LOGIN“Ibu di makam papinya, Pak.”
Arka menghela napas lega. Kalla pergi setelah mengucapkan kata berpisah. Tanpa menerima sepatah pun penjelasan yang disampaikannya. Semua pembelaan diri tak lagi berguna. Di mata istrinya, dia tetap bersalah dan harus dihukum sekejam-kejamnya. “Syukurlah. Kalau terjadi sesuatu, tolong kabari aku, Pak.” Perintah yang meluncur dari bibir pimpinan PT Kalser Darma One itu terdengar pelan. Sejak pertengkaran dan berujung kata perpisahan, Kalla tak bisa diajak berdamai. Terus menuduhnya berselingkuh dan kini ponsel putih pun berada dalam status penyitaan sang istri. “Baik, Pak. Sepertinya sebentar lagi mau jalan. Tadi, Ibu pesan ... kalau habis dari makam mau ke tempat mamanya Bapak.” Arka tak terkejut. Selain Erika, sang mama adalah tempat istrinya mengadu. Wanita yang dinikahi lima tahun lalu itu adalah seorang yatim piatu. Walau masih memiliki ibu tiri—istri muda mendiang papinya, hubungan keduanya tak pernah akur sejak dulu. Bahkan, alasan Kalla minta dinikahi secepatnya adalah menghindar dari sang mami sambung. “Baik. Tolong jaga istriku, Pak.” Panggilan terputus, pria tua yang duduk di balik kemudi terus memandang ke arah makam. Seorang wanita tengah bersimpuh. Pastinya mengeluh seraya menangis pilu. Sebuah pemakaman elite, jelas bukan kaum sulit. Kompleks perumahan masa depan yang harganya selangit dengan fasilitas yang tak bisa dikatakan pelit. Didesain sedemikian rupa, tak lagi seseram kuburan pada umumnya. Andai membawa keluarga dari kampung, bisa saja istri, anak, cucu, dan menantunya gelar tikar dan piknik. “Semoga semuanya baik-baik saja.” Sopir yang bernama Pak Hadi sudah mengabdi pada keluarga Darmawan sejak Kalla masih belia. Tuannya adalah pejabat teras pada masanya dan sangat berpengaruh. Sayang, keluarga yang harmonis harus porak-poranda sejak majikannya menikah lagi tanpa persetujuan sang putri semata wayang. Di sudut berbeda, di depan pusara, Kalla bersimpuh. Dia berkeluh kesah, menceritakan kisah pilunya yang diselingkuhi Arka. Terlalu berat memendam beban itu sendirian, dia butuh pelampiasan. Walau mungkin nisan batu itu tak akan mampu mendengar dan menjawab, paling tidak bisa sedikit melegakan. “Pi, ternyata Mas Arka selingkuh. Setelah banyak hal kukorbankan untuknya, kini dia menduakanku entah dengan wanita mana.” Kalla terisak. Pandangan berpindah pada pusara di sebelah. Makam tua itu lebih lama dibandingkan milik papinya. Sang mami yang keturunan Tionghoa sudah lebih dulu pergi saat dia masih sangat belia. Tak banyak kenangan bersama Mami, bahkan kedekatan pun tak pernah ada. Dia besar di bawah asuhan mami tirinya. “Andai Papi tidak menikah dengan perempuan itu, aku juga tidak akan menikah dengan Mas Arka. Mungkin ... aku tak akan pernah terluka ....” Air mata berderai. Secuil penyesalan hadir. Kisahnya dan Arka memang berliku. Terlahir dari kasta yang berbeda, mereka dipertemukan di tempat yang tak terduga. Tuhan memang pintar melukis takdir manusia. Asam di gunung, garam di lautan. Siapa sangka bisa bertemu di dalam belanga. “Pi, aku ... tidak bisa. Maaf, aku memutuskan untuk berpisah dengan Mas Arka. Semua ... terlalu menyesakkan. Aku