Share

BAB 2

Author: Casanova
last update publish date: 2026-08-07 08:37:19

“Tidak mungkin.”

Sebaris kata lolos dari bibir tipis Kalla. Suaranya bak cicit, empunya terguncang hebat. Di titik ini, kewarasannya nyaris tak bersisa. Tergerus prasangka, hanyut dalam praduga.

Terlalu sering menonton drama perselingkuhan, aku sampai terbawa ke alam nyata. Tidak, Mas Arka tak mungkin mengkhianatiku. Dia satu-satunya orang yang kupercaya. Dia satu-satunya orang yang mencintaiku tanpa syarat selain mendiang orang tuaku. Dia satu-satunya yang kumiliki di dunia ini.

Kalla menggeleng cepat. Rambut hitamnya yang pekat sepinggang tampak berayun indah. Di tengah pikiran dan perasaan yang kacau balau, tas bekal dalam genggaman tak sengaja terlepas. Jatuh terempas.

Arka tersentak. Laki-laki itu berbalik untuk memastikan suara kencang yang terdengar dari balik punggungnya.

“Ka ... lla,” ujar Arka, terbata-bata. “Se ... sejak kapan kamu masuk?” Wajah rupawannya memucat. 

Ada ketakutan di kala mendapati istrinya sudah berada di depan mata. Nyali mendadak terbang entah ke mana.

Kalla tak bersuara. Garis wajah mengetat, sepasang mata berkilat. Dia yang biasanya manja, mendadak jadi pribadi kuat. Harusnya, di detik ini air mata sudah jatuh bersusulan. Namun, semesta seperti bersahabat. Tak setitik pun cairan bening itu tumpah. Hatinya memang bergelimpangan bak korban kalah perang, tetapi dirinya masih menjadi komandan yang siap bertarung menuntut penjelasan.

“Sayang, kenapa ... tidak mengabariku?” Arka terlihat salah tingkah. Perubahan wajah dan sikap istrinya cukup menjelaskan. 

Buru-buru berdiri, pria berusia 35 tahun itu terpaku melihat tas bekal yang terjatuh di dekat kaki istrinya.

“Kamu membawa bekal? Masak apa hari ini, Sayang? Menu baru lagi?” tanya Arka dengan nada mengambang. Nyalinya ciut, dia takut.

Berjalan melewati meja, Arka membungkuk dan hendak memungut tas bekal. Namun, dia kembali terkejut kala wanita bergaun sutera itu mundur dua langkah dan menjaga jarak darinya.

“Sa ... yang?” Arka meraih tas bekal dan meletakkan ke atas meja kerja.

“Siapa?”

“Siapa apanya?” Arka mencoba untuk tetap tenang di tengah perasaan bergelombang. Badai datang dan dia tak punya persiapan. Kekhawatiran yang menyelimuti hatinya selama setahun belakangan, kini jadi kenyataan.

“Siapa yang baru saja kamu hubungi?” tanya Kalla tanpa basa-basi.

“Oh, salah satu ....” 

Arka terdiam. Mencoba membaca situasi, dia tak mau gegabah. Salah bicara, pernikahannya terancam berantakan. Dia tak mau sampai itu terjadi. 

“Sayang ....” 

Arka bermaksud menggapai tangan Kalla, tetapi ditepis kasar oleh istrinya. Dia menangkap amarah di dalam manik kelam wanita cantik yang bahkan tak menitikkan air mata. Wajah memerah, napas kembang kempis.

“Sayang, tenang dulu. Jangan emosi ….”

“Berhenti memanggilku sayang. Aku jijik, Mas!”

“Kalla, dengarkan aku. Kamu salah paham.”

Kalla menatap tajam suaminya. Tak sepatah kata keluar dari bibirnya yang dipoles gincu merah. Amarah, kecewa, dan sakit hati melebur jadi satu. Dia terluka.

