Share

AMARA 4

Author: Tirtaas
last update publish date: 2024-04-19 21:02:33

Seharian Amara bermain dengan ponselnya. Berusaha mencari sedikit kelamahan sang adik tiri. Tapi semakin dia mencari, semakin dia tidak bisa menahan decakan kagumnya. Mira benar-benar tahu cara untuk membuat citranya terlihat baik.

Pertama yang Amara lakukan adalah mencari akun sosial media Mira. Jumlah pengikut instagramnya ratusan ribu. Belum lagi akun social medianya yang lain yang jumlah pengikutnya tidak kalah jauh. Bahkan ada yang membuat akun penggemar khusus hanya untuk memuji perempuan itu.

Amara tidak tahan untuk membandingkan akun sosial Mira dengan miliknya. Pengikut akun i*******m Amara hanya ada di kisaran delapan ratusan. Itu juga pengikutnya hanya berasal dari orang-orang yang Amara rasa cukup familiar di matanya. Akunnya terprivate. Sudah sangat lama sejak dia memposting sesuatu di akunnya itu.

Yang Amara lakukan selanjutnya hanya membuka akunnya agar menjadi publik. Mengambil liptintnya dan mengoles tipis benda itu ke bibirnya. Amara berpose ke arah kamera dan mengambil beberapa foto selfi. Walaupun tanpa make up dan filter, kulitnya yang sehat membuat Amara terlihat bercahaya. Rambutnya dibiarkan tergerai sedikit berantakan tapi tetap saja membuatnya terlihat cantik aesthetic.

Amara hanya mempostingnya di story tanpa caption berarti. “Menggelikan.” Amara membuang handphonenya sembarangan dan langsung berbaring terlentang. Menatap langit-langit kamarnya kosong.

Tangannya bergerak ke arah dadanya. Ini masih terasa sangat sakit. Dia benar-benar merasa sangat kesepian.

Dulu saat ibunya masih bersamanya, Amara tidak pernah merasakan kesepian yang mengikat lehernya erat seperti ini. Bahkan walaupun dia tidak memiliki teman satupun itu bukanlah masalah yang besar untuknya. Tapi saat ibunya pergi, Amara perlahan mulai menyadari betapa bengkoknya sifat anti sosial yang dia miliki. Rasa iri yang bahkan dulu tidak pernah dia rasakan mulai mempengaruhi pikirannya. Amara sekarang benar-benar iri terhadap Mira. Bahkan setelah semua kelakuan jahatnya, perempuan itu masih menjadi protagonist di mata kebanyakan orang-orang.

Amara terseyum kosong. Semua terlanjur terjadi. Yang bisa dia lakukan saat ini adalah memperbaiki semuanya,

Perlahan mata Amara tertutup. Pikirannya sedang kacau jadi lebih baik dia beristirahat sejenak melupakan betapa kejamnya dunia.

***

Mira sedang berada di kamar sang mama saat melihat postingan terbaru di akun media sosial sekolahnya. Dahinya mengerut dalam dengan ekspresi yang sangat bau. Dadanya bergerumuh panas.

“Ma…”

Mira merengek. Jelas situasinya salah. Perasaannya menjadi tidak enak.

“Ada apa sayang?” Lira menghampiri anaknya.

“Lihat. Amara benar-benar berubah. Aku… aku takut nanti semua orang di kampus lebih memperhatikan dia dibandingkan aku ma…”

“Fotonya biasa saja. masih lebih cantik kamu Mira.”

Mira menunduk. Matanya terasa panas.

Jelas sekali mamanya sedang berbohong. Walaupun benar, ibu mana yang akan mengatakan anaknya terlihat lebih jelek dibandingkan orang lain?

“Komentarnya…”

Lira membaca satu persatu komentar yang ada. Menurutnya itu bukanlah hal yang besar. Setiap pujian yang orang-orang ketikan selalu memiliki akhir kalimat disayangkan. Jadi Lira tidak tahu dimana letak kesalahan yang membuat anak kesayangannya itu menjadi gelisah.