tidak siap diduakan.” Mengusap pusara papinya, Kalla membungkuk dan mengecup lama di sana lalu merebahkan kepalanya dengan manja. Seakan-akan berada di pundak papinya. Sekian tahun menjadi yatim piatu, di titik ini dia merindukan dekapan laki-laki tua yang memilih menyerah karena kanker nasofaring. “Kenapa Papi dan Mami pergi begitu cepat? Kalau Papi dan Mami ada di sini, Mas Arka tak mungkin berani berkhianat dariku. Tidak ada yang berani menginjak-injak harga diriku. Papi ... tidak akan membiarkan hidupnya tenang, ‘kan?” Kalla terisak. Air mata terus meluncur turun membasahi nisan batu yang merebah di atas hamparan rumput hijau. “Pi, maaf. Aku tidak bisa memperjuangkan rumah tanggaku seperti pesan Papi. Aku menyerah.” ⚘️⚘️⚘️ “Bercerai?” Wanita tua berdaster batik ungu terlihat terkejut mendengar penuturan Kalla. “Ya, Ma.” Kalla melirik sekilas lalu menunduk. Disembunyikannya wajah sembabnya karena terlalu banyak menangis. Duduk di ruang tamu, diam-diam melarung pilu. “Sudah-sudah, jangan bahas perpisahan.” Mama Hesti berdiri lalu menghampiri sang menantu yang duduk di seberang meja. “Ada masalah apa antara kamu dan Arka? Kalau memang ada masalah, dibicarakan baik-baik. Jangan dikit-dikit bahas pisah.” Perempuan tua itu begitu keibuan. Selama lima tahun menikah, Mama Hesti sudah seperti ibu kandung sendiri. Kasih sayang wanita tua itu begitu tulus. Tak pernah mengeluh sedikit pun tentang kekurangannya. “Sudah. Kalau mau menangis, pundak Mama selalu ada untukmu.” Tadinya, Kalla sudah bertekad untuk tidak menangis. Namun, sentuhan mama mertuanya membuat wanita berusia 25 tahun itu goyah. Dia yang hidup kekurangan kasih sayang seorang ibu jadi mudah tersentuh. “Ada apa?” Tatapan Mama Hesti menerawang. Isi hatinya tak tertebak. Kedua tangan terus membelai Kalla yang kini sudah merebah di pundaknya. “Mas Arka, Ma.” “Ya, kenapa dengan Arka? Dia tidak menyakitimu, ‘kan?” Kalla diam. Hatinya kembali diremas setiap mengingat pengkhianatan suaminya. Walau berulang kali Arka mengelak, bahkan menolak mengakui, tetap dia tak bisa percaya begitu saja. Insting seorang istri itu tak perlu diragukan. Apalagi dia mendengar dan melihat sendiri suaminya berbincang mesra dengan seseorang di telepon. Semua sudah cukup untuknya mengambil keputusan. “Ma, Mas Arka selingkuh.” “Ha!” Mama Hesti terperanjat. Tubuh rentanya tegang. “Bagaimana bisa? Kamu yakin?” Kalla mengangguk. “Sangat yakin, Ma. Aku mendengar sendiri Mas Arka bicara dengan seseorang di telepon. Mesra, Ma. Panggilnya saja sayang.” “Oh.” Wanita tua itu terlihat bingung. “Tenangkan pikiranmu dulu, Kalla. Jangan terburu-buru mengambil keputusan. Kamu sudah makan? Mau Mama buatkan makanan kesukaanmu? Atau ....” Dering telepon menyela obrolan mertua dan menantu yang terlihat akur itu. Mama Hesti tampak mengurai pelukannya. “Mama terima telepon dulu, ya.” Berjalan menuju ke meja konsul di sisi kiri ruang tamu, Mama Hesti melirik Kalla setelah memastikan siapa yang menghubunginya. Tak lama, dia masuk ke ruangan lain dan menerima panggilan. “Ya, Sayang. Ada apa?” sapa Mama Hesti dengan suara pelan. Sesekali menoleh ke belakang, tak mau sampai terdengar