Mag-log in“Tidak mungkin.”
Sebaris kata lolos dari bibir tipis Kalla. Suaranya bak cicit, empunya terguncang hebat. Di titik ini, kewarasannya nyaris tak bersisa. Tergerus prasangka, hanyut dalam praduga. Terlalu sering menonton drama perselingkuhan, aku sampai terbawa ke alam nyata. Tidak, Mas Arka tak mungkin mengkhianatiku. Dia satu-satunya orang yang kupercaya. Dia satu-satunya orang yang mencintaiku tanpa syarat selain mendiang orang tuaku. Dia satu-satunya yang kumiliki di dunia ini. Kalla menggeleng cepat. Rambut hitamnya yang pekat sepinggang tampak berayun indah. Di tengah pikiran dan perasaan yang kacau balau, tas bekal dalam genggaman tak sengaja terlepas. Jatuh terempas. Arka tersentak. Laki-laki itu berbalik untuk memastikan suara kencang yang terdengar dari balik punggungnya. “Ka ... lla,” ujar Arka, terbata-bata. “Se ... sejak kapan kamu masuk?” Wajah rupawannya memucat. Ada ketakutan di kala mendapati istrinya sudah berada di depan mata. Nyali mendadak terbang entah ke mana. Kalla tak bersuara. Garis wajah mengetat, sepasang mata berkilat. Dia yang biasanya manja, mendadak jadi pribadi kuat. Harusnya, di detik ini air mata sudah jatuh bersusulan. Namun, semesta seperti bersahabat. Tak setitik pun cairan bening itu tumpah. Hatinya memang bergelimpangan bak korban kalah perang, tetapi dirinya masih menjadi komandan yang siap bertarung menuntut penjelasan. “Sayang, kenapa ... tidak mengabariku?” Arka terlihat salah tingkah. Perubahan wajah dan sikap istrinya cukup menjelaskan. Buru-buru berdiri, pria berusia 35 tahun itu terpaku melihat tas bekal yang terjatuh di dekat kaki istrinya. “Kamu membawa bekal? Masak apa hari ini, Sayang? Menu baru lagi?” tanya Arka dengan nada mengambang. Nyalinya ciut, dia takut. Berjalan melewati meja, Arka membungkuk dan hendak memungut tas bekal. Namun, dia kembali terkejut kala wanita bergaun sutera itu mundur dua langkah dan menjaga jarak darinya. “Sa ... yang?” Arka meraih tas bekal dan meletakkan ke atas meja kerja. “Siapa?” “Siapa apanya?” Arka mencoba untuk tetap tenang di tengah perasaan bergelombang. Badai datang dan dia tak punya persiapan. Kekhawatiran yang menyelimuti hatinya selama setahun belakangan, kini jadi kenyataan. “Siapa yang baru saja kamu hubungi?” tanya Kalla tanpa basa-basi. “Oh, salah satu ....” Arka terdiam. Mencoba membaca situasi, dia tak mau gegabah. Salah bicara, pernikahannya terancam berantakan. Dia tak mau sampai itu terjadi. “Sayang ....” Arka bermaksud menggapai tangan Kalla, tetapi ditepis kasar oleh istrinya. Dia menangkap amarah di dalam manik kelam wanita cantik yang bahkan tak menitikkan air mata. Wajah memerah, napas kembang kempis. “Sayang, tenang dulu. Jangan emosi ….” “Berhenti memanggilku sayang. Aku jijik, Mas!” “Kalla, dengarkan aku. Kamu salah paham.” Kalla menatap tajam suaminya. Tak sepatah kata keluar dari bibirnya yang dipoles gincu merah. Amarah, kecewa, dan sakit hati melebur jadi satu. Dia terluka. “Kalla, jangan begini. Mas … mencintaimu.” Kata cinta meluncur lancar dari bibir Arka. Pria berpostur tinggi gagah itu berusaha mendekati istrinya kembali. “Mencintai? Lalu, yang Mas Arka panggil sayang barusan di telepon itu siapa? Cinta Mas yang mana lagi?” tanya Kalla setengah berteriak. Diluapkan amarahnya agar tak terlalu menyesak di dada. “Tidak ada, Kalla. Kamu salah dengar. Mas sedang berbincang dengan ….” “Aku tidak percaya padamu, Mas!” tegas Kalla menganguk-angguk. “Cukup sudah membodohiku selama ini, Mas. Cukup!” Tangannya terulur ke depan dengan telunjuk terarah pada suaminya. “Kalla, tenangkan dirimu dulu.” Arka tak berani mendekat. Istrinya bak bola api yang sedang terbakar dan bisa meluluhlantakkan siapa saja termasuk dirinya. Menatap tajam suaminya, Kalla tak mau melunak. Mengayunkan kakinya lebar-lebar, dia harus mencari bukti untuk membungkam Arka yang terus mengelak. Ponsel putih yang masih menjadi misteri itu akan memberinya jawaban jujur