Share

BAB 6

Author: Casanova
last update publish date: 2026-08-07 08:45:16

“Jadi ... selama ini Mas Arka dan Mama ....” 

Tubuh Kalla bergetar. Kata-kata sang mertua sangat menyakitkan. Dia harus berpegangan pada pintu agar tak melorot ke lantai. Definisi sudah jatuh tertimpa tangga sangat tepat untuk menggambarkan kondisinya sekarang. Di saat mengetahui perselingkuhan sang suami, dia ditunjukkan kenyataan lainnya. Wanita tua yang sudah dianggap mama kandung sendiri ternyata menyimpan kebencian begitu besar padanya.

“Jadi ... selama ini Mama hanya berpura-pura baik padaku. Belum lama dia memintaku bersabar menghadapi Mas Arka. Tapi, di belakang dia meminta suamiku menceraikanku. Ya Tuhan, aku terperangkap di tengah keluarga yang penuh dusta.”

Kalla menggeleng. 

“Lima tahun aku hidup di tengah orang-orang yang ... penuh drama. Bukan hanya Mas Arka, tapi Mama. Cukup! Aku tidak ingin mendengar penghinaan Mama lebih banyak lagi. Sudah cukup!” 

Kalla berbalik badan. Diusapnya mata yang basah Menangkup wajah yang lembab, dia menarik napas dalam-dalam. Kecewa yang dirasa sudah tak bisa dilukiskan. Kalau sakit hatinya harus dijelaskan, dia berada di titik hampir membenci. 

“Aku ... aku seperti orang bodoh. Selama ini, aku kira ... aku wanita yang beruntung. Dicintai suami, disayangi mertuaku. Tapi, kenyataannya ... aku adalah orang yang paling menyedihkan. Bahkan, aku tidak mengenal musuhku sendiri.” Kalla terbata-bata.

Setengah berlari, gaun sutera Kalla melambai tersapu semilir bayu. Mengusap air mata yang turun terus-menerus tanpa kompromi, dia tak ubahnya raga tanpa nadi. Jangan tanya bagaimana perasaannya. Serasa mati. Dia bukan hanya tidak baik-baik saja, tetapi jiwanya terluka parah. Tak berdarah. Setiap ucapan mama mertuanya bak belati yang mengiris setiap inci sanubari. Sakitnya seperti sukma yang dicabut paksa dari raga.

“Selama ini aku sangka ... aku wanita yang paling beruntung di dunia. Ternyata, aku hanya manusia tak tahu diri yang menyedihkan.” 

Kalla membuka pintu mobil lalu mengempaskan bokong dengan kasar di kursi belakang. Dia tak peduli dengan Pak Hadi yang melotot heran menatapnya dari kaca spion tengah.

“Bu, apa terjadi sesuatu?” tanya pria tua itu, khawatir.

“Jalan, Pak.”

“Apa Ibu baik-baik saja?” 

“Jalankan saja mobilnya, Pak.” Kalla menitah seraya menyeka air mata yang terus tumpah.

“Ki ... kita ke mana, Bu?”

“Jalankan saja mobilnya, Pak. Ke mana saja asal jangan membuatku melihat muka Mas Arka dan keluarganya. Mereka ....” 

Suara Kalla meninggi. Nyaris saja semua isi hatinya terlontar keluar. Namun, dia sadar ketika kata-kata itu sudah di ujung bibir. Masalah keluarga tak boleh jadi konsumsi orang luar. Bisa saja menjadi bola liar yang akan membuatnya terbakar tanpa sadar.

Tega kamu, Mas. Sedikit pun aku tak menyangka kalau kamu diam-diam berkhianat dariku. Janji akan menceraikanku dan menikahi kekasihmu. Benar-benar bukan Mas Arka ....

Tubuh Kalla berguncang ketika mobil yang ditumpanginya berjalan. Pak Hadi tak lagi bertanya, memilih melajukan kendaraan demi menenangkan sang majikan. 

Eri? Siapa Eri? Kenapa selama ini aku sampai tidak tahu banyak tentang Mas Arka. Dia begitu rapi menyembunyikan semuanya sampai-sampai aku tidak bisa melihat fakta yang sudah di depan mata.

