sarah merapikan rambutnya dengan tangan. “Jelas-jelas suaminya yang gatal.” Ia mengambil ponsel lalu mengirim pesan kepada atasannya. Pak Rudi, saya terkena masalah. Ketik Sarah. Pesan tersebut hanya menunjukkan satu centang. Mungkin Pak Rudi sedang sibuk. Pagi harinya, Sarah terbangun karena suara getaran ponsel yang tidak berhenti. Ia meraba-raba meja di samping tempat tidur dan mengambil ponselnya. Panggilan masuk dari salah seorang kru. Sarah mengangkatnya dengan suara serak. "Halo?" "Mbak Sarah, sudah lihat media sosial?" tanya seseorang dari seberang telepon. “Belum. Memangnya kenapa?” Sarah mengerutkan dahi. “Coba buka sekarang, Mbak.” Baru saat itulah ia menyadari ada puluhan notifikasi memenuhi layar ponselnya. Beberapa panggilan tak terjawab dari Pak Rudi juga terlihat di sana. Sarah membuka salah satu tautan yang dikirim rekan kerjanya. Matanya langsung membelalak. Video itu menampilkan dirinya saat dijambak oleh istri Hadi. Namun, yang membuat wajah Sarah pucat bukan videonya. Melainkan judul yang terpampang di atasnya. PRESENTER TERKENAL DIDUGA JADI PELAKOR! Sarah terdiam. Ia membaca komentar yang terus bertambah. Pantas saja cantik, ternyata begini kelakuannya. Artis sekarang memang begitu. Sudah tahu suami orang masih didekati. Blacklist presenter seperti ini! Tangan Sarah mulai gemetar. Ia segera menelepon Pak Rudi. “Halo, Pak.” “Sarah, kamu sudah lihat beritanya?” “Sudah, Pak. Tapi beritanya tidak seperti itu. Saya dijebak. Saya datang ke rumah itu karena mendapat undangan untuk urusan pekerjaan.” Pak Rudi terdiam beberapa saat. “Sarah…” “Iya, Pak?” “Datang ke kantor sekarang.” Sarah menelan ludah. “Baik, Pak.” Sesampainya di kantor, Sarah berjalan tergesa-gesa. Begitu pintu lift terbuka, ia langsung merasakan suasana yang berbeda. Beberapa orang yang biasanya menyapanya kini hanya melirik, kemudian mengalihkan pandangan. Bahkan percakapan kecil di sudut ruangan mendadak berhenti ketika Sarah melewati mereka. Sarah berusaha bersikap profesional, meskipun ia menyadari adanya kejanggalan. Tatapan rekan-rekan kerjanya di stasiun TV terkesan menyelidik, mengindikasikan bahwa insiden viral antara dirinya dan istri pejabat tersebut telah tersebar. Sarah membuka pintu. Rupanya, di dalam ruangan sudah ada beberapa petinggi dari ME TV. Tidak ada satu pun wajah yang tersenyum. Beberapa orang bahkan terlihat serius menatap berkas di hadapan mereka. Jantung Sarah mulai berdegup kencang. Ia menyadari ada sesuatu yang besar yang akan dihadapinya. Di depan meja besar dan panjang itu, Sarah duduk seperti seorang terdakwa yang sedang menjalani persidangan. Ia mengatur napas, berusaha menenangkan dirinya. Lalu, Pak Rudi mulai berbicara. “Sarah, ceritakan kejadian yang sebenarnya.” Semua mata menatap ke arah Sarah, menunggu jawabannya. Sarah kemudian menjelaskan kejadian yang sebenarnya dan menceritakan segalanya dari awal. Setelah Sarah selesai berbicara, suasana kembali hening. Kemudian, asisten direktur membisikkan sesuatu ke telinga Pak Rudi. Pak Rudi mengangguk kecil sebelum kembali menatap Sarah. “Baik, Sarah. Kami sudah mendengar cerita versi kamu. Tapi berita ini sudah terlanjur viral. Kamu juga mungkin sudah membaca komentar-komentar di akun resmi ME TV. Meski kita sudah memberikan klarifikasi awal, netizen sudah terlanjur termakan berita yang beredar di luar sana.” Pak Rudi menarik napas sebelum melanjutkan. “Dan untuk menjaga situasi tetap kondusif, maka dengan berat hati kami memberhentikan Saudari Sarah sebagai presenter ME TV di acara apa pun, terhitung mulai besok.” Sarah terdiam. Beberapa detik ia hanya menatap Pak Rudi, seolah-olah sedang mencoba memahami kalimat yang baru saja didengarnya. “Maaf, saya tidak terima