LOGINMataku tak bisa lepas dari sosok yang berdiri di luar sana.Kak Gavin.Ia berdiri beberapa meter dari pintu ruangan kami.Kemeja kasual yang biasa ia kenakan di kampus kini berganti dengan setelan jas semi-formal berwarna gelap yang dijahit sempurna.Penampilannya benar-benar berbeda.Belum sempat aku memproses kehadirannya, seorang pelayan yang tadi membawa piring kosong mendorong daun pintu VVIP untuk keluar.Pintu itu terbuka lebar.Pada saat yang sama, Tuan Carter yang kebetulan sedang menghadap ke arah luar langsung membelalakkan mata.Ia segera bangkit dari kursinya.“Ah! Pak Aryasena?” serunya dengan senyum terkejut yang langsung berubah hangat.“Sungguh kebetulan yang luar biasa. Sedang makan malam di sini juga, Pak?”Keluarga yang semula hanya melintas di depan ruangan itu pun menghentikan langkah.Tuan Aryasena menoleh ke dalam.Begitu melihat siapa yang memanggilnya, ia tertawa kecil.“Ah, Pak Carter. Benar. Kami baru saja menyelesaikan urusan di sekitar sini dan berniat me
Sepanjang perjalanan, tidak banyak percakapan. Aku memilih menatap keluar jendela. Lampu-lampu kota Jakarta bergerak cepat di balik kaca, sementara pantulanku sendiri sesekali terlihat samar di sana. Aku sengaja tidak menoleh ke arah Mas Tian. Hubungan kami sudah terlalu rumit. Ada terlalu banyak hal yang tidak seharusnya terjadi. Aku tidak ingin kembali terseret ke dalam perasaan yang sama. Terlebih sekarang aku sudah memiliki seseorang yang secara terang-terangan memilih untuk berada di sisiku. Kak Gavin. Tanpa sadar, sudut bibirku terangkat sedikit. Aku teringat kedatangannya kemarin. Dia membawa makanan kesukaanku, memastikan aku makan tepat waktu, lalu mengomel karena aku masih berusaha berjalan sendiri meskipun kakiku belum pulih sepenuhnya. Hal-hal kecil seperti itu entah kenapa selalu berhasil membuatku merasa tenang. Aku tersenyum kecil. Hening sejenak di dalam kabin, sampai tiba-tiba aku merasakan sebuah kehangatan menyentuh pangkuanku. Mas Tian
Sejak beberapa hari lalu, aku sudah tahu bahwa malam ini keluarga kami akan menghadiri makan malam bersama keluarga Carter.Sebenarnya aku tidak terlalu memikirkannya.Hanya saja, kondisi kakiku yang belum sepenuhnya pulih membuat persiapan untuk acara malam ini terasa sedikit lebih merepotkan dari biasanya.Sore itu, seorang pelayan membantuku bersiap di kamar.Aku duduk di depan meja rias berbingkai cermin besar, membiarkan pelayan itu membersihkan wajahku sebelum mulai merias.Sapuan kuas yang lembut terasa di permukaan kulitku, meratakan alas bedak yang terasa dingin.Pelayan itu bekerja dengan cekatan namun sangat berhati-hati.Ia membubuhkan perona pipi berwarna peach yang seketika membuat raut wajahku yang semula pucat karena terlalu banyak berdiam di kamar terlihat lebih hidup.Terakhir, ia memoleskan lipstik berwarna nude pink yang memberikan kesan natural namun tetap elegan.Setelah riasan wajah selesai, ia membantuku mengenakan dress yang sebelumnya sudah dipilihkan oleh Bu
Pagi ini aku masih berada di rumah.Pergelangan kakiku belum sepenuhnya membaik.Karena itu, untuk beberapa hari ke depan aku memutuskan untuk tidak pergi ke kampus.Aku tetap mengikuti perkuliahan secara online agar tidak terlalu banyak tertinggal.Laptop sudah terbuka di atas meja kecil dekat tempat tidur.Beberapa buku kuliah juga sudah tersusun di sampingnya.Aku berusaha fokus mendengarkan penjelasan dosen.Namun sesekali pikiranku masih kembali pada kejadian semalam.Tentang percakapanku dengan Mas Tian.Tentang Bunda.Dan tentang permintaan Bunda agar Mas Tian pergi bersama Kak Giselle hari ini.Aku menarik napas pelan.Aku tidak seharusnya memikirkan itu.Bukankah aku sendiri yang sudah memilih untuk menjaga jarak?Aku kembali memusatkan perhatian pada layar laptop.Sampai akhirnya kelas selesai.Aku menutup laptop dan menyandarkan tubuh ke kepala tempat tidur.Baru saja aku hendak mengambil handphone ketika terdengar ketukan dari pintu.Tok... tok...Aku menoleh.Seorang pela
Pintu kamar tertutup setelah Kak Giselle pergi. Aku masih terdiam di atas tempat tidur. Pergelangan kakiku kembali terasa berdenyut hebat setelah tekanan yang sengaja diberikan olehnya beberapa saat lalu. Aku menggigit bibir bawah, berusaha menahan rasa sakit yang perlahan menjalar dari pergelangan hingga betis. Air mata yang sempat kutahan akhirnya jatuh juga. Aku segera mengusapnya. Aku tidak boleh menangis. Bukan karena Kak Giselle. Bukan karena Mas Tian. Setidaknya, aku tidak ingin menangis lagi hanya karena hubungan yang selama ini tidak pernah memiliki kepastian. Aku menatap pintu kamar yang baru saja ditutup Kak Giselle. Perkataannya kembali terngiang di kepalaku. Mas Tian itu calon suamiku. Aku memejamkan mata. Aku sudah tahu. Bahkan sebelum Kak Giselle mengatakannya, aku sudah tahu bahwa Bunda menginginkan mereka bersama. Aku sudah meminta Mas Tian untuk mengakhiri hubungan kami. Sudah pernah mengatakan bahwa aku tidak ingin terus berada dalam
Setelah memandikanku hingga bersih, Mas Tian mengeringkan sisa-sisa air di tubuhku dengan handuk tebal.Dia lalu membungkusku rapat dan menggendongku keluar dari kamar mandi, mendudukkanku kembali di atas tempat tidur.Masih di atas kasur, Mas Tian mengambil handuk kecil untuk mengeringkan rambut basahku.Jemarinya bergerak perlahan, menyerap bulir air dari setiap helai rambutku dengan telaten agar aku tidak kedinginan.Setelah rambutku cukup kering, Mas Tian mengambil piyama bersih dari lemari.Dia membantuku memakaikan piyama itu kembali ke tubuhku.Setelah aku berpakaian rapi dan duduk bersandar nyaman di kasur, Mas Tian menarik selimut hingga menutupi dadaku.“Jangan pernah coba-coba berdiri sendiri lagi,” ucapnya dingin, memecah keheningan.Aku menggigit bibir bawahku.“Iya.”Mas Tian menatapku selama beberapa detik.Matanya yang gelap menyimpan emosi yang sulit kubaca."Terimakasih" ucapku pelan.Tiba-tiba, dia menunduk dan membiarkan bibirnya menyentuh keningku—sebuah kecupan s







