LOGINStella Cruz isang mabuting anak at panganay sa magkakapatid pangarap niyang makapag tapos ng pag-aaral at maiahon sa hirap ang kanyang pamilya. At gagawin niya ang lahat para lamang matulungan ang pamilya niya kahit na ibenta niya ang kaniyang sarili sa mayamang bilyonaryo na si Timothy Smith, kakapit siya sa patalim mag o-offer ito na siya na ang bahalang mag finance ng lahat ng pangangailangan ng pamilya niya ngunit hindi ito libre, may kasunduan sila na magiging mistress siya nito at pupunan niya ang init at kaligayahang gusto nito. Paano kong makilala niya ang lalaking magpapatibok ng kaniyang puso, ano ang gagawin niya? gayong nakatali na siya at pag-aari ng isang Timothy Smith At sa pag pag dating ng mag-amang Henry Saavedra at Dwight sa buhay niya ano kayang magiging papel nang matandang bilyonaryo at ng anak nito. Paano kong mahulog ang kaniyang loob kay Dwight, hanggang kailan kaya nila mapapanindigan ang bawal na pag-ibig at ang mga nakaw na sandali na sila lang ang tanging nakaka alam..
View MoreWanita mana yang tidak akan bahagia saat bisa hamil setelah penantian lima tahun lamanya. Dan sekarang, hal itu dirasakan oleh Maira.
Namanya Maira Nayara Adisti. Sejauh ini, Maira merasa menjadi wanita yang paling beruntung di dunia. Punya suami baik, kaya raya, dan mencintainya meskipun Maira susah hamil. Sekarang kebahagiaan Maira bertambah saat dokter mengatakan dirinya tengah hamil tiga minggu. “Mas Revan pasti seneng banget saat tau aku hamil.” Sepanjang berjalan di depan ruangan dokter kandungan, Maira tak hentinya tersenyum sambil meraba perut ratanya. Setelah penantian yang begitu lama, akhirnya sekarang Maira bisa memberi sang suami gelar seorang ayah. “Sayang, pelan-pelan jalannya!” Deg! Tubuh Maira membeku ketika melihat seseorang yang amat ia percaya dan selama ini ia kira adalah pria terbaik di dunia, kini sedang berjalan di depan sana menuntun seorang wanita asing. “I-itu nggak mungkin Mas Revan kan?” gumam Maira, mencoba menolak kenyataan di depan matanya. Namun saat sepasang manusia itu semakin dekat, Maira semakin yakin pria itu memang suaminya. Ia tidak mungkin salah mengenali seseorang yang sudah bertahun-tahun hidup bersamanya — dari suara, aroma parfum, hingga postur tubuhnya, semua terlalu familiar. “Tenang aja, Mas. Kata dokter kandungan aku udah lewat tiga bulan, jadi harusnya udah jauh lebih aman kan?” Wanita yang terlihat lebih muda dari Maira itu tersenyum bahagia menikmati perhatian dari lelaki yang Maira panggil suami. Senyum bahagia Maira langsung redup. Orang yang paling ia percayai, orang yang ia cintai, kini sedang memanjakan wanita lain. “Tadinya aku mau kasih dia kejutan, tapi malah aku yang dapat kejutan.” Dada Maira terasa sesak. Pria yang selama ini bersikap manis padanya, ternyata juga bersikap sama pada wanita lain. “Tetap aja aku nggak tenang. Kamu tunggu di sini, biar aku aja yang ambil vitamin dari dokter,” ujar Revan sambil menuntun wanita itu duduk. Begitu Revan pergi, Maira buru-buru bersembunyi. Ia tidak mau bertemu dengan suaminya dalam situasi seperti ini. ‘Kenyataan macam apa ini, Tuhan? Di saat aku ingin memberinya kejutan tentang kehamilan ini, kenapa dia malah datang ke rumah sakit untuk memeriksa kehamilan selingkuhannya?’ Maira membekap mulutnya, menahan jerit dalam hati. Rasa sakitnya luar biasa saat tahu suaminya bukan hanya berselingkuh, tapi juga menghamili wanita lain. Dia Revan Pradipta, pengusaha muda yang sukses. Banyak wanita memimpikan menjadi istrinya. Revan dan Maira menikah lima tahun lalu, di usia yang masih muda — dua puluh empat tahun — karena cinta. Tapi sekarang, Maira merasa dibodohi. Lima tahun hidupnya sia-sia bersama pria pembohong dan tukang selingkuh. Ketika Revan sudah pergi, Maira keluar dari persembunyiannya. Ia menatap wanita yang tengah mengandung benih suaminya dari kejauhan. Wanita itu — Riri — bahkan tersenyum remeh sambil mengusap perutnya yang sudah menonjol, seolah mengejek ketidakmampuan Maira. “Dia pasti tau aku,” gumam Maira sinis. Mana mungkin tidak. Semua orang di kota ini tahu bahwa Maira adalah istri Revan. Mereka sering menjadi sorotan media karena keharmonisan rumah tangganya dan karier gemilang sang suami. Tidak ingin berurusan dengan si pelakor itu, Maira pergi dengan elegan. Untuk anak yang sedang ia kandung, Maira bersumpah tidak akan memberitahu Revan soal kehamilannya. “Nggak ada maaf untuk seseorang yang selingkuh. Rasa sakit ini akan aku pendam sendiri, Mas.” Maira menghapus kasar air matanya. Meskipun bibirnya mengutuk suaminya ribuan kali, nyatanya hatinya tak bisa bohong. Ia masih mencintai Revan — dan itu yang paling ia benci dari dirinya sendiri. ***** Kenyataan pahit yang Maira lihat siang tadi masih menghantui pikirannya hingga larut malam. Pukul satu pagi, Revan belum juga pulang. “Pasti Mas Revan lagi sama wanita itu,” lirih Maira sembari menatap nanar foto pernikahan mereka yang terpajang di dinding kamar. Ia berdiri di depan foto itu, menatap wajah bahagianya sendiri lima tahun lalu. “Sejak kapan, Mas? Sejak kapan kamu mengkhianati pernikahan kita?” Air mata kembali jatuh. Matanya bengkak, jiwanya runtuh. Ceklek! Pintu kamar terbuka, menampilkan Revan dalam keadaan berantakan. ‘Tuhan, apakah suamiku baru saja menghabiskan malamnya dengan wanita itu?’ “Loh, Sayang. Kenapa belum tidur?” tanya Revan lembut, lalu melingkarkan lengannya di pinggang Maira. “Ini udah malam, nggak biasanya kamu belum tidur jam segini.” Maira memejamkan mata. Sikap lembut itu — yang dulu membuatnya jatuh cinta — kini terasa seperti racun. “Aku nggak bisa tidur, Mas. Banyak sekali yang terjadi hari ini,” ucap Maira lirih, menahan amarah yang hampir pecah. “Kenapa, Sayang? Ada masalah apa? Coba cerita sama aku,” bisik Revan sambil menciumi lehernya. “Bukan masalah besar, Mas. Oh ya, kamu darimana jam segini baru pulang?” “Abis lembur di kantor, Sayang.” Maira tahu itu bohong besar. Leher Revan dipenuhi bekas merah seperti polkadot. “Kamu masih ingat kan, Mas, kenapa aku susah buat hamil lagi?” tanya Maira tiba-tiba. “Seumur hidup aku nggak akan lupa, Sayang,” jawab Revan sambil mempererat pelukan. Revan sangat menyayangi Maira, hanya Maira yang ia cintai — setidaknya itu yang selalu ia katakan. Tapi entah alasan apa yang membuatnya tetap berselingkuh dengan Riri. “Kalau waktu itu kamu nggak mabok, kita nggak akan kecelakaan. Mungkin sekarang anak kita udah usia empat tahun,” lirih Maira. Lima tahun lalu, Maira tengah hamil delapan bulan. Mereka menghadiri acara bisnis, dan di sana Revan dijebak minum alkohol sampai mabuk berat. Maira sudah ingin menyetir sendiri, tapi Revan bersikeras mengemudi. Akhirnya, mereka menabrak pohon besar. Benturan keras menghantam perut Maira yang besar, membuat bayi mereka tak terselamatkan. Sejak itu, ia sulit untuk hamil lagi. Dan kini, di saat keajaiban itu datang, Revan justru mengkhianatinya. “Maafin aku, Sayang,” bisik Revan dengan mata memerah. Ia masih menyesali kejadian itu. “Aku sakit banget, Mas… tiap saat dituntut sama keluarga kamu buat segera punya anak. Aku capek.” “Aku ngerti, Sayang. Makanya kita nyerah aja. Nggak usah program bayi tabung lagi yang bikin kamu disuntik tiap hari.” “Terus kamu maunya kita gimana?” Maira melipat tangan di dada, berusaha menahan emosi. “Kita nyerah aja, Sayang. Kita masih bisa adopsi anak.” Maira tidak menjawab. Ia hanya naik ke ranjang dan menutupi tubuhnya dengan selimut. Ia menangis diam-diam. ‘Jelas aja kamu nyuruh aku menyerah, Mas. Kamu sudah mau punya anak dari wanita lain.’ Sementara Revan duduk termenung di sisi ranjang, menyusun rencana yang ia pikir sempurna — hidup bahagia dengan Maira dan dengan anak kandungnya juga. “Aku tidak akan membiarkan rencana itu gagal,” gumam Revan pelan.1 MONTH LATER Nang makatanggap ng tawag si Stella at gusto raw siyang interviewhin sa isang talk show. Ang Pinay Pride Empowered Women. Hindi niya alam kong sisiputin niya ba ito kasi naman nakikilala na rin ang sinimulan niyang beauty product ang La Stella Beauty. Masaya rin siya, sapagkat na grant na ng korte amg adoption niya kay Geli at ngayong may pinang hahawakan na siyang papeles hindi na siya natatakot pa kong sakaling mang gulo ang Daddy ng bata. Lumalabas kasi na inabandona niya ito at wala siyang karapatan sa custody ng bata. Kaya kahit mag habol pa siya mapapagod lang rin siya.Napag desisyunan ko na ring puntahan ang nasabing talkshow, baka kasi masabihan akong isnabera nila. Sinama ko na rin ang anak ko na tuwang tuwa sa mga bago niyang damit. "Oh! Anak, bakit ang saya mo yata ngayon?" tanong ko dito. "Wala lang po Mama, hindi lang pO ako makapaniwala sa mga nakikita ko po." wika nito."Alin po ba anak?" "Heto po, yung damit ko, bahay at kong ano ano pa po." wika niy
Hindi ko na dinala sa ospital si Katarina, kasi sa bahay pa lang niya binawian na agad. Nalulungkot ako sa nangyari sa pagkikita namin. Kasalukuyang inaayos ko ang burol niya ng tatlong araw. I tried to reach out to his ex-lover Geron, pero na realize ko bakit pa kong kailan patay na ang bezzy ko. At pinangako na aalagaan ko ang anak niya. Kaya sa huli napag desisyunan kong manahimik na lang. Kasa kasama ko si Geli at hindi ko siya ini iwan kahit kanino tinuring ko na siyang anak. May kasulatan na rin kami ng Nanay niya. Marahil handa na siya ipa legally adopt ko si Geli para wala ng habol ang Daddy nito.. Nakakatawa lang kong anong yaman nang Mayor Geron Herrera na 'yon, hindi man lang mapanagutan o sustentuhan ang kaniyang anak. Kasalukuyang nasa church kami ni Geli at kinakausap ko ang staff para doon na lang ilagak ang katawan ng Nanay ng bata. Nakita ko ang lungkot sa kaniyang mga mata na wala sa piling niya ang kaniyang Nanay. Nilapitan ko siya at niyakap, sabay bulong na; "Hwa
Nakabalik na ako ng ospital. At nauna pa ako kay Nicholo. Kasalukuyang natutulog si Henry sa room niya. Pinag masdan ko ito habang nahihimbing na natutulog. Ang layo na niya sa dating Henry na matipuno, simpatiko at makisig. Ang laki na nang binagsak ng katawan niya ngayon. Hindi ko tuloy maiwasang mapa hikbi sa sinapit nito. Sobra akong nasasaktan at naawa para dito. Kaya ng umungot ito bigla akong tumalikod at nag punas ng luha, dahil ayokong makita niya ako sa ganong kalagayan. "Stella, nar'yan ka na pala. K..Kanina ka pa ba?" tanong nito na nauutal ang pagsasalita, marahil sa mga aparatus na naka kabit dito na tumutulong sa pag hinga niya. Sabi ng doctor kasi na hindi naman 100% guaranteed ang kaniyang baterya sa puso. Pang temporary lamang ito hanggang sa maka kuha sila ng donor para sa kaniyang heart transplant.Naupo ako sa tabi niya. "Hindi naman kakarating ko lang rin. Ikaw kumusta na ang pakiramdam mo?" tanong ko at pinipigilan na mangilid ang luha sa biglang sinabi niya."
