LOGIN“Halo.”
Kalla menyapa dengan nada tak bersahabat. Sepasang mata elangnya menatap tajam sang suami yang berdiri tegang. Dia tak ubahnya singa betina kelaparan yang sudah berhari-hari tak disuguhi makanan. Apa saja yang ada di hadapan terasa pantas dimangsa. Senyap. Tidak terdengar jawaban dari seberang. Begitu sunyi sampai helaan napas pun sulit terdeteksi. “Halo, ini siapa? Kenapa menghubungi suamiku?” Bukan sahutan, Kalla harus menelan kecewa saat panggilan diputuskan sepihak. Dugaan-dugaan bak bola liar bergulir memenuhi isi kepala. Telepon dari seseorang yang namanya tersimpan di dalam kontak oleh sang suaminya membuat tuduhan makin menguat. “Siapa Sabda, Mas?” Kalla menurunkan nada bicara. Menarik kursi dan duduk, kepalanya berdenyut. “Mas tidak bisa beralasan kalau ini salah sambung. Jelas Mas mengenalnya. Tidak mungkin disimpan di dalam kontak, ‘kan?” Arka menarik napas panjang. Luka yang memancar di wajah sang istri bak sembilu yang tengah mengiris jiwanya. “Dengarkan Mas, Kalla.” Berjongkok, pria tampan itu akan melakukan segala cara untuk mempertahankan pernikahan dan sang istri. Mereka bersama bukan sehari dua hari. Segala rintangan telah dilewati agar bisa bersama. Dia berjuang, Kalla pun tak kalah berkorban untuk pernikahan mereka. “Tidak perlu merayuku lagi, Mas.” Kalla membuang pandangan. “Kamu salah paham, Sayang.” Arka baru akan meraih tangan istrinya dan bermaksud menggenggam mesra. Seperti biasa, Kalla akan luluh lantak dengan segala sikap manisnya. Namun, kali ini dia harus kecewa. Wanita yang biasa manja tiba-tiba berubah jadi keras kepala. Niatnya pun harus tertunda. “Jangan sentuh aku, Mas. Aku jijik padamu.” Kalla merengut. Cemberutnya pun sudah berbeda. Tak lagi menggemaskan seperti saat aku melupakan ulang tahunnya. “Selama lima tahun ini, sekali pun aku tidak pernah berulah. Apa yang Mas minta, selalu aku turuti. Mas mau aku jadi ibu rumah tangga, aku turuti. Mas mau punya istri yang pintar memasak, aku berusaha untuk itu. Bahkan, Mas tahu kalau dari lahir sampai bersamamu, aku dilayani dayang-dayangku. Jangankan masuk dapur, makanku pun sudah disiapkan koki. Aku kurang apa lagi? Pengorbananku masih kurang apa lagi untukmu?” Kalla berteriak. Arka menelan ludah. Tak bisa menggenggam jemari istrinya, pria berkemeja putih itu melabuhkan kedua tangannya di lutut Kalla dan bersimpuh di sana. “Aku rela pindah dari istana mewah papiku ke kontrakan super sederhana. Mas masih mengingat semuanya, ‘kan? Mas tidak lupa, ‘kan? Semua kulakukan demi menjaga nama baikmu. Katamu, Mas juga punya harga diri. Tidak mau memakai fasilitas orang tuaku.” “Mas masih ingat semuanya, Sayang.” “Kalau masih ingat, terus kenapa saat hidup kita sudah sejajar dengan papiku lalu aku diduakan?” “Tidak ada yang menduakanmu, Kalla. Mas ....” “Aku mendengarnya, Mas. Sayangmu sudah bukan untukku saja. Ada orang lain yang kau panggil sayang.” Di titik ini, Kalla tak sanggup lagi menahan dirinya. Andai bisa, dia ingin menerkam makhluk yang dipanggil suami dan mencabik hingga tak bersisa. “Mas bisa jelaskan. Tapi, tolong jangan emosi dulu. Yang ada kamu salah paham.” Kalla melirik sekilas lantas membuang pandangan. “Katakan saja terus terang. Tidak perlu bermanis-manis di depanku. Aku sudah mendengar semuanya. Apa yang ingin Mas sampaikan?” Mencengkeram erat ponsel putih suaminya, Kalla berusaha untuk tidak menangis. Di titik ini, dia merasa sendiri. Papi