“Kalla, jangan begini. Mas … mencintaimu.” Kata cinta meluncur lancar dari bibir Arka. Pria berpostur tinggi gagah itu berusaha mendekati istrinya kembali.

“Mencintai? Lalu, yang Mas Arka panggil sayang barusan di telepon itu siapa? Cinta Mas yang mana lagi?” tanya Kalla setengah berteriak. Diluapkan amarahnya agar tak terlalu menyesak di dada. 

“Tidak ada, Kalla. Kamu salah dengar. Mas sedang berbincang dengan ….”

“Aku tidak percaya padamu, Mas!” tegas Kalla menganguk-angguk. “Cukup sudah membodohiku selama ini, Mas. Cukup!” Tangannya terulur ke depan dengan telunjuk terarah pada suaminya.

“Kalla, tenangkan dirimu dulu.” Arka tak berani mendekat. Istrinya bak bola api yang sedang terbakar dan bisa meluluhlantakkan siapa saja termasuk dirinya.

Menatap tajam suaminya, Kalla tak mau melunak. Mengayunkan kakinya lebar-lebar, dia harus mencari bukti untuk membungkam Arka yang terus mengelak. Ponsel putih yang masih menjadi misteri itu akan memberinya jawaban jujur ketimbang mulut pria yang telah mengobral sayang ke mana-mana.

“Kalla ….” Arka buru-buru menyusul. “Kamu mau apa?” Dia panik saat mendapati istrinya membongkar laci. Dicengkeramnya lengan wanita itu dengan erat.

“LEPAS, MAS!” 

Kalla berusaha meloloskan diri dari kendali pria tampan itu. Di saat tergulung amarah, tenaga manusia memang bisa melebihi batas. Dia berhasil lepas dari laki-laki yang menjadi alasan kecewanya. Tak hanya sampai di situ, wanita muda itu juga mendorong tubuh suaminya menjauh.

“Kalla Sayang, jangan begini. Aku bisa jelaskan.” Arka berusaha mencegah. Namun, harapannya musnah ketika mendapati ponsel putihnya sudah dalam genggaman sang istri.

“Ini apa?”

Kalla berbalik badan. Diangkatnya ponsel putih itu ke depan muka Arka. 

“Mau mengelak sampai kapan, Mas? Mau berbohong sampai kapan? Tidak takut dosakah? Atau sekarang sudah merasa jadi Tuhan dan tak takut apa pun?” sembur Kalla.

Arka lemas. Dia hanya pasrah menatap sedih istrinya yang terbakar bara amarah.

“Sejak kapan Mas punya ponsel cadangan? Bahkan, aku tidak pernah tahu.” Kalla menggeleng. “Kamu yang terlalu cerdik atau sebenarnya aku yang terlalu bodoh selama ini, Mas?”

“Kalla, dengarkan Mas dulu. Jangan begini. Kita bicarakan baik-baik dengan kepala dingin. Kamu harus tenang.”

“Mas! Sudah sejauh ini Mas masih memintaku tenang. Gila kamu, Mas.” Kalla berusaha membuka ponsel suaminya. Namun, dia harus menelan kecewa kala mendapati benda pipih itu terkunci. Muncul angka yang harus ditekan.

“Kalla.” Arka sedikit lega. 

“Apalagi ini?” Kalla mengomel. “Apa kodenya, Mas?” Dia mencoba menduga-duga.

Arka bergeming.

“Mas!” teriak Kalla, kesal.

“Tenangkan dirimu. Mas akan ceritakan semuanya, tapi … kamu janji jangan mengamuk seperti ini. Masalah ini tidak akan selesai kalau ….”

Dering telepon masuk membuat gawai dalam genggaman Kalla menyala. Sebaris aksara membentuk satu nama muncul di sana.

“Siapa ini?”

