Share

BAB 4

Author: Casanova
last update publish date: 2026-08-07 08:43:52

“Ibu di makam papinya, Pak.” 

Arka menghela napas lega. Kalla pergi setelah mengucapkan kata berpisah.  Tanpa menerima sepatah pun penjelasan yang disampaikannya. Semua pembelaan diri tak lagi berguna. Di mata istrinya, dia tetap bersalah dan harus dihukum sekejam-kejamnya.

“Syukurlah. Kalau terjadi sesuatu, tolong kabari aku, Pak.” 

Perintah yang meluncur dari bibir pimpinan PT Kalser Darma One itu terdengar pelan. Sejak pertengkaran dan berujung kata perpisahan, Kalla tak bisa diajak berdamai. Terus menuduhnya berselingkuh dan kini ponsel putih pun berada dalam status penyitaan sang istri.

“Baik, Pak. Sepertinya sebentar lagi mau jalan. Tadi, Ibu pesan ... kalau habis dari makam mau ke tempat mamanya Bapak.”

Arka tak terkejut. Selain Erika, sang mama adalah tempat istrinya mengadu. Wanita yang dinikahi lima tahun lalu itu adalah seorang yatim piatu. Walau masih memiliki ibu tiri—istri muda mendiang papinya, hubungan keduanya tak pernah akur sejak dulu. Bahkan, alasan Kalla minta dinikahi secepatnya adalah menghindar dari sang mami sambung.

“Baik. Tolong jaga istriku, Pak.”

Panggilan terputus, pria tua yang duduk di balik kemudi terus memandang ke arah makam. Seorang wanita tengah bersimpuh. Pastinya mengeluh seraya menangis pilu. 

Sebuah pemakaman elite, jelas bukan kaum sulit. Kompleks perumahan masa depan yang harganya selangit dengan fasilitas yang tak bisa dikatakan pelit. Didesain sedemikian rupa, tak lagi seseram kuburan pada umumnya. Andai membawa keluarga dari kampung, bisa saja istri, anak, cucu, dan menantunya gelar tikar dan piknik.

“Semoga semuanya baik-baik saja.” 

Sopir yang bernama Pak Hadi sudah mengabdi pada keluarga Darmawan sejak Kalla masih belia. Tuannya adalah pejabat teras pada masanya dan sangat berpengaruh. Sayang, keluarga yang harmonis harus porak-poranda sejak majikannya menikah lagi tanpa persetujuan sang putri semata wayang.

Di sudut berbeda, di depan pusara, Kalla bersimpuh. Dia berkeluh kesah, menceritakan kisah pilunya yang diselingkuhi Arka. Terlalu berat memendam beban itu sendirian, dia butuh pelampiasan. Walau mungkin nisan batu itu tak akan mampu mendengar dan menjawab, paling tidak bisa sedikit melegakan.

“Pi, ternyata Mas Arka selingkuh. Setelah banyak hal kukorbankan untuknya, kini dia menduakanku entah dengan wanita mana.”

Kalla terisak. Pandangan berpindah pada pusara di sebelah. Makam tua itu lebih lama dibandingkan milik papinya. Sang mami yang keturunan Tionghoa sudah lebih dulu pergi saat dia masih sangat belia. Tak banyak kenangan bersama Mami, bahkan kedekatan pun tak pernah ada. Dia besar di bawah asuhan mami tirinya. 

“Andai Papi tidak menikah dengan perempuan itu, aku juga tidak akan menikah dengan Mas Arka. Mungkin ... aku tak akan pernah terluka  ....”

Air mata berderai. Secuil penyesalan hadir. Kisahnya dan Arka memang berliku. Terlahir dari kasta yang berbeda, mereka dipertemukan di tempat yang tak terduga. Tuhan memang pintar melukis takdir manusia. Asam di gunung, garam di lautan. Siapa sangka bisa bertemu di dalam belanga.

“Pi, aku ... tidak bisa. Maaf, aku memutuskan untuk berpisah dengan Mas Arka. Semua ... terlalu menyesakkan. Aku tidak siap diduakan.”

Mengusap pusara papinya, Kalla membungkuk dan mengecup lama di sana lalu merebahkan kepalanya dengan manja. Seakan-akan berada di pundak papinya. Sekian tahun menjadi yatim piatu, di titik ini dia merindukan dekapan laki-laki tua yang memilih menyerah karena kanker nasofaring.