sudah tiada, Mami pun telah lama berpulang ke pangkuan Yang Kuasa. Hanya Arka dan sang mertua yang dia punya. Aku tidak boleh lemah. Aku tidak boleh menangis. Aku kuat, aku wanita hebat. Aku sudah melewati bukit, lembah, dan jurang. Aku adalah pendaki, aku adalah pejuang. “Kalla, jangan marah. Kamu salah paham, Sayang.” Arka meremas kedua lutut istrinya. Masih dalam posisi berjongkok, dia menengadah. Ditatapnya wajah cantik yang terus membuang muka. Ada selapis kecewa menyelimuti paras ayu Kalla, semburat luka itu pun nyata. “Jangan bertele-tele, Mas. Siapa Sabda? Siapa yang kamu hubungi? Katakan, apa kode ponselmu. Aku yakin di dalamnya ada banyak rahasia, ‘kan?” tuduh Kalla. Arka menggeleng. “Dengarkan aku, Kalla. Semua hanya salah paham.” “Kesalahpahaman itu tidak akan terjadi kalau Mas mau berterus terang? Siapa yang tadi Mas Arka hubungi? Sejak kapan Mas punya ponsel ini? Kenapa aku tidak tahu sama sekali? Sebenarnya apa yang Mas sembunyikan dariku?” Arka diam. “Jawab, Mas. Jangan diam saja. Semakin Mas diam, aku makin berpikiran yang bukan-bukan. Atau ... memang semua tuduhanku ini benar?” Kalla menelan ludah di ujung semburannya. Kali ini, pria rupawan itu menggeleng lemah. Di hadapan ratusan karyawan dia bisa seperti harimau Sumatera, di depan istrinya Arka tak jauh berbeda dari ulat kaki seribu. Disentuh dan mengerut. “Jangan hanya diam dan menggeleng, Mas. Kalau Mas mau membuat semuanya jelas, berikan aku kodenya. Biar aku bisa tahu isi di dalamnya. Kalau Mas takut, semakin aku yakin kalau isinya ada perselingkuhanmu, pengkhianatanmu.” Napas Kalla memburu. Perasaannya kembali diremas-remas setiap teringat percakapan sang suami yang begitu manis dengan kata-kata penuh perhatian. Bahkan, pria yang sudah lima tahun berbagi banyak hal dengannya itu memanggil sayang untuk sosok yang belum diketahuinya jelas. “Sayang, aku ....” “Jangan memanggilku seperti ini lagi, Mas. Sayangmu itu diumbar ke semua orang, sekarang sudah tidak ada artinya. Kalau memang Mas menemukan wanita lain yang lebih pantas, lebih baik, lebih cantik dariku ....” Pertahanan diri Kalla runtuh. Dia tak mampu melanjutkan ucapannya. Hati teramat sakit. Perasaan teriris-iris. Laki-laki yang selama ini menjadi tumpuan hidupnya, tega berkhianat. “Aku ... hanya punya kamu di dalam hidupku, Mas.” Kalla terisak. Tangan kirinya menangkup dada, tangan kanan masih menggenggam erat ponsel putih suaminya. Dia berusaha untuk tetap kuat, tetapi akhirnya menyerah. Kodrat tetap seorang wanita. Yang selalu menjadikan air mata sebagai pertahanan diri terakhirnya. Kini, cairan bening itu menggenang di mata, mengaburkan pandangan. Tak lama, luruh bersama dengan tarikan napasnya. “Apa kurangnya aku selama ini, Mas?” Kalla menelan ludah. Sesak di dada terasa menyiksa. Arka menggeleng. “Apa karena aku manja dan tidak bisa melakukan apa-apa?” Dua bulir air mata luruh membasahi pipinya yang dipoles perona merah muda. “Tidak, Sayang. Jangan bicara begini.” “Apa karena aku bodoh dan tidak sepadan denganmu yang sekarang sudah jadi pengusaha sukses?” Arka menggeleng. “Wanita bodoh ini yang mendampingimu dari nol, Mas.” Kala menepuk dadanya berulang dengan kencang. Dilampiaskannya sakit hati yang terus mengacak-acak hingga lapisan terdalam. “Jangan seperti ini, Kalla. Mas tahu, Sayang.” “Kalau tahu, kenapa mengkhianatiku?” Air mata yang jatuh bersusul-susulan diusap kasar dengan punggung tangan. Kalla menarik