ketimbang mulut pria yang telah mengobral sayang ke mana-mana. “Kalla ….” Arka buru-buru menyusul. “Kamu mau apa?” Dia panik saat mendapati istrinya membongkar laci. Dicengkeramnya lengan wanita itu dengan erat. “LEPAS, MAS!” Kalla berusaha meloloskan diri dari kendali pria tampan itu. Di saat tergulung amarah, tenaga manusia memang bisa melebihi batas. Dia berhasil lepas dari laki-laki yang menjadi alasan kecewanya. Tak hanya sampai di situ, wanita muda itu juga mendorong tubuh suaminya menjauh. “Kalla Sayang, jangan begini. Aku bisa jelaskan.” Arka berusaha mencegah. Namun, harapannya musnah ketika mendapati ponsel putihnya sudah dalam genggaman sang istri. “Ini apa?” Kalla berbalik badan. Diangkatnya ponsel putih itu ke depan muka Arka. “Mau mengelak sampai kapan, Mas? Mau berbohong sampai kapan? Tidak takut dosakah? Atau sekarang sudah merasa jadi Tuhan dan tak takut apa pun?” sembur Kalla. Arka lemas. Dia hanya pasrah menatap sedih istrinya yang terbakar bara amarah. “Sejak kapan Mas punya ponsel cadangan? Bahkan, aku tidak pernah tahu.” Kalla menggeleng. “Kamu yang terlalu cerdik atau sebenarnya aku yang terlalu bodoh selama ini, Mas?” “Kalla, dengarkan Mas dulu. Jangan begini. Kita bicarakan baik-baik dengan kepala dingin. Kamu harus tenang.” “Mas! Sudah sejauh ini Mas masih memintaku tenang. Gila kamu, Mas.” Kalla berusaha membuka ponsel suaminya. Namun, dia harus menelan kecewa kala mendapati benda pipih itu terkunci. Muncul angka yang harus ditekan. “Kalla.” Arka sedikit lega. “Apalagi ini?” Kalla mengomel. “Apa kodenya, Mas?” Dia mencoba menduga-duga. Arka bergeming. “Mas!” teriak Kalla, kesal. “Tenangkan dirimu. Mas akan ceritakan semuanya, tapi … kamu janji jangan mengamuk seperti ini. Masalah ini tidak akan selesai kalau ….” Dering telepon masuk membuat gawai dalam genggaman Kalla menyala. Sebaris aksara membentuk satu nama muncul di sana. “Siapa ini?” Bersambung“Suma, aku ada kirim upeti untuk anak-anakmu. Thanks, aku tidak bisa membayangkan andai Kalla mengetahui semuanya. Aku malu.”Malam itu, Arka terlihat duduk di ruang kerjanya. Laptop terbuka menyala di depannya. Namun, perhatiannya tak di sana.“Ya, ini Rara dan Annel sedang rebutan. Next time, tolong beli yang warnanya sama. Kamu tahu sendiri, anak kembar ini seleranya juga sama.” Suma terkekeh. “Berarti, kamu harus waspada. Jangan-jangan mereka rebutan cinta di masa depannya. Bisa terjadi perang saudara.” Arka ikut tergelak. Namun, suaranya lenyap seketika, dia teringat sesuatu. “Kamu katakan apa pada istriku? Kebohongan apa yang kamu jual?”“Tidak ada.” Suma terdengar serius di ujung telepon. “Maaf, aku katakan semuanya. Foto itu diambil saat papamu sedang sekarat beberapa tahun lalu. Kamu butuh uang dan dan terpaksa harus ....”Wajah Arka berubah pucat.“Istrimu berhak tahu, Bro. Dia berhak tahu apa yang sudah kamu korbankan untuknya. Dengan begitu, musuhmu tak akan menggunakan k
“Kalau bukan kamu, siapa lagi yang tahu masalah ini? Hanya kamu, ‘kan? Dan, kamu tahu jelas apa yang terjadi hari itu.”“Demi Tuhan, bukan aku yang melakukannya.”“Dari mana kamu dapat foto ini? Pasti bukan orang sembarangan yang bisa mengambil foto ini, ‘kan?”Erika menggeleng. “Demi Tuhan, bukan aku yang melakukannya. Bagaimana mungkin aku bisa mendapatkan foto itu? Aku tahu semua yang kamu lakukan, tapi belum tentu aku yang mengirimnya pada istrimu. Aku tidak tahu apa-apa, Ka.”“Jangan bohong!” Arka menggertak.“Selama ini hanya kamu yang tahu masalah ini. Tidak ada orang lain.”“Aku tidak tahu apa-apa. Selama ini aku pulang kampung menemui orang tuaku. Mana ada waktu mengurusi masalahmu dan Kalla.”“Kalau bukan kamu, lalu siapa?” Tidak ada orang lain yang tahu masalahku ini.”Erika diam.“Hanya kamu satu-satunya, Eri.”“Kalau memang kamu minta bertemu untuk ini, aku rasa ... tidak ada yang harus dibahas lagi. Aku tegaskan sekali lagi, aku tidak ada sangku pautnya dengan masalah fo
