Mag-log inBAB 7 PEMBALASAN
Api tak pernah memilih untuk menjadi api. Tapi sekali dinyalakan, ia akan membakar apa pun tanpa ampun. Begitulah Aron Loghan. Ia tidak lahir dengan kebencian. Tapi sekali luka itu mengoyak, tak ada ruang tersisa untuk belas kasihan. Di dalam kamarnya di lantai dua, Aron Loghan berdiri kaku di depan jendela kaca, menatap pekatnya malam yang perlahan menelan perbukitan Yorkshire. Angin mengetuk lembut, membawa aroma tanah basah dan suara burung hantu dari kejauhan. Tapi di dalam dada Aron, yang tinggal hanya keheningan penuh bara. Tangan kanannya menggenggam foto Eva yang masih dia simpan sejak 23 tahun yang lalu. Rambut hitam. Mata kelabu. Senyum manis yang dulu pernah menjerumuskannya ke neraka. Eva. Wanita itu masih hidup. Masih berani tersenyum. Masih cukup naif untuk tidak mengingat bagaimana dia telah menghancurkan seorang anak lelaki berusia lima belas tahun yang baru belajar percaya. Senyum Eva di masa lalu adalah racun. Tatapannya adalah pisau. Dan tawa pengkhianatannya adalah sesuatu yang tak pernah bisa Aron hapus dari ingatan. Aron memejamkan mata. "Bajingan!" desisnya lirih, tapi penuh bisa. “Kau harus membayar!” Dunia melihat Aron Loghan sebagai pria dingin, sukses, tak tergoyahkan. Tapi di dalam dirinya hidup satu luka besar yang belum pernah dijahit. Dan hari ini luka itu tidak lagi berdarah, tapi talah mengeras menjadi tekad. Aron merasa sudah tidak dapat dibenahi. Jika dia hancur, maka Eva juga harus ikut hancur! Eva tidak boleh bahagia! Eva tidak berhak tertawa dengan pria lain! Jika Eva coba mencintai orang lain, Aron akan musnahkan! Pernikahan akan menjadi belenggu seumur hidup. Aron akan membalas sakit hati dan penderitaannya dengan setimpal. Eva tidak berhak hidup tenang! Eva harus ikut merasakan penderitaan Aron. Eva tidak akan bebas. Eva tidak akan bahagia. Aron melempar foto Eva ke dalam perapian, menyaksikannya lenyap dengan api berkobar. "Kau tidak akan pernah bisa kabur dariku!" "Tidak akan kulepaskan sampai kita sama-sama mati di jurang neraka!" Sebuah dendam yang berbahaya di tangan pria dengan kuasa. ******* Hujan musim semi kembali turun, menaburkan rintik halus di atas atap mobil tua Eva yang menderu pelan menyusuri jalanan desa berkerikil. Suara air yang menetes dari dedaunan bercampur dengan decit malas penghapus kaca yang bekerja setengah hati. Kabut lembut menyelimuti ladang-ladang luas di kiri dan kanan jalan, membuat pandangan di kejauhan seolah tenggelam dalam abu-abu yang hening. Eva menggenggam setir erat, sementara rambutnya yang setengah basah menempel di kening. Nafasnya naik turun perlahan, matanya setengah kosong memandangi jalan yang licin. Dia terlalu lelah untuk berpikir. Terlalu kosong untuk menyadari apa yang akan terjadi. Tiba-tiba... Braaakkk!!! Mobil tua itu berhenti mendadak. Tubuh Eva terhempas ke depan menghantam sabuk pengaman, jantungnya melaju dalam degup kencang. Eva sempat melihat bayangan sosok pria menyebrang tepat sebelum suara benturan menghentikan segalanya. Tanpa pikir panjang, Eva membuka pintu dan berlari ke depan mobil. “Ya Tuhan!” teriaknya panik. “Anda tidak apa-apa?!” Pria itu terduduk di tengah jalan yang basah. Wajahnya pucat pasi, kemejanya basah kuyup, lututnya berdarah. Ia tampak linglung, tapi sadar. Luka-lukanya tampak ringan namun bagi Eva, rasa bersalah langsung mengunci otaknya. Eva panik bukan main, dia harus bergegas. “Ayo… masuk ke mobil. Kita ke rumah sakit.” Eva membantu pria itu bangkit, menopangnya dengan tubuh sama gemetar, lalu membantunya duduk di jok depan. Dengan tangan terus bergetar, Eva menghidupkan mesin, memacu mobil ke rumah sakit terdekat, menembus gerimis dan kabut yang terus menebal. Di ruang tunggu rumah sakit, Eva mondar-mandir, mencengkram jaketnya yang basah sambil menggigit bibir. Setelah beberapa menit, seorang dokter muda menghampirinya. “Lukanya tampak ringan, tapi kami tetap akan lakukan