Share

BAB 38

Author: Casanova
last update publish date: 2026-08-25 21:56:02

“Aku tidak mengizinkan,” tegas Arka.

Berdiri, dia tak bisa melanjutkan sarapan setelah mengetahui apa yang sedang dilakukan sang istri. Perasaannya kacau balau, ketenangan pun porak-poranda seketika.

“Aku tidak butuh izinmu, Mas.” Kalla menjawab sambil menyendokkan nasi goreng lalu memasukkan ke dalam mulut. Dia tak mau memperhatikan Arka yang sudah berdiri di sampingnya. Hatinya tak boleh goyah, keputusan untuk bekerja sudah bulat. Apa pun bujuk rayu Arka, tak akan mampu membuat niatnya surut
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • DI AMBANG PERPISAHAN   BAB 77

    “Kamu mau ke mana?”Arka terpaksa mengurai pelukannya saat Kalla memaksa turun dari ranjang. Tak mau berlama-lama meringkuk dalam dekap.“Aku harus kerja, Mas.” Wanita yang pagi itu terlihat seksi dengan tampilan bangun tidurnya tengah duduk sambil mengikat rambut pirangnya asal. Beberapa helai tampak jatuh di pundaknya yang putih tanpa cela.“Tapi, aku masih demam. Nih, sudah mau menggigil lagi.” Arka beralasan. Ikut duduk, dipeluknya pinggang Kalla lalu merebah di punggung wanita tersebut seolah tak pernah terjadi masalah di antara mereka. Dia tak rela melepas sang istri pergi.“Aku harus kerja, Mas. Aku ....”“Tapi, aku masih sakit, Sayang. Apa kamu tega? Aku baru saja jadi yatim piatu. Hidupku sedang terpuruk-puruknya. Istriku menuntut cerai, mamaku meninggal. Aku sedang di titik terendah hidupku. Apa tidak kasihan? Aku tidak punya alasan untuk tetap bertahan di dunia.”Arka menahan tawa sambil mengeratkan belit di pinggang istrinya.“Mas, apa-apaan sih? Kenapa bicara seperti itu?

  • DI AMBANG PERPISAHAN   BAB 76

    “Kamu sakit sampai menggigil begini. Apa tidak sebaiknya ke dokter, Mas?”Kalla masih setia menjaga suaminya. Hingga malam tiba, dia masih bertahan di kediaman sang mertua. Pemilik wajah berkubang resah itu tak sedikit pun melangkah pergi dari sisi Arka. “Mas.”Duduk di samping pria yang sedang bergelung di balik selimut. Meringkuk dengan suara menggigil, tubuh gagah itu bergetar hebat.“Dingin, Sayang.” Arka berbisik pelan. Mata terpejam.“Ya, makanya. Ini sudah dinaikkan suhu AC-nya, Mas.”“Dingin.” Pria dewasa itu terus menggigil.“Lalu, bagaimana?” Kalla bingung. “Kita ke dokter saja. Ini panasnya sudah turun, tapi ....”Kalla kembali menempelkan punggung tangan di dahi dan kulit leher Arka. Dia mengecek suhu tubuh suaminya yang tak lagi sehangat tadi siang dan mulai berkeringat.“Tapi, dingin, Sayang.” Arka makin manja.“Aneh. Sudah turun panasnya, tapi masih kedinginan. Orang kepanasan.” Kalla bergumam tak jelas.“He ... em.”“Ke dokter saja, ya? Takutnya ada masalah serius. In

  • DI AMBANG PERPISAHAN   BAB 75B

    Raut wajah Arka berubah. Entah kenapa, kata-kata sederhana itu mampu membuat isi kepalanya jauh lebih ringan. “Harusnya ... kalau sakit itu bicara, Mas? Kenapa diam saja?” Kembali suapan selanjutnya berlabuh di dalam mulut Arka. Tak lagi ada protes dan tanya dari empunya. “Nah, ‘kan? Mas itu kelaparan. Kenapa tidak keluar? Sudah disiapkan makanan.” Kalla merapikan rambut Arka yang acak-acakan. Tak lupa, dia juga mengusap wajah pria yang tengah menelan bubur sambil mengernyit. “Kenapa? Panas?” Arka menggeleng. “Sakit tenggorokan?” Kalla kembali menginterogasi suaminya. “Ya.” Arka menjawab lemah. “Keluhannya apa saja? Mas itu kelelahan. Beberapa hari ini kurang istirahat. Makannya tak teratur.” Arka hanya menatap dan diam. Melahap setiap sendok bubur yang disuapkan kepadanya. Tak butuh waktu lama, semangkuk bubur sudah berpindah ke perut. “Mas demam.” Kalla meraih air jahe hangat dan menyodorkan pada sang suami. “Setelah ini minum obat.” Menyambar selembar tisu, diusapnya

  • DI AMBANG PERPISAHAN   BAB 75A

    “Sakitnya sejak kapan?” Kalla meletakkan tas tangannya di atas meja makan lalu melangkah menuju ke kompor. Sebuah panci bertengger di sana dengan seorang asisten rumah tampak mengaduk-aduk kuah sup. “Kurang tahu, Bu. Dari semalam tidak keluar-keluar kamar. Aku sempat ketuk pintu, tapi tak dijawab.” Asisten rumah mendiang Mama Hesti bercerita. Kalla menyimak. “Aku sudah siapkan sarapan, ini mau siapkan makan siang. Eh, Bapak muncul minta dibelikan obat di warung.” “Obat apa?” Kalla mengernyit. “Obat sakit kepala. Kalau lihat kondisi Bapak, memang ... sepertinya sedang sakit. Wajah pucat, lemas. Dan batuk-batuk.” Kalla mengangguk. Suaminya memang jarang sakit. Namun, begitu laki-laki itu tumbang, serasa kiamat. “Bapak sarapan apa?” Raut wajah Kalla terlihat resah. Istri tetaplah wanita yang akan selalu mengutamakan abdinya pada sang suami. Di saat hubungan tengah bermasalah pun, perhatian tetap jadi hal utama. “Tadi pagi aku masak nasi goreng. Tidak tahu Bapak sakit, Bu. Tapi,

  • DI AMBANG PERPISAHAN   BAB 74

    “Kenapa Mas Arka harus menyembunyikan banyak hal dariku?”Kalla duduk di belakang Pak Hadi yang tengah sibuk dengan kemudi. Tatapan menerawang ke arah jalanan, pikiran berkeliaran. Banyak tanya yang membutuhkan jawaban setelah mendengar sendiri penuturan salah satu teman sang suami. “Untuk apa Mas Arka melakukan banyak hal di luar kemampuannya? Sampai detik ini ... aku tak pernah menuntut lebih. Saat aku memilih Mas Arka, aku sudah menerima apa adanya termasuk keluarganya.”Kalla menelan ludah seraya mengingat-ingat perjalanan berumah tangga yang tak bisa dikatakan mudah. Dia yang seorang putri orang ternama dan lahir di tengah kemewahan itu harus beradaptasi dengan kehidupan orang biasa. Mengganti rumah gedung bertingkat dengan segala fasilitas mewah di dalamnya dengan sebuah kontrakan sepetak yang sangat sederhana. Merelakan mobil-mobil mewah dan menukarnya dengan angkutan kota atau ojek pengkolan.“Aku tidak pernah menuntutmu, Mas. Lalu kenapa harus melakukan semuanya untukku?”Wa

  • DI AMBANG PERPISAHAN   BAB 73B

    Kalla tertunduk. Dia bingung. “Aku datang padamu untuk mencari tahu kebenarannya. Jangan sampai salah paham dan merusak semuanya. Aku ... benar-benar bingung, Kak.” “Apa yang kamu bingungkan. Pulang dan temui suamimu. Anggap saja orang itu hanya ingin mengusik pernikahanmu. Kalau masih ragu, tanyakan pada suamimu. Dia lebih berhak menjelaskan padamu. Aku atau siapa pun ... tak akan bisa melakukannya.”“Aku akan tanyakan pada Mas Arka, tapi bukan sekarang. Aku ingin mencari tahu sendiri.”“Kamu tidak percaya suamimu?” Alaska terkekeh.“Demi Tuhan, Kak. Aku hanya ingin memastikan. Apa yang sebenarnya dilakukan Mas Arka dulunya. Tidak ada maksud apa-apa.”“Kalau aku bilang itu hanya masa lalu, apa kamu percaya?”Kalla diam.“Kalau aku bilang itu tak akan berarti apa-apa, kamu bagaimana? Semua orang punya masa lalu. Semua orang punya kisah kelam. Kamu mau maju atau bergerak mundur?” Lagi-lagi Kalla diam.“Andai suamimu punya masa lalu kelam dan sekarang kamu tahu. Apa kamu akan mengorba

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status