Share

178

Author: QUILLDREN
last update publish date: 2026-10-29 01:29:56

Mobil keluarga Carter akhirnya melaju meninggalkan pelataran mansion.

Papa dan Bunda mengembuskan napas lega, lalu saling bertukar senyum.

Makan malam yang sempat diwarnai ketegangan itu akhirnya berakhir dengan kesepakatan yang mengikat kedua keluarga.

Aku berdiri di ambang pintu utama, ikut melambaikan tangan sebagai bentuk kesopanan.

Di sampingku, Mas Tian berdiri dengan tubuh kaku.

Sejak mengantar Kak Giselle ke mobil, wajahnya tak banyak berubah.

Tak ada senyum.

Entah apa yang sedang berke
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • DEKAP HANGAT KAKAK TIRIKU   180

    Suasana di dalam mobil milik Giselle terasa mencekam. Giselle mencengkeram kemudi dengan kedua tangan yang mulai berkeringat dingin. Sesekali, matanya melirik ke arah kaca spion tengah, mengawasi Gavin yang duduk di kursi belakang sambil memangku tubuh Rania. Di balik wajahnya yang tampak panik, pikirannya bekerja keras menyusun alasan untuk menutupi apa yang sebenarnya terjadi. “Bisa lebih cepat nggak?!” bentak Gavin. Suara pemuda itu terdengar tajam dan penuh tekanan, jauh berbeda dari sikapnya yang biasanya tenang. Giselle tersentak. “I-iya, Gavin. Aku sudah berusaha semaksimal mungkin.” Namun, Gavin tidak lagi memedulikannya. Seluruh perhatiannya tertuju pada Rania yang terkulai lemah dalam pelukannya. Darah terus merembes dari luka di pelipis gadis itu, membasahi kemeja biru dongker yang dikenakannya. Dengan tangan gemetar, Gavin menekan luka tersebut menggunakan saputangan untuk membantu menghentikan pendarahan. Wajahnya menegang setiap kali melihat darah yang terus

  • DEKAP HANGAT KAKAK TIRIKU   179

    Pusat perbelanjaan di tengah kota siang itu tampak ramai.Begitu membimbingku turun dari motor dan memarkirkan kendaraannya, Kak Gavin langsung menggenggam jemari tanganku, menyelaraskan langkah kakinya yang panjang dengan langkahku."Papa kamu sukanya barang-barang apa, Ran?" tanya Kak Gavin seraya kami berjalan menyusuri koridor mall berlantai marmer yang mengkilap."Jam tangan, dasi, atau punya barang koleksi?""Papa tipe orang yang agak klasik, Kak," jawabku seraya mengingat-ingat selera Papa."Biasanya Papa paling suka kemeja batik tulis elegan atau aksesori yang simpel tapi terkesan bernilai."Kak Gavin membimbingku menuju salah satu boutique leather & luxury accessories ternama di lantai dasar.Kami akhirnya memilih sebuah jam tangan klasik dengan tali kulit buatan tangan berdesain elegan.Saat aku merogoh tas untuk membayar, Kak Gavin lebih dulu mengulurkan kartunya pada kasir, menolak pembayaranku dengan alasan hadiah ini adalah hadiah bersama dari kami berdua untuk Papa.Set

  • DEKAP HANGAT KAKAK TIRIKU   178

    Mobil keluarga Carter akhirnya melaju meninggalkan pelataran mansion.Papa dan Bunda mengembuskan napas lega, lalu saling bertukar senyum.Makan malam yang sempat diwarnai ketegangan itu akhirnya berakhir dengan kesepakatan yang mengikat kedua keluarga.Aku berdiri di ambang pintu utama, ikut melambaikan tangan sebagai bentuk kesopanan.Di sampingku, Mas Tian berdiri dengan tubuh kaku.Sejak mengantar Kak Giselle ke mobil, wajahnya tak banyak berubah.Tak ada senyum.Entah apa yang sedang berkecamuk di pikirannya, tetapi aku tak berniat mencari tahu."Rania ke kamar duluan, ya, Pa, Bun. Mau istirahat.""Iya, Sayang. Jangan tidur terlalu malam," pesan Bunda lembut.Aku mengangguk, kemudian melangkah menaiki tangga tanpa menoleh sedikit pun ke arah Mas Tian.Begitu memasuki kamar, aku langsung menutup pintu dan menguncinya.Helaan napas panjang lolos dari bibirku, seolah baru sekarang aku bisa benar-benar melepaskan ketegangan yang sejak tadi kutahan.Malam ini akhirnya terlewati.Aku b