“Mama sudah baca tapi mama masih tidak paham apa yang kamu khawatirkan.” Lira menjawab jujur.

Mira menghela nafas lelah. “Ma… teman-temanku mulai tertarik dengan Amara. Ini masih hari pertama tapi banyak dari mereka yang mulai memperhatikannya.” menjelaskan secara detail terasa melelahkan untuknya. “Mungkin sekarang masih ada yang terpengaruh dengan rumornya. Tapi siapa yang akan menjamin jika rumor itu akan bertahan lebih lama?”

Lira terdiam.

“Aku benar-benar lelah ma. Aku lelah harus hidup di balik bayang-bayang orang lain. cukup lama untuk aku sampai di posisi aku sekarang. memiliki banyak teman, pacar dan yang lainnya. Aku benar-benar nggak bisa bayangin jika aku harus kembali ke situasi aku yang dulu.”

Lira meraih tubuh Mira ke pelukannya. Dia merasa sangat bersalah karena selalu menempatkan putri kesayangannya di situasi yang sulit.

“Tenang Mira. Mama pastikan jika itu tidak akan pernah terjadi lagi di kehidupan kamu. Kamu hanya perlu menyebar lebih banyak rumor tentang Amara dan semuanya akan sama seperti dulu lagi.”

Mira mengangguk. “Hm.”

***

Amara tidak mengerti apa yang terjadi. Saat dia membuka matanya dan hendak mengecek ponselnya, ada terlalu banyak pemberitahuan yang maasuk. Terlalu banyak sampai mambuat Amara ketakutan kalau kalau ponselnya mungkin saja akan rusak.

Amara membuka aplikasi instagramnnya. Pengikutnya bertambah terlalu banyak. Sepuluh kali lipat. Itu benar-benar diluar dugaannya.

“Apa ini baik-baik saja?” Amara bertanya bingung. Amara tahu wajahnya tidaklah terlalu buruk tapi tidak pernah berfikir jika dirinya akan menarik perhatian sebanyak ini juga.

Postingan terakhirnya dilihat begitu banyak orang. Bahkan banyak sekali orang yang mengiriminya pesan. Kebanyakan berisi pujian.

“Apa aku harus membalas pesan mereka satu persatu?” Amara kembali berguman. “Ini akan sangat melelahkan. Terlalu banyak. Aku tidak bisa melakukannya.”

Amara menyerah. Dia tidak bisa membayangkan jika harus mengetikan satu persatu pesan dan mengirimnya kepada begitu banyak orang.

Tapi tujuan Amara sekarang adalah mendapatkan teman. Jika dia mengabaikan pesan mereka, bukankah mereka akan berfikir jika Amara adalah orang yang sangat sombong? Jangankan berteman dengannya, mungkin orang-orang akan enggan menyapanya lagi.

Amara berfikir. Apa yang bisa dia lakukan?

Otaknya benar-benar tidak bisa bekerja.

Amara mengambil beberapa foto wajahnya lagi. Memilih salah satu yang menurutnya paling enak dilihat.

“Mungkin memposting satu foto lagi akan terasa lebih baik.”

Amara menuliskan keterangan yang cukup panjang di fotonya. Mengucapkan terimakasih terhadap pujian dan meminta maaf karena tidak bisa membalas pesan satu persatu.

“Kenapa aku melakukannya seolah aku adalah orang yang terkenal?” Amara kembali melihat cerita yang sudah dia bagikan. Belum ada sepuluh menit tapi viewersnya sudah mencapai ratusan. Sedikit mengerikan untuk Amara. “Tapi ini lebih baik daripada mengabaikan mereka bukan?”

Amara merasa sangat bosan jadi berencana menghabiskan waktunya dengan membaca pesan-pesan yang terlihat menarik di matanya.

Alisnya terangkat sebelah. Banyak yang menyebutkan nama yang tidak pernah didengarnya. “Andrew Wijaya…” Rasa-rasanya Amara familiar dengan nama itu tapi dia lupa.

Amara mencoba mencari tahu. Dia melihat pemberitahuan akun kampusnya yang men-tag akunnya. Amara melihat fotonya yang di posting ulang di akun itu. ada banyak likes yang dia dapatkan. Melihat komentar dan langsung fokus dengan satu komentar teratas. Hanya cantik dengan emotikon hati. Tapi yang me-replynya tidak kalah banyak.

Itu adalah akun Andrew yang banyak dibicarakan. Amara ingin mencari tahu lebih banyak. Tapi tidak ada postingan diri Andrew di akunnya. Pria itu terlihat misterius. Tapi walau begitu, dia juga memiliki banyak pengikut jadi Amara semakin penasaran.

Amara membuka halaman pencarian dan langsung mengetikan nama Andrew. Ponselnya bergerak cepat. Semua informasi lagsung muncul.

“Pria ini bukankah …” Ingatan Amara langsung tertuju saat siang tadi dia pergi menuju perpustakaan. Itu adalah pria yang meminta tolong kepadanya. “Tapi latar belakangnya …”

Amara merinding. “Ini mengerikan!”

Amara benar-benar tidak mengingat di kehidupan sebelumnya dia bertemu dengan pria itu. apa ini sebuah petunjuk? Atau mungkin saja pria itu tidak terhubung terlalu banyak dengannya sehingga dia tidak mengingat sedikitpun memori tentangnya. Amara benar-benar berharap itu adalah opsi yang kedua. Jika Andrew benar-benar ada di seberangnya, apa yang akan Amara lakukan? Dia akan mati langkah.

Amara tidak memiliki apapun. Rencana untuk melawan keluarganya hanya karena nekat semata. Dia benar-benar tidak memiliki modal. Jika dia harus menghadapi seseorang dengan latar belakang yang kuat, bukankah itu sama saja sudah masuk ke perangkap lawan?

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • DENDAM AMARA   AMARA 5

    "Jadi apa yang terjadi dengan Amara?”Pagi itu Mira yang baru datang langsung diserbu oleh teman-temannya. Tampaknya mereka memang benar-benar penasaran dengan perubahan saudaranya yang terlalu signifikan. Tapi hal itu bukanlah yang terpenting. Mereka hanya tidak sadar jika keingin tahuan mereka menyebabkan perasaan Mira kembali panas.“Menurut kalian bagaimana?” Mira balas bertanya. Dia berusaha menahan nada sinis yang mungkin saja keluar dari mulutnya. Bagaimanapun Mira masih harus mempertahankan reputasinya.“Well dia tidak terlihat buruk.”“Bukannya tidak terlihat buruk. Amara memang sangat cantik.” Bahkan yang tidak ikut mengobrol bersama mereka juga ikut berkomentar.Tangan Mira terkepal. Jari-jarinya melengkung. Tapi dia tidak ingin mengatakan apapun. Dia tahu batasan dirinya. Jika dia bersuara, dia hanya akan mengacaukan suasana.“Apa sikapnya terhadapmu juga berubah?”Mira melirik temannya. “Sarah… Jika seekor rubah memakai bulu domba, bukan berarti dia akan berubah menjadi d

  • DENDAM AMARA   AMARA 4

    Seharian Amara bermain dengan ponselnya. Berusaha mencari sedikit kelamahan sang adik tiri. Tapi semakin dia mencari, semakin dia tidak bisa menahan decakan kagumnya. Mira benar-benar tahu cara untuk membuat citranya terlihat baik.Pertama yang Amara lakukan adalah mencari akun sosial media Mira. Jumlah pengikut instagramnya ratusan ribu. Belum lagi akun social medianya yang lain yang jumlah pengikutnya tidak kalah jauh. Bahkan ada yang membuat akun penggemar khusus hanya untuk memuji perempuan itu.Amara tidak tahan untuk membandingkan akun sosial Mira dengan miliknya. Pengikut akun instagram Amara hanya ada di kisaran delapan ratusan. Itu juga pengikutnya hanya berasal dari orang-orang yang Amara rasa cukup familiar di matanya. Akunnya terprivate. Sudah sangat lama sejak dia memposting sesuatu di akunnya itu.Yang Amara lakukan selanjutnya hanya membuka akunnya agar menjadi publik. Mengambil liptintnya dan mengoles tipis benda itu ke bibirnya. Amara berpose ke arah kamera dan mengam

