Share

BAB 3

Author: Casanova
last update publish date: 2026-08-07 08:37:57

“Halo.” 

Kalla menyapa dengan nada tak bersahabat. Sepasang mata elangnya menatap tajam sang suami yang berdiri tegang. Dia tak ubahnya singa betina kelaparan yang sudah berhari-hari tak disuguhi makanan. Apa saja yang ada di hadapan terasa pantas dimangsa.

Senyap. Tidak terdengar jawaban dari seberang. Begitu sunyi sampai helaan napas pun sulit terdeteksi.

“Halo, ini siapa? Kenapa menghubungi suamiku?”

Bukan sahutan, Kalla harus menelan kecewa saat panggilan diputuskan sepihak. Dugaan-dugaan bak bola liar bergulir memenuhi isi kepala. Telepon dari seseorang yang namanya tersimpan di dalam kontak oleh sang suaminya membuat tuduhan makin menguat.

“Siapa Sabda, Mas?” 

Kalla menurunkan nada bicara. Menarik kursi dan duduk, kepalanya berdenyut. 

“Mas tidak bisa beralasan kalau ini salah sambung. Jelas Mas mengenalnya. Tidak mungkin disimpan di dalam kontak, ‘kan?”

Arka menarik napas panjang. Luka yang memancar di wajah sang istri bak sembilu yang tengah mengiris jiwanya. 

“Dengarkan Mas, Kalla.” 

Berjongkok, pria tampan itu akan melakukan segala cara untuk mempertahankan pernikahan dan sang istri. Mereka bersama bukan sehari dua hari. Segala rintangan telah dilewati agar bisa bersama. Dia berjuang, Kalla pun tak kalah berkorban untuk pernikahan mereka. 

“Tidak perlu merayuku lagi, Mas.” Kalla membuang pandangan.

“Kamu salah paham, Sayang.” 

Arka baru akan meraih tangan istrinya dan bermaksud menggenggam mesra. Seperti biasa, Kalla akan luluh lantak dengan segala sikap manisnya. Namun, kali ini dia harus kecewa. Wanita yang biasa manja tiba-tiba berubah jadi keras kepala. Niatnya pun harus tertunda.

“Jangan sentuh aku, Mas. Aku jijik padamu.” Kalla merengut. 

Cemberutnya pun sudah berbeda. Tak lagi menggemaskan seperti saat aku melupakan ulang tahunnya.

“Selama lima tahun ini, sekali pun aku tidak pernah berulah. Apa yang Mas minta, selalu aku turuti. Mas mau aku jadi ibu rumah tangga, aku turuti. Mas mau punya istri yang pintar memasak, aku berusaha untuk itu. Bahkan, Mas tahu kalau dari lahir sampai bersamamu, aku dilayani dayang-dayangku. Jangankan masuk dapur, makanku pun sudah  disiapkan koki. Aku kurang apa lagi? Pengorbananku masih kurang apa lagi untukmu?” Kalla berteriak.

Arka menelan ludah. Tak bisa menggenggam jemari istrinya, pria berkemeja putih itu melabuhkan kedua tangannya di lutut Kalla dan bersimpuh di sana.

“Aku rela pindah dari istana mewah papiku ke kontrakan super sederhana. Mas masih mengingat semuanya, ‘kan? Mas tidak lupa, ‘kan? Semua kulakukan demi menjaga nama baikmu. Katamu, Mas juga punya harga diri. Tidak mau memakai fasilitas orang tuaku.”

“Mas masih ingat semuanya, Sayang.”

“Kalau masih ingat, terus kenapa saat hidup kita sudah sejajar dengan papiku lalu aku diduakan?”

“Tidak ada yang menduakanmu, Kalla. Mas ....”

“Aku mendengarnya, Mas. Sayangmu sudah bukan untukku saja. Ada orang lain yang kau panggil sayang.” Di titik ini, Kalla tak sanggup lagi menahan dirinya. Andai bisa, dia ingin menerkam makhluk yang dipanggil suami dan mencabik hingga tak bersisa.

“Mas bisa jelaskan. Tapi, tolong jangan emosi dulu. Yang ada kamu salah paham.”

Kalla melirik sekilas lantas membuang pandangan. “Katakan saja terus terang. Tidak perlu bermanis-manis di depanku. Aku sudah mendengar semuanya. Apa yang ingin Mas sampaikan?”

Mencengkeram erat ponsel putih suaminya, Kalla berusaha untuk tidak menangis. Di titik ini, dia merasa sendiri. Papi sudah tiada, Mami pun telah lama berpulang ke pangkuan Yang Kuasa. Hanya Arka dan sang mertua yang dia punya. 

