LOGIN“Jadi ... selama ini Mas Arka dan Mama ....”
Tubuh Kalla bergetar. Kata-kata sang mertua sangat menyakitkan. Dia harus berpegangan pada pintu agar tak melorot ke lantai. Definisi sudah jatuh tertimpa tangga sangat tepat untuk menggambarkan kondisinya sekarang. Di saat mengetahui perselingkuhan sang suami, dia ditunjukkan kenyataan lainnya. Wanita tua yang sudah dianggap mama kandung sendiri ternyata menyimpan kebencian begitu besar padanya. “Jadi ... selama ini Mama hanya berpura-pura baik padaku. Belum lama dia memintaku bersabar menghadapi Mas Arka. Tapi, di belakang dia meminta suamiku menceraikanku. Ya Tuhan, aku terperangkap di tengah keluarga yang penuh dusta.” Kalla menggeleng. “Lima tahun aku hidup di tengah orang-orang yang ... penuh drama. Bukan hanya Mas Arka, tapi Mama. Cukup! Aku tidak ingin mendengar penghinaan Mama lebih banyak lagi. Sudah cukup!” Kalla berbalik badan. Diusapnya mata yang basah Menangkup wajah yang lembab, dia menarik napas dalam-dalam. Kecewa yang dirasa sudah tak bisa dilukiskan. Kalau sakit hatinya harus dijelaskan, dia berada di titik hampir membenci. “Aku ... aku seperti orang bodoh. Selama ini, aku kira ... aku wanita yang beruntung. Dicintai suami, disayangi mertuaku. Tapi, kenyataannya ... aku adalah orang yang paling menyedihkan. Bahkan, aku tidak mengenal musuhku sendiri.” Kalla terbata-bata. Setengah berlari, gaun sutera Kalla melambai tersapu semilir bayu. Mengusap air mata yang turun terus-menerus tanpa kompromi, dia tak ubahnya raga tanpa nadi. Jangan tanya bagaimana perasaannya. Serasa mati. Dia bukan hanya tidak baik-baik saja, tetapi jiwanya terluka parah. Tak berdarah. Setiap ucapan mama mertuanya bak belati yang mengiris setiap inci sanubari. Sakitnya seperti sukma yang dicabut paksa dari raga. “Selama ini aku sangka ... aku wanita yang paling beruntung di dunia. Ternyata, aku hanya manusia tak tahu diri yang menyedihkan.” Kalla membuka pintu mobil lalu mengempaskan bokong dengan kasar di kursi belakang. Dia tak peduli dengan Pak Hadi yang melotot heran menatapnya dari kaca spion tengah. “Bu, apa terjadi sesuatu?” tanya pria tua itu, khawatir. “Jalan, Pak.” “Apa Ibu baik-baik saja?” “Jalankan saja mobilnya, Pak.” Kalla menitah seraya menyeka air mata yang terus tumpah. “Ki ... kita ke mana, Bu?” “Jalankan saja mobilnya, Pak. Ke mana saja asal jangan membuatku melihat muka Mas Arka dan keluarganya. Mereka ....” Suara Kalla meninggi. Nyaris saja semua isi hatinya terlontar keluar. Namun, dia sadar ketika kata-kata itu sudah di ujung bibir. Masalah keluarga tak boleh jadi konsumsi orang luar. Bisa saja menjadi bola liar yang akan membuatnya terbakar tanpa sadar. Tega kamu, Mas. Sedikit pun aku tak menyangka kalau kamu diam-diam berkhianat dariku. Janji akan menceraikanku dan menikahi kekasihmu. Benar-benar bukan Mas Arka .... Tubuh Kalla berguncang ketika mobil yang ditumpanginya berjalan. Pak Hadi tak lagi bertanya, memilih melajukan kendaraan demi menenangkan sang majikan. Eri? Siapa Eri? Kenapa selama ini aku sampai tidak tahu banyak tentang Mas Arka. Dia