Share

147

Author: QUILLDREN
last update publish date: 2026-10-14 14:20:07

Langit di luar jendela kamarku masih berwarna biru gelap kemerahan saat aku menarik ritsleting koperku.

Pukul lima pagi.

Semalaman aku nyaris tidak memejamkan mata.

Sebelum langit benar-benar terang, aku sudah memaksakan diri untuk mandi air dingin, berharap rasa beku yang menjalar di kulitku bisa meredam gemuruh panik di dalam dada.

Aku menatap pantulan diriku di cermin lemari untuk terakhir kalinya.

Kaus lengan panjang, celana jeans, kardigan panjang, dan wajah pucat yang tak bisa di
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • DEKAP HANGAT KAKAK TIRIKU   149

    Pintu mobil tertutup, memisahkanku dari hiruk-pikuk area kampus. Udara sejuk dari AC langsung menyentuh kulitku. Aku duduk di kursi penumpang dengan tas di atas paha, berusaha menenangkan pikiran yang sejak tadi terasa kacau. Mas Tian berjalan memutari mobil, lalu masuk ke kursi kemudi. Dengan gerakan tenang, ia membawa sedan mewah itu meninggalkan area kampus dan memasuki jalanan kota yang mulai padat. Selama beberapa menit pertama, tak ada percakapan di antara kami. Aku menatap lurus ke depan, merasakan sisa-sisa kesabaran yang mulai menipis, sebelum akhirnya memutuskan untuk memecah kesunyian. "Kenapa Mas tiba-tiba menjemputku?" Mas Tian tidak langsung menjawab. Matanya tetap tertuju pada jalanan, sementara rahangnya tampak mengeras. Jemarinya mencengkeram kemudi sedikit lebih erat. "Memangnya aku tidak boleh menjemput adikku sendiri?" tanyanya balik dengan suara rendah. Aku mengembuskan napas, berusaha menahan kejengkelan yang mulai memuncak. "Aku sudah mau pulang

  • DEKAP HANGAT KAKAK TIRIKU   148

    Aku menghabiskan sekitar lima belas menit di dalam kamar tamu untuk menenangkan diri.Jantungku masih berdebar tidak beraturan sejak kejadian semalam.Berkali-kali aku memeriksa layar handphone, mengantisipasi pesan atau panggilan dari Mas Tian.Namun, tidak ada satu pun notifikasi yang muncul.Anehnya, keheningan itu justru membuatku semakin gelisah. Setelah memastikan wajahku tidak terlihat terlalu pucat, aku meraih tas kuliah dan bergegas turun.Mas Noah sudah menungguku di ruang depan.Kunci mobilnya berputar-putar di jari telunjuk, sementara penampilannya terlihat rapi dalam balutan jas kasual abu-abu dan kemeja navy."Udah siap? Ayo, berangkat sekarang. Mumpung belum macet," ajaknya.Sebelum melangkah keluar, Mas Noah sempat mengecup pipi Kak Mira yang mengantarnya sampai ke ruang depan.Aku mengikuti langkahnya tanpa banyak bicara.Sepanjang perjalanan menuju kampus, Mas Noah menyalakan radio dengan volume sedang.Sesekali ia bersenandung mengikuti lagu yang diputar, sementara

  • DEKAP HANGAT KAKAK TIRIKU   147

    Langit di luar jendela kamarku masih berwarna biru gelap kemerahan saat aku menarik ritsleting koperku. Pukul lima pagi. Semalaman aku nyaris tidak memejamkan mata. Sebelum langit benar-benar terang, aku sudah memaksakan diri untuk mandi air dingin, berharap rasa beku yang menjalar di kulitku bisa meredam gemuruh panik di dalam dada. Aku menatap pantulan diriku di cermin lemari untuk terakhir kalinya. Kaus lengan panjang, celana jeans, kardigan panjang, dan wajah pucat yang tak bisa disembunyikan oleh bedak tipis sekalipun. Di tangan kiriku, boneka beruang pemberian Kak Gavin bertengger dengan aman di atas tas jinjing. Dengan langkah sepelan mungkin, aku membuka pintu kamar dan menggeret koper berukuran sedang itu keluar. Aku harus mengangkatnya sedikit agar roda koper tidak menimbulkan suara gesekan yang bisa membangunkan penghuni rumah, terutama pria yang kamarnya berada di ujung lorong seberang sana. Di ruang keluarga yang remang-remang, gelas kristal berisi alkohol