rontgen untuk memastikan.” Eva mengangguk cepat, hatinya berdegup seperti genderang. Eva merasa sedikit lega. Tapi waktu terus berjalan, dan dia tersadar harus bekerja. Saat hendak melangkah keluar dari lobi rumah sakit, seorang petugas administrasi menghentikannya. “Anda yang membawa korban tadi?” Eva mengangguk. “Sebagai penanggung jawab pertama, Anda perlu menandatangani formulir persetujuan dan biaya perawatan pasien.” Tanpa membaca isinya, Eva menyambar pulpen dan menorehkan tanda tangan. Kepala Eva terlalu penuh untuk berpikir panjang. Eva tidak tahu bencana yang akan datang dari kecerobohan kecilnya menggoreskan tinta. *****BAB 170 EXSTRA PARTMusim semi kembali menyapa Yorkshire dengan kelembutan yang hanya bisa dihadirkan oleh bumi yang tengah bersyukur....Benih yang mati dan kering kembali tumbuh hidup setelah tersiram hujan dari langit.Kuntum-kuntum bunga liar bermekaran di sepanjang lereng bukit, menyemai warna-warni yang lembut... ungu lilac, merah muda pucat, kuning buttercup, dan putih daisy yang bergoyang lembut tertiup angin. Udara membawa aroma tanah basah dan harum bunga liar, dibalut cahaya matahari yang hangat dan tenang. Burung-burung kecil bersahutan dari dahan ke dahan, menciptakan irama pagi yang menggema ke seluruh lembah.Tanah keluarga Loghan, terbentang luas dari kaki hingga puncak perbukitan, terhampar hijau sejauh mata memandang. Kabut tipis pagi perlahan menguap, membuka pandangan akan padang rumput yang tenang, pohon-pohon tua yang rindang, dan kastil tua yang berdiri megah seperti istana. Jendela-jendela besar dibuka lebar, membiarkan angin musim semi ikut masuk membawa serta
BAB 169 PULANG KE YORKSHIRESenja baru saja turun di langit Yorkshire. Cahaya keemasan menimpa dinding batu tua rumah besar keluarga Loghan yang berdiri kokoh di tengah hamparan padang rumput. Atmosfer musim panas membuat sore terlihat masih benderang.Aron Loghan berdiri tegak di ruang utama, ruang tamu dengan langit-langit tinggi, jendela kaca besar, dan lampu gantung kristal yang berkilauan. Eva ada di sampingnya, mengenakan gaun lembut warna pastel yang sedikit agak longgar dan ringan. Kedua tangan mereka saling menggenggam. Meski wajah Eva tampak tegang, matanya berkilat gugup sekaligus bahagia.Di hadapan mereka, Geby sedang tersenyum memberi sambutan hangat dan pelukan."Jangan terlalu erat,Mom." Aron menegur ibunya yang sedang memeluk Eva. "Nanti istriku sesak nafas, kurang oksigen.""Oh, kau bicara apa?!" Geby melotot pada cara bercanda Aron."Di perut Eva sedang ada calon cucumu."Tangan Geby langsung reflek menutup mulut, air matanya nyaris menetes karena terlalu terkejut
BAB 168TIGA BULAN BERIKUTNYAPagi di pulau tropis terasa begitu hangat. Matahari baru saja naik dari ujung timur, memantulkan cahaya keemasan di permukaan laut biru yang bergelombang tenang. Angin laut yang lembut mengibaskan tirai tipis kamar resort pribadi itu, membawa aroma asin bercampur wangi bunga tropis.Di dalam kamar, Eva masih bergelung di atas ranjang besar dengan seprai putih kusut. Rambut cokelatnya terurai, pipinya menempel pada bantal, matanya terpejam lelah setelah semalaman bercinta dalam berbagai pelukan, desahan, dan bisikan cinta yang nyaris membuat tubuhnya remuk tapi bahagia.Pagi-pagi Aron sudah segar dengan kemeja putih tipis dan celana santai linen, berjalan menghampiri ranjang. Senyum lembut mengembang di wajah tampannya yang terlalu aristokrat. Ia duduk di tepi ranjang, jemarinya menyibak rambut Eva dengan penuh sayang sebelum mengecup keningnya.“Apa kau tidak ingin berjemur?” suaranya rendah, serak, namun terdengar hangat.Eva hanya menggeliat pelan di ba