  • DEKAP HANGAT KAKAK TIRIKU   177

    Keheningan yang tegang menyergap ruang makan.Tuan dan Nyonya Carter terkesiap, sementara senyum di wajah Kak Giselle seketika luntur berganti dengan raut kebingungan yang bercampur amarah.Mengabaikan seluruh tatapan terkejut dari orang tua Kak Giselle dan keluarga kami, Mas Tian bergerak cepat menghampiriku.“Ambilkan kotak P3K! Cepat!” perintahnya tajam kepada pelayan.Ia meraih beberapa lembar tisu dari tempatnya, kemudian menekan perlahan bagian jariku yang terluka.Gerakannya terlihat terburu-buru, bertolak belakang dengan ekspresi wajahnya yang berusaha keras ia kendalikan.“Tian, tenang dulu,” ujar Papa, mencoba meredakan suasana.Mas Tian sama sekali tidak menjawab.Perhatiannya hanya tertuju pada telunjukku.Jari-jarinya tampak menegang saat melihat noda merah mulai membasahi tisu yang digunakannya.Aku menatapnya dengan ekspresi datar.Tidak ada lagi debaran, tidak ada lagi rasa rapuh yang biasanya muncul saat ia memberiku perhatian seperti ini.Beberapa detik kemudian, per

  • DEKAP HANGAT KAKAK TIRIKU   176.

    Begitu melangkah masuk ke ruang keluarga, aroma masakan langsung menyambut penciumanku.Para pelayan tampak sibuk berlalu-lalang, menata hidangan di atas meja makan panjang yang sudah dipersiapkan untuk makan malam nanti.“Rania, udah pulang, Nak?”Suara Bunda terdengar dari arah ruang tengah.Wanita itu menghampiriku dengan senyum lega, lalu menepuk bahuku pelan.“Aman, kan, di jalan? Semalam hujannya deras sekali. Bunda sempat khawatir,” ucapnya.“Untung kamu langsung ngabarin kalau menginap di tempat Gavin. Bunda jadi tenang karena tahu ada yang jagain kamu di sana.”Aku tersenyum kecil, membalas sentuhan tangannya.“Rania aman, Bun. Kak Gavin juga langsung melarang Rania pulang karena takut berbahaya di jalan.”“Iya, syukurlah. Nanti kalau ketemu, Bunda mau mengucapkan terima kasih langsung kepada Gavin.”Bunda mengusap lenganku sebentar sebelum melanjutkan,“Sekarang kamu istirahat dulu di kamar, Nanti malam keluarga Giselle datang pukul tujuh.”“Iya, Bun. Rania ke atas dulu, ya.

  • DEKAP HANGAT KAKAK TIRIKU   175

    Cahaya matahari pagi yang menerobos masuk melalui celah tirai perlahan mengusik tidurku. Aku mengerjap, menyesuaikan mata dengan terangnya ruangan. Suara hujan dan gemuruh badai semalam telah sepenuhnya menghilang. Udara di dalam kamar ini terasa sejuk, tetapi tubuhku diselimuti kehangatan yang luar biasa nyaman. Sebuah lengan kekar melingkar erat di pinggangku, menahan tubuhku agar tetap merapat pada dada bidang yang naik turun secara teratur di punggungku. Aku tersenyum tipis. Ingatan tentang apa yang terjadi semalam kembali berkelebat, membawa semburat panas yang menjalar hingga ke kedua pipiku. Dengan sangat berhati-hati agar tidak membangunkannya, aku mencoba memutar tubuh untuk menatap wajah Kak Gavin. Namun, baru saja aku bergerak, pelukannya di pinggangku justru mengerat. Hembusan napasnya yang hangat menerpa puncak kepalaku, disusul oleh suara parau khas orang yang baru bangun tidur. "Mau ke mana, hm?" gumamnya serak, matanya masih terpejam namun bibirnya menyusuri

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status