Aku tidak boleh lemah. Aku tidak boleh menangis. Aku kuat, aku wanita hebat. Aku sudah melewati bukit, lembah, dan jurang. Aku adalah pendaki, aku adalah pejuang.

“Kalla, jangan marah. Kamu salah paham, Sayang.” Arka meremas kedua lutut istrinya. Masih dalam posisi berjongkok, dia menengadah. Ditatapnya wajah cantik yang terus membuang muka. Ada selapis kecewa menyelimuti paras ayu Kalla, semburat luka itu pun nyata.

“Jangan bertele-tele, Mas. Siapa Sabda? Siapa yang kamu hubungi? Katakan, apa kode ponselmu. Aku yakin di dalamnya ada banyak rahasia, ‘kan?” tuduh Kalla.

Arka menggeleng. “Dengarkan aku, Kalla. Semua hanya salah paham.”

“Kesalahpahaman itu tidak akan terjadi kalau Mas mau berterus terang? Siapa yang tadi Mas Arka hubungi? Sejak kapan Mas punya ponsel ini? Kenapa aku tidak tahu sama sekali? Sebenarnya apa yang Mas sembunyikan dariku?”

Arka diam.

“Jawab, Mas. Jangan diam saja. Semakin Mas diam, aku makin berpikiran yang bukan-bukan. Atau ... memang semua tuduhanku ini benar?” Kalla menelan ludah di ujung semburannya.

Kali ini, pria rupawan itu menggeleng lemah. Di hadapan ratusan karyawan dia bisa seperti harimau Sumatera, di depan istrinya Arka tak jauh berbeda dari ulat kaki seribu. Disentuh dan mengerut.

“Jangan hanya diam dan menggeleng, Mas. Kalau Mas mau membuat semuanya jelas, berikan aku kodenya. Biar aku bisa tahu isi di dalamnya. Kalau Mas takut, semakin aku yakin kalau isinya ada perselingkuhanmu, pengkhianatanmu.”

Napas Kalla memburu. Perasaannya kembali diremas-remas setiap teringat percakapan sang suami yang begitu manis dengan kata-kata penuh perhatian. Bahkan, pria yang sudah lima tahun berbagi banyak hal dengannya itu memanggil sayang untuk sosok yang belum diketahuinya jelas.

“Sayang, aku ....”

“Jangan memanggilku seperti ini lagi, Mas. Sayangmu itu diumbar ke semua orang, sekarang sudah tidak ada artinya. Kalau memang Mas menemukan wanita lain yang lebih pantas, lebih baik, lebih cantik dariku ....” 

Pertahanan diri Kalla runtuh. Dia tak mampu melanjutkan ucapannya. Hati teramat sakit. Perasaan teriris-iris. Laki-laki yang selama ini menjadi tumpuan hidupnya, tega berkhianat.

“Aku ... hanya punya kamu di dalam hidupku, Mas.” Kalla terisak. Tangan kirinya menangkup dada, tangan kanan masih menggenggam erat ponsel putih suaminya. Dia berusaha untuk tetap kuat, tetapi akhirnya menyerah. 

Kodrat tetap seorang wanita. Yang selalu menjadikan air mata sebagai pertahanan diri terakhirnya. Kini, cairan bening itu menggenang di mata, mengaburkan pandangan. Tak lama, luruh bersama dengan tarikan napasnya.

“Apa kurangnya aku selama ini, Mas?” Kalla menelan ludah. Sesak di dada terasa menyiksa.

Arka menggeleng.

“Apa karena aku manja dan tidak bisa melakukan apa-apa?” Dua bulir air mata luruh membasahi pipinya yang dipoles perona merah muda.

“Tidak, Sayang. Jangan bicara begini.”

“Apa karena aku bodoh dan tidak sepadan denganmu yang sekarang sudah jadi pengusaha sukses?”

Arka menggeleng.

“Wanita bodoh ini yang mendampingimu dari nol, Mas.” Kala menepuk dadanya berulang dengan kencang. Dilampiaskannya sakit hati yang terus mengacak-acak hingga lapisan terdalam.

“Jangan seperti ini, Kalla. Mas tahu, Sayang.”

“Kalau tahu, kenapa mengkhianatiku?” 

Air mata yang jatuh bersusul-susulan diusap kasar dengan punggung tangan. Kalla menarik napas dalam-dalam. Dia cukup sadar diri dengan segala kekurangan yang dimiliki selama ini. Namun, bukan dengan pengkhianatan balasannya.