Bersambung

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (2)
goodnovel comment avatar
Happy Adriana
alhamdulillah...nemu novel ini disini... makasih kakak Author......
goodnovel comment avatar
Enisensi klara
yeeaay ....
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • DI AMBANG PERPISAHAN   S2 BAB 112

    Arka kembali datang ke rumah sakit setelah menyelesaikan urusan di kantor. Seperti hari-hari sebelumnya, langkahnya langsung tertuju ke ruang ICU tempat Kalla dirawat.Sudah lebih dari sebulan perempuan itu terbaring tak sadarkan diri. Tidak ada perubahan berarti meskipun dokter terus melakukan berbagai upaya untuk memulihkan kondisinya. Kecelakaan hebat itu membuat dunia Kalla berubah.Arka membuka pintu perlahan. Aroma antiseptik langsung menyambutnya, disusul bunyi monitor yang terdengar teratur di sisi ranjang.Kalla masih sama. Wajah pucat, matanya terpejam, dan tubuhnya terbaring lemah dengan bantuan sejumlah alat medis. Tak ada reaksi, istrinya tidur dengan begitu damai.Arka berdiri di samping ranjang. Tangannya segera meraih jemari istrinya."Sayang ...."Hanya satu kata itu yang keluar sebelum tenggorokannya tercekat. Semua cerita yang disiapkan tak mampu dilontarkan. Dia berkaca-kaca.Mengusap punggung tangan Kalla, Arka menunduk cukup lama. Ada begitu banyak hal yang ingin

  • DI AMBANG PERPISAHAN   S2 BAB 111

    Sejak mulai bekerja di rumah Arka, Loli perlahan menunjukkan sikap yang berbeda dari kesan pertamanya saat wawancara.Perempuan itu memang mengurus Raka, tetapi tidak sepenuh hati. Dia hanya melakukan hal-hal yang dianggap perlu, sekadar memastikan bayi itu sudah diberi susu dan popoknya diganti. Selebihnya, Loli lebih banyak menghabiskan waktu dengan ponsel atau bersantai di ruang keluarga.Bahkan, beberapa kali dia sengaja membawa Raka ke ruang tengah hanya untuk meletakkannya di boks bayi, sementara dirinya asyik menonton tayangan drama di ponsel.Ketika Arka berada di rumah, sikapnya berubah seratus delapan puluh derajat. Loli akan tampil lebih rapi, berbicara dengan nada lembut, dan berusaha mencari kesempatan untuk mengobrol. Tak jarang dia sengaja mencuri pandang ketika Arka melintas. Kalau kebetulan berpapasan, perempuan itu selalu punya alasan untuk menyapa.Namun, Arka bukan lelaki yang mudah diajak bermain-main. Sejak Kalla terbaring koma, pikirannya hanya dipenuhi dua hal,

  • DI AMBANG PERPISAHAN   S2 BAB 110

    Kondisi Kalla dinyatakan kritis. Perempuan yang dicintai Arka itu tak membuka mata sama sekali sejak menjalani operasi darurat untuk melahirkan putra mereka. Sementara itu, sang bayi harus berjuang sendiri di ruang NICU.Dunia Arka benar-benar hancur. Hari-harinya berubah menjadi rutinitas yang melelahkan. Pagi-pagi dia datang ke kantor, menyelesaikan pekerjaan yang bisa dikerjakan, lalu bergegas ke rumah sakit. Tak jarang harus meninggalkan rapat penting hanya karena dokter menghubunginya untuk menyampaikan perkembangan kondisi Kalla atau putranya.Makan pun sering terlupakan. Tidur menjadi kemewahan yang tidak lagi dia pikirkan. Setiap kali memasuki ruang perawatan Kalla, Arka selalu berusaha tersenyum. Berbicara, bercerita, seolah wanita itu bisa mendengarnya dalam lelap yang tak tahu kapan akan berakhir.“Mas datang lagi, Sayang.”Arka duduk di samping ranjang, menggenggam tangan Kalla yang terasa dingin. Dia mengusap punggung tangan itu dengan ibu jari. Berharap sentuhan kecil te

