LOGINPertanyaan itu menggantung di udara di antara kami. “Kamu cemburu?” Suara Mas Tian pelan, tapi setiap katanya terasa menusuk. Matanya tidak lepas dari wajahku. Tangannya masih di atas tanganku, ibu jarinya berhenti mengusap, seolah menunggu jawabanku. Aku membuka mulut. Lalu menutupnya lagi. Tidak ada kata yang keluar. Karena apa yang harus kukatakan? Bahwa ya, aku cemburu? Bahwa setiap kali melihatnya duduk di samping Kak Giselle, dadaku terasa digenggam erat? Bahwa aku membenci senyum manis yang Kak Giselle berikan kepadanya, dan lebih membenci lagi fakta bahwa Mas Tian tidak menolaknya mentah-mentah? Tapi aku tidak punya hak. Sama sekali tidak. Aku hanya adik tirinya. Gadis yang tinggal di mansion ini karena Bunda. Bukan kekasih. Bukan tunangan. Bukan siapa-siapa yang berhak melarangnya dekat dengan perempuan lain. Apalagi dengan Kak Giselle perempuan pilihan Bunda yang akan menjadi calon tunangannya kelak. Aku menunduk, menarik tanganku perlahan dari genggamannya. Hang
Hari demi hari berlalu dengan tenang di permukaan, namun di bawahnya ada sesuatu yang terus menggerogoti. Mas Tian semakin sering pulang lebih sore. Kadang ia langsung naik ke kamar, kadang berhenti sebentar di ruang keluarga hanya untuk menanyakan apakah aku sudah makan. Namun belakangan ini, kehadirannya di mansion selalu diikuti oleh satu hal yang sama. Kak Giselle. Bunda yang memintanya. Aku mendengar sendiri percakapan mereka suatu malam di ruang kerja. Bunda berbicara tentang kepentingan perusahaan, tentang citra keluarga, tentang bagaimana kehadiran Kak Giselle di sisi Mas Tian akan menenangkan investor yang masih ragu. Mas Tian tidak menjawab panjang. Hanya “Baik, Bunda” yang terdengar datar, lalu pintu tertutup. Sejak itu, Kak Giselle datang hampir setiap sore. Dan Mas Tian… menemaninya. Sore itu aku duduk di sofa ruang keluarga dengan laptop yang sama, seolah dunia di luar layar itu tidak ada. Namun pandanganku terus teralihkan ke arah ruang tamu. Mereka duduk berseb
Beberapa hari kemudian...... Kak Giselle jadi sering datang ke mansion. Mobilnya yang selalu terparkir di barisan paling depan, suara heels-nya yang berdentum percaya diri di lantai marmer, dan senyum manisnya yang hanya muncul saat ada Bunda di dekatnya. Di luar itu, tatapannya selalu dingin setiap kali bertemu denganku. Sore itu aku sedang duduk di ruang keluarga dengan laptop di pangkuanku ketika suara mereka terdengar samar dari ruang tamu. Aku tidak bermaksud menguping, tetapi pintu yang sedikit terbuka membuat sebagian percakapan mereka sampai ke telingaku. “…terlalu bebas bergaul di rumah ini,” suara Kak Giselle terdengar lembut, penuh perhitungan. “Aku khawatir orang luar salah paham… dan skandal yang dulu sempat terjadi tidak kembali terulang.” Dadaku sesak sebentar. Lalu suara Bunda menjawab dengan tenang. “Rania memang dekat dengan kakak-kakak tirinya. Tidak ada yang aneh. Soal skandal itu sudah selesai.” Aku menunduk, menatap layar laptop yang sebenar
Di perjalanan pulang, Mas Tian tidak membawa kami ke mansion.Mobilnya berbelok ke arah yang berbeda.Aku menoleh.“Mas… kita tidak pulang?”“Tidak.”Suaranya rendah.“Kita ke penthouse.”Aku terdiam.Beberapa menit kemudian, kami sudah berada di dalam lift yang membawa kami ke lantai tertinggi.Begitu pintu penthouse terbuka, Mas Tian menarikku masuk.Pintu ditutup dengan pelan. Kunci diputar.Ruangan itu sunyi. Hanya suara napas kami yang terdengar.Aku berdiri kaku di tengah ruang tamu. Kalimat Bunda dan jawaban Mas Tian masih berputar di kepalaku, menusuk, membuat dadaku sesak. Air mata yang sempat kutahan sepanjang malam kini mulai mengancam kembali.Mas Tian berdiri di hadapanku. Ia tidak langsung berbicara. Ia hanya menatapku lama, seolah sudah tahu persis apa yang sedang kucoba sembunyikan.Lalu, tanpa berkata apa-apa, ia melangkah mendekat dan menarikku ke dalam pelukannya.Pelukannya erat. Hangat. Kokoh.Aku terdiam sejenak, lalu tubuhku melemah. Tanganku naik, memeluk pungg
Bunda benar-benar ingin Mas Tian bersama Giselle. Dan Mas Tian... Ia mengatakan akan mempertimbangkannya. Aku menunduk, berusaha menahan air mata yang mulai memenuhi pelupuk mataku. Aku tidak boleh menangis di sini. Tidak di depan mereka. Aku menarik napas panjang beberapa kali sebelum akhirnya mengusap sudut mataku. Setelah merasa sedikit lebih tenang, aku kembali menuju ruangan. Begitu pintu kubuka, semua orang langsung menoleh kepadaku. Bunda tersenyum. “Lama sekali, Sayang?” Aku membalas senyumnya. “Tadi agak ramai di toilet.” Bunda mengangguk. “Duduklah.” Aku kembali ke tempat dudukku. Aku berusaha bersikap seperti tidak terjadi apa-apa. Mas Tian yang duduk di seberangku langsung menatapku. Tatapannya membuatku sedikit gugup. Seolah ia menyadari ada sesuatu yang berbeda dari diriku. Aku memilih menunduk dan mengambil gelas air. Aku meneguknya perlahan. “Rania.” Suara Kak Giselle membuatku menoleh. Ia tersenyum manis. “Iya, Kak?” “Kamu kuliah di mana?” A
Aku sama sekali tidak tahu akan makan malam dengan siapa malam ini. Bunda hanya mengatakan bahwa aku harus ikut makan malam bersama keluarga. Tidak ada penjelasan lebih lanjut. Aku sempat bertanya, tetapi Bunda hanya tersenyum dan mengatakan bahwa semuanya akan aku ketahui setelah sampai di restoran. Entah kenapa, jawaban itu justru membuatku semakin penasaran. Apalagi setelah percakapan kami semalam. Tentang seseorang yang ingin diperkenalkan Bunda kepada Mas Tian. Aku mencoba membuang pikiran itu jauh-jauh. Mungkin saja makan malam ini hanya berkaitan dengan urusan bisnis. Mungkin aku terlalu banyak berpikir. Sore itu, kami berangkat menuju restoran secara terpisah. Papa dan Bunda naik mobil mereka sendiri. Sementara aku diminta ikut bersama Mas Tian. Aku berdiri di samping mobilnya ketika Mas Tian membukakan pintu untukku. “Masuk.” Aku mengangguk kecil. “Terima kasih, Mas.” Aku masuk ke dalam mobil. Mas Tian kemudian berjalan ke sisi pengemudi dan masuk beberapa d