“Apa karena aku ... aku tidak bisa memberimu anak? Jadi Mas memilih berselingkuh?” Kalla sesenggukan.

“Sssttt, jangan bicara begitu. Ini tidak ada hubungannya dengan anak, Sayang. Demi Tuhan, aku tidak pernah berpikir seperti itu.” 

Arka mendekat. Memaksa memeluk istrinya yang terguncang. 

“Jangan sentuh aku, Mas. Aku jijik padamu. Aku yakin, tanganmu bukan hanya memelukku dan Mama. Aku yakin itu. Tangan ini sudah kotor, sama seperti hatimu yang tak lagi tulus untukku,” teriaknya

Kalla berontak dalam pelukan Arka. Dia tak bisa menganggap semua hanya salah paham setelah mendengar sendiri kemesraan sang suami entah dengan siapa. Menarik napas dalam-dalam, sepatah kata keramat meluncur dari bibirnya.

“Kita berpisah saja, Mas.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (4)
goodnovel comment avatar
Nina Sahusilawane
Arka disuruh jujur aj mencla mencle , fix dia selingkuh
goodnovel comment avatar
Bonita
muter-muter cerita nya, jadi tidak menarik
goodnovel comment avatar
Anna Waliana
lanjut kalla
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • DI AMBANG PERPISAHAN   S2 BAB 112

    Arka kembali datang ke rumah sakit setelah menyelesaikan urusan di kantor. Seperti hari-hari sebelumnya, langkahnya langsung tertuju ke ruang ICU tempat Kalla dirawat.Sudah lebih dari sebulan perempuan itu terbaring tak sadarkan diri. Tidak ada perubahan berarti meskipun dokter terus melakukan berbagai upaya untuk memulihkan kondisinya. Kecelakaan hebat itu membuat dunia Kalla berubah.Arka membuka pintu perlahan. Aroma antiseptik langsung menyambutnya, disusul bunyi monitor yang terdengar teratur di sisi ranjang.Kalla masih sama. Wajah pucat, matanya terpejam, dan tubuhnya terbaring lemah dengan bantuan sejumlah alat medis. Tak ada reaksi, istrinya tidur dengan begitu damai.Arka berdiri di samping ranjang. Tangannya segera meraih jemari istrinya."Sayang ...."Hanya satu kata itu yang keluar sebelum tenggorokannya tercekat. Semua cerita yang disiapkan tak mampu dilontarkan. Dia berkaca-kaca.Mengusap punggung tangan Kalla, Arka menunduk cukup lama. Ada begitu banyak hal yang ingin

  • DI AMBANG PERPISAHAN   S2 BAB 111

    Sejak mulai bekerja di rumah Arka, Loli perlahan menunjukkan sikap yang berbeda dari kesan pertamanya saat wawancara.Perempuan itu memang mengurus Raka, tetapi tidak sepenuh hati. Dia hanya melakukan hal-hal yang dianggap perlu, sekadar memastikan bayi itu sudah diberi susu dan popoknya diganti. Selebihnya, Loli lebih banyak menghabiskan waktu dengan ponsel atau bersantai di ruang keluarga.Bahkan, beberapa kali dia sengaja membawa Raka ke ruang tengah hanya untuk meletakkannya di boks bayi, sementara dirinya asyik menonton tayangan drama di ponsel.Ketika Arka berada di rumah, sikapnya berubah seratus delapan puluh derajat. Loli akan tampil lebih rapi, berbicara dengan nada lembut, dan berusaha mencari kesempatan untuk mengobrol. Tak jarang dia sengaja mencuri pandang ketika Arka melintas. Kalau kebetulan berpapasan, perempuan itu selalu punya alasan untuk menyapa.Namun, Arka bukan lelaki yang mudah diajak bermain-main. Sejak Kalla terbaring koma, pikirannya hanya dipenuhi dua hal,

  • DI AMBANG PERPISAHAN   S2 BAB 110

    Kondisi Kalla dinyatakan kritis. Perempuan yang dicintai Arka itu tak membuka mata sama sekali sejak menjalani operasi darurat untuk melahirkan putra mereka. Sementara itu, sang bayi harus berjuang sendiri di ruang NICU.Dunia Arka benar-benar hancur. Hari-harinya berubah menjadi rutinitas yang melelahkan. Pagi-pagi dia datang ke kantor, menyelesaikan pekerjaan yang bisa dikerjakan, lalu bergegas ke rumah sakit. Tak jarang harus meninggalkan rapat penting hanya karena dokter menghubunginya untuk menyampaikan perkembangan kondisi Kalla atau putranya.Makan pun sering terlupakan. Tidur menjadi kemewahan yang tidak lagi dia pikirkan. Setiap kali memasuki ruang perawatan Kalla, Arka selalu berusaha tersenyum. Berbicara, bercerita, seolah wanita itu bisa mendengarnya dalam lelap yang tak tahu kapan akan berakhir.“Mas datang lagi, Sayang.”Arka duduk di samping ranjang, menggenggam tangan Kalla yang terasa dingin. Dia mengusap punggung tangan itu dengan ibu jari. Berharap sentuhan kecil te