ini. Saya tidak bersalah. Saya tidak melakukan hal yang dituduhkan!” Suara Sarah mulai meninggi. Emosinya tak lagi bisa disembunyikan. “Baik, Sarah. Kami mengerti.” Pak Rudi mencoba menenangkan. Mohon dipahami bahwa istri pengusaha tersebut berasal dari keluarga yang memiliki pengaruh sangat besar di negeri ini. Kami mengharapkan pengertian Anda, karena jika hal ini berdampak pada ME TV, kami mengkhawatirkan nasib rekan-rekan yang lain. Sarah berusaha menjelaskan posisinya, namun ia menyadari bahwa perdebatan lebih lanjut tidak akan memberikan hasil yang berarti. Ia kemudian menundukkan kepala dengan bahu yang perlahan melemah. Sarah merasa bahwa saat ini merupakan akhir dari karier yang telah ia bangun selama ini. Sarah kemudian keluar dari ruangan tersebut dan berjalan menuju meja kerjanya, lalu mulai memasukkan barang-barangnya ke dalam dus satu per satu. Tangannya berhenti ketika mengambil sebuah foto lain yang terletak di sudut meja. Foto dirinya saat pertama kali menjadi presenter di ME TV. Ia masih ingat betapa bahagianya dirinya ketika akhirnya mendapatkan posisi yang selama ini diimpikannya. Beberapa rekan menghampirinya. “Yang sabar, Sar. Semoga semuanya segera membaik.” “Terima kasih.” Sarah hanya tersenyum tipis. Namun, tidak semua orang datang untuk memberinya semangat. Tak sedikit rekan yang justru merasa senang melihat kejatuhannya. Ia menatap kotak berisi barang-barang dari kantornya yang diletakkan di dekat sofa. Hari ini, ia kehilangan pekerjaan. Dan ia bahkan tidak tahu apa yang akan dilakukannya besok. Tiba-tiba, ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor tak dikenal.“Aku mau pergi bekerja di kantor Ayah,” jawab Adrian mantap. Sarah melongo sesaat. Sedetik kemudian, kedua telapak tangan Sarah terangkat. Ia mulai bertepuk tangan pelan sambil tersenyum lebar, menatap Adrian dari ujung kepala hingga ujung kaki. “Wah, wah. Lihat siapa yang akhirnya mau keluar dari zona nyaman,” puji Sarah. Nada suaranya memang terdengar sedikit mengejek, namun ada binar kehangatan dan ketulusan yang manis di matanya. “Akhirnya anak emas Ayah sadar kalau dia harus punya penghasilan sendiri.” Mendengar pujian bernada ledekan manis dari Sarah, dada Adrian mendadak berdesir hangat. Rasa gugup yang sempat ia rasakan sejak bangun subuh tadi langsung menguap, berganti dengan suntikan semangat yang membara di dalam hatinya. Ledekan Sarah adalah bahan bakar terbaiknya hari ini. Rupanya, Sarah tidak tahu apa yang terjadi dua hari lalu. Setelah kalimat tajam Sarah tentang Ben dan isi hatinya malam itu, Adrian tidak bisa tidur dengan tenang. Keesokan harinya, tanpa member
“Halo. Apa Sarah-nya ada di dalam?”Adrian mengernyitkan kening. Belum sempat ia menjawab, langkah kaki terburu-buru terdengar dari arah dalam. Sarah muncul dengan wajah penasaran. Namun, begitu matanya menangkap sosok pria di depan pintu, Sarah langsung mematung. “Ben?” gumam Sarah, suaranya bergetar halus. Pria tinggi bernama Ben itu tersenyum lebar, matanya berbinar menatap Sarah. Ben adalah mantan kekasih Sarah yang dulu dipacarinya selama dua tahun. Mereka putus secara sepihak karena waktu itu Ben memilih untuk fokus belajar dan bekerja di luar negeri, meninggalkan Sarah begitu saja. Namun, setelah bertahun-tahun di negeri orang, Ben baru menyadari satu hal, Sarah adalah wanita yang tidak bisa digantikan oleh siapa pun. Pandangan Ben kemudian turun dan menangkap sosok Adrian yang berdiri protektif di ambang pintu. Kilat kekecewaan yang sangat besar langsung melintas di wajah tampan Ben saat Sarah dengan canggung memperkenalkan