menantunya. “Mas Arka sudah menghubungi Tante?” tanya pemilik suara feminin di seberang. Serak-serak basah, wanita itu terdengar ceria. “Sudah, katanya kamu sakit. Sudah ke dokter?” Mama Hesti begitu perhatian. “Bukan itu, Tante Sayang. Mas Arka dan perempuan itu bakal bercerai. Akhirnya ... penantianku. Doamu juga, Tante.”Arka duduk di lantai. Kakinya bertekuk dengan kedua lengan bertumpu di atas lutut. Tak banyak kata yang bisa dilontarkan untuk membela diri setelah serentetan kebenaran yang disampaikan istrinya. Dia yang begitu bersemangat membujuk beberapa saat lalu hanya mampu tertunduk diam.“Aku mohon, Kalla. Kita jangan sampai bercerai.” Ada nada putus asa dalam pinta Arka.“Mas, untuk apa bertahan? Toh, Mas sudah punya yang lain. Aku hanya ingin memuluskan langkahmu, Mas. Dengan kita berpisah, kamu bisa menikahi kekasihmu tanpa khawatir dengan dosa.” Jawaban Kalla menunjukkan seberapa tegar dirinya. Namun, tak ada seorang pun yang tahu kalau saat ini hatinya hancur berkeping-keping. Istri mana yang sanggup diduakan, wanita mana yang bisa menerima kenyataan diselingkuhi.“Aku bukan istri yang baik untukmu, Mas. Aku hanya wanita tak berguna yang bisanya menyusahkanmu.” Kalla menahan air matanya agar tak tumpah. Sejak siang, entah sudah berapa banyak cairan kristal mengalir turun dari sana.“Aku
“Pak, urus saja mobilnya. Mengenai biaya, nanti aku yang akan menanggungnya.” Kalla bersuara setelah sedan yang ditumpangi berhenti di halaman rumah. Menunduk, dia menatap kartu nama di tangannya. Pria asing pemilik mobil yang cedera karena kelalaian Pak Hadi itu menitipkan untuknya.“Julian William Chandra.”Bibir tipis Kalla yang tak lagi terlihat rona gincu itu mengeja nama di kartu nama. Tak lama, dilemparnya ke kursi penumpang depan, di sebelah Pak Hadi tanpa berpikiran apa-apa. Tidak penting untuknya. Bahkan, dia hampir lupa rupa pria yang terus meliriknya selama pembicaraan menuju kesepakatan di tepi jalan beberapa saat lalu.“Ini untuk Pak Hadi saja. Aku tidak butuh.”Kalla sudah membuka pintu mobil sambil menentang tas tangannya. Belum juga melangkah menuju ke teras rumah, sebuah Pajero hitam menyusul masuk dan berhenti di sebelahnya.“Mas Arka ....” Setengah berlari, Kalla menghindari pria berusia kepala tiga yang bergegas menyusul langkahnya. Dia sedang tak mau berdiskusi
“Jadi ... selama ini Mas Arka dan Mama ....” Tubuh Kalla bergetar. Kata-kata sang mertua sangat menyakitkan. Dia harus berpegangan pada pintu agar tak melorot ke lantai. Definisi sudah jatuh tertimpa tangga sangat tepat untuk menggambarkan kondisinya sekarang. Di saat mengetahui perselingkuhan sang suami, dia ditunjukkan kenyataan lainnya. Wanita tua yang sudah dianggap mama kandung sendiri ternyata menyimpan kebencian begitu besar padanya.“Jadi ... selama ini Mama hanya berpura-pura baik padaku. Belum lama dia memintaku bersabar menghadapi Mas Arka. Tapi, di belakang dia meminta suamiku menceraikanku. Ya Tuhan, aku terperangkap di tengah keluarga yang penuh dusta.”Kalla menggeleng. “Lima tahun aku hidup di tengah orang-orang yang ... penuh drama. Bukan hanya Mas Arka, tapi Mama. Cukup! Aku tidak ingin mendengar penghinaan Mama lebih banyak lagi. Sudah cukup!” Kalla berbalik badan. Diusapnya mata yang basah Menangkup wajah yang lembab, dia menarik napas dalam-dalam. Kecewa yang d
