LOGINAmara tidak paham apa yang terjadi. Maksudnya dia tahu penampilannya hari ini sangat berbeda tapi bukankah reaksi orang-orang ini terlalu berlebihan? Ini tidak seperti dia melakukann prosedur operasi perubahan wajah yang signifikan. Dia hanya merubah gaya berpakaiannya tapi semua orang benar-benar mengarahkan tatapan mereka seolah melihat keajaiban dunia saja.
Amara mencoba tidak ambil pusing. Dia benar-benar tidak perduli lagi dengan pendapat mereka.“Permisi.”Setelah beberapa langkah, Amara menghentikan langkahnya. Dia yang hendak pergi ke perpustakan mengurungkan niatnya. “Ya?”“Boleh aku bertanya di mana perpustakaannya?”Amara menatap pra itu beberapa saat. Wajahnya sangat asing. Amara memang bukanlah orang yang akan mengingat setiap wajah yang dilihatnya. Tapi pria ini memiliki tipe wajah yang tidak akan mudah dilupakan. Seharusnya Amara pernah melihatnya sekali dua kali. Tapi seperti sebelumnya, Amara tidak akan ambil peduli.Amara mengangguk. “Aku kebetulan akan ke sana. kita bisa pergi bersama.”Pria itu tersenyum puas.“Ngomong-ngomong aku Andrew. Andrew wijaya. Kamu?”“Amara.”Andrew tersenyum lagi. Menurutnya perempuan yang baru dikenalnya itu sangat menarik. Kebanyakan perempuan yang dia temui akan langsung antusias melihatnya. Apalagi saat mengetahui latar belakang namanya. Tapi Amara benar-benar menunjukan sikap yang terlalu tidak biasa. Antara tidak mengetahui atau memang tidak perduli. Andrew benar-benar dibuat tertarik.Mereka sampai. “Ini perpustakannya. Aku akan mencari bukuku. Kamu bisa berkeliling sendiri bukan?”Andrew meengangguk.“Kalau begitu sampai jumpa.”Amara berlalu.Andrew menatap kepergian Amara. Entah kenap dia seperti ditarik untuk mengikuti perempuan itu. Tapi Andrew tahu itu akan terlihat sangat menjengkelkan jadi dia memutuskan akan mencari kesempatan lain untuk menemuinya.“Kita pasti akan bertemu lagi.” Andrew berlalu ke arah lain.***“Aku sudah membicarakan pernikahan kita kepada Papa. Katanya semakin cepat semakin baik jadi aku mengatakan kita akan menika enam bulan lagi. Bagaimana menurutmu?”Ucapan Mira membuat Devan menolehkan pandangannya menatap perempuan itu terkejut.“Ada apa dengan reaksi keras kamu itu? Kamu keberatan?”Devan beranjak dan menghampiri Mira. “Bukan begitu. Aku sudah menjelaskan kepada kamu bukan jika keungan aku lagi nggak baik. Usaha aku lagi nggak aman.” Devan menjelaskan.“Itu nggak jadi masalah untuk aku. Papa bilang dia akan membantu semua biaya pernikahan kita. Papa juga mengatakan jika dia akan membantu usaha kamu jika memang benar-benar diperlukan.”Arya sudah menganggap Devan seperti anaknya sendiri. Selama bersama Amara, Devan memang tahu acaranya menumbuhkan kesan yang baik kepada calon mertuanya itu. Apalagi menurut Arya, Devan memiliki potensi yang bagus untuk meneruskan bisnisnya.Saat Devan mengatakan jika dirinya tidak bisa lagi melanjutkkan hubungannya dengan Amara dan mengakui jika dia menjalin hubungan dengan Mira, Arya tidak bisa mengatakan apa-apa. Jelas situasinya sangat salah tapi dia berfikir tidak ada salahnya jika Mira juga berhak mendapatkan pasangan yang baik. Jadi Arya mulai menerima semua itu tanpa memikirkan perasaan putri kandungnya sendiri.Devan menghela nafas. Jika dipikirkan, semakin mereka cepat menikah, semakin baik juga hasilnya. Tapi entah kenapa hatinya enggan.