  • DENDAM AMARA   AMARA 3

    Amara tidak paham apa yang terjadi. Maksudnya dia tahu penampilannya hari ini sangat berbeda tapi bukankah reaksi orang-orang ini terlalu berlebihan? Ini tidak seperti dia melakukann prosedur operasi perubahan wajah yang signifikan. Dia hanya merubah gaya berpakaiannya tapi semua orang benar-benar mengarahkan tatapan mereka seolah melihat keajaiban dunia saja.Amara mencoba tidak ambil pusing. Dia benar-benar tidak perduli lagi dengan pendapat mereka.“Permisi.”Setelah beberapa langkah, Amara menghentikan langkahnya. Dia yang hendak pergi ke perpustakan mengurungkan niatnya. “Ya?”“Boleh aku bertanya di mana perpustakaannya?”Amara menatap pra itu beberapa saat. Wajahnya sangat asing. Amara memang bukanlah orang yang akan mengingat setiap wajah yang dilihatnya. Tapi pria ini memiliki tipe wajah yang tidak akan mudah dilupakan. Seharusnya Amara pernah melihatnya sekali dua kali. Tapi seperti sebelumnya, Amara tidak akan ambil peduli.Amara mengangguk. “Aku kebetulan akan ke sana. kita

  • DENDAM AMARA   AMARA 2

    Pagi itu Amara sudah siap untuk pergi ke kampus. Penampilannya sedikit berbeda. Dia terlihat lebih feminim. Fitur wajahnya yang awalnya memang sudah cantik dan manis terlihat semakin memukau.“Apa ini tidak terlalu pendek? Mungkin akan terlihat berlebihan?” Amara berguman di hadapan bayangannya sendiri. “Terserahlah.”Amara turun ke ruang makan. Duduk dan langsung memakan sarapan tanpa mempedulikan orang-orang yang sudah datang lebih awal.Amara bisa melihat berbagai ekspresi. Sinis, tidak bisa berkata-kata dan kaku. Jelas ini adalah pertama kalinya untuk Amara hadir di meja makan itu setelah kepergian sang ibu.Suasananya benar-benar stagnan. Semuanya terlihat tidak nyaman. Tapi apa Amara perduli? Haha tapi maaf, dia benar-benar mulai menikmati suasana seperti.Sekarang dia benar-benar ingin semuanya merasakan hal yang sama. Dari dulu hanya dia yang merasa terasingkan. Sementara yang lai terlihat sangat bahagia seolah keluarga kecil itu berada di dunia yang lain. Jika kehadirannya ju

  • DENDAM AMARA   AMARA 1

    “Aku tidak melakukannya ayah. Aku berani bersumpah.” Suaranya benar-benar serak. Di hadapan puluhan pasang mata, tidak ada satupun yang memberinya belas kasih. Semua seolah percaya jika dia akan melakukan hal mengerikan itu.Amara hanya memiliki ayahnya sebagai keluarga. Darah pria itu benar-benar mengalir di setiap nadinya. Tapi jangankan mendengarkannya, pria itu bahkan terlihat sangat muak menatapnya.“Devan… kita bersama hampir lima tahun. Kamu mengenalku dengan sangat baik. Kamu benar-benar percaya jika aku akan sanggup melakukannya?”Amara merangkak mendekati pria lain yang berdiri di samping ayahnya. Dia adalah mantan tunangan Amara sekaligus kekasih adik tirinya saat ini.Devan hanya menatap Amara lurus. Benci. Hanya itu yang dia rasakan kepada mantan tunangan yang dulu sangat dia sayangi dan manjakan. Devan benar-benar tidak bisa membayangkan jika selama ini dia benar-benar menghabiskan waktu yang sangat lama bersama perempuan yang menurutnya memiliki hati busuk. Kenapa dia b

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status