Share

Bab 26

Author: Uti
last update publish date: 2026-06-30 20:01:52

Pesawat mendarat mulus di bandara internasional Paris. Adrian dan Clara berjalan bergandengan tangan melewati terminal, meninggalkan kekacauan di bandara beberapa jam lalu. Wajah Adrian masih pucat, tapi ia berusaha tersenyum, berusaha melupakan amplop hitam dan foto-foto itu. Clara menggenggam erat tangannya, menyandarkan kepala di bahunya.

"Kita sudah sampai, Sayang," ucap Clara lembut. "Kevin pasti sudah menunggu."

Adrian mengangguk, tapi pikirannya masih melayang pada pesan misterius itu. S
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • DENDAM ISTRI YANG TERKHIANATI    Bab 28

    Moskow....Satu Jam KemudianDua gudang logistik Crimson Fang di Moskow kini tampak seperti benteng mati. Tidak ada aktivitas, tidak ada penjaga, hanya bangunan kosong yang berdiri sunyi.Klan Volkov bergerak masuk dengan keyakinan penuh. Mereka berjumlah lebih dari lima puluh orang, bersenjata lengkap, dan dipimpin oleh seorang pria bertubuh raksasa bernama Igor operasional kedua klan Volkov."Masuk!" perintah Igor, suaranya menggema di gudang kosong. "Ambil semua amunisi dan perlengkapan! Dalam satu jam, kita sudah kaya!"Pasukan Volkov menyebar dengan cepat. Tapi beberapa detik kemudian...KLIK!Semua pintu gudang tertutup otomatis, baut-baut raksasa mengunci setiap keluar masuk."Apa ini?" teriak Igor, matanya melotot.Dari atas, terdengar suara yang membuat bulu kuduknya berdiri."Selamat datang, Tuan Igor."Semua mata mendongak di atas gudang, sejumlah pasukan Crimson Fang berdiri dengan senjata di tangan, menunjuk ke bawah. Di samping mereka, beberapa tabung gas air mata sudah s

  • DENDAM ISTRI YANG TERKHIANATI    Bab 27

    Malam itu, langit di atas markas Crimson Fang terlihat berbeda. Awan hitam bergulung-gulung, menyembunyikan bulan dan bintang-bintang. Angin bertiup kencang, membawa aroma tanah basah dan ketegangan yang tak terlihat. Di dalam ruang komando, Evelyn duduk di kursi kepemimpinannya dengan tenang, dikelilingi oleh puluhan layar yang memantulkan data intelijen dari seluruh penjuru dunia.Gio berdiri di sampingnya, membawa tablet yang terus berdering dengan notifikasi. Aletta berada di sisi lain, tangannya bergerak cepat di atas keyboard, mencoba menstabilkan jaringan komunikasi yang mulai terganggu."Nona," ucap Gio, suaranya tegang, "kami menerima laporan dari jaringan Eropa. Ketiga klan Gambino, Volkov, dan Die Schatten bergerak bersamaan. Mereka sudah mengirim pasukan ke berbagai posisi kita di Italia, Rusia, dan Jerman."Evelyn tidak bergerak, matanya tetap terpaku pada layar utama yang menampilkan peta Eropa dengan titik-titik merah yang bergerak cepat."Apa yang mereka lakukan?" tany

  • DENDAM ISTRI YANG TERKHIANATI    Bab 26

    Pesawat mendarat mulus di bandara internasional Paris. Adrian dan Clara berjalan bergandengan tangan melewati terminal, meninggalkan kekacauan di bandara beberapa jam lalu. Wajah Adrian masih pucat, tapi ia berusaha tersenyum, berusaha melupakan amplop hitam dan foto-foto itu. Clara menggenggam erat tangannya, menyandarkan kepala di bahunya."Kita sudah sampai, Sayang," ucap Clara lembut. "Kevin pasti sudah menunggu."Adrian mengangguk, tapi pikirannya masih melayang pada pesan misterius itu. Siapa pengirimnya? Apa tujuannya? Dan yang paling mengganggu apakah Evelyn tahu?Mobil sport mewah sudah menunggu di luar. Mereka naik, dan dalam waktu sekitar empat puluh menit, mereka tiba di sebuah apartemen mewah di kawasan pinggiran Paris. Apartemen yang disewa Adrian untuk keluarga keduanya, tempat Kevin dan orang tua Clara tinggal.Begitu pintu terbuka, seorang anak laki-laki berusia sekitar tiga tahun berlari menyambut. "Papa! Mama!"Adrian tersenyum lebar, melepas semua kekhawatirannya u