“Kenapa Papi dan Mami pergi begitu cepat? Kalau Papi dan Mami ada di sini, Mas Arka tak mungkin berani berkhianat dariku. Tidak ada yang berani menginjak-injak harga diriku. Papi ... tidak akan membiarkan hidupnya tenang, ‘kan?” 

Kalla terisak. Air mata terus meluncur turun membasahi nisan batu yang merebah di atas hamparan rumput hijau.

“Pi, maaf. Aku tidak bisa memperjuangkan rumah tanggaku seperti pesan Papi. Aku menyerah.”

⚘️⚘️⚘️

“Bercerai?” 

Wanita tua berdaster batik ungu terlihat terkejut mendengar penuturan Kalla.

“Ya, Ma.” Kalla melirik sekilas lalu menunduk. Disembunyikannya wajah sembabnya karena terlalu banyak menangis. Duduk di ruang tamu, diam-diam melarung pilu.

“Sudah-sudah, jangan bahas perpisahan.” 

Mama Hesti berdiri lalu menghampiri sang menantu yang duduk di seberang meja.

 “Ada masalah apa antara kamu dan Arka? Kalau memang ada masalah, dibicarakan baik-baik. Jangan dikit-dikit bahas pisah.”

Perempuan tua itu begitu keibuan. Selama lima tahun menikah, Mama Hesti sudah seperti ibu kandung sendiri. Kasih sayang wanita tua itu begitu tulus. Tak pernah mengeluh sedikit pun tentang kekurangannya.

“Sudah. Kalau mau menangis, pundak Mama selalu ada untukmu.” 

Tadinya, Kalla sudah bertekad untuk tidak menangis. Namun, sentuhan mama mertuanya membuat wanita berusia 25 tahun itu goyah. Dia yang hidup kekurangan kasih sayang seorang ibu jadi mudah tersentuh.

“Ada apa?” Tatapan Mama Hesti menerawang. Isi hatinya tak tertebak. Kedua tangan terus membelai Kalla yang kini sudah merebah di pundaknya.

“Mas Arka, Ma.”

“Ya, kenapa dengan Arka? Dia tidak menyakitimu, ‘kan?”

Kalla diam. Hatinya kembali diremas setiap mengingat pengkhianatan suaminya. Walau berulang kali Arka mengelak, bahkan menolak mengakui, tetap dia tak bisa percaya begitu saja. Insting seorang istri itu tak perlu diragukan. Apalagi dia mendengar dan melihat sendiri suaminya berbincang mesra dengan seseorang di telepon. Semua sudah cukup untuknya mengambil keputusan.

“Ma, Mas Arka selingkuh.”

“Ha!” Mama Hesti terperanjat. Tubuh rentanya tegang. “Bagaimana bisa? Kamu yakin?”

Kalla mengangguk.

“Sangat yakin, Ma. Aku mendengar sendiri Mas Arka bicara dengan seseorang di telepon. Mesra, Ma. Panggilnya saja sayang.”

“Oh.” Wanita tua itu terlihat bingung. “Tenangkan pikiranmu dulu, Kalla. Jangan terburu-buru mengambil keputusan. Kamu sudah makan? Mau Mama buatkan makanan kesukaanmu? Atau ....”

Dering telepon menyela obrolan mertua dan menantu yang terlihat akur itu. Mama Hesti tampak mengurai pelukannya. 

“Mama terima telepon dulu, ya.” 

Berjalan menuju ke meja konsul di sisi kiri ruang tamu, Mama Hesti melirik Kalla setelah memastikan siapa yang menghubunginya. Tak lama, dia masuk ke ruangan lain dan menerima panggilan.

“Ya, Sayang. Ada apa?” sapa Mama Hesti dengan suara pelan. Sesekali menoleh ke belakang, tak mau sampai terdengar menantunya.

“Mas Arka sudah menghubungi Tante?” tanya pemilik suara feminin di  seberang. Serak-serak basah, wanita itu terdengar ceria.

“Sudah, katanya kamu sakit. Sudah ke dokter?” Mama Hesti begitu perhatian.