Begitu Adrian membuka pintu kamar untuk keluar, langkahnya langsung terhenti karena terkejut. Sang ayah sudah berdiri tepat di depan pintu sambil membawa sebuah nampan kayu yang berisi menu sarapan lengkap yang masih mengepulkan asap hangat. “Loh, Ayah? Ngapain di sini?” tanya Adrian bingung. Ayahnya langsung menyodorkan nampan tersebut ke dada Adrian. “Ini, bawa masuk kembali ke dalam. Kasih sarapan ini untuk Sarah di tempat tidur.” Adrian refleks memundurkan badannya dan menolak. “Gak usah, Yah. Nanti Sarah bisa turun sendiri buat sarapan di meja makan bawah.” “Nggak ada bantahan! Ayah sengaja buatkan ini untuk menantu Ayah,” paksa sang ayah, terus menyodorkan nampan itu dengan mata melotot jenaka sampai Adrian terpaksa menerimanya. “Sana bawa masuk!” Mau tidak mau, Adrian berbalik dan kembali ke dalam kamar dengan nampan di tangannya. Ia menaruh nampan itu di nakas, lalu duduk di tepi ranjang. Ia mengulurk
Begitu pintu kamar khusus pengantin baru itu ditutup dari dalam, kegelisahan mereka langsung meledak.“Adrian, emangnya kamu nggak bisa tidur di kamar lamamu sendiri saja?” protes Sarah dengan suara berbisik yang tertahan. Ia mondar-mandir di dekat lemari pakaian.Adrian menggelengkan kepala pasrah. “Nggak bisa, Sarah. Ayah pasti mengawasi. Kalau lampu kamar lamaku menyala atau aku ketahuan keluar dari sini, penyamaran kita bisa berantakan malam ini juga.”Adrian kemudian menyipitkan matanya. Ia mulai berjalan mengelilingi ruangan, memeriksa pot tanaman, sela-sela bingkai foto, hingga bagian bawah lampu meja.“Kamu ngapain, sih?” tanya Sarah heran melihat tingkah aneh lak-laki itu.“Memeriksa seluruh kamar. Siapa tahu Ayah memasang kamera tersembunyi. Aku tahu betul sifat Ayah yang suka penasaran,” bisik Adrian serius.Sarah langsung menepis tangan Adrian yang sedang meraba bagian atas cermin. “Nggak mungkin! Jangan paranoid deh,
Ketegangan yang sunyi itu berlanjut sepanjang perjalanan di dalam pesawat menuju Jakarta. Begitu duduk di kursi kabin, Adrian langsung memasang earphone, memutar musik dengan volume yang tampaknya cukup keras, lalu memejamkan mata. Sepanjang penerbangan berjam-jam, ia hanya bolak-balik tertidur dan sama sekali tidak mengajak Sarah mengobrol.Sarah yang duduk di sampingnya menjadi bingung sendiri. Ia ingin memulai percakapan, tetapi ekspresi Adrian yang datar membuat keberaniannya menciut. Rasa bersalah membuat dada Sarah terasa semakin sesak.Sesampainya di Bandara Soekarno-Hatta, sopir pribadi utusan Ayah sudah menunggu di area penjemputan. Mereka berdua langsung masuk ke dalam mobil untuk menuju rumah keluarga Adrian guna melaporkan "bulan madu" mereka kepada sang ayah.Begitu mobil bergerak membelah jalanan Jakarta, keajaiban terjadi, Adrian perlahan melepaskan earphone-nya, menarik napas panjang, dan mendadak menoleh ke arah Sarah dengan raut wajah yan
Beberapa jam kemudian, Adrian terbangun. Tubuhnya terasa jauh lebih segar meski otot-ototnya masih sedikit kaku. Saat berjalan ke ruang tengah untuk mencari air minum, matanya menangkap deretan wadah makanan yang tertutup rapi di atas meja. Di sampingnya, ada secangkir kopi hitam yang aromanya masih tercium kuat.Adrian mendekat, membuka salah satu wadah, dan langsung mengenali menu penambah stamina tersebut. Sudut bibirnya perlahan terangkat. Sebuah senyuman lebar, yang kali ini terasa sangat tulus dan geli, terukir di wajahnya.“Galak, tapi perhatian juga ternyata,” batin Adrian senang.Sambil menyuap makanannya, ia mengambil ponsel dan mengetik pesan singkat untuk Sarah.Adrian: Terima kasih makanannya. Staminaku sudah kembali 100%.Lima belas menit berlalu, tidak ada balasan. Adrian kembali mengetik pesan baru.Adrian: Hari ini laporan foto bulan madunya mau dilanjut ke mana? Aku sudah siap jadi fotografer pribadimu.Cukup lama Sarah membiarkan pesan itu menggantung tanpa jawaban.