  • DI AMBANG PERPISAHAN   S2 Bab 109

    “Maaf, Pak. Kondisi istri Anda kritis.”Arka terdiam. Semua ucapan itu tak bisa dicerna dengan sempurna. Seolah kalimatnya diucapkan dalam bahasa yang tak dimengerti. Dia menatap dokter di hadapannya, menunggu kelanjutan yang mungkin bisa mengubah kisah tentang Kalla.“Kami harus segera melakukan tindakan. Kondisinya tak bisa menunggu.”“Kritis bagaimana, Dok?” tanya Arka setelah menguasai keadaan.“Istri Anda mengalami pendarahan hebat akibat kecelakaan. Selain itu, terdapat benturan di kepala yang membuat kondisinya semakin mengkhawatirkan.”Wajah Arka memucat.“Lalu, anak saya?”“Kondisi janin juga harus segera kami tangani. Usia kehamilan istri Anda sudah cukup besar, tapi dengan kondisi ibu yang mengalami pendarahan parah, kami tidak bisa menunggu lebih lama. Kami harus melakukan tindakan operasi untuk menyelamatkan bayi Anda.”Arka mundur selangkah. Dia tak menyadari punggungnya membentur dinding yang dingin.Operasi. Menyelamatkan bayi. Kritis.Kata-kata itu berputar-putar di k

  • DI AMBANG PERPISAHAN   S2 BAB 108

    “Kalla!”Arka menerobos kerumunan tanpa memedulikan teriakan orang-orang yang memintanya berhati-hati. Langkahnya terhenti ketika melihat istrinya terbaring di atas aspal, dikelilingi beberapa orang yang berusaha memberikan pertolongan.Wajah Kalla pucat. Gaun yang dikenakannya malam itu berantakan dan bernoda merah. Satu tangan masih berada di atas perutnya yang besar. Seolah naluri seorang ibu membuatnya berusaha melindungi bayi mereka, bahkan saat kesadaran mulai menghilang.“Sayang, bangun!” Arka berlutut. Tangannya gemetar saat menyentuh pipi Kalla. “Kalla, ini Mas. Kamu dengar suara Mas, kan?”Tak ada jawaban.“Kalla!”Suara Arka pecah. Dia menggenggam tangan istrinya, kemudian menoleh kepada orang-orang di sekitar mereka.“Ambulansnya mana? Kenapa lama sekali?”“Sudah dihubungi, Pak. Sebentar lagi datang.”“Sebentar lagi bagaimana? Istri saya sedang hamil besar!”Arka nyaris kehilangan kendali. Dadanya sesak, pandangan tak mampu beranjak dari wajah Kalla. Beberapa menit lalu, p

  • DI AMBANG PERPISAHAN   S2 BAB 107

    “Siapa, Mas?”Arka menggeleng sambil memasukkan ponselnya ke saku celana. “Entahlah. Nomor tak dikenal.”“Kenapa tak diangkat? Siapa tahu ada kabar penting.”“Kalau penting, dia bakal mengirim pesan.”Kalla mengangguk, tak ingin memperpanjang percakapan. Perhatiannya kembali tertuju pada perutnya yang semakin besar. Bayi di dalam sana bergerak pelan, seolah ikut mendengarkan percakapan kedua orang tuanya.“Mas, nanti jadi makan soto ayam kesukaanmu, kan?”Arka menoleh. “Loh, kok kesukaan Mas, sih? Bukannya kamu yang dari tadi merengek minta soto?”“Memangnya nggak boleh? Bayi kita juga mau.”“Wah, kompak banget, ya, kalian. Ayahnya nggak diajak musyawarah, tahu-tahu sudah kalah suara.”Kalla terkekeh. “Namanya juga suara mayoritas.”“Baiklah, Nyonya. Malam ini kita turuti keinginan duo kesayangan Mas.”Arka membungkuk, mengecup perut besar istrinya di tengah keramaian.“Nanti, ya, Sayang. Sabar. Sebentar lagi kita makan soto.”Kalla tersenyum puas. Ada kehangatan sederhana dalam perha

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status