LOGIN"Jadi apa yang terjadi dengan Amara?”
Pagi itu Mira yang baru datang langsung diserbu oleh teman-temannya. Tampaknya mereka memang benar-benar penasaran dengan perubahan saudaranya yang terlalu signifikan. Tapi hal itu bukanlah yang terpenting. Mereka hanya tidak sadar jika keingin tahuan mereka menyebabkan perasaan Mira kembali panas.“Menurut kalian bagaimana?” Mira balas bertanya. Dia berusaha menahan nada sinis yang mungkin saja keluar dari mulutnya. Bagaimanapun Mira masih harus mempertahankan reputasinya.“Well dia tidak terlihat buruk.”“Bukannya tidak terlihat buruk. Amara memang sangat cantik.” Bahkan yang tidak ikut mengobrol bersama mereka juga ikut berkomentar.Tangan Mira terkepal. Jari-jarinya melengkung. Tapi dia tidak ingin mengatakan apapun. Dia tahu batasan dirinya. Jika dia bersuara, dia hanya akan mengacaukan suasana.“Apa sikapnya terhadapmu juga berubah?”Mira melirik temannya. “Sarah… Jika seekor rubah memakai bulu domba, bukan berarti dia akan berubah menjadi domba sepenuhnya. Begitu juga dengan sifat seseorang. Hanya karena penampilannya berubah, bukan berarti sifatnya juga akan berubah. Sifat manusia… itu adalah hal yang paling rumit. Tidak akan mudah bagi seseorang merubah sifatnya apalagi sifat buruk yang sudah lama dia miliki.”Sarah hanya terdiam. Kata-kata Mira memang benar. Tapi entah kenapa terdengar salah juga di telinganya.Sudah cukup lama untuk mereka berteman. Sarah bukannya tidak memperhatikan. Tapi ada kalanya dia merasa sedikit aneh dengan sikap Mira. Mira selalu saja menekankan kalau Amara tidak memperlakukannnya dengan baik. Tidak! Mira memang tidak mengatakannya secara langsung, tapi setiap jawaban yang dia berikan selalu mengarahkan jika rumor yang beredar adalah benar.Sarah selalu memperhatikan jika dua saudara tidak sedarah itu kebetulan bersama. Bukan saja tidak memperhatikan, Sarah ragu jika Amara bahkan tidak memandang mereka sedikitpun. Jadi dia bertanya-tanya disaat seperti apa Amara memperlakukan Mira dengan buruk?Di rumah? Tapi melihat kedekatan Mira dengan ayah tirinya, Sarah fikir tidak mungkin Amara berani melakukan sesuatu yang buruk terhadap Mira. Semua pemikiran itu sedikitnya membuat Sarah merasa sedikit tidak nyaman dengan Mira. Tapi mengingat semua sikap baik Mira selama ini, apalagi dia juga sering membantunya, Sarah selalu berusaha mengesampingkan perasaan tidak nyamannya.“Ada apa? Kenapa kamu melihat aku seperti itu?” Mira bertanya curiga.“Tidak. Aku hanya memikirkan sesuatu yang tidak terlalu penting. Lupakan.”Mira tahu ada yang tidak benar. Tapi lebih baik dia mengabaikannya jika tidak ingin Sarah merasa jengkel dengan sikapnya.“Bagaimana dengan rencana kita nanti sore? Kalian jadi main ke rumah aku kan?” Mira bertanya antusias. Selain bisa memamerkan kasih sayang ayah tirinya yang sangat memanjakannya, itu juga akan menjadi kesempatan untuk Mira menunjukan betapa bengkoknya sikap Amara. Amara benar-benar benci keributan. Melihat terlalu banyak orang datang, itu akan memicu emosi tidak stabilnya dan hal itu akan membuat teman-temannya semakin percaya jika Amara adalah orang yang menyebalkan.“Tentu saja. Aku sejak dulu selalu penasaran dengan rumahmu. Dari luar terlihat sangat mewah. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana isinya.”Teman-teman Mira yang lain setuju.Selama mereka berteman, mereka memang tidak pernah mengunjungi rumah Mira. Mereka enggan. Amara terkenal sangat pendiam dan sulit didekati. Jadi semua orang takut menganggu jika mereka main ke rumah temannya itu. Tapi kali ini berbeda. Mira sendiri yang mengajak mereka untuk mampir. Jadi tidak ada salahnya untuk menghilangkan rasa penasaran mereka selama ini.“Baiklah. Nanti setelah kelas selesai, kita pulang bersama.”***“Kita bertemu lagi.”Amara memutar bola matanya malas. Ini ketiga kalinya di pagi ini dia bertemu dengan Andrew. Awalnya Amara menyapa ramah dan langsung mencari alasan untuk menghindari pria itu dengan halus. Lagipula bukanlah hal yang baik untuknya terlibat terlalu banyak dengan Andrew. Tapi semakin Amara mencoba untuk menghindar, semakin sering wajah pria itu muncul di hadapannya.“Hm. Kebetulan yang sedikit mengerikan.” Amara tersenyum sarkas.Amara benar-benar tidak bisa menahannya lagi. Dia benar-benar lelah.“Hahaha. Kamu benar-benar lucu.”Perasaan Amara semakin masam. Dia tidak mengerti apakah Andrew sadar dengan penolakannya atau pria itu pura-pura tidak menyadarinya? Jelas sekali Amara secara terang-terangan menunjukan keenggannya untuk berurusan lebih jauh dengannya.“Sore nanti apa kamu memiliki acara? Aku ingin mengajak kamu menonton.” Andrew kembali bersuara.Amara menghela nafas. Orang seperti Andrew ini adalah orang yang paling dia hindari. Sangat naif dan egois. Bersikap seolah-olah semua akan dia dapatkan.“Aku akan menjemputmu. Sampai jumpa.”Rasanya Amara ingin berteriak kencang. Pria itu benar-benar egois. Dia bahkan tidak mendengarkan pendapatnya.Amara ingin mengejar dan menjelaskan jika dia tidak ingin keluar dengan Andrew. Tapi entah kenapa dia merasa ragu. Antara rasa takut untuk terlibat lebih jauh dan rasa penasaran dengan hubungan yang pria itu miliki dengannya. Karena jujur saja Amara benar-benar tidak memiliki ingatan apapun dengan Andrew di masa lalu.“Tunggu! Bagaimana Andrew tahu alamat rumahku?” seingat Amara dia tidak pernah memberitahu alamat rumahnya kepada pria itu. Dan pria itu dengan percaya diri mengatakan akan menjemputnya?Amara tiba-tiba meremang. Itu artinya pria itu benar-benar mencari tahu tentang kehidupannya bukan? Ini bukankah seperti seorang penguntit mengerikan?***Yang Amara pikirkan setelah pulang dari kampusnya hanyalah beristirahat. Dia cukup lelah dengan drama tidak penting yang Andrew lakukan hampir seharian ini. Tapi baru saja dia membuka pintu rumahnya, suara musik langsung terdengar kencang di telinganya.Amara menatap ruang tamunya yang berubah meriah. Terlalu banyak orang. Rasanya matanya akan buta melihat kekacauan ini.Semua orang yang menyadari kedatangannya langsung menghentikan kegiatan mereka. Beberapa berdehem tidak nyaman. Apalagi melihat reaksi Amara yang mematung menatap mereka.Mira melangkah mendekati Amara. Ada senyum manis terukir di bibirnya.“Ini… aku mengundang mereka untuk datang ke rumah. Hanya sekali bukankah ini tidak masalah?”Nada ragu Mira membuat telinga Amara tidak nyaman. Mengapa perempuan itu meminta persetujuannya disaat dia bersikap seolah dialah tuan rumah yang sebenarnya sebelumnya?Alis Amara terangkat sebelah. Ingatan saat dulu dia pernah mengamuk dan mengusir teman-teman kampusnya kembali terputar. Saat itu Amara dalam suasana hati yang buruk. Melihat semua orang yang sebelumnya menggunjingkannya bersenang-senang di rumahnya, jelas membuat emosi Amara yang tidak stabil meluap. Dia berteriak dan mengusir mereka dengan sangat kasar. Setelah hari itu bahkan menjadi lebih buruk. Amara semakin di jauhi dan rumor buruk semakin beredar. Semua orang menatapnya dengan penuh kebencian.Tapi kali ini Amara tidak akan melakukan kesalahan yang sama. Jebakan Mira akan Amara jadikan sebagai jalannya sendiri untuk mencari masa.“Kenapa kamu bertanya kepadaku? Ini adalah rumahmu juga sekarang. Kamu berhak mengundang teman-temanmu untuk datang ke rumah kita.” Amara balas tersenyum. Amara menatap ke arah semua orang. “Kalian bersenang-senanglah.”Mira mengepalkan tangannya. Reaksi Amara tidak seperti yang dia harapkan. Harusnya tidak seperti ini.Amara berjalan melewati sekumpulan teman-teman Mira. Dia hanya ingin langsung pergi ke kamarnya.“Amara…”Amara menghentikan langkahnya saat mendengar panggilan ragu itu.Mira juga melirik ke arah suara itu.“Ya?”“Akan lebih bagus jika kamu juga bergabung dengan kita semua.” Sarah menatap Amara lembut. Apa yang dia pikirkan benar. Amara bukanlah orang yang buruk. Dia merasa bersalah karena selalu menilai perempuan itu dengan keliru.“Terimakasih atas tawarannya. Tapi aku saat ini benar-benar lelah. Aku akan beristirahat.” Amara menjawab. “Mungkin lain kali?”Sarah mengangguk antusias. Tidak tahu kenapa dia ingin mengenal lebih jauh saudari tiri teman baiknnya itu.“Tentu!” Sarah bahkan tidak menyadari ekspresi masam Mira saat dia menjawab Amara dengan antusias."Jadi apa yang terjadi dengan Amara?”Pagi itu Mira yang baru datang langsung diserbu oleh teman-temannya. Tampaknya mereka memang benar-benar penasaran dengan perubahan saudaranya yang terlalu signifikan. Tapi hal itu bukanlah yang terpenting. Mereka hanya tidak sadar jika keingin tahuan mereka menyebabkan perasaan Mira kembali panas.“Menurut kalian bagaimana?” Mira balas bertanya. Dia berusaha menahan nada sinis yang mungkin saja keluar dari mulutnya. Bagaimanapun Mira masih harus mempertahankan reputasinya.“Well dia tidak terlihat buruk.”“Bukannya tidak terlihat buruk. Amara memang sangat cantik.” Bahkan yang tidak ikut mengobrol bersama mereka juga ikut berkomentar.Tangan Mira terkepal. Jari-jarinya melengkung. Tapi dia tidak ingin mengatakan apapun. Dia tahu batasan dirinya. Jika dia bersuara, dia hanya akan mengacaukan suasana.“Apa sikapnya terhadapmu juga berubah?”Mira melirik temannya. “Sarah… Jika seekor rubah memakai bulu domba, bukan berarti dia akan berubah menjadi d
Seharian Amara bermain dengan ponselnya. Berusaha mencari sedikit kelamahan sang adik tiri. Tapi semakin dia mencari, semakin dia tidak bisa menahan decakan kagumnya. Mira benar-benar tahu cara untuk membuat citranya terlihat baik.Pertama yang Amara lakukan adalah mencari akun sosial media Mira. Jumlah pengikut instagramnya ratusan ribu. Belum lagi akun social medianya yang lain yang jumlah pengikutnya tidak kalah jauh. Bahkan ada yang membuat akun penggemar khusus hanya untuk memuji perempuan itu.Amara tidak tahan untuk membandingkan akun sosial Mira dengan miliknya. Pengikut akun instagram Amara hanya ada di kisaran delapan ratusan. Itu juga pengikutnya hanya berasal dari orang-orang yang Amara rasa cukup familiar di matanya. Akunnya terprivate. Sudah sangat lama sejak dia memposting sesuatu di akunnya itu.Yang Amara lakukan selanjutnya hanya membuka akunnya agar menjadi publik. Mengambil liptintnya dan mengoles tipis benda itu ke bibirnya. Amara berpose ke arah kamera dan mengam
Amara tidak paham apa yang terjadi. Maksudnya dia tahu penampilannya hari ini sangat berbeda tapi bukankah reaksi orang-orang ini terlalu berlebihan? Ini tidak seperti dia melakukann prosedur operasi perubahan wajah yang signifikan. Dia hanya merubah gaya berpakaiannya tapi semua orang benar-benar mengarahkan tatapan mereka seolah melihat keajaiban dunia saja.Amara mencoba tidak ambil pusing. Dia benar-benar tidak perduli lagi dengan pendapat mereka.“Permisi.”Setelah beberapa langkah, Amara menghentikan langkahnya. Dia yang hendak pergi ke perpustakan mengurungkan niatnya. “Ya?”“Boleh aku bertanya di mana perpustakaannya?”Amara menatap pra itu beberapa saat. Wajahnya sangat asing. Amara memang bukanlah orang yang akan mengingat setiap wajah yang dilihatnya. Tapi pria ini memiliki tipe wajah yang tidak akan mudah dilupakan. Seharusnya Amara pernah melihatnya sekali dua kali. Tapi seperti sebelumnya, Amara tidak akan ambil peduli.Amara mengangguk. “Aku kebetulan akan ke sana. kita
Pagi itu Amara sudah siap untuk pergi ke kampus. Penampilannya sedikit berbeda. Dia terlihat lebih feminim. Fitur wajahnya yang awalnya memang sudah cantik dan manis terlihat semakin memukau.“Apa ini tidak terlalu pendek? Mungkin akan terlihat berlebihan?” Amara berguman di hadapan bayangannya sendiri. “Terserahlah.”Amara turun ke ruang makan. Duduk dan langsung memakan sarapan tanpa mempedulikan orang-orang yang sudah datang lebih awal.Amara bisa melihat berbagai ekspresi. Sinis, tidak bisa berkata-kata dan kaku. Jelas ini adalah pertama kalinya untuk Amara hadir di meja makan itu setelah kepergian sang ibu.Suasananya benar-benar stagnan. Semuanya terlihat tidak nyaman. Tapi apa Amara perduli? Haha tapi maaf, dia benar-benar mulai menikmati suasana seperti.Sekarang dia benar-benar ingin semuanya merasakan hal yang sama. Dari dulu hanya dia yang merasa terasingkan. Sementara yang lai terlihat sangat bahagia seolah keluarga kecil itu berada di dunia yang lain. Jika kehadirannya ju
“Aku tidak melakukannya ayah. Aku berani bersumpah.” Suaranya benar-benar serak. Di hadapan puluhan pasang mata, tidak ada satupun yang memberinya belas kasih. Semua seolah percaya jika dia akan melakukan hal mengerikan itu.Amara hanya memiliki ayahnya sebagai keluarga. Darah pria itu benar-benar mengalir di setiap nadinya. Tapi jangankan mendengarkannya, pria itu bahkan terlihat sangat muak menatapnya.“Devan… kita bersama hampir lima tahun. Kamu mengenalku dengan sangat baik. Kamu benar-benar percaya jika aku akan sanggup melakukannya?”Amara merangkak mendekati pria lain yang berdiri di samping ayahnya. Dia adalah mantan tunangan Amara sekaligus kekasih adik tirinya saat ini.Devan hanya menatap Amara lurus. Benci. Hanya itu yang dia rasakan kepada mantan tunangan yang dulu sangat dia sayangi dan manjakan. Devan benar-benar tidak bisa membayangkan jika selama ini dia benar-benar menghabiskan waktu yang sangat lama bersama perempuan yang menurutnya memiliki hati busuk. Kenapa dia b







