INICIAR SESIÓNGenggaman tangan Mas Tian terasa hangat, perlahan mengusir hawa dingin yang sejak tadi merayap di tengkukku.Ia menundukkan wajah lebih dekat, berusaha mencari jawaban dari balik tatapanku.Sorot matanya yang tajam seolah mampu menembus pertahananku, menangkap ketakutan yang masih tersembunyi di balik kelopak mataku yang setengah terbuka. "Ada yang sakit, Ran?" bisiknya pelan, tetapi terdengar begitu mendesak. Jemarinya yang bebas terangkat, menyeka sebulir air mata yang lolos dari sudut mataku. Alih-alih membalas pertanyaannya, aku hanya bisa menatap matanya dalam-dalam sambil mempererat genggaman pada jemarinya. Melalui sentuhan itu, aku berusaha menyampaikan seluruh ketakutan dan rasa sakit yang tidak mampu kuungkapkan dengan kata-kata. Mas Tian membalas genggamanku tak kalah erat, seolah ingin meyakinkanku bahwa ia tidak akan meninggalkanku. "Rania sayang." Suara Bunda terdengar bergetar penuh kelegaan saat menyadari mataku telah terbuka. "Biar Papa panggilkan perawat," uj
Gelap. Kesadaranku perlahan muncul dari kegelapan yang menyelimutiku. Namun, alih-alih merasa lebih baik, kepalaku justru terasa begitu berat. Nyeri berdenyut di pelipis kanan, seolah ada sesuatu yang terus menghantam bagian dalam kepalaku. Aroma antiseptik yang khas segera memenuhi indra penciumanku. Aku tahu sedang berada di rumah sakit, meskipun belum sanggup membuka mata. Kelopak mataku terasa berat. Tubuhku pun seolah kehilangan seluruh tenaga. Bahkan untuk sekadar menggerakkan jemari, aku harus mengerahkan usaha yang luar biasa. Di tengah kesadaran yang masih samar, telingaku mulai menangkap percakapan beberapa orang di dekat ranjang. “Pulanglah sebentar, Vin. Bersihkan dirimu dan ganti pakaian,” ujar seorang wanita dengan suara lembut. Itu ibu Kak Gavin. “Tapi, Bu, aku mau tetap di sini sampai Rania sadar.” Suara Kak Gavin terdengar berat. Ada kecemasan yang begitu jelas di balik ucapannya. “Benar kata ibumu, Nak Gavin,” timpal Bunda. “Di sini masih ada kami yang menj
Suasana di dalam mobil milik Giselle terasa mencekam. Giselle mencengkeram kemudi dengan kedua tangan yang mulai berkeringat dingin. Sesekali, matanya melirik ke arah kaca spion tengah, mengawasi Gavin yang duduk di kursi belakang sambil memangku tubuh Rania. Di balik wajahnya yang tampak panik, pikirannya bekerja keras menyusun alasan untuk menutupi apa yang sebenarnya terjadi. “Bisa lebih cepat nggak?!” bentak Gavin. Suara pemuda itu terdengar tajam dan penuh tekanan, jauh berbeda dari sikapnya yang biasanya tenang. Giselle tersentak. “I-iya, Gavin. Aku sudah berusaha semaksimal mungkin.” Namun, Gavin tidak lagi memedulikannya. Seluruh perhatiannya tertuju pada Rania yang terkulai lemah dalam pelukannya. Darah terus merembes dari luka di pelipis gadis itu, membasahi kemeja biru dongker yang dikenakannya. Dengan tangan gemetar, Gavin menekan luka tersebut menggunakan saputangan untuk membantu menghentikan pendarahan. Wajahnya menegang setiap kali melihat darah yang terus
Pusat perbelanjaan di tengah kota siang itu tampak ramai.Begitu membimbingku turun dari motor dan memarkirkan kendaraannya, Kak Gavin langsung menggenggam jemari tanganku, menyelaraskan langkah kakinya yang panjang dengan langkahku."Papa kamu sukanya barang-barang apa, Ran?" tanya Kak Gavin seraya kami berjalan menyusuri koridor mall berlantai marmer yang mengkilap."Jam tangan, dasi, atau punya barang koleksi?""Papa tipe orang yang agak klasik, Kak," jawabku seraya mengingat-ingat selera Papa."Biasanya Papa paling suka kemeja batik tulis elegan atau aksesori yang simpel tapi terkesan bernilai."Kak Gavin membimbingku menuju salah satu boutique leather & luxury accessories ternama di lantai dasar.Kami akhirnya memilih sebuah jam tangan klasik dengan tali kulit buatan tangan berdesain elegan.Saat aku merogoh tas untuk membayar, Kak Gavin lebih dulu mengulurkan kartunya pada kasir, menolak pembayaranku dengan alasan hadiah ini adalah hadiah bersama dari kami berdua untuk Papa.Set
Mobil keluarga Carter akhirnya melaju meninggalkan pelataran mansion.Papa dan Bunda mengembuskan napas lega, lalu saling bertukar senyum.Makan malam yang sempat diwarnai ketegangan itu akhirnya berakhir dengan kesepakatan yang mengikat kedua keluarga.Aku berdiri di ambang pintu utama, ikut melambaikan tangan sebagai bentuk kesopanan.Di sampingku, Mas Tian berdiri dengan tubuh kaku.Sejak mengantar Kak Giselle ke mobil, wajahnya tak banyak berubah.Tak ada senyum.Entah apa yang sedang berkecamuk di pikirannya, tetapi aku tak berniat mencari tahu."Rania ke kamar duluan, ya, Pa, Bun. Mau istirahat.""Iya, Sayang. Jangan tidur terlalu malam," pesan Bunda lembut.Aku mengangguk, kemudian melangkah menaiki tangga tanpa menoleh sedikit pun ke arah Mas Tian.Begitu memasuki kamar, aku langsung menutup pintu dan menguncinya.Helaan napas panjang lolos dari bibirku, seolah baru sekarang aku bisa benar-benar melepaskan ketegangan yang sejak tadi kutahan.Malam ini akhirnya terlewati.Aku b
Keheningan yang tegang menyergap ruang makan.Tuan dan Nyonya Carter terkesiap, sementara senyum di wajah Kak Giselle seketika luntur berganti dengan raut kebingungan yang bercampur amarah.Mengabaikan seluruh tatapan terkejut dari orang tua Kak Giselle dan keluarga kami, Mas Tian bergerak cepat menghampiriku.“Ambilkan kotak P3K! Cepat!” perintahnya tajam kepada pelayan.Ia meraih beberapa lembar tisu dari tempatnya, kemudian menekan perlahan bagian jariku yang terluka.Gerakannya terlihat terburu-buru, bertolak belakang dengan ekspresi wajahnya yang berusaha keras ia kendalikan.“Tian, tenang dulu,” ujar Papa, mencoba meredakan suasana.Mas Tian sama sekali tidak menjawab.Perhatiannya hanya tertuju pada telunjukku.Jari-jarinya tampak menegang saat melihat noda merah mulai membasahi tisu yang digunakannya.Aku menatapnya dengan ekspresi datar.Tidak ada lagi debaran, tidak ada lagi rasa rapuh yang biasanya muncul saat ia memberiku perhatian seperti ini.Beberapa detik kemudian, per