“Itu memang terdengar baik Mira tapi harga diri aku nggak bisa nerima. Gimana bisa aku sebagai laki-laki mengandalkan orang tua pihak perempuan untuk acara spesial aku? Kamu ngertikan? Aku akan merasa malu seumur hidup.” Devan mencoba memberi penjelasan.Mira menatap Devan layu. Ada rasa kecewa.“Jangan sedih. Aku hanya ingin memberikan yang terbaik untuk kamu. Jika menikah saja aku tidak bisa mengatasinya, giamana caranya aku membahagiakan kamu setelah kita berumah tangga?”Mira menarik nafas panjang. Mendengar ucapan Devan, ada rasa bahagia yang menyelimuti hatinya. setidaknya apa yang Devan katakan ada benarnya.“Hm… aku akan nungguin kamu. Tapi jangan lama-lama.”Devan terkekeh lega. Dia menarik kepala Mira ke dekapannya. “Pasti sayang.”***Amara duduk seorang diri di sebuah kafe dekat kampusnya. Hari ini terasa sangat berbeda dari hari-hari sebelumnya. Tapi dia cukup menikmatinya. Dia mengangguk puas.Amara memikirkannya. Beberapa orang memanng masih terlihat sangat enggan terlibat dengannya. Tapi beberapa kelihatan cukup berani bertegur sapa dengannya. Memuji penampilannya dan menanyakan apa yang terjadi sehingga dia memilih berubah.Amara hanya menjawab seadanya. Amara memang berencana untuk mencari teman. Tapi bukan berarti hanya dengan semalam sikapnya juga akan berubah. Dia masih sangat merasa pusing harus berinteraksi dengan banyak orang. Jika lebih teliti, sikapnya tidak bisa dibilang dekat atau jauh.Amara membuka blog kampus. Satu postingan benar-benar terlihat sangat panas. Itu adalah foto dirinya yang di ambil diam-diam dari angel berbeda.“Salah satu bidadari kampus akhirnya menunjukan sayap indahnya”Amara terkekeh geli membaca keterangan yang ditulis di postingan itu. Entah siapa pelakunya.Jarinya semakin lincah bermain di atas layar ponsel pintarnya itu. Amara benar-benar penasaran bagaimana tanggapan orang-orang tentangnya hari ini.“Dari awal aku tahu dia sangat cantik. Tapi aku masih sangat terkejut dengan penampilan barunya.”“Dia benar-benar terlihat sangat cantik. Aku merasa iri.”“Dress yang dia gunakan adalah salah rancangan khusus designer favoritku. Hanya ada satu. Bagaimana dia mendapatkannya?”Mira yang juga melihat setiap komentar itu merasa sangat geram. Pantas saja gaun itu terlihat sangat cantik dan mahal. Ternyata memang bukan gaun sembarangan.Tangannya gatal. Mira akhirnya mengetikan sesuatu berencana merusak euphoria itu. “Dia memang cantik. Tapi hatinya sangat busuk jadi buat apa?” setiap komentar akan ditampilkan anonym. Jadi Mira tidak merasa khawatir.Amara yang melihat komentar itu hanya bisa mengerutkan dahinya. Dia sedikit kebingungan dengan kata busuk yang orang itu ketikan. Memang apa yang sudah dia lakukan?Kebingungan Amara berubah menjadi rasa tidak nyaman saat beberapa komentar dukungan yang lain muncul. Rata-rata mereka menyayangkan sikap buruknya. Tapi memangnya apa yang sudah dia lakukan?Amara melengkungkan jari-jarinya. “Mira dan Devan.” Bibirnya berguman pelan. Seolah sudah terdoktrin ingatan masa lalu, Amara tanpa ragu mengarahkan busur panahnya ke kepala kedua orang itu. Sudah jelas