  • DEKAP HANGAT KAKAK TIRIKU   146

    Mas Tian mematung di tempatnya. Bibirnya sedikit terbuka, namun tak ada satu pun kata yang keluar dari mulutnya. Hanya ada keheningan panjang yang membekukan udara di antara kami. Dan keheningan itu adalah jawaban paling telak yang menghancurkan sisa-sisa harapanku hingga tak bersisa. Dia tidak bisa. Dia tidak akan pernah bisa meninggalkan dunianya, tanggung jawabnya, dan Kak Giselle, hanya untukku. Ciuman penuh gairah dan keputusasaan tadi bukanlah awal dari sebuah perjuangan yang akan kami hadapi bersama, melainkan puncak dari keegoisannya yang tidak ingin kehilangan kendali atasku. Dia ingin mengikatku, namun tangannya sendiri telah terikat kuat pada janji dengan wanita lain. Aku tertawa sumbang di sela isak tangisku. Tawaku terdengar begitu menyedihkan di telingaku sendiri, menggema di lorong tangga yang gelap dan sepi ini. "Sudah kuduga," bisikku lirih, menatapnya dengan tatapan kosong. Rasanya seperti ada lubang menganga di dadaku, menyedot seluruh uda

  • DEKAP HANGAT KAKAK TIRIKU   145

    Dunia di sekelilingku seolah berhenti berputar.​Kata-kata itu menggema di udara, menabrak dinding-dinding kesadaranku dan menghancurkan sisa-sisa kewarasan yang susah payah kupertahankan.​Aku cemburu.​Mas Tian, pria yang selalu berlindung di balik tembok es dan keangkuhannya, pria yang tiga hari lalu menegaskan bahwa dirinya hanyalah seorang kakak bagiku, kini menatapku dengan sorot mata yang begitu hancur dan putus asa.​"Mas..." bisikku bergetar, mencoba mencari celah untuk bernapas di tengah himpitan auranya.​Namun, sebelum aku sempat merangkai kalimat penolakan, tatapan Mas Tian turun, mengunci rapat pada bibirku. Raung napasnya yang berat dan memburu menerpa wajahku, membawa aroma tajam alkohol yang bercampur dengan wangi parfum yang selalu memabukkan.​"Dia tidak berhak menyentuhmu, Rania..." geramnya parau. "Tidak ada yang berhak."​Dalam hitungan detik, Mas Tian menundukkan wajahnya dan meraup bibirku.​Aku terbelalak. Tubuhku menegang kaku layaknya patung.​Ciuman itu

  • DEKAP HANGAT KAKAK TIRIKU   144.

    Matahari sudah sepenuhnya tenggelam digantikan pekatnya malam ketika deru mesin motor sport Kak Gavin membelah kesunyian jalanan.​Motor hitam besar itu berhenti perlahan di depan gerbang utama mansion keluarga. Kak Gavin turun lebih dulu, lalu dengan sigap mengulurkan tangannya untuk membantuku turun, memastikan kaki kananku yang baru sembuh mendarat dengan aman. Di lenganku yang lain, aku mendekap erat boneka beruang pemberiannya.​"Makasih banyak buat hari ini ya, Kak.," ucapku tulus sambil menyerahkan helmnya.​Kak Gavin menerimanya, namun alih-alih langsung menaruh helm itu di motor, ia menatapku cukup lama. Senyum usil yang sedari tadi menghiasi wajahnya perlahan memudar, digantikan oleh sorot mata yang tiba-tiba melembut dan dalam. Tangannya terulur, merapikan anak rambut yang tertiup angin di pelipisku.​"Sama-sama, Tuan Putri," ucapnya pelan.​Sebelum aku sempat bereaksi, Kak Gavin sedikit menundukkan wajahnya. Bibirnya menyentuh bibirku dengan lembut namun pasti. Hanya

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status