Di tengah luka, satu nama melintas dalam benak Kalla. Erika, wanita yang selama ini mendampingi suaminya itu pasti tahu banyak. Menjadi sekretaris Arka, jelas punya akses untuk bisa mengulik lebih banyak fakta seorang pimpinan Karsel Darma One. 

“Apa aku tanya Erika? Dia dan Mas Arka teman baik. Pastinya dia tahu banyak. Apalagi selama ini dia jadi sekretarisnya Mas Arka.” Kalla berkata pelan.

Namun, niat itu dipatahkannya sendiri. Teringat pesan sang papi, masalah keluarga tak boleh jadi konsumsi publik. Setiap rumah tangga pasti ada problema. Meminta orang ketiga terlibat di dalamnya hanya akan menambah rumit.

“Bu, kita pulang ke rumah, ya?” Pak Hadi ragu-ragu bertanya.

Kalla terkejut. Dia terlalu larut dalam kesedihan, sibuk dengan kepedihannya hingga lupa memberi instruksi yang jelas.

“Ya, Pak. Kita kembali ke rumah.” 

Bibir Kalla mengulas senyuman terpaksa. Dia hanya sebatang kara di dunia. Entah pada siapa ditumpahkan segala beban yang memenuhi rongga jiwa dan melelahkan raganya.

“Atau mau pulang ke rumah besar?” tawar Pak Hadi. 

Mengabdi sejak muda,  dia masih harus menunaikan janjinya pada mendiang Darmawan—papinya Kalla. Sopir kepercayaan itu memang diminta untuk menjaga penumpang cantik di kursi belakang sejak menikah dengan Arka.

Kalla menggeleng. Rumah besar adalah hunian masa kecil yang kini ditempati sang mami sambung. Sendirian tinggal di sana, istri muda Darmawan itu memutuskan tak menikah lagi setelah kepergian suaminya.

“Bu, kalau tidak salah ingat, bulan depan Nyonya Sita ulang tahun. Apa Ibu tidak mau berkunjung ke sana?”

“Biarkan saja. Mami juga tidak butuh dikunjungi. Yang dibutuhkannya itu harta Papi.”

Pak Hadi menelan ludah. Jawaban ketus Kalla bukan yang pertama kalinya. Hubungan ibu dan anak sambung itu memang tidak akur sejak belasan tahun lalu, bahkan sejak Darmawan masih hidup.

“Bu, aku sebenarnya tidak mau ikut campur. Tapi, mengingat mendiang Tuan Darmawan, apa tidak sebaiknya kembali menjalin hubungan dengan Nyonya Sita. Beliau sudah tua, mungkin ... bukan dunia lagi yang jadi tujuan hidupnya. Toh, selama ini Ibu dan Nyonya juga tidak ada masalah, ‘kan?”

“Pak Hadi bisa ‘kan fokus ke jalan saja? Jangan mengurusi masalahku dan Mami.”

Benar saja. Baru selesai Kalla berbicara, Pak Hadi tiba-tiba menginjak rem mendadak. Tak lama, mobil yang dikendarainya berguncang disertai dentuman kencang dari arah depan.

“Ya Tuhan, ada apa, Pak?” Kalla panik.

“Waduh, Bu. Nabrak mobil di depan.”

Kalla terbeliak. Sejenak, kesedihannya lenyap. Tubuh rampingnya menegang ketika seorang pria tampan keluar dari pintu sopir dan merapikan kacamata hitam yang menutupi penglihatannya.

“Pak, apa ... tabrakannya parah?” tanya Kalla terbata-bata. Pandangannya terus terkunci pada sosok maskulin berpostur gagah. Tinggi dengan kulit putih, parasnya oriental.

“Tidak parah, tapi ... tapi mobilnya mahal. Kalau disuruh ganti, pastinya banyak keluar uang. Soalnya mobil dua pintu, Bu.” Pak Hadi menjelaskan dengan takut-takut.

