LOGINSuara deru mobil yang memasuki pekarangan rumah mengalihkan perhatian kami.Tak lama kemudian, pintu utama terbuka dan Mas Noah melangkah masuk.Ia tampak sedikit lelah dengan kemeja kantor yang lengan kemejanya sudah digulung hingga siku dan dasi yang dilonggarkan.Begitu melihat Kak Gavin masih duduk di ruang tengah bersamaku, raut lelah di wajah Mas Noah seketika berganti dengan senyum hangat."Eh, ada Gavin," sapa Mas Noah ramah sambil melepas jam tangan dan meletakkannya di meja."Dari jam berapa, Vin?"Kak Gavin langsung berdiri dengan sopan dan menyapa Mas Noah."Iya, Kak. Dari sore tadi, nemenin Rania sebentar sekalian mampir bawain makanan."Mas Noah melirik mangkuk di meja makan yang sudah kosong, lalu tersenyum lega."Bagus deh kalau gitu. Tadi kata Mira, Rania makannya cuma sedikit pas makan siang. Pas kamu yang datang baru mau habis ya.""Namanya juga pacar yang bawain, Kak," goda Kak Gavin sambil tertawa kecil, membuat pipiku mendadak merona.Mas Noah ikut terkekeh mengg
Sore itu, di ruang makan rumah Mas Noah, Kak Gavin menemaniku menghabiskan makan siang yang sempat terbengkalai sejak tadi.Awalnya, pria itu bersikeras menyuapiku sendiri.Ia bahkan sengaja menggodaku setiap kali aku membuka mulut, membuatku beberapa kali tertawa di sela-sela suapan.Namun, setelah beberapa suapan, aku akhirnya mengambil alih sendok dari tangannya dan melanjutkan makan sendiri.“Bisa makan sendiri, kan, ternyata?” godanya sambil tersenyum jahil.Aku meliriknya sekilas. “Dari tadi juga bisa, Kak. Kakak aja yang maksa nyuapin.”“Lho, aku kan cuma mau manjain pacarku.”“Manjain atau ngeledekin?”“Dua-duanya boleh, dong.”Aku menggeleng kecil, menahan senyum, lalu kembali menyendok makananku.Kak Gavin tertawa pelan melihat reaksiku. Kehadirannya selalu membawa kehangatan yang sulit kujelaskan.Tawa renyahnya, perhatian sederhananya, dan pelukan hangat yang diberikannya saat menghiburku tadi seolah menjadi jeda dari segala kekacauan yang selama ini menghimpit hidupku.B
Mendengar suara deru mesin motor itu, aku segera bangkit dan melangkah menuju pintu utama, membukanya perlahan. Di pelataran teras, Kak Gavin baru saja melepaskan helm full-face miliknya. Ia mengenakan jaket denim, menenteng sebuah kantong paperbag berisi makanan di tangan kirinya. Begitu melihatku berdiri di ambang pintu, Kak Gavin segera melangkah menghampiriku. Ia tersenyum teduh, dengan tatapan lembut yang menyiratkan kerinduan mendalam. "Hai," sapanya pelan. Ia mengangkat tangannya yang bebas, mengusap puncak kepalaku dengan lembut. "Mata kamu sembap banget, Ran. Beneran secapek itu, ya, semalam?" Aku menelan ludah. Sentuhannya begitu hangat, hati-hati, dan penuh rasa hormat. Sangat berbanding terbalik dengan sentuhan Mas Tian yang selalu dipenuhi tuntutan dan rasa kepemilikan mutlak. "Iya, Kak," jawabku dengan suara serak. "Maaf, ya, Kakak jadi repot-repot nyari alamat ke sini, padahal aku cuma kecapekan biasa." Kak Gavin tersenyum semakin lebar, lalu merangk
Setelah Kak Mira beranjak ke dapur, suasana rumah kembali terasa senyap. Tak lama berselang, ia melewati ruang makan lagi dan pamit sebentar untuk naik ke lantai dua, bersiap-siap berangkat bekerja siang ini. Kepergiannya meninggalkanku benar-benar sendirian bersama pikiranku yang masih kacau.Aku menunduk, menatap mangkuk sup di hadapanku yang sudah benar-benar dingin. Baru beberapa suap yang berhasil kutelan, tetapi kerongkonganku terasa kebas. Selera makanku sudah sepenuhnya mati.Pandanganku kemudian jatuh pada handphone yang tergeletak di samping piring. Layarnya menyala sesaat, menampilkan pop-up notifikasi dari Kak Gavin yang sengaja belum kubuka sejak siang.Dari layar depan yang terkunci, aku bisa membaca pesannya dalam diam. Pesan tersebut mengingatkanku untuk beristirahat dan tidak memaksakan diri jika memang sedang tidak enak badan.Sederhana.Hanya perhatian tulus dari seseorang yang benar-benar mengkhawatirkanku.Dadaku terasa semakin sesak.Kak Gavin, Ia selalu be
Bunda tampak begitu bersemangat. Sementara Papa duduk di sampingnya dengan ekspresi bangga, seolah keduanya sedang membawa kabar yang sudah lama ingin dibagikan kepada keluarga. "Minggu depan, keluarga kita akan mengadakan gala dinner untuk merayakan keberhasilan proyek besar Van Rijn," jelas Bunda. "Ini pencapaian yang penting buat perusahaan, jadi Bunda ingin semua anggota keluarga hadir." Papa mengangguk membenarkan. "Betul. Papa juga ingin kalian semua berkumpul." "Ini bukan sekadar acara perusahaan, tetapi juga momen penting bagi keluarga kita. Nanti Noah akan Papa kabari langsung." Aku menelan ludah. "Minggu depan?" "Iya, Sayang," jawab Bunda. "Jadi, kalian mulai persiapkan semuanya dari sekarang.""Cari pakaian yang bagus. Kalau perlu, kalian bisa pergi ke salon bersama." Kak Mira tersenyum mendengar penjelasan itu. "Wah, berarti acaranya cukup besar, ya, Bun?" "Tentu saja. Banyak tamu penting yang akan hadir." Bunda kemudian tersenyum semakin lebar. "A
Cahaya matahari siang menembus celah gorden kamarku, memaksaku membuka mata yang terasa berat. Kepalaku berdenyut pelan. Kedua mataku panas dan membengkak akibat menangis terlalu lama semalam. Aku menatap langit-langit kamar dengan pandangan kosong, mencoba mengumpulkan kembali kepingan-kepingan ingatan yang berserakan. Namun, semakin keras aku berusaha mengalihkan pikiran, semakin jelas kejadian semalam kembali terbayang. Mas Tian. Dan kalimat terakhir yang diucapkannya sebelum meninggalkanku. Aku memejamkan mata, menarik napas panjang, lalu mengembuskannya perlahan. Hari ini aku membolos kuliah. Sesuai dengan kebohongan yang kusampaikan kepada Kak Gavin semalam, aku membiarkan diriku tertidur hingga menjelang siang. Aku mengatakan bahwa ingin beristirahat, padahal alasan sebenarnya jauh lebih rumit daripada itu. Aku hanya tidak memiliki keberanian untuk menghadapi dunia setelah semua yang terjadi. Dengan berat hati, aku bangkit dari kasur dan berjalan menuju kama