napas dalam-dalam. Dia cukup sadar diri dengan segala kekurangan yang dimiliki selama ini. Namun, bukan dengan pengkhianatan balasannya. “Apa karena aku ... aku tidak bisa memberimu anak? Jadi Mas memilih berselingkuh?” Kalla sesenggukan. “Sssttt, jangan bicara begitu. Ini tidak ada hubungannya dengan anak, Sayang. Demi Tuhan, aku tidak pernah berpikir seperti itu.” Arka mendekat. Memaksa memeluk istrinya yang terguncang. “Jangan sentuh aku, Mas. Aku jijik padamu. Aku yakin, tanganmu bukan hanya memelukku dan Mama. Aku yakin itu. Tangan ini sudah kotor, sama seperti hatimu yang tak lagi tulus untukku,” teriaknya Kalla berontak dalam pelukan Arka. Dia tak bisa menganggap semua hanya salah paham setelah mendengar sendiri kemesraan sang suami entah dengan siapa. Menarik napas dalam-dalam, sepatah kata keramat meluncur dari bibirnya. “Kita berpisah saja, Mas.”“Suma, aku ada kirim upeti untuk anak-anakmu. Thanks, aku tidak bisa membayangkan andai Kalla mengetahui semuanya. Aku malu.”Malam itu, Arka terlihat duduk di ruang kerjanya. Laptop terbuka menyala di depannya. Namun, perhatiannya tak di sana.“Ya, ini Rara dan Annel sedang rebutan. Next time, tolong beli yang warnanya sama. Kamu tahu sendiri, anak kembar ini seleranya juga sama.” Suma terkekeh. “Berarti, kamu harus waspada. Jangan-jangan mereka rebutan cinta di masa depannya. Bisa terjadi perang saudara.” Arka ikut tergelak. Namun, suaranya lenyap seketika, dia teringat sesuatu. “Kamu katakan apa pada istriku? Kebohongan apa yang kamu jual?”“Tidak ada.” Suma terdengar serius di ujung telepon. “Maaf, aku katakan semuanya. Foto itu diambil saat papamu sedang sekarat beberapa tahun lalu. Kamu butuh uang dan dan terpaksa harus ....”Wajah Arka berubah pucat.“Istrimu berhak tahu, Bro. Dia berhak tahu apa yang sudah kamu korbankan untuknya. Dengan begitu, musuhmu tak akan menggunakan k
“Kalau bukan kamu, siapa lagi yang tahu masalah ini? Hanya kamu, ‘kan? Dan, kamu tahu jelas apa yang terjadi hari itu.”“Demi Tuhan, bukan aku yang melakukannya.”“Dari mana kamu dapat foto ini? Pasti bukan orang sembarangan yang bisa mengambil foto ini, ‘kan?”Erika menggeleng. “Demi Tuhan, bukan aku yang melakukannya. Bagaimana mungkin aku bisa mendapatkan foto itu? Aku tahu semua yang kamu lakukan, tapi belum tentu aku yang mengirimnya pada istrimu. Aku tidak tahu apa-apa, Ka.”“Jangan bohong!” Arka menggertak.“Selama ini hanya kamu yang tahu masalah ini. Tidak ada orang lain.”“Aku tidak tahu apa-apa. Selama ini aku pulang kampung menemui orang tuaku. Mana ada waktu mengurusi masalahmu dan Kalla.”“Kalau bukan kamu, lalu siapa?” Tidak ada orang lain yang tahu masalahku ini.”Erika diam.“Hanya kamu satu-satunya, Eri.”“Kalau memang kamu minta bertemu untuk ini, aku rasa ... tidak ada yang harus dibahas lagi. Aku tegaskan sekali lagi, aku tidak ada sangku pautnya dengan masalah fo
“Kenapa basah?” Kalla masuk ke dapur dan keheranan melihat lantai yang basah di beberapa titik. Sebuah baskom berisi air es masih tergeletak di dekat bak cuci piring“Oh, itu Pak Arka tadi cuci muka, cuci tangan pakai air es.” Asisten rumah menjelaskan sembari memotong wortel. “Cuci muka pakai air es?” Kalla bingung. Dia bermaksud membuatkan suaminya bubur. “Apa tidak salah?”“Tidak, Bu. Tadi Bapak ke sini. Cuci kaki juga tadi aku lihat.”Di tengah kebekuan, otak Kalla mulai merangkai berbagai keanehan-keanehan yang didapatnya sebelum keluar kamar. Hingga akhirnya sampai pada satu kesimpulan dan membuat dia menggeleng tak percaya.“Kerjaan Mas Arka,” gerutunya. “Pantas saja. Dibilang demam, tapi suhunya normal. Kaki tangan dingin sampai ke muka-mukan. Bagaimana tidak dingin kalau cucinya pakai air es. Ada-ada saja!”Empat puluh lima menit berlalu, Kalla sudah kembali dengan sebuah nampan berisi bubur. Segelas air hangat ikut melengkapi sarapan sederhana Arka yang dibuat oleh istriny