One Week LaterNgayon ang pinaka malungkot na mangyayari sa buhay ko ang pag alis ni Nicholo at Henry para ipagamot ito sa states kasalukuyang nag-aayos ng gamit si Dwight ng lumapit ako. "Ehem!" tikhim ko mula sa likuran niya para mapansin ako. Natigil ang pag eempake niya at tumingin sa akin. "Oh! Nar'yan ka pala, Stella, sino palang bantay ngayon kay Dad?" tanong nito sa akin."Ahmm! Hinabilin ko muna sa mga nurses at may kukunin lang ako dito." sagot ko naman sabay naka tunghay sa kaniya."I see." sagot naman niya. Sabay balik ng atensyon sa pag eempake."Tuloy na tuloy ka na talaga." wika at pinipigilang maiyak para naman magaan ang pag alis nito."Yes, kailangan ni Dad ng heart transplant para magpatuloy pa ang buhay niya sa mundo." wika nito."P...Pero, paano na tayo??" tanong ko hanggang sa naluha na rin ako at 'di ko mapigilan ang pagragasa ng sunod sunod ng mga luha sa aking mga mata. Kinabig niya ako palapit sa kaniya at niyakap ako ng maghigpit sabay sabi na; "Mahihinta
Nanginginig ang kamay ko nang buksan ang doorknob ng kwarto kong nasaan ang aking asawa. Hindi ko alam kong ready na ba akong maka usap siya ngayon. Pagpasok ko sa loob.."H...Henry, kumusta ka na?" tanong ko sa garagal na boses. Tinaas niya ang kanang kamay niya sabay thumbs up sign. Nilapitan ko si
STELLAOne week Later..Fully recover na ako at pa dis-charged na rin. Si Nicholo ang ang nag asikaso ng bills ko at lahat. Medyo bago ako kaka antay dito kaya naglibot libot muna ako ng bigla kongnakasalubong ng hindi sinasadya si Angelica, this time wala siyang kasama. Sinubukan kong umiwas ng makit
Nagulat si Stella ng magising at imulat ang mga mata, hindi siya pwedeng magkamali nasa ospital siya. Pero, bakit siya nandito. Mga tanong na gumugulo sa isipan niya. Nasagot ito ng pumasok sa pintuan si Dwight. Nakita niyang namumugto ang mga mata nito parang galing lang sa pagkaka iyak."B...Bakit,
HENRYLingid sa kaalaman ni Stella nasa paligid lang ang kaniyang asawa at duda rin ito na may namamagitan sa anak at sa asawa, pero sa ngayon na wala pa siyang matibay na ebidensya. Naglakad siya patungong billiard room at napahawak siya sa wall ng makita kong sino ang nasa loob. It was Dwight, na w


















Maligayang pagdating sa aming mundo ng katha - Goodnovel. Kung gusto mo ang nobelang ito o ikaw ay isang idealista,nais tuklasin ang isang perpektong mundo, at gusto mo ring maging isang manunulat ng nobela online upang kumita, maaari kang sumali sa aming pamilya upang magbasa o lumikha ng iba't ibang uri ng mga libro, tulad ng romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel at iba pa. Kung ikaw ay isang mambabasa, ang mga magandang nobela ay maaaring mapili dito. Kung ikaw ay isang may-akda, maaari kang makakuha ng higit na inspirasyon mula sa iba para makalikha ng mas makikinang na mga gawa, at higit pa, ang iyong mga gawa sa aming platform ay mas maraming pansin at makakakuha ng higit na paghanga mula sa mga mambabasa.
reviewsMore