Kalla mendengkus. “Dua pintu mahal apanya? Mobil angkutan material juga dua pintu. Mobil bawa ayam potong juga dua pintu. Mobil tahu bulat lebih-lebih lagi dua pintunya.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (2)
goodnovel comment avatar
Anna Waliana
tahu bulat goreng dadakan
goodnovel comment avatar
Enisensi klara
next kakak .....
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • DI AMBANG PERPISAHAN   BAB 79B

    “Suma, aku ada kirim upeti untuk anak-anakmu. Thanks, aku tidak bisa membayangkan andai Kalla mengetahui semuanya. Aku malu.”Malam itu, Arka terlihat duduk di ruang kerjanya. Laptop terbuka menyala di depannya. Namun, perhatiannya tak di sana.“Ya, ini Rara dan Annel sedang rebutan. Next time, tolong beli yang warnanya sama. Kamu tahu sendiri, anak kembar ini seleranya juga sama.” Suma terkekeh. “Berarti, kamu harus waspada. Jangan-jangan mereka rebutan cinta di masa depannya. Bisa terjadi perang saudara.” Arka ikut tergelak. Namun, suaranya lenyap seketika, dia teringat sesuatu. “Kamu katakan apa pada istriku? Kebohongan apa yang kamu jual?”“Tidak ada.” Suma terdengar serius di ujung telepon. “Maaf, aku katakan semuanya. Foto itu diambil saat papamu sedang sekarat beberapa tahun lalu. Kamu butuh uang dan dan terpaksa harus ....”Wajah Arka berubah pucat.“Istrimu berhak tahu, Bro. Dia berhak tahu apa yang sudah kamu korbankan untuknya. Dengan begitu, musuhmu tak akan menggunakan k

  • DI AMBANG PERPISAHAN   BAB 79A

    “Kalau bukan kamu, siapa lagi yang tahu masalah ini? Hanya kamu, ‘kan? Dan, kamu tahu jelas apa yang terjadi hari itu.”“Demi Tuhan, bukan aku yang melakukannya.”“Dari mana kamu dapat foto ini? Pasti bukan orang sembarangan yang bisa mengambil foto ini, ‘kan?”Erika menggeleng. “Demi Tuhan, bukan aku yang melakukannya. Bagaimana mungkin aku bisa mendapatkan foto itu? Aku tahu semua yang kamu lakukan, tapi belum tentu aku yang mengirimnya pada istrimu. Aku tidak tahu apa-apa, Ka.”“Jangan bohong!” Arka menggertak.“Selama ini hanya kamu yang tahu masalah ini. Tidak ada orang lain.”“Aku tidak tahu apa-apa. Selama ini aku pulang kampung menemui orang tuaku. Mana ada waktu mengurusi masalahmu dan Kalla.”“Kalau bukan kamu, lalu siapa?” Tidak ada orang lain yang tahu masalahku ini.”Erika diam.“Hanya kamu satu-satunya, Eri.”“Kalau memang kamu minta bertemu untuk ini, aku rasa ... tidak ada yang harus dibahas lagi. Aku tegaskan sekali lagi, aku tidak ada sangku pautnya dengan masalah fo

  • DI AMBANG PERPISAHAN   BAB 78

    “Kenapa basah?” Kalla masuk ke dapur dan keheranan melihat lantai yang basah di beberapa titik. Sebuah baskom berisi air es masih tergeletak di dekat bak cuci piring“Oh, itu Pak Arka tadi cuci muka, cuci tangan pakai air es.” Asisten rumah menjelaskan sembari memotong wortel. “Cuci muka pakai air es?” Kalla bingung. Dia bermaksud membuatkan suaminya bubur. “Apa tidak salah?”“Tidak, Bu. Tadi Bapak ke sini. Cuci kaki juga tadi aku lihat.”Di tengah kebekuan, otak Kalla mulai merangkai berbagai keanehan-keanehan yang didapatnya sebelum keluar kamar. Hingga akhirnya sampai pada satu kesimpulan dan membuat dia menggeleng tak percaya.“Kerjaan Mas Arka,” gerutunya. “Pantas saja. Dibilang demam, tapi suhunya normal. Kaki tangan dingin sampai ke muka-mukan. Bagaimana tidak dingin kalau cucinya pakai air es. Ada-ada saja!”Empat puluh lima menit berlalu, Kalla sudah kembali dengan sebuah nampan berisi bubur. Segelas air hangat ikut melengkapi sarapan sederhana Arka yang dibuat oleh istriny