begitu rapi menyembunyikan semuanya sampai-sampai aku tidak bisa melihat fakta yang sudah di depan mata. Di tengah luka, satu nama melintas dalam benak Kalla. Erika, wanita yang selama ini mendampingi suaminya itu pasti tahu banyak. Menjadi sekretaris Arka, jelas punya akses untuk bisa mengulik lebih banyak fakta seorang pimpinan Karsel Darma One. “Apa aku tanya Erika? Dia dan Mas Arka teman baik. Pastinya dia tahu banyak. Apalagi selama ini dia jadi sekretarisnya Mas Arka.” Kalla berkata pelan. Namun, niat itu dipatahkannya sendiri. Teringat pesan sang papi, masalah keluarga tak boleh jadi konsumsi publik. Setiap rumah tangga pasti ada problema. Meminta orang ketiga terlibat di dalamnya hanya akan menambah rumit. “Bu, kita pulang ke rumah, ya?” Pak Hadi ragu-ragu bertanya. Kalla terkejut. Dia terlalu larut dalam kesedihan, sibuk dengan kepedihannya hingga lupa memberi instruksi yang jelas. “Ya, Pak. Kita kembali ke rumah.” Bibir Kalla mengulas senyuman terpaksa. Dia hanya sebatang kara di dunia. Entah pada siapa ditumpahkan segala beban yang memenuhi rongga jiwa dan melelahkan raganya. “Atau mau pulang ke rumah besar?” tawar Pak Hadi. Mengabdi sejak muda, dia masih harus menunaikan janjinya pada mendiang Darmawan—papinya Kalla. Sopir kepercayaan itu memang diminta untuk menjaga penumpang cantik di kursi belakang sejak menikah dengan Arka. Kalla menggeleng. Rumah besar adalah hunian masa kecil yang kini ditempati sang mami sambung. Sendirian tinggal di sana, istri muda Darmawan itu memutuskan tak menikah lagi setelah kepergian suaminya. “Bu, kalau tidak salah ingat, bulan depan Nyonya Sita ulang tahun. Apa Ibu tidak mau berkunjung ke sana?” “Biarkan saja. Mami juga tidak butuh dikunjungi. Yang dibutuhkannya itu harta Papi.” Pak Hadi menelan ludah. Jawaban ketus Kalla bukan yang pertama kalinya. Hubungan ibu dan anak sambung itu memang tidak akur sejak belasan tahun lalu, bahkan sejak Darmawan masih hidup. “Bu, aku sebenarnya tidak mau ikut campur. Tapi, mengingat mendiang Tuan Darmawan, apa tidak sebaiknya kembali menjalin hubungan dengan Nyonya Sita. Beliau sudah tua, mungkin ... bukan dunia lagi yang jadi tujuan hidupnya. Toh, selama ini Ibu dan Nyonya juga tidak ada masalah, ‘kan?” “Pak Hadi bisa ‘kan fokus ke jalan saja? Jangan mengurusi masalahku dan Mami.” Benar saja. Baru selesai Kalla berbicara, Pak Hadi tiba-tiba menginjak rem mendadak. Tak lama, mobil yang dikendarainya berguncang disertai dentuman kencang dari arah depan. “Ya Tuhan, ada apa, Pak?” Kalla panik. “Waduh, Bu. Nabrak mobil di depan.” Kalla terbeliak. Sejenak, kesedihannya lenyap. Tubuh rampingnya menegang ketika seorang pria tampan keluar dari pintu sopir dan merapikan kacamata hitam yang menutupi penglihatannya. “Pak, apa ... tabrakannya parah?” tanya Kalla terbata-bata. Pandangannya terus terkunci pada sosok maskulin berpostur gagah. Tinggi dengan kulit putih, parasnya oriental. “Tidak parah, tapi ... tapi mobilnya mahal. Kalau disuruh ganti, pastinya banyak keluar uang. Soalnya mobil dua pintu, Bu.” Pak Hadi menjelaskan dengan takut-takut. Kalla mendengkus. “Dua pintu mahal apanya? Mobil angkutan material juga dua pintu. Mobil bawa ayam potong juga dua pintu. Mobil tahu bulat lebih-lebih lagi dua pintunya.”Arka duduk di lantai. Kakinya bertekuk dengan kedua lengan bertumpu di atas lutut. Tak banyak kata yang bisa dilontarkan untuk membela diri setelah serentetan kebenaran yang disampaikan istrinya. Dia yang begitu bersemangat membujuk beberapa saat lalu hanya mampu tertunduk diam.