“Bukan itu, Tante Sayang. Mas Arka dan perempuan itu bakal bercerai. Akhirnya ... penantianku. Doamu juga, Tante.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (4)
goodnovel comment avatar
Dahlia Susiyati
dasar mertua munafik... bersatu dg calon mantu munafik... sama2 munafik... sangan cocok jdi keluarga. keluarga munafik... semoga istri yg di zholimi selalu di lindungi Allah...
goodnovel comment avatar
Menur Puspita
ternyata ...ada konspirasi antara arka dan mama nya...busyeetttt
goodnovel comment avatar
Anna Waliana
arkallahhhh
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • DI AMBANG PERPISAHAN   S2 BAB 112

    Arka kembali datang ke rumah sakit setelah menyelesaikan urusan di kantor. Seperti hari-hari sebelumnya, langkahnya langsung tertuju ke ruang ICU tempat Kalla dirawat.Sudah lebih dari sebulan perempuan itu terbaring tak sadarkan diri. Tidak ada perubahan berarti meskipun dokter terus melakukan berbagai upaya untuk memulihkan kondisinya. Kecelakaan hebat itu membuat dunia Kalla berubah.Arka membuka pintu perlahan. Aroma antiseptik langsung menyambutnya, disusul bunyi monitor yang terdengar teratur di sisi ranjang.Kalla masih sama. Wajah pucat, matanya terpejam, dan tubuhnya terbaring lemah dengan bantuan sejumlah alat medis. Tak ada reaksi, istrinya tidur dengan begitu damai.Arka berdiri di samping ranjang. Tangannya segera meraih jemari istrinya."Sayang ...."Hanya satu kata itu yang keluar sebelum tenggorokannya tercekat. Semua cerita yang disiapkan tak mampu dilontarkan. Dia berkaca-kaca.Mengusap punggung tangan Kalla, Arka menunduk cukup lama. Ada begitu banyak hal yang ingin

  • DI AMBANG PERPISAHAN   S2 BAB 111

    Sejak mulai bekerja di rumah Arka, Loli perlahan menunjukkan sikap yang berbeda dari kesan pertamanya saat wawancara.Perempuan itu memang mengurus Raka, tetapi tidak sepenuh hati. Dia hanya melakukan hal-hal yang dianggap perlu, sekadar memastikan bayi itu sudah diberi susu dan popoknya diganti. Selebihnya, Loli lebih banyak menghabiskan waktu dengan ponsel atau bersantai di ruang keluarga.Bahkan, beberapa kali dia sengaja membawa Raka ke ruang tengah hanya untuk meletakkannya di boks bayi, sementara dirinya asyik menonton tayangan drama di ponsel.Ketika Arka berada di rumah, sikapnya berubah seratus delapan puluh derajat. Loli akan tampil lebih rapi, berbicara dengan nada lembut, dan berusaha mencari kesempatan untuk mengobrol. Tak jarang dia sengaja mencuri pandang ketika Arka melintas. Kalau kebetulan berpapasan, perempuan itu selalu punya alasan untuk menyapa.Namun, Arka bukan lelaki yang mudah diajak bermain-main. Sejak Kalla terbaring koma, pikirannya hanya dipenuhi dua hal,

  • DI AMBANG PERPISAHAN   S2 BAB 110

    Kondisi Kalla dinyatakan kritis. Perempuan yang dicintai Arka itu tak membuka mata sama sekali sejak menjalani operasi darurat untuk melahirkan putra mereka. Sementara itu, sang bayi harus berjuang sendiri di ruang NICU.Dunia Arka benar-benar hancur. Hari-harinya berubah menjadi rutinitas yang melelahkan. Pagi-pagi dia datang ke kantor, menyelesaikan pekerjaan yang bisa dikerjakan, lalu bergegas ke rumah sakit. Tak jarang harus meninggalkan rapat penting hanya karena dokter menghubunginya untuk menyampaikan perkembangan kondisi Kalla atau putranya.Makan pun sering terlupakan. Tidur menjadi kemewahan yang tidak lagi dia pikirkan. Setiap kali memasuki ruang perawatan Kalla, Arka selalu berusaha tersenyum. Berbicara, bercerita, seolah wanita itu bisa mendengarnya dalam lelap yang tak tahu kapan akan berakhir.“Mas datang lagi, Sayang.”Arka duduk di samping ranjang, menggenggam tangan Kalla yang terasa dingin. Dia mengusap punggung tangan itu dengan ibu jari. Berharap sentuhan kecil te