mereka pasti terlibat.Menopang dagunya, Amara mencoba berfikir apa yang bisa dia lakukan untuk memperbaiki citranya. Jangankan cara, bahkan dia tidak memiliki bayangan berita buruk apa yang tersebar di antara teman-temannya. Ini membuat Amara sedikit frustasi.Ada sedikit penyesalan. Amara merasa hidupnya sangat menyedihkan. Benar-benar tidak memiliki satu temanpun. Setidaknya jika dia memiliki satu saja, dia akan memiliki sedikit bayangan apa yang terjadi di sekitarnya. Tapi dia benar-benar tersesat.“Ini benar-benar menyebalkan.” Tangannya kembali men-scrolling halaman komentar berharap menemukan sedikit saja petunjuk. Setidaknya dia tidak akan benar-benar buta.Tapi setelah beberapa waktu, dia tidak menemukan apapun. Hanya komentar yang menyayangkan sikap burruknya saja.Amara menyerah. Dia tidak mendapatkan petunjuk apapun.“Sudahlah… Akan aku pikirkan caranya nanti.” Tujuan pertama Amara adalah membalikan keadaan. Citra Mira cukup cemerlang. Amara memang tidak terlalu memperdulikan. Tapi ada beberapa waktu pujian-pujian yang orang-orang katakan benar-benar menyakiti telinganya. Terlalu berlebihan.Amara menyandarkan tubuhnya. “Baiklah sepertinya aku akan mengatasimu terlebih dahulu.” Gumanannya memang lemah. Tapi jelas di setiap katanya terdapat obsesi mengerikan. Amara berjanji apa yang terjadi di kehidupan lalunya akan berbalik kepada orang-orang tidak tahu diri itu. Terutama Mira..."Jadi apa yang terjadi dengan Amara?”Pagi itu Mira yang baru datang langsung diserbu oleh teman-temannya. Tampaknya mereka memang benar-benar penasaran dengan perubahan saudaranya yang terlalu signifikan. Tapi hal itu bukanlah yang terpenting. Mereka hanya tidak sadar jika keingin tahuan mereka menyebabkan perasaan Mira kembali panas.“Menurut kalian bagaimana?” Mira balas bertanya. Dia berusaha menahan nada sinis yang mungkin saja keluar dari mulutnya. Bagaimanapun Mira masih harus mempertahankan reputasinya.“Well dia tidak terlihat buruk.”“Bukannya tidak terlihat buruk. Amara memang sangat cantik.” Bahkan yang tidak ikut mengobrol bersama mereka juga ikut berkomentar.Tangan Mira terkepal. Jari-jarinya melengkung. Tapi dia tidak ingin mengatakan apapun. Dia tahu batasan dirinya. Jika dia bersuara, dia hanya akan mengacaukan suasana.“Apa sikapnya terhadapmu juga berubah?”Mira melirik temannya. “Sarah… Jika seekor rubah memakai bulu domba, bukan berarti dia akan berubah menjadi d
Seharian Amara bermain dengan ponselnya. Berusaha mencari sedikit kelamahan sang adik tiri. Tapi semakin dia mencari, semakin dia tidak bisa menahan decakan kagumnya. Mira benar-benar tahu cara untuk membuat citranya terlihat baik.Pertama yang Amara lakukan adalah mencari akun sosial media Mira. Jumlah pengikut instagramnya ratusan ribu. Belum lagi akun social medianya yang lain yang jumlah pengikutnya tidak kalah jauh. Bahkan ada yang membuat akun penggemar khusus hanya untuk memuji perempuan itu.Amara tidak tahan untuk membandingkan akun sosial Mira dengan miliknya. Pengikut akun instagram Amara hanya ada di kisaran delapan ratusan. Itu juga pengikutnya hanya berasal dari orang-orang yang Amara rasa cukup familiar di matanya. Akunnya terprivate. Sudah sangat lama sejak dia memposting sesuatu di akunnya itu.Yang Amara lakukan selanjutnya hanya membuka akunnya agar menjadi publik. Mengambil liptintnya dan mengoles tipis benda itu ke bibirnya. Amara berpose ke arah kamera dan mengam