“Aku mohon, Kalla. Kita jangan sampai bercerai.” Ada nada putus asa dalam pinta Arka.“Mas, untuk apa bertahan? Toh, Mas sudah punya yang lain. Aku hanya ingin memuluskan langkahmu, Mas. Dengan kita berpisah, kamu bisa menikahi kekasihmu tanpa khawatir dengan dosa.” Jawaban Kalla menunjukkan seberapa tegar dirinya. Namun, tak ada seorang pun yang tahu kalau saat ini hatinya hancur berkeping-keping. Istri mana yang sanggup diduakan, wanita mana yang bisa menerima kenyataan diselingkuhi.“Aku bukan istri yang baik untukmu, Mas. Aku hanya wanita tak berguna yang bisanya menyusahkanmu.” Kalla menahan air matanya agar tak tumpah. Sejak siang, entah sudah berapa banyak cairan kristal mengalir turun dari sana.“Aku
“Pak, urus saja mobilnya. Mengenai biaya, nanti aku yang akan menanggungnya.” Kalla bersuara setelah sedan yang ditumpangi berhenti di halaman rumah. Menunduk, dia menatap kartu nama di tangannya. Pria asing pemilik mobil yang cedera karena kelalaian Pak Hadi itu menitipkan untuknya.“Julian William Chandra.”Bibir tipis Kalla yang tak lagi terlihat rona gincu itu mengeja nama di kartu nama. Tak lama, dilemparnya ke kursi penumpang depan, di sebelah Pak Hadi tanpa berpikiran apa-apa. Tidak penting untuknya. Bahkan, dia hampir lupa rupa pria yang terus meliriknya selama pembicaraan menuju kesepakatan di tepi jalan beberapa saat lalu.“Ini untuk Pak Hadi saja. Aku tidak butuh.”Kalla sudah membuka pintu mobil sambil menentang tas tangannya. Belum juga melangkah menuju ke teras rumah, sebuah Pajero hitam menyusul masuk dan berhenti di sebelahnya.“Mas Arka ....” Setengah berlari, Kalla menghindari pria berusia kepala tiga yang bergegas menyusul langkahnya. Dia sedang tak mau berdiskusi
“Jadi ... selama ini Mas Arka dan Mama ....” Tubuh Kalla bergetar. Kata-kata sang mertua sangat menyakitkan. Dia harus berpegangan pada pintu agar tak melorot ke lantai. Definisi sudah jatuh tertimpa tangga sangat tepat untuk menggambarkan kondisinya sekarang. Di saat mengetahui perselingkuhan sang suami, dia ditunjukkan kenyataan lainnya. Wanita tua yang sudah dianggap mama kandung sendiri ternyata menyimpan kebencian begitu besar padanya.“Jadi ... selama ini Mama hanya berpura-pura baik padaku. Belum lama dia memintaku bersabar menghadapi Mas Arka. Tapi, di belakang dia meminta suamiku menceraikanku. Ya Tuhan, aku terperangkap di tengah keluarga yang penuh dusta.”Kalla menggeleng. “Lima tahun aku hidup di tengah orang-orang yang ... penuh drama. Bukan hanya Mas Arka, tapi Mama. Cukup! Aku tidak ingin mendengar penghinaan Mama lebih banyak lagi. Sudah cukup!” Kalla berbalik badan. Diusapnya mata yang basah Menangkup wajah yang lembab, dia menarik napas dalam-dalam. Kecewa yang d