  • DI AMBANG PERPISAHAN   BAB 77

    “Kamu mau ke mana?”Arka terpaksa mengurai pelukannya saat Kalla memaksa turun dari ranjang. Tak mau berlama-lama meringkuk dalam dekap.“Aku harus kerja, Mas.” Wanita yang pagi itu terlihat seksi dengan tampilan bangun tidurnya tengah duduk sambil mengikat rambut pirangnya asal. Beberapa helai tampak jatuh di pundaknya yang putih tanpa cela.“Tapi, aku masih demam. Nih, sudah mau menggigil lagi.” Arka beralasan. Ikut duduk, dipeluknya pinggang Kalla lalu merebah di punggung wanita tersebut seolah tak pernah terjadi masalah di antara mereka. Dia tak rela melepas sang istri pergi.“Aku harus kerja, Mas. Aku ....”“Tapi, aku masih sakit, Sayang. Apa kamu tega? Aku baru saja jadi yatim piatu. Hidupku sedang terpuruk-puruknya. Istriku menuntut cerai, mamaku meninggal. Aku sedang di titik terendah hidupku. Apa tidak kasihan? Aku tidak punya alasan untuk tetap bertahan di dunia.”Arka menahan tawa sambil mengeratkan belit di pinggang istrinya.“Mas, apa-apaan sih? Kenapa bicara seperti itu?

  • DI AMBANG PERPISAHAN   BAB 76

    “Kamu sakit sampai menggigil begini. Apa tidak sebaiknya ke dokter, Mas?”Kalla masih setia menjaga suaminya. Hingga malam tiba, dia masih bertahan di kediaman sang mertua. Pemilik wajah berkubang resah itu tak sedikit pun melangkah pergi dari sisi Arka. “Mas.”Duduk di samping pria yang sedang bergelung di balik selimut. Meringkuk dengan suara menggigil, tubuh gagah itu bergetar hebat.“Dingin, Sayang.” Arka berbisik pelan. Mata terpejam.“Ya, makanya. Ini sudah dinaikkan suhu AC-nya, Mas.”“Dingin.” Pria dewasa itu terus menggigil.“Lalu, bagaimana?” Kalla bingung. “Kita ke dokter saja. Ini panasnya sudah turun, tapi ....”Kalla kembali menempelkan punggung tangan di dahi dan kulit leher Arka. Dia mengecek suhu tubuh suaminya yang tak lagi sehangat tadi siang dan mulai berkeringat.“Tapi, dingin, Sayang.” Arka makin manja.“Aneh. Sudah turun panasnya, tapi masih kedinginan. Orang kepanasan.” Kalla bergumam tak jelas.“He ... em.”“Ke dokter saja, ya? Takutnya ada masalah serius. In

  • DI AMBANG PERPISAHAN   BAB 75B

    Raut wajah Arka berubah. Entah kenapa, kata-kata sederhana itu mampu membuat isi kepalanya jauh lebih ringan. “Harusnya ... kalau sakit itu bicara, Mas? Kenapa diam saja?” Kembali suapan selanjutnya berlabuh di dalam mulut Arka. Tak lagi ada protes dan tanya dari empunya. “Nah, ‘kan? Mas itu kelaparan. Kenapa tidak keluar? Sudah disiapkan makanan.” Kalla merapikan rambut Arka yang acak-acakan. Tak lupa, dia juga mengusap wajah pria yang tengah menelan bubur sambil mengernyit. “Kenapa? Panas?” Arka menggeleng. “Sakit tenggorokan?” Kalla kembali menginterogasi suaminya. “Ya.” Arka menjawab lemah. “Keluhannya apa saja? Mas itu kelelahan. Beberapa hari ini kurang istirahat. Makannya tak teratur.” Arka hanya menatap dan diam. Melahap setiap sendok bubur yang disuapkan kepadanya. Tak butuh waktu lama, semangkuk bubur sudah berpindah ke perut. “Mas demam.” Kalla meraih air jahe hangat dan menyodorkan pada sang suami. “Setelah ini minum obat.” Menyambar selembar tisu, diusapnya

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status