  • DI AMBANG PERPISAHAN   S2 Bab 109

    “Maaf, Pak. Kondisi istri Anda kritis.”Arka terdiam. Semua ucapan itu tak bisa dicerna dengan sempurna. Seolah kalimatnya diucapkan dalam bahasa yang tak dimengerti. Dia menatap dokter di hadapannya, menunggu kelanjutan yang mungkin bisa mengubah kisah tentang Kalla.“Kami harus segera melakukan tindakan. Kondisinya tak bisa menunggu.”“Kritis bagaimana, Dok?” tanya Arka setelah menguasai keadaan.“Istri Anda mengalami pendarahan hebat akibat kecelakaan. Selain itu, terdapat benturan di kepala yang membuat kondisinya semakin mengkhawatirkan.”Wajah Arka memucat.“Lalu, anak saya?”“Kondisi janin juga harus segera kami tangani. Usia kehamilan istri Anda sudah cukup besar, tapi dengan kondisi ibu yang mengalami pendarahan parah, kami tidak bisa menunggu lebih lama. Kami harus melakukan tindakan operasi untuk menyelamatkan bayi Anda.”Arka mundur selangkah. Dia tak menyadari punggungnya membentur dinding yang dingin.Operasi. Menyelamatkan bayi. Kritis.Kata-kata itu berputar-putar di k

  • DI AMBANG PERPISAHAN   S2 BAB 108

    “Kalla!”Arka menerobos kerumunan tanpa memedulikan teriakan orang-orang yang memintanya berhati-hati. Langkahnya terhenti ketika melihat istrinya terbaring di atas aspal, dikelilingi beberapa orang yang berusaha memberikan pertolongan.Wajah Kalla pucat. Gaun yang dikenakannya malam itu berantakan dan bernoda merah. Satu tangan masih berada di atas perutnya yang besar. Seolah naluri seorang ibu membuatnya berusaha melindungi bayi mereka, bahkan saat kesadaran mulai menghilang.“Sayang, bangun!” Arka berlutut. Tangannya gemetar saat menyentuh pipi Kalla. “Kalla, ini Mas. Kamu dengar suara Mas, kan?”Tak ada jawaban.“Kalla!”Suara Arka pecah. Dia menggenggam tangan istrinya, kemudian menoleh kepada orang-orang di sekitar mereka.“Ambulansnya mana? Kenapa lama sekali?”“Sudah dihubungi, Pak. Sebentar lagi datang.”“Sebentar lagi bagaimana? Istri saya sedang hamil besar!”Arka nyaris kehilangan kendali. Dadanya sesak, pandangan tak mampu beranjak dari wajah Kalla. Beberapa menit lalu, p

  • DI AMBANG PERPISAHAN   S2 BAB 107

    “Siapa, Mas?”Arka menggeleng sambil memasukkan ponselnya ke saku celana. “Entahlah. Nomor tak dikenal.”“Kenapa tak diangkat? Siapa tahu ada kabar penting.”“Kalau penting, dia bakal mengirim pesan.”Kalla mengangguk, tak ingin memperpanjang percakapan. Perhatiannya kembali tertuju pada perutnya yang semakin besar. Bayi di dalam sana bergerak pelan, seolah ikut mendengarkan percakapan kedua orang tuanya.“Mas, nanti jadi makan soto ayam kesukaanmu, kan?”Arka menoleh. “Loh, kok kesukaan Mas, sih? Bukannya kamu yang dari tadi merengek minta soto?”“Memangnya nggak boleh? Bayi kita juga mau.”“Wah, kompak banget, ya, kalian. Ayahnya nggak diajak musyawarah, tahu-tahu sudah kalah suara.”Kalla terkekeh. “Namanya juga suara mayoritas.”“Baiklah, Nyonya. Malam ini kita turuti keinginan duo kesayangan Mas.”Arka membungkuk, mengecup perut besar istrinya di tengah keramaian.“Nanti, ya, Sayang. Sabar. Sebentar lagi kita makan soto.”Kalla tersenyum puas. Ada kehangatan sederhana dalam perha

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status