Amara tidak paham apa yang terjadi. Maksudnya dia tahu penampilannya hari ini sangat berbeda tapi bukankah reaksi orang-orang ini terlalu berlebihan? Ini tidak seperti dia melakukann prosedur operasi perubahan wajah yang signifikan. Dia hanya merubah gaya berpakaiannya tapi semua orang benar-benar mengarahkan tatapan mereka seolah melihat keajaiban dunia saja.Amara mencoba tidak ambil pusing. Dia benar-benar tidak perduli lagi dengan pendapat mereka.“Permisi.”Setelah beberapa langkah, Amara menghentikan langkahnya. Dia yang hendak pergi ke perpustakan mengurungkan niatnya. “Ya?”“Boleh aku bertanya di mana perpustakaannya?”Amara menatap pra itu beberapa saat. Wajahnya sangat asing. Amara memang bukanlah orang yang akan mengingat setiap wajah yang dilihatnya. Tapi pria ini memiliki tipe wajah yang tidak akan mudah dilupakan. Seharusnya Amara pernah melihatnya sekali dua kali. Tapi seperti sebelumnya, Amara tidak akan ambil peduli.Amara mengangguk. “Aku kebetulan akan ke sana. kita
Pagi itu Amara sudah siap untuk pergi ke kampus. Penampilannya sedikit berbeda. Dia terlihat lebih feminim. Fitur wajahnya yang awalnya memang sudah cantik dan manis terlihat semakin memukau.“Apa ini tidak terlalu pendek? Mungkin akan terlihat berlebihan?” Amara berguman di hadapan bayangannya sendiri. “Terserahlah.”Amara turun ke ruang makan. Duduk dan langsung memakan sarapan tanpa mempedulikan orang-orang yang sudah datang lebih awal.Amara bisa melihat berbagai ekspresi. Sinis, tidak bisa berkata-kata dan kaku. Jelas ini adalah pertama kalinya untuk Amara hadir di meja makan itu setelah kepergian sang ibu.Suasananya benar-benar stagnan. Semuanya terlihat tidak nyaman. Tapi apa Amara perduli? Haha tapi maaf, dia benar-benar mulai menikmati suasana seperti.Sekarang dia benar-benar ingin semuanya merasakan hal yang sama. Dari dulu hanya dia yang merasa terasingkan. Sementara yang lai terlihat sangat bahagia seolah keluarga kecil itu berada di dunia yang lain. Jika kehadirannya ju
“Aku tidak melakukannya ayah. Aku berani bersumpah.” Suaranya benar-benar serak. Di hadapan puluhan pasang mata, tidak ada satupun yang memberinya belas kasih. Semua seolah percaya jika dia akan melakukan hal mengerikan itu.Amara hanya memiliki ayahnya sebagai keluarga. Darah pria itu benar-benar mengalir di setiap nadinya. Tapi jangankan mendengarkannya, pria itu bahkan terlihat sangat muak menatapnya.“Devan… kita bersama hampir lima tahun. Kamu mengenalku dengan sangat baik. Kamu benar-benar percaya jika aku akan sanggup melakukannya?”Amara merangkak mendekati pria lain yang berdiri di samping ayahnya. Dia adalah mantan tunangan Amara sekaligus kekasih adik tirinya saat ini.Devan hanya menatap Amara lurus. Benci. Hanya itu yang dia rasakan kepada mantan tunangan yang dulu sangat dia sayangi dan manjakan. Devan benar-benar tidak bisa membayangkan jika selama ini dia benar-benar menghabiskan waktu yang sangat lama bersama perempuan yang menurutnya memiliki hati busuk. Kenapa dia b







