Mag-log inKeheningan menyelimuti kamar itu. Aku menunduk, berusaha menyembunyikan kegelisahan yang masih tersisa setelah mimpi buruk yang kualami.Pertanyaan Kak Gavin terdengar lembut, tetapi entah mengapa terasa begitu sulit untuk kujawab. Aku menatap matanya yang dipenuhi perhatian.Tidak ada tuduhan ataupun desakan di sana.Hanya kekhawatiran tulus dari seseorang yang ingin memahami apa yang sedang terjadi padaku. Genggaman tangannya pada jemariku tetap hangat, berbanding terbalik dengan telapak tanganku yang terasa dingin. “A-aku cuma mimpi buruk aja, kok, Kak,” jawabku pelan, berusaha terdengar tenang.“Mungkin karena kemarin aku kecapekan, jadi tidurnya nggak nyenyak dan kepikiran macam-macam. Nggak usah dipikirin, ya.” Kak Gavin memperhatikanku selama beberapa saat.Sepertinya ia masih menyadari ada sesuatu yang menggangguku, tetapi ia tidak memaksaku untuk bercerita. Ia hanya mengembuskan napas perlahan, kemudian mengusap puncak kepalaku dengan lembut. “Ya udah kalau memang cuma
Mobil Kak Gavin perlahan memasuki area parkir unit apartemen miliknya. Suasana sekitar yang hening dan remang seolah memberiku jeda sebentar dari kebisingan ballroom yang meremukkan dadaku. Kak Gavin membukakan pintu mobil untukku, lalu menuntun langkahku yang gontai menuju lift. Sepanjang perjalanan hingga tiba di unit apartemennya yang berada di lantai belasan, ia tidak pernah melepas genggaman tangannya. Hangat dan dipenuhi perlindungan. "Masuk, Sayang," bisik Kak Gavin lembut seraya menggeser pintu utama. Ia menyalakan lampu ruang tengah, lalu membawakan satu setel baju kaus oversized beserta celana sweatpants miliknya untukku. "Kamu ganti baju dulu ya, Ran. Pakai baju aku aja biar longgar. Kamu pakai kamar tamu yang di sebelah ya, udah aku rapihin. Aku udah kirim pesan ke Ayah untuk bilang ke Kak Noah kalau kamu nginep di sini karena ketiduran di mobil." Aku berganti pakaian di kamar mandi dengan jemari yang masih bergetar. Ketika keluar, Kak Gavin sedang menyeduh secangk
Punggung tegap Mas Tian dan keanggunan Kak Giselle perlahan menyatu di antara kerumunan tamu VIP.Aku masih berdiri mematung di ambang pintu ballroom, menatap kosong ke arah lorong karpet merah tempat mereka berlalu.Rasanya ada sesuatu yang ditarik paksa dari dalam dadaku, menyisakan rongga hampa yang teramat dingin dan menyiksa."Ran? Kamu beneran nggak apa-apa?" Suara Kak Gavin terdengar begitu dekat, bergetar oleh kepanikan yang sangat nyata.Jemarinya yang hangat mengusap tanganku yang saling mencengkeram kaku.Saat ibu jarinya menyentuh kulitku, ia tersentak kecil."Ran... tangan kamu dingin banget. Sampai gemetar gini."Aku menoleh perlahan, berusaha memaksakan seulas senyum kaku, walau aku tahu betul betapa berantakannya penampilanku saat ini."A-aku cuma... masih agak mual, Kak. Kepala aku juga mendadak pusing banget."Kak Gavin tidak percaya begitu saja.Sorot matanya yang selalu teduh kini dipenuhi kecemasan yang teramat sangat. "Udah, kita keluar dari sini sekarang. Kamu
Suara panggilan Kak Gavin yang sarat akan kekhawatiran kembali menggema dari luar pintu utama toilet."Ran? Kamu dengar aku? Kalau kamu nggak jawab, aku akan minta tolong staf buat masuk ke dalam."Kepanikan seketika menyergapku.Aku buru-buru menyalakan keran wastafel, membasuh wajahku dengan air dingin, lalu mengambil beberapa lembar tisu untuk menghapus jejak air mata yang masih basah di pipiku.Aku menatap pantulan diriku di cermin.Mataku sedikit memerah dan wajahku terlihat sangat pucat.Dengan tangan gemetar, aku mengeluarkan bedak dari dalam clutch dan menepuk-nepukkannya ke wajah, berusaha menutupi sisa-sisa kehancuran yang baru saja kualami."Iya, Kak! Sebentar, aku keluar!" seruku dengan suara yang kubuat setenang mungkin.Aku menarik napas panjang, memasang kembali topeng kebohonganku, lalu memutar kenop pintu dan melangkah keluar.Kak Gavin yang berdiri mondar-mandir di dekat lorong langsung menghampiriku.Wajahnya memancarkan kelegaan yang bercampur dengan rasa cemas yan
Seminggu berlalu.Hari ini benar-benar tiba. Malam perayaan gala dinner Van Rijn digelar di grand ballroom salah satu hotel bintang lima paling megah di ibu kota.Aku berdiri kaku di depan cermin besar di kamar. Gaun berbahan silk berwarna champagne dengan potongan kerah high-neck bertangan panjang membalut tubuhku dengan sempurna. Payet-payet rumit di bagian leher menutup rapat seluruh area leher hingga tulang selangkaku, memastikan jejak-jejak masa lalu tersembunyi rapat dari pandangan siapa pun.Riasan wajahku dipoles anggun, menyamarkan rona pucat di pipiku. Penampilanku malam ini adalah wujud sempurna dari seorang putri keluarga Van Rijn—anggun, tenang, dan tanpa cela.Namun di dalam dada, hatiku bergemuruh hebat.Setibanya di lokasi acara bersama Mas Noah dan Kak Mira, aroma kemewahan langsung menyambut. Grand ballroom dihiasi ornamen kristal megah dan karpet tebal yang meredam setiap langkah. Alunan musik klasik mengalun lembut, bercampur dengan denting gelas kristal dan
Suara deru mobil yang memasuki pekarangan rumah mengalihkan perhatian kami.Tak lama kemudian, pintu utama terbuka dan Mas Noah melangkah masuk.Ia tampak sedikit lelah dengan kemeja kantor yang lengan kemejanya sudah digulung hingga siku dan dasi yang dilonggarkan.Begitu melihat Kak Gavin masih duduk di ruang tengah bersamaku, raut lelah di wajah Mas Noah seketika berganti dengan senyum hangat."Eh, ada Gavin," sapa Mas Noah ramah sambil melepas jam tangan dan meletakkannya di meja."Dari jam berapa, Vin?"Kak Gavin langsung berdiri dengan sopan dan menyapa Mas Noah."Iya, Kak. Dari sore tadi, nemenin Rania sebentar sekalian mampir bawain makanan."Mas Noah melirik mangkuk di meja makan yang sudah kosong, lalu tersenyum lega."Bagus deh kalau gitu. Tadi kata Mira, Rania makannya cuma sedikit pas makan siang. Pas kamu yang datang baru mau habis ya.""Namanya juga pacar yang bawain, Kak," goda Kak Gavin sambil tertawa kecil, membuat pipiku mendadak merona.Mas Noah ikut terkekeh mengg







