FAZER LOGINKeheningan yang tegang menyergap ruang makan.Tuan dan Nyonya Carter terkesiap, sementara senyum di wajah Kak Giselle seketika luntur berganti dengan raut kebingungan yang bercampur amarah.Mengabaikan seluruh tatapan terkejut dari orang tua Kak Giselle dan keluarga kami, Mas Tian bergerak cepat menghampiriku.“Ambilkan kotak P3K! Cepat!” perintahnya tajam kepada pelayan.Ia meraih beberapa lembar tisu dari tempatnya, kemudian menekan perlahan bagian jariku yang terluka.Gerakannya terlihat terburu-buru, bertolak belakang dengan ekspresi wajahnya yang berusaha keras ia kendalikan.“Tian, tenang dulu,” ujar Papa, mencoba meredakan suasana.Mas Tian sama sekali tidak menjawab.Perhatiannya hanya tertuju pada telunjukku.Jari-jarinya tampak menegang saat melihat noda merah mulai membasahi tisu yang digunakannya.Aku menatapnya dengan ekspresi datar.Tidak ada lagi debaran, tidak ada lagi rasa rapuh yang biasanya muncul saat ia memberiku perhatian seperti ini.Beberapa detik kemudian, per
Begitu melangkah masuk ke ruang keluarga, aroma masakan langsung menyambut penciumanku.Para pelayan tampak sibuk berlalu-lalang, menata hidangan di atas meja makan panjang yang sudah dipersiapkan untuk makan malam nanti.“Rania, udah pulang, Nak?”Suara Bunda terdengar dari arah ruang tengah.Wanita itu menghampiriku dengan senyum lega, lalu menepuk bahuku pelan.“Aman, kan, di jalan? Semalam hujannya deras sekali. Bunda sempat khawatir,” ucapnya.“Untung kamu langsung ngabarin kalau menginap di tempat Gavin. Bunda jadi tenang karena tahu ada yang jagain kamu di sana.”Aku tersenyum kecil, membalas sentuhan tangannya.“Rania aman, Bun. Kak Gavin juga langsung melarang Rania pulang karena takut berbahaya di jalan.”“Iya, syukurlah. Nanti kalau ketemu, Bunda mau mengucapkan terima kasih langsung kepada Gavin.”Bunda mengusap lenganku sebentar sebelum melanjutkan,“Sekarang kamu istirahat dulu di kamar, Nanti malam keluarga Giselle datang pukul tujuh.”“Iya, Bun. Rania ke atas dulu, ya.
Cahaya matahari pagi yang menerobos masuk melalui celah tirai perlahan mengusik tidurku. Aku mengerjap, menyesuaikan mata dengan terangnya ruangan. Suara hujan dan gemuruh badai semalam telah sepenuhnya menghilang. Udara di dalam kamar ini terasa sejuk, tetapi tubuhku diselimuti kehangatan yang luar biasa nyaman. Sebuah lengan kekar melingkar erat di pinggangku, menahan tubuhku agar tetap merapat pada dada bidang yang naik turun secara teratur di punggungku. Aku tersenyum tipis. Ingatan tentang apa yang terjadi semalam kembali berkelebat, membawa semburat panas yang menjalar hingga ke kedua pipiku. Dengan sangat berhati-hati agar tidak membangunkannya, aku mencoba memutar tubuh untuk menatap wajah Kak Gavin. Namun, baru saja aku bergerak, pelukannya di pinggangku justru mengerat. Hembusan napasnya yang hangat menerpa puncak kepalaku, disusul oleh suara parau khas orang yang baru bangun tidur. "Mau ke mana, hm?" gumamnya serak, matanya masih terpejam namun bibirnya menyusuri
Pintu kamar utama terbuka perlahan akibat dorongan punggung Kak Gavin. Tanpa melepaskan pautan bibir kami sedetik pun, ia melangkah masuk membawaku ke dalam ruangannya yang didominasi aroma maskulin yang begitu kukenali. Di luar, kilatan petir kembali menyambar diiringi gemuruh guntur yang menggetarkan kaca jendela, namun semua itu seolah teredam oleh riuhnya detak jantung kami yang saling beradu. Kak Gavin menurunkanku dengan sangat perlahan di atas kasurnya yang luas. Seprai berwarna gelap itu terasa sejuk menyentuh punggungku, berbanding terbalik dengan suhu tubuh pria yang kini mengungkungku. Ia menahan sebagian besar berat badannya dengan kedua siku di sisi tubuhku, memastikan ia tidak menindih luka di bahu dan dadaku. Ciuman kami yang tadinya menuntut kini berubah melambat, beralih menjadi lumatan-lumatan dalam yang memabukkan. Tanganku merambat naik, menyusuri punggungnya yang tegap, merasakan otot-ototnya yang menegang di bawah telapak tanganku. Saat napas kami bena
Udara di sekitar kami menipis.Suara derau hujan di luar mengabur, tergantikan oleh degup jantungku sendiri yang kini berpacu liar.Malam ini, di bawah cahaya lampu pantry yang temaram, aku tidak ingin menghindar.Perlahan, aku mengangkat kedua tanganku.Mengabaikan sisa-sisa rasa gugupku, aku mencondongkan tubuhku ke depan dan mengalungkan kedua lenganku di lehernya.Gerakanku itu seolah meruntuhkan sisa pertahanan Kak Gavin.Terdengar erangan tertahan dari sela tenggorokannya.Ia memiringkan kepalanya, membalas ciumanku dengan lumatan yang jauh lebih dalam, menuntut, dan penuh gairah.Kedua tangannya langsung mencengkeram pinggangku.Dengan satu gerakan yang mulus dan bertenaga, Kak Gavin mengangkat tubuhku dari kursi, memutar langkahnya sejenak, lalu mendorongku mundur hingga aku terduduk di atas permukaan meja pantry yang dingin.Semuanya terjadi begitu cepat tanpa ia melepaskan tautan bibir kami sedikit pun.Kak Gavin memposisikan dirinya berdiri tepat di antara kedua kakiku, mer
Aku menoleh ragu-ragu.Kak Gavin sudah mengenakan kausnya dengan benar.Ia berjalan mendekatiku, mengambil gelas bersih dari rak, lalu menuangkan air dari botol yang dipegangnya."Sini," panggilnya lembut sambil menyodorkan gelas itu padaku.Aku melangkah mendekat, menerimanya sambil menunduk karena pipiku pasti masih terlihat merah merona."Makasih, Kak."Aku meminum air itu perlahan untuk menetralkan debar jantungku yang masih tidak karuan, sementara Kak Gavin bersandar di tepi meja pantry, melipat kedua lengannya di depan dada, dan menatapku lekat."Nggak bisa tidur?" tanyanya saat aku meletakkan gelasku.Aku menggeleng pelan. "Nggak tahu kenapa. Matanya nggak mau merem dari tadi."Kak Gavin menatap jam di dinding, lalu kembali menatapku."Mau kubuatin susu hangat? Biasanya ampuh bikin ngantuk.""Nggak usah, Kak. Nanti ngerepotin lagi. Aku balik ke kamar aja coba merem lagi," tolakku halus, bersiap untuk berbalik.Namun, belum sempat aku melangkah, Kak Gavin menahan lenganku dengan