“Kamu mau ke mana?”Arka terpaksa mengurai pelukannya saat Kalla memaksa turun dari ranjang. Tak mau berlama-lama meringkuk dalam dekap.“Aku harus kerja, Mas.” Wanita yang pagi itu terlihat seksi dengan tampilan bangun tidurnya tengah duduk sambil mengikat rambut pirangnya asal. Beberapa helai tampak jatuh di pundaknya yang putih tanpa cela.“Tapi, aku masih demam. Nih, sudah mau menggigil lagi.” Arka beralasan. Ikut duduk, dipeluknya pinggang Kalla lalu merebah di punggung wanita tersebut seolah tak pernah terjadi masalah di antara mereka. Dia tak rela melepas sang istri pergi.“Aku harus kerja, Mas. Aku ....”“Tapi, aku masih sakit, Sayang. Apa kamu tega? Aku baru saja jadi yatim piatu. Hidupku sedang terpuruk-puruknya. Istriku menuntut cerai, mamaku meninggal. Aku sedang di titik terendah hidupku. Apa tidak kasihan? Aku tidak punya alasan untuk tetap bertahan di dunia.”Arka menahan tawa sambil mengeratkan belit di pinggang istrinya.“Mas, apa-apaan sih? Kenapa bicara seperti itu?
“Kamu sakit sampai menggigil begini. Apa tidak sebaiknya ke dokter, Mas?”Kalla masih setia menjaga suaminya. Hingga malam tiba, dia masih bertahan di kediaman sang mertua. Pemilik wajah berkubang resah itu tak sedikit pun melangkah pergi dari sisi Arka. “Mas.”Duduk di samping pria yang sedang bergelung di balik selimut. Meringkuk dengan suara menggigil, tubuh gagah itu bergetar hebat.“Dingin, Sayang.” Arka berbisik pelan. Mata terpejam.“Ya, makanya. Ini sudah dinaikkan suhu AC-nya, Mas.”“Dingin.” Pria dewasa itu terus menggigil.“Lalu, bagaimana?” Kalla bingung. “Kita ke dokter saja. Ini panasnya sudah turun, tapi ....”Kalla kembali menempelkan punggung tangan di dahi dan kulit leher Arka. Dia mengecek suhu tubuh suaminya yang tak lagi sehangat tadi siang dan mulai berkeringat.“Tapi, dingin, Sayang.” Arka makin manja.“Aneh. Sudah turun panasnya, tapi masih kedinginan. Orang kepanasan.” Kalla bergumam tak jelas.“He ... em.”“Ke dokter saja, ya? Takutnya ada masalah serius. In
Raut wajah Arka berubah. Entah kenapa, kata-kata sederhana itu mampu membuat isi kepalanya jauh lebih ringan. “Harusnya ... kalau sakit itu bicara, Mas? Kenapa diam saja?” Kembali suapan selanjutnya berlabuh di dalam mulut Arka. Tak lagi ada protes dan tanya dari empunya. “Nah, ‘kan? Mas itu kelaparan. Kenapa tidak keluar? Sudah disiapkan makanan.” Kalla merapikan rambut Arka yang acak-acakan. Tak lupa, dia juga mengusap wajah pria yang tengah menelan bubur sambil mengernyit. “Kenapa? Panas?” Arka menggeleng. “Sakit tenggorokan?” Kalla kembali menginterogasi suaminya. “Ya.” Arka menjawab lemah. “Keluhannya apa saja? Mas itu kelelahan. Beberapa hari ini kurang istirahat. Makannya tak teratur.” Arka hanya menatap dan diam. Melahap setiap sendok bubur yang disuapkan kepadanya. Tak butuh waktu lama, semangkuk bubur sudah berpindah ke perut. “Mas demam.” Kalla meraih air jahe hangat dan menyodorkan pada sang suami. “Setelah ini minum obat.” Menyambar selembar tisu, diusapnya







