LOGIN“Sudah, jangan bahas perpisahan.”
Mama Hesti menangkup wajah sedih menantunya. Perlakuannya pada Kalla tak perlu diragukan. Dia selalu bersikap manis seperti bukan bersama menantu, tetapi putri sendiri. “Rumah tangga itu selalu akan bertemu cobaan. Apalagi ini sudah masuk tahun ke lima, ‘kan? Mulai ada guncangan-guncangan kecil. Wajar saja. Namanya dua kepala disatukan, pasti berbenturan tiap hari. Kalla diam. “Sudah, jangan bahas perceraian. Tidak baik.” Mama Hesti merapikan helaian rambut yang jatuh dan menutupi wajah sang menantu. Diselipkan di balik daun telinga Kalla. “Mau menginap di sini atau ....” “Aku mau pulang, Ma.” Mama Hesti tersenyum. “Masalah memang bagusnya jangan dihindari. Selesaikan dengan kepala dingin. Ingat, jangan terlalu berlebihan. Arka laki-laki, dia punya harga diri. Kalau terlalu diinjak, pastinya berontak.” Kalla tertegun. Kalimat mertuanya sedikit aneh. “Mama tahu kalau kamu lahir dari keluarga berada. Tapi, sejak menikah ... kamu juga seorang istri. Apalagi sekarang Arka juga sudah jadi pengusaha hebat, nyaris sepadan dengan keluargamu, Nak. Kurang-kurangi keras kepalanya. Laki-laki itu punya harga diri, Kalla. Kalau diinjak-injak, dia akan memilih yang lebih bisa menghargainya.” Mama Hesti mencoba memberi nasihat bijak. “Ya, Ma. Aku pamit dulu, ya. Sudah sore.” Mama Hesti mengangguk. “Ya, ingat pesan Mama, Sayang.” Lambaian tangan wanita tua itu mengiringi kepergian menantunya. Mengantar sampai di pintu, dia berbalik saat Kalla masuk ke dalam mobil. Dia harus menghubungi Arka dan mencari tahu. * “Selamat Pak Pimpinan.” “Ma.” Arka baru saja keluar dari ruang rapat saat mamanya menghubungi. Berhenti sejenak di koridor, dia mendesah. Pikirannya berantakan, fokus terbelah. Bahkan, materi meeting yang dijelaskan bawahannya tak lagi membekas di dalam ingatan. “Perempuan itu akhirnya setuju berpisah denganmu. Penantian kita berakhir, Nak.” “Ma, jangan membahasnya sekarang. Aku pusing.” Arka mengurut pelipis. Kepala berdenyut setiap mengingat perpisahan yang diucapkan Kalla dengan lantang dan tanpa keraguan. “Kenapa tidak boleh membahasnya? Mama malah mau merayakannya. Tiba-tiba kesehatan Mama membaik, Arka.” Mama Hesti semringah. “Selama ini kamu selalu beralasan kemanusiaan, tak tega, entah apalagi alasanmu menolak membahasnya. Nah, