LOGINPagi itu Amara sudah siap untuk pergi ke kampus. Penampilannya sedikit berbeda. Dia terlihat lebih feminim. Fitur wajahnya yang awalnya memang sudah cantik dan manis terlihat semakin memukau.
“Apa ini tidak terlalu pendek? Mungkin akan terlihat berlebihan?” Amara berguman di hadapan bayangannya sendiri. “Terserahlah.”Amara turun ke ruang makan. Duduk dan langsung memakan sarapan tanpa mempedulikan orang-orang yang sudah datang lebih awal.Amara bisa melihat berbagai ekspresi. Sinis, tidak bisa berkata-kata dan kaku. Jelas ini adalah pertama kalinya untuk Amara hadir di meja makan itu setelah kepergian sang ibu.Suasananya benar-benar stagnan. Semuanya terlihat tidak nyaman. Tapi apa Amara perduli? Haha tapi maaf, dia benar-benar mulai menikmati suasana seperti.Sekarang dia benar-benar ingin semuanya merasakan hal yang sama. Dari dulu hanya dia yang merasa terasingkan. Sementara yang lai terlihat sangat bahagia seolah keluarga kecil itu berada di dunia yang lain. Jika kehadirannya juga bisa menebarkan aura tidak nyaman kepada semua orang, biarlah dia berada di pandangan mereka lebih sering. Setidaknya semua orang akan merasakan ketidak nyamanan ini.Arya berdehem pelan. Ini sangat canggung. Setelah sekian lama, dia benar-benar tidak tahu harus bersikap seperti apa di hadapan anak sulungnya itu. Dia hanya melirik jam tanngannya sekilas. “Jamnya sudah lewat. Aku akan pergi ke kantor.” Arya menatap sang istri.“Mira… Kamu mau ikut papa?”Mira mengangkat wajahnya dan mengangguk antusias.“Ayo kita berangkat atau nanti kamu telat.”Arya beranjak dari tempat duduknya. Begitupun Mira.“Ayah … Aku juga mau ikut pergi ke kampus bersama ayah.”Suara Amara membuat semua orang menghentikan kegiatan mereka. Semua menatap Amara dengan tatapan aneh seolah ucapan yang perempuan itu katakan adalah hal tabu yang seharusnya tidak diucapkan.“Kenapa kalian melihatku seperti itu? Ini tidak seperti aku meminta kepada ayah orang lain bukan? Ayah masih ayah kandungku.” Amara tersenyum.Perkataannya membuat suasana benar-benar jatuh ke titik yang lebih beku.“Tentu saja. Kamu masih anak kandung Mas Arya. Tidak ada yang salah.” Lira tersenyum kaku. Senyumnya seperti sangat dipaksakan.Amara jelas tahu arti di balik kalimat ibu tirinya itu. Tapi dia cukup puas dengan ekspresi yang perempuann itu tunjukan jadi dia tidak akan memperhitungkannya.Arya mengangguk. “Kalau begitu ayo kita berangkat.”Amara mengangguk setuju.Mira berusaha tersenyum. Tangan kirinya terkepal. Urat di pelipisnya bahkan sedikit menonjol. Dia memang tidak mengatakan apa-apa tapi jelas diantara mereka semua, Miralah yang paling benci dengan situasinya.Sejak Amara datang ke meja makan, Mira tidak bisa memalingkan pandangannya dari penampilan sang kakak tiri.Yang Mira tahu, Amara bukanlah orang yang memperhatikan penampilan. Outfitnya selalu sangat kuno dan terlihat tidak enak dipandang. Ekpresinya selalu meledak-ledak seolah emosinya akan meluap setiap saat. Semua orang selalu sangat enggan dan canggung jika harus menghadapi perempuan itu.Tapi kali ini berbeda. Amara terlihat sangat cantik. Dress yang dia pakai jelas bukanlah dress yang bisa orang-orang dapatkan di mal-mal besar sekalipun. Itu jelas rancangan khusus. Pembawaannya sangat tenang seperti air yang tidak ada yang bisa menebak kedalamannya. Dan itu benar-benar menyakiti matanya.Mira membuka pintu depan mobil sebelum Amara datang dan menepis tangannya ringan. “Bisakah aku duduk di samping ayahku? Ini pertama kalinya kami semobil setelah sekian lama.”Tatapan mata Amara… Mira benar-benar membencinya. Sebelumnya Mira selalu merasa direndahkan hanya dengan Amara menatapnya. Bahkan perasaan itu terasa semakin memuakan dengan temperamen baru yang kakak tirinya itu tunjukan.Jari Mira kembali melengkung. Mira menatap pria yang sekarang menjadi papanya meminta persetujuan. Tentu saja dia sangat berharap jika papanya itu akan menolak keras. Tapi setelah menunggu beberapa waktu dan tidak ada tanggapan yang dia dapatkan, Mira hanya bisa melangkah mundur. Membuka pintu belakang dengan sangat enggan.Amara kembali tersenyum tanpa mempedulikan kecanggungan yang terjadi. Dia benar-benar akan menyadarkan di mana posisi perempuan itu sebenarnya.