“Sudah, jangan bahas perpisahan.” Mama Hesti menangkup wajah sedih menantunya. Perlakuannya pada Kalla tak perlu diragukan. Dia selalu bersikap manis seperti bukan bersama menantu, tetapi putri sendiri.“Rumah tangga itu selalu akan bertemu cobaan. Apalagi ini sudah masuk tahun ke lima, ‘kan? Mulai ada guncangan-guncangan kecil. Wajar saja. Namanya dua kepala disatukan, pasti berbenturan tiap hari.Kalla diam.“Sudah, jangan bahas perceraian. Tidak baik.” Mama Hesti merapikan helaian rambut yang jatuh dan menutupi wajah sang menantu. Diselipkan di balik daun telinga Kalla. “Mau menginap di sini atau ....”“Aku mau pulang, Ma.”Mama Hesti tersenyum.“Masalah memang bagusnya jangan dihindari. Selesaikan dengan kepala dingin. Ingat, jangan terlalu berlebihan. Arka laki-laki, dia punya harga diri. Kalau terlalu diinjak, pastinya berontak.”Kalla tertegun. Kalimat mertuanya sedikit aneh.“Mama tahu kalau kamu lahir dari keluarga berada. Tapi, sejak menikah ... kamu juga seorang istri. Apa
“Ibu di makam papinya, Pak.” Arka menghela napas lega. Kalla pergi setelah mengucapkan kata berpisah. Tanpa menerima sepatah pun penjelasan yang disampaikannya. Semua pembelaan diri tak lagi berguna. Di mata istrinya, dia tetap bersalah dan harus dihukum sekejam-kejamnya.“Syukurlah. Kalau terjadi sesuatu, tolong kabari aku, Pak.” Perintah yang meluncur dari bibir pimpinan PT Kalser Darma One itu terdengar pelan. Sejak pertengkaran dan berujung kata perpisahan, Kalla tak bisa diajak berdamai. Terus menuduhnya berselingkuh dan kini ponsel putih pun berada dalam status penyitaan sang istri.“Baik, Pak. Sepertinya sebentar lagi mau jalan. Tadi, Ibu pesan ... kalau habis dari makam mau ke tempat mamanya Bapak.”Arka tak terkejut. Selain Erika, sang mama adalah tempat istrinya mengadu. Wanita yang dinikahi lima tahun lalu itu adalah seorang yatim piatu. Walau masih memiliki ibu tiri—istri muda mendiang papinya, hubungan keduanya tak pernah akur sejak dulu. Bahkan, alasan Kalla minta din
“Halo.” Kalla menyapa dengan nada tak bersahabat. Sepasang mata elangnya menatap tajam sang suami yang berdiri tegang. Dia tak ubahnya singa betina kelaparan yang sudah berhari-hari tak disuguhi makanan. Apa saja yang ada di hadapan terasa pantas dimangsa.Senyap. Tidak terdengar jawaban dari seberang. Begitu sunyi sampai helaan napas pun sulit terdeteksi.“Halo, ini siapa? Kenapa menghubungi suamiku?”Bukan sahutan, Kalla harus menelan kecewa saat panggilan diputuskan sepihak. Dugaan-dugaan bak bola liar bergulir memenuhi isi kepala. Telepon dari seseorang yang namanya tersimpan di dalam kontak oleh sang suaminya membuat tuduhan makin menguat.“Siapa Sabda, Mas?” Kalla menurunkan nada bicara. Menarik kursi dan duduk, kepalanya berdenyut. “Mas tidak bisa beralasan kalau ini salah sambung. Jelas Mas mengenalnya. Tidak mungkin disimpan di dalam kontak, ‘kan?”Arka menarik napas panjang. Luka yang memancar di wajah sang istri bak sembilu yang tengah mengiris jiwanya. “Dengarkan Mas,







