MasukPintu itu tertutup perlahan. Aku masih menatapnya. Untuk beberapa detik, aku tidak mampu melakukan apa pun selain memandangi pintu yang baru saja dilewati Mas Tian. Rasanya aneh. Beberapa menit yang lalu, aku masih ingin dia pergi. Aku ingin dia berhenti memaksaku untuk terus berada dalam hubungan yang bahkan kami sendiri tahu tidak seharusnya terjadi. Namun sekarang, ketika dia benar-benar pergi... dadaku justru terasa begitu sesak. Aku memeluk tubuhku sendiri. Air mata yang sejak tadi kutahan kembali jatuh. Bukankah ini yang kuinginkan? Mas Tian akhirnya menyerah. Dia tidak lagi memintaku memilih dirinya. Seharusnya aku merasa lega. Namun, kenapa yang kurasakan justru seperti kehilangan? Aku mengusap pipiku dengan telapak tangan. “Bodoh...” bisikku pada diri sendiri. Aku menarik selimut hingga sebatas dada. Aku menatap langit-langit kamar. Pikiranku kembali berputar. Tentang Mas Tian. Tentang pertunangan dengan Kak Giselle. Tentang pengakua
Mas Tian berjalan mendekat, langkahnya berdentum pelan di atas lantai berlapis karpet. Tidak ada bentakan atau gurat amarah yang meledak-ledak di wajahnya. Ia justru terlihat sedang menahan mati-matian badai emosi di dalam dadanya. Ia berhenti tepat di samping tempat tidur. Ia menunduk menatapku dengan napas yang memburu. “Kenapa kamu menerima Gavin sebagai kekasihmu?” tanyanya pelan. Suaranya tidak membentak, terdengar begitu halus dan memohon penjelasan baik-baik, namun justru ketenangan itulah yang membuatku merinding. Sorot matanya memancarkan rasa terluka yang begitu dalam. Aku menelan ludah, berusaha mencari suaraku. “K-karena dia sungguh-sungguh mencintaiku.” Mendengar kata itu, mata Mas Tian seketika memerah. Rahangnya mengeras menahan ngilu. Perlahan, ia naik ke atas ranjang. Ia tidak menyentakku, melainkan mengurung tubuhku dengan kedua lengannya, mencondongkan tubuh besarnya hingga wajah kami hanya berjarak beberapa sentimeter. “Apa kamu pik
“Saya setuju.”Dua kata itu meluncur begitu saja dari bibir Mas Tian.Dingin, tegas, tanpa keraguan sedikit pun.Semua percakapan di meja makan seketika terhenti.Bunda tampak terkejut, sebelum senyum lega muncul di wajahnya. Papa ikut terlihat lebih santai, sementara Tuan Carter tertawa puas.“Keputusan yang sangat baik, Tian.”Kak Giselle tersenyum di sampingnya.Aku hanya diam.Entah kenapa, dadaku terasa sesak mendengar jawaban itu.Mas Tian menerima pertunangan dengan Kak Giselle.Aku tidak tahu apa yang ada di pikiran Mas Tian.Dan mungkin aku memang tidak perlu tahu.Aku sudah memiliki Kak Gavin.Aku sudah memilih jalan yang berbeda.Hubunganku dengan Mas Tian adalah sesuatu yang tidak pernah seharusnya terjadi. Hubungan yang hanya diketahui oleh kami berdua dan harus tetap menjadi rahasia.Jadi ketika dia menerima pertunangan itu, seharusnya aku merasa lega.Seharusnya aku bisa benar-benar melepaskan semuanya.Tapi kenyataannya, ada bagian kecil dalam diriku yang justru teras
Bunyi benturan itu masih berdenging di udara. Semua percakapan seketika terhenti. Mata semua orang di ruangan VVIP itu tertuju pada Mas Tian. Tangan pria itu masih mencengkeram erat meja, urat-urat di punggung tangannya menonjol menahan emosi. Namun sedetik kemudian, ia menarik napas panjang. Rahangnya yang mengeras perlahan mengendur, meski matanya tetap menyorot tajam. "Maaf," ucap Mas Tian dengan suara parau yang terdengar dipaksakan. "Tangan saya licin." Sebuah alasan yang teramat kaku. Namun Kak Gavin sama sekali tidak terpengaruh oleh letupan emosi itu. Ia duduk dengan tenang, bahunya rileks, sama sekali tidak gentar menghadapi tatapan Mas Tian yang seolah ingin menelannya hidup-hidup. "Sejak kapan?" tanya Mas Tian. Suaranya rendah. Dingin. Mengandung tuntutan yang hanya bisa dirasakan oleh kami yang duduk di sudut meja ini. Kak Gavin menatap balik tanpa berkedip. "Hampir satu minggu, Kak," jawabnya mantap. Hening sejenak. Lalu, suara tawa Tuan Aryasena memecah
Mataku tak bisa lepas dari sosok yang berdiri di luar sana. Kak Gavin. Ia berdiri beberapa meter dari pintu ruangan kami.Kemeja kasual yang biasa ia kenakan di kampus kini berganti dengan setelan jas semi-formal berwarna gelap yang dijahit sempurna. Penampilannya benar-benar berbeda. Belum sempat aku memproses kehadirannya, seorang pelayan yang tadi membawa piring kosong mendorong daun pintu VVIP untuk keluar. Pintu itu terbuka lebar. Pada saat yang sama, Tuan Carter yang kebetulan sedang menghadap ke arah luar langsung membelalakkan mata. Ia segera bangkit dari kursinya. “Ah! Pak Aryasena?” serunya dengan senyum terkejut yang langsung berubah hangat.“Sungguh kebetulan yang luar biasa. Sedang makan malam di sini juga, Pak?” Keluarga yang semula hanya melintas di depan ruangan itu pun menghentikan langkah. Tuan Aryasena menoleh ke dalam.Begitu melihat siapa yang memanggilnya, ia tertawa kecil. “Ah, Pak Carter. Benar. Kami baru saja menyelesaikan urusan di sekitar sini dan
Sepanjang perjalanan, tidak banyak percakapan. Aku memilih menatap keluar jendela. Lampu-lampu kota Jakarta bergerak cepat di balik kaca, sementara pantulanku sendiri sesekali terlihat samar di sana. Aku sengaja tidak menoleh ke arah Mas Tian. Hubungan kami sudah terlalu rumit. Ada terlalu banyak hal yang tidak seharusnya terjadi. Aku tidak ingin kembali terseret ke dalam perasaan yang sama. Terlebih sekarang aku sudah memiliki seseorang yang secara terang-terangan memilih untuk berada di sisiku. Kak Gavin. Tanpa sadar, sudut bibirku terangkat sedikit. Aku teringat kedatangannya kemarin. Dia membawa makanan kesukaanku, memastikan aku makan tepat waktu, lalu mengomel karena aku masih berusaha berjalan sendiri meskipun kakiku belum pulih sepenuhnya. Hal-hal kecil seperti itu entah kenapa selalu berhasil membuatku merasa tenang. Aku tersenyum kecil. Hening sejenak di dalam kabin, sampai tiba-tiba aku merasakan sebuah kehangatan menyentuh pangkuanku. Mas Tian