“Sudah, jangan bahas perpisahan.” Mama Hesti menangkup wajah sedih menantunya. Perlakuannya pada Kalla tak perlu diragukan. Dia selalu bersikap manis seperti bukan bersama menantu, tetapi putri sendiri.“Rumah tangga itu selalu akan bertemu cobaan. Apalagi ini sudah masuk tahun ke lima, ‘kan? Mulai ada guncangan-guncangan kecil. Wajar saja. Namanya dua kepala disatukan, pasti berbenturan tiap hari.Kalla diam.“Sudah, jangan bahas perceraian. Tidak baik.” Mama Hesti merapikan helaian rambut yang jatuh dan menutupi wajah sang menantu. Diselipkan di balik daun telinga Kalla. “Mau menginap di sini atau ....”“Aku mau pulang, Ma.”Mama Hesti tersenyum.“Masalah memang bagusnya jangan dihindari. Selesaikan dengan kepala dingin. Ingat, jangan terlalu berlebihan. Arka laki-laki, dia punya harga diri. Kalau terlalu diinjak, pastinya berontak.”Kalla tertegun. Kalimat mertuanya sedikit aneh.“Mama tahu kalau kamu lahir dari keluarga berada. Tapi, sejak menikah ... kamu juga seorang istri. Apa
“Ibu di makam papinya, Pak.” Arka menghela napas lega. Kalla pergi setelah mengucapkan kata berpisah. Tanpa menerima sepatah pun penjelasan yang disampaikannya. Semua pembelaan diri tak lagi berguna. Di mata istrinya, dia tetap bersalah dan harus dihukum sekejam-kejamnya.“Syukurlah. Kalau terjadi sesuatu, tolong kabari aku, Pak.” Perintah yang meluncur dari bibir pimpinan PT Kalser Darma One itu terdengar pelan. Sejak pertengkaran dan berujung kata perpisahan, Kalla tak bisa diajak berdamai. Terus menuduhnya berselingkuh dan kini ponsel putih pun berada dalam status penyitaan sang istri.“Baik, Pak. Sepertinya sebentar lagi mau jalan. Tadi, Ibu pesan ... kalau habis dari makam mau ke tempat mamanya Bapak.”Arka tak terkejut. Selain Erika, sang mama adalah tempat istrinya mengadu. Wanita yang dinikahi lima tahun lalu itu adalah seorang yatim piatu. Walau masih memiliki ibu tiri—istri muda mendiang papinya, hubungan keduanya tak pernah akur sejak dulu. Bahkan, alasan Kalla minta din
“Halo.” Kalla menyapa dengan nada tak bersahabat. Sepasang mata elangnya menatap tajam sang suami yang berdiri tegang. Dia tak ubahnya singa betina kelaparan yang sudah berhari-hari tak disuguhi makanan. Apa saja yang ada di hadapan terasa pantas dimangsa.Senyap. Tidak terdengar jawaban dari seberang. Begitu sunyi sampai helaan napas pun sulit terdeteksi.“Halo, ini siapa? Kenapa menghubungi suamiku?”Bukan sahutan, Kalla harus menelan kecewa saat panggilan diputuskan sepihak. Dugaan-dugaan bak bola liar bergulir memenuhi isi kepala. Telepon dari seseorang yang namanya tersimpan di dalam kontak oleh sang suaminya membuat tuduhan makin menguat.“Siapa Sabda, Mas?” Kalla menurunkan nada bicara. Menarik kursi dan duduk, kepalanya berdenyut. “Mas tidak bisa beralasan kalau ini salah sambung. Jelas Mas mengenalnya. Tidak mungkin disimpan di dalam kontak, ‘kan?”Arka menarik napas panjang. Luka yang memancar di wajah sang istri bak sembilu yang tengah mengiris jiwanya. “Dengarkan Mas,