167 CHATRINE & LIAMMalam itu kastil megah keluarga Loghan mulai meredup dari hiruk pikuk pesta. Lampu kristal di aula besar sudah dipadamkan, hanya beberapa lilin dan lampu taman yang masih menyala di jalur setapak menuju sayap kastil. Para pelayan, yang sejak pagi sibuk melayani keluarga bangsawan, sudah beristirahat di kamar masing-masing.Udara malam terasa sejuk, langit begitu cerah. Rembulan menggantung tinggi, ditemani taburan bintang yang berkelip di angkasa. Dari kejauhan terdengar suara serangga malam berpadu dengan desir angin yang melewati pepohonan di perbukitan rendah. Kastil keluarga Loghan yang megah dan anggun kini berdiri sunyi, seolah menjadi saksi bisu rahasia keluarga dari generasi ke generasi.Liam, yang tidak bisa tidur, memutuskan keluar dari kamarnya untuk berjalan ke teras samping. Ia hanya ingin menghirup udara segar, menjernihkan kepalanya yang penuh dengan berbagai pikiran. Namun langkahnya terhenti ketika melihat seseorang sudah berdiri di sana.Chatrin
BAB 166Eva masih terbaring di dada Aron, matanya setengah terpejam, napasnya masih belum sepenuhnya teratur. Aron menyibakkan helaian rambut basah istrinya, lalu menempelkan kecupan singkat di dahinya.“Kita benar-benar akan terlambat,” gumam Eva sambil meringis kecil, meski senyumnya belum juga hilang.Aron mengangkat wajahnya, menatap istrinya dengan mata berkilat penuh kemenangan. “Kalau mereka tahu alasan kita terlambat, mungkin mereka akan memaklumi.”Eva langsung menepuk pelan pipi suaminya. “Jangan konyol! Mereka semua datang jauh-jauh untuk kita.”Aron menggetarkan tawa rendah, lalu bangkit dari ranjang begitu saja. Berdiri telanjang tanpa canggung, tubuhnya yang masih basah oleh keringat sempat membuat Eva ingin mengelak tak percaya. Mereka berdua benar-benar baru mandi peluh lengket bersama.Dengan santai, Aron membopong tubuh Eva ke kamar mandi sambil terus dia lumat bibirnya.“Cukup, Aron! Satu ciuman lagi, dan kita tidak akan pernah sampai ke meja makan.” Eva mendorong d
BAB 165Sementara Eva masih pergi ke makam ibunya... Liam kembali ke kamar tamu. Kamar tamu pun sangat luas dan mewah.Liam menutup pintu kamar perlahan. Aroma kayu tua bercampur wangi bunga segar dari vas di meja kecil memenuhi udara. Tatapannya langsung jatuh pada beberapa stel pakaian baru yang sudah tersusun rapi di atas ranjang... kemeja berwarna lembut, celana formal yang digantung dengan rapi, bahkan dasi yang dilipat sempurna dan satu kotak pakaian dalam pria.Liam merasa sedikit terganggu membayangkan siapa yang telah menyiapkan pakaian seperti itu untuknya.Di atas tiap stel pakaian dalam memo masing-masing. Salah satunya tertulis..."Untuk makan malam."Liam membaca tulisan tangan Chatrine yang sangat cantik dan rapi.Hanya beberapa kata sederhana, namun cukup membuat dada Liam terasa getir. Ia mengambil memo itu, menimangnya sejenak, lalu reflek menyelipkannya di saku kemeja.Liam kembali memperhatikan pakaian barunya yang harum, licin dengan aroma parfum yang sangat masku
BAB 150 MELANJUTKAN HIDUP"Aku datang sebagai perwakilan dari, Mr. Loghan."Chaterine datang membawa dokumen perceraian Eva dan Aron."Kau hanya tinggal menandatangani semua berkasnya."Hening sejenak dengan atmosfer tegang. Angin menyeret beberapa daun kering ke kaki anak tangga teras, menimbulkan
BAB 149 AKHIR MUSIM GUGURSejak Aron Loghan benar-benar pergi, ruang perawatan Eva terasa lebih sunyi. Namum anehnya, tidak selamanya menyakitkan.Eva tidak lagi terbangun dengan kegelisahan dan sesak yang mencekam.Karena setiap pagi, sebelum matahari naik sepenuhnya dan sebelum bengkel galerinya
BAB 148 MINTA BERCERAIGudang galeri sedang dipenuhi dengungan mesin serut dan aroma kayu basah. Liam, dengan kemeja lusuh yang lengannya digulung sampai atas siku sedang berdiri di depan balok kayu besar, menandai garis-garis potongan ketika suara langkah asing membuatnya mendongak.Liam menatap k
147 KEPUTUSAN YANG BERATLorong rumah sakit masih lengang saat Liam menghilang di tikungan. Chatrine tetap berdiri di tempatnya... tepat di depan pintu perawatan Eva.Kaki Chatrine tak mampu bergerak. Dadanya terasa sesak, tengkuk dingin, dan flashdisk yang baru saja ia simpan kembali ke saku bla