  • DI AMBANG PERPISAHAN   S2 Bab 109

    “Maaf, Pak. Kondisi istri Anda kritis.”Arka terdiam. Semua ucapan itu tak bisa dicerna dengan sempurna. Seolah kalimatnya diucapkan dalam bahasa yang tak dimengerti. Dia menatap dokter di hadapannya, menunggu kelanjutan yang mungkin bisa mengubah kisah tentang Kalla.“Kami harus segera melakukan tindakan. Kondisinya tak bisa menunggu.”“Kritis bagaimana, Dok?” tanya Arka setelah menguasai keadaan.“Istri Anda mengalami pendarahan hebat akibat kecelakaan. Selain itu, terdapat benturan di kepala yang membuat kondisinya semakin mengkhawatirkan.”Wajah Arka memucat.“Lalu, anak saya?”“Kondisi janin juga harus segera kami tangani. Usia kehamilan istri Anda sudah cukup besar, tapi dengan kondisi ibu yang mengalami pendarahan parah, kami tidak bisa menunggu lebih lama. Kami harus melakukan tindakan operasi untuk menyelamatkan bayi Anda.”Arka mundur selangkah. Dia tak menyadari punggungnya membentur dinding yang dingin.Operasi. Menyelamatkan bayi. Kritis.Kata-kata itu berputar-putar di k

  • DI AMBANG PERPISAHAN   S2 BAB 108

    “Kalla!”Arka menerobos kerumunan tanpa memedulikan teriakan orang-orang yang memintanya berhati-hati. Langkahnya terhenti ketika melihat istrinya terbaring di atas aspal, dikelilingi beberapa orang yang berusaha memberikan pertolongan.Wajah Kalla pucat. Gaun yang dikenakannya malam itu berantakan dan bernoda merah. Satu tangan masih berada di atas perutnya yang besar. Seolah naluri seorang ibu membuatnya berusaha melindungi bayi mereka, bahkan saat kesadaran mulai menghilang.“Sayang, bangun!” Arka berlutut. Tangannya gemetar saat menyentuh pipi Kalla. “Kalla, ini Mas. Kamu dengar suara Mas, kan?”Tak ada jawaban.“Kalla!”Suara Arka pecah. Dia menggenggam tangan istrinya, kemudian menoleh kepada orang-orang di sekitar mereka.“Ambulansnya mana? Kenapa lama sekali?”“Sudah dihubungi, Pak. Sebentar lagi datang.”“Sebentar lagi bagaimana? Istri saya sedang hamil besar!”Arka nyaris kehilangan kendali. Dadanya sesak, pandangan tak mampu beranjak dari wajah Kalla. Beberapa menit lalu, p

  • DI AMBANG PERPISAHAN   S2 BAB 107

    “Siapa, Mas?”Arka menggeleng sambil memasukkan ponselnya ke saku celana. “Entahlah. Nomor tak dikenal.”“Kenapa tak diangkat? Siapa tahu ada kabar penting.”“Kalau penting, dia bakal mengirim pesan.”Kalla mengangguk, tak ingin memperpanjang percakapan. Perhatiannya kembali tertuju pada perutnya yang semakin besar. Bayi di dalam sana bergerak pelan, seolah ikut mendengarkan percakapan kedua orang tuanya.“Mas, nanti jadi makan soto ayam kesukaanmu, kan?”Arka menoleh. “Loh, kok kesukaan Mas, sih? Bukannya kamu yang dari tadi merengek minta soto?”“Memangnya nggak boleh? Bayi kita juga mau.”“Wah, kompak banget, ya, kalian. Ayahnya nggak diajak musyawarah, tahu-tahu sudah kalah suara.”Kalla terkekeh. “Namanya juga suara mayoritas.”“Baiklah, Nyonya. Malam ini kita turuti keinginan duo kesayangan Mas.”Arka membungkuk, mengecup perut besar istrinya di tengah keramaian.“Nanti, ya, Sayang. Sabar. Sebentar lagi kita makan soto.”Kalla tersenyum puas. Ada kehangatan sederhana dalam perha

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status