***Kampus hari itu benar-benar dibuat gempar oleh Amara. Penampilan barunya membius semua orang. Sangat berkelas dan elegan.Amara memang cukup populer sebelumnya. Gaya berpakaiannya memang sedikit tidak enak dipandang apalagi kepribadiannya. Tapi bukan berarti wajah cantiknya tidak ada yang menyadari.Saat Mira datang semua orang mengalihkan fokus mereka. Julukan adik tiri yang manis langsung di berikan kepadanya. Kepribadiannya sangat ramah dan hangat. Terbalik dengan kepribadian sang kakak. Orang-orang sekitar mulai mengatakan jika saudara tidak sedarah itu bagaikan wujud dari cahaya dan kegelapan.Dulu Amara tidak menyadari. Salahnya juga tidak terlalu memperdulikan. Rumor-rumor jahat mulai menyebar di belakang telinganya. Tapi bagaikan katak yang terjebak di dalam tempurung kelapa, dia sama sekali tidak mengetahui apapun. Dia hanya mulai merasa bingung kenapa semua orang tiba-tiba menatapnya dengan tatapan yang membuat parasaannya menjadi tidak nyaman.“Karna si jalang licik itu.” Amara berguman pelan sembari berjalan lurus tanpa memperhatikan sekitar.Sejak awal Amara memang tidak terlalu ingin memiliki banyak teman. Energinya selalu habis hanya untuk saling menyapa. Apalagi semenjak ibunya pergi, Amara menjadi semakin dingin dan tertutup dengan kehidupan sekitar. Seolah dia hidup di dunia yang lain.Tapi kini dia menyadari betapa kesepiannya hidupnya. Tanpa teman satupun yang bisa dia percaya. Tunangan bahkan keluarga tega mengkhianatinya. Jadi apalagi yang bisa dia lakukan?“Mencari beberapa teman sepertinya tidak begitu buruk. Walaupun mereka tidak tulus.” Amara bersenandung setuju.Amara menatap ke depan saat merasa ada seseorang yang memberinya tatapan dalam. Memperlambat langkahnya saat dia melihat pria yang belum genap seminggu dengan tega memutuskan pertunangan mereka secara sepihak. Tapi bukan itu saja. Dia bahkan langsung menjalin hubungan dengan saudara tirinya. Betapa tidak tau malunya.Amara berjalan dengan tenang melewati pria itu. Ekspresinya juga tidak kalah tenang. Tidak ada riak sedikitpun membuat Devan bertanya-tanya apa yang perempuan itu pikirkan saat melihat wajahnya semenjak putusnya hubungan mereka.“Amara…”Langkah Amara terhenti. Dia membalikan tubuhnya menghadap Devan yang berdiri mematung. Menunggu beberapa saat tapi tidak ada sepatah katapun yang keluar dari bibirnya. Amara memutuskan melanjutkan langkahnya tanpa perduli dengan apa yang akan Devan katakan.Devan sendiri mempertanyakan sikapnya. Untuk apa dia memanggil Amara padahal tidak ada hal yang ingin dia sampaikan?Tapi jujur saja penampilan Amara saat ini benar-benar membuat Devan linglung. Amara terlihat sangat cantik dan menawan. Menggetarkan kembali hatinya yang dulu terasa hambar.“Apakah aku membuat keputusan yang tepat?” Devan berguman kepada dirinya sendiri. Rasa ragu di hatinya benar-benar membuat dirinya merasa tidak nyaman.Tidak jauh dari tempat Devan berdiri, Mira memperhatikan semuanya. Kemarahan dalam dadanya benar-benar terasa mendidih. Rasa benci itu semakin besar dan besar membuatnya ingin segara menyingkirkan Amara dari lingkaran kebahagiaan yang saat ini dia miliki.“Lihat saja Amara. Tidak lama lagi aku akan memastikan kau akan benar-benar pergi jauh. Sangat jauh. Atau kalau perlu aku akan membawamu ke tempat ibumu berada saat ini.”"Jadi apa yang terjadi dengan Amara?”Pagi itu Mira yang baru datang langsung diserbu oleh teman-temannya. Tampaknya mereka memang benar-benar penasaran dengan perubahan saudaranya yang terlalu signifikan. Tapi hal itu bukanlah yang terpenting. Mereka hanya tidak sadar jika keingin tahuan mereka menyebabkan perasaan Mira kembali panas.“Menurut kalian bagaimana?” Mira balas bertanya. Dia berusaha menahan nada sinis yang mungkin saja keluar dari mulutnya. Bagaimanapun Mira masih harus mempertahankan reputasinya.“Well dia tidak terlihat buruk.”“Bukannya tidak terlihat buruk. Amara memang sangat cantik.” Bahkan yang tidak ikut mengobrol bersama mereka juga ikut berkomentar.Tangan Mira terkepal. Jari-jarinya melengkung. Tapi dia tidak ingin mengatakan apapun. Dia tahu batasan dirinya. Jika dia bersuara, dia hanya akan mengacaukan suasana.“Apa sikapnya terhadapmu juga berubah?”Mira melirik temannya. “Sarah… Jika seekor rubah memakai bulu domba, bukan berarti dia akan berubah menjadi d
Seharian Amara bermain dengan ponselnya. Berusaha mencari sedikit kelamahan sang adik tiri. Tapi semakin dia mencari, semakin dia tidak bisa menahan decakan kagumnya. Mira benar-benar tahu cara untuk membuat citranya terlihat baik.Pertama yang Amara lakukan adalah mencari akun sosial media Mira. Jumlah pengikut instagramnya ratusan ribu. Belum lagi akun social medianya yang lain yang jumlah pengikutnya tidak kalah jauh. Bahkan ada yang membuat akun penggemar khusus hanya untuk memuji perempuan itu.Amara tidak tahan untuk membandingkan akun sosial Mira dengan miliknya. Pengikut akun instagram Amara hanya ada di kisaran delapan ratusan. Itu juga pengikutnya hanya berasal dari orang-orang yang Amara rasa cukup familiar di matanya. Akunnya terprivate. Sudah sangat lama sejak dia memposting sesuatu di akunnya itu.Yang Amara lakukan selanjutnya hanya membuka akunnya agar menjadi publik. Mengambil liptintnya dan mengoles tipis benda itu ke bibirnya. Amara berpose ke arah kamera dan mengam
Amara tidak paham apa yang terjadi. Maksudnya dia tahu penampilannya hari ini sangat berbeda tapi bukankah reaksi orang-orang ini terlalu berlebihan? Ini tidak seperti dia melakukann prosedur operasi perubahan wajah yang signifikan. Dia hanya merubah gaya berpakaiannya tapi semua orang benar-benar mengarahkan tatapan mereka seolah melihat keajaiban dunia saja.Amara mencoba tidak ambil pusing. Dia benar-benar tidak perduli lagi dengan pendapat mereka.“Permisi.”Setelah beberapa langkah, Amara menghentikan langkahnya. Dia yang hendak pergi ke perpustakan mengurungkan niatnya. “Ya?”“Boleh aku bertanya di mana perpustakaannya?”Amara menatap pra itu beberapa saat. Wajahnya sangat asing. Amara memang bukanlah orang yang akan mengingat setiap wajah yang dilihatnya. Tapi pria ini memiliki tipe wajah yang tidak akan mudah dilupakan. Seharusnya Amara pernah melihatnya sekali dua kali. Tapi seperti sebelumnya, Amara tidak akan ambil peduli.Amara mengangguk. “Aku kebetulan akan ke sana. kita
Pagi itu Amara sudah siap untuk pergi ke kampus. Penampilannya sedikit berbeda. Dia terlihat lebih feminim. Fitur wajahnya yang awalnya memang sudah cantik dan manis terlihat semakin memukau.“Apa ini tidak terlalu pendek? Mungkin akan terlihat berlebihan?” Amara berguman di hadapan bayangannya sendiri. “Terserahlah.”Amara turun ke ruang makan. Duduk dan langsung memakan sarapan tanpa mempedulikan orang-orang yang sudah datang lebih awal.Amara bisa melihat berbagai ekspresi. Sinis, tidak bisa berkata-kata dan kaku. Jelas ini adalah pertama kalinya untuk Amara hadir di meja makan itu setelah kepergian sang ibu.Suasananya benar-benar stagnan. Semuanya terlihat tidak nyaman. Tapi apa Amara perduli? Haha tapi maaf, dia benar-benar mulai menikmati suasana seperti.Sekarang dia benar-benar ingin semuanya merasakan hal yang sama. Dari dulu hanya dia yang merasa terasingkan. Sementara yang lai terlihat sangat bahagia seolah keluarga kecil itu berada di dunia yang lain. Jika kehadirannya ju
“Aku tidak melakukannya ayah. Aku berani bersumpah.” Suaranya benar-benar serak. Di hadapan puluhan pasang mata, tidak ada satupun yang memberinya belas kasih. Semua seolah percaya jika dia akan melakukan hal mengerikan itu.Amara hanya memiliki ayahnya sebagai keluarga. Darah pria itu benar-benar mengalir di setiap nadinya. Tapi jangankan mendengarkannya, pria itu bahkan terlihat sangat muak menatapnya.“Devan… kita bersama hampir lima tahun. Kamu mengenalku dengan sangat baik. Kamu benar-benar percaya jika aku akan sanggup melakukannya?”Amara merangkak mendekati pria lain yang berdiri di samping ayahnya. Dia adalah mantan tunangan Amara sekaligus kekasih adik tirinya saat ini.Devan hanya menatap Amara lurus. Benci. Hanya itu yang dia rasakan kepada mantan tunangan yang dulu sangat dia sayangi dan manjakan. Devan benar-benar tidak bisa membayangkan jika selama ini dia benar-benar menghabiskan waktu yang sangat lama bersama perempuan yang menurutnya memiliki hati busuk. Kenapa dia b