“Kenapa basah?” Kalla masuk ke dapur dan keheranan melihat lantai yang basah di beberapa titik. Sebuah baskom berisi air es masih tergeletak di dekat bak cuci piring“Oh, itu Pak Arka tadi cuci muka, cuci tangan pakai air es.” Asisten rumah menjelaskan sembari memotong wortel. “Cuci muka pakai air es?” Kalla bingung. Dia bermaksud membuatkan suaminya bubur. “Apa tidak salah?”“Tidak, Bu. Tadi Bapak ke sini. Cuci kaki juga tadi aku lihat.”Di tengah kebekuan, otak Kalla mulai merangkai berbagai keanehan-keanehan yang didapatnya sebelum keluar kamar. Hingga akhirnya sampai pada satu kesimpulan dan membuat dia menggeleng tak percaya.“Kerjaan Mas Arka,” gerutunya. “Pantas saja. Dibilang demam, tapi suhunya normal. Kaki tangan dingin sampai ke muka-mukan. Bagaimana tidak dingin kalau cucinya pakai air es. Ada-ada saja!”Empat puluh lima menit berlalu, Kalla sudah kembali dengan sebuah nampan berisi bubur. Segelas air hangat ikut melengkapi sarapan sederhana Arka yang dibuat oleh istriny
“Kamu mau ke mana?”Arka terpaksa mengurai pelukannya saat Kalla memaksa turun dari ranjang. Tak mau berlama-lama meringkuk dalam dekap.“Aku harus kerja, Mas.” Wanita yang pagi itu terlihat seksi dengan tampilan bangun tidurnya tengah duduk sambil mengikat rambut pirangnya asal. Beberapa helai tampak jatuh di pundaknya yang putih tanpa cela.“Tapi, aku masih demam. Nih, sudah mau menggigil lagi.” Arka beralasan. Ikut duduk, dipeluknya pinggang Kalla lalu merebah di punggung wanita tersebut seolah tak pernah terjadi masalah di antara mereka. Dia tak rela melepas sang istri pergi.“Aku harus kerja, Mas. Aku ....”“Tapi, aku masih sakit, Sayang. Apa kamu tega? Aku baru saja jadi yatim piatu. Hidupku sedang terpuruk-puruknya. Istriku menuntut cerai, mamaku meninggal. Aku sedang di titik terendah hidupku. Apa tidak kasihan? Aku tidak punya alasan untuk tetap bertahan di dunia.”Arka menahan tawa sambil mengeratkan belit di pinggang istrinya.“Mas, apa-apaan sih? Kenapa bicara seperti itu?
“Kamu sakit sampai menggigil begini. Apa tidak sebaiknya ke dokter, Mas?”Kalla masih setia menjaga suaminya. Hingga malam tiba, dia masih bertahan di kediaman sang mertua. Pemilik wajah berkubang resah itu tak sedikit pun melangkah pergi dari sisi Arka. “Mas.”Duduk di samping pria yang sedang bergelung di balik selimut. Meringkuk dengan suara menggigil, tubuh gagah itu bergetar hebat.“Dingin, Sayang.” Arka berbisik pelan. Mata terpejam.“Ya, makanya. Ini sudah dinaikkan suhu AC-nya, Mas.”“Dingin.” Pria dewasa itu terus menggigil.“Lalu, bagaimana?” Kalla bingung. “Kita ke dokter saja. Ini panasnya sudah turun, tapi ....”Kalla kembali menempelkan punggung tangan di dahi dan kulit leher Arka. Dia mengecek suhu tubuh suaminya yang tak lagi sehangat tadi siang dan mulai berkeringat.“Tapi, dingin, Sayang.” Arka makin manja.“Aneh. Sudah turun panasnya, tapi masih kedinginan. Orang kepanasan.” Kalla bergumam tak jelas.“He ... em.”“Ke dokter saja, ya? Takutnya ada masalah serius. In
Raut wajah Arka berubah. Entah kenapa, kata-kata sederhana itu mampu membuat isi kepalanya jauh lebih ringan. “Harusnya ... kalau sakit itu bicara, Mas? Kenapa diam saja?” Kembali suapan selanjutnya berlabuh di dalam mulut Arka. Tak lagi ada protes dan tanya dari empunya. “Nah, ‘kan? Mas itu kelaparan. Kenapa tidak keluar? Sudah disiapkan makanan.” Kalla merapikan rambut Arka yang acak-acakan. Tak lupa, dia juga mengusap wajah pria yang tengah menelan bubur sambil mengernyit. “Kenapa? Panas?” Arka menggeleng. “Sakit tenggorokan?” Kalla kembali menginterogasi suaminya. “Ya.” Arka menjawab lemah. “Keluhannya apa saja? Mas itu kelelahan. Beberapa hari ini kurang istirahat. Makannya tak teratur.” Arka hanya menatap dan diam. Melahap setiap sendok bubur yang disuapkan kepadanya. Tak butuh waktu lama, semangkuk bubur sudah berpindah ke perut. “Mas demam.” Kalla meraih air jahe hangat dan menyodorkan pada sang suami. “Setelah ini minum obat.” Menyambar selembar tisu, diusapnya