  • DENDAM ISTRI YANG TERKHIANATI    Bab 25

    Aula yang penuh keangkuhan dan bisik-bisik meremehkan, kini hening bagai liang kubur. Hanya suara napas tertahan dan detak jantung yang berpacu yang terdengar di antara para pemimpin klan yang masih berdiri membeku di tempat masing-masing. Beberapa dari mereka masih menatap genangan darah di lantai marmer yang perlahan menyebar seperti peta kekuasaan baru yang digambar dengan merah.Evelyn duduk dengan anggun di kursi yang telah disediakan. Dress hitamnya yang mengilap kini memiliki semburat merah di ujungnya percikan darah dari pria malang yang masih tergeletak tak jauh darinya. Ia mengangkat gelas wine yang masih penuh, menyesapnya pelan, seolah baru saja menyaksikan pertunjukan teater yang menghibur."Apakah tidak ada yang ingin menyampaikan sesuatu?" tanyanya dengan suara lembut, tapi justru kelembutan itulah yang membuat semua orang merinding. "Atau mungkin... ada yang ingin mempertanyakan kehadiran saya?"Keheningan....Hanya keheningan yang menjawab.Pria di panggung, sang pem

  • DENDAM ISTRI YANG TERKHIANATI    Bab 24

    Malam ini, aula megah di kawasan tersembunyi kota berubah menjadi medan pertemuan para penguasa dunia bawah. Puluhan pemimpin klan mafia dari berbagai penjuru negeri bahkan dari luar negeri telah berkumpul. Mereka datang dengan pakaian terbaik, ditemani para pengawal setia, siap untuk malam tahunan yang selalu penuh intrik dan bahaya.Lampu kristal berkilauan di langit-langit tinggi, meja-meja panjang dipenuhi hidangan mewah dan minuman termahal. Tapi di balik kemewahan itu, udara dipenuhi ketegangan. Semua orang saling mengawasi, semua orang saling curiga.Di sudut aula, beberapa pemimpin klan peringkat bawah berkumpul sambil menyesap wiski."Selama bertahun-tahun aku belum pernah bertemu atau melihat langsung pemimpin Crimson Fang," ujar salah satu dari mereka, pria paruh baya dengan bekas luka di pelipis."Seperti tahun-tahun sebelumnya, dia tidak akan hadir," sahut yang lain, pria bertubuh tambun dengan cincin emas di setiap jari. "Malam ini kita akan memanfaatkan peluang ini. Per

  • DENDAM ISTRI YANG TERKHIANATI    Bab 23

    Pagi itu, kediaman Montgomery yang megah tampak tenang. Matahari bersinar cerah, menerangi taman luas yang dirawat dengan sempurna. Namun ketenangan itu hanya bertahan sampai sebuah paket kecil di titip kepada salah satu satpam. Seorang kurir berpakaian biasa mengantarkannya, lalu pergi begitu saja tanpa meminta tanda tangan atau konfirmasi penerima, tidak ada nama pengirim, tidak ada alamat kembali. Hanya sebuah kotak berukuran sedang, dibungkus kertas hitam polos, dan di atasnya dihiasi setangkai bunga mawar hitam yang kering mawar hitam asli, bukan buatan.Nyonya Sinta menerima paket itu dari tangan seorang satpam. Ia hanya memandangi benda itu dengan perasaan aneh. Jantungnya berdebar tak karuan, meskipun ia belum tahu apa isinya."Bawa masuk," perintahnya pada satpam itu.Setelah satpam itu pergi, Nyonya Sinta duduk di sofa ruang keluarga, menatap paket itu dengan intens. Bunga mawar hitam bukan simbol yang baik. Tuan Deren yang sedang bermain ponsel di sebelahnya, menyadari p

  • DENDAM ISTRI YANG TERKHIANATI    Bab 16

    Matahari siang menyinari ruang kerja Adrian melalui jendela kaca besar, tapi tak mampu menghangatkan suasana hatinya yang sedang kacau. Ia duduk di kursi direkturnya, jari-jari memijit pelipis yang berdenyut tak karuan. Di depannya, bertumpuk dokumen setinggi gunung kecil kontrak kerja sama, lapora

  • DENDAM ISTRI YANG TERKHIANATI    Bab 15

    Jam dinding di apartemen mewah itu menunjukkan pukul 01.00 dini hari. Adrian terbangun dari tidurnya, matanya masih berat namun tangannya secara refleks meraba kasur di sampingnya tapi kosong. "Clara?" panggilnya lirih, suara masih serak karena ngantuk.Ia duduk di tepi tempat tidur, mengucek mata

  • DENDAM ISTRI YANG TERKHIANATI    Bab 14

    Angin malam bertiup kencang, menerbangkan dedaunan kering di sepanjang jalan menuju Mansion. Bulan bersembunyi di balik awan hitam, seolah enggan menyaksikan apa yang akan terjadi malam ini. Mobil hitam yang membawa Evelyn berhenti tepat di depan gerbang megah yang selama lima tahun ia anggap sebag

  • DENDAM ISTRI YANG TERKHIANATI    Bab 13

    Mobil melaju meninggalkan kediaman Montgomery, namun Evelyn masih duduk tegap di kursi belakang. Jari-jarinya mencengkeram ponselnya erat-erat, buku-buku jarinya memutih. Di ruang keluarga tadi, ia berhasil mempertahankan topeng ketenangan, tersenyum manis, dan bersikap seolah tidak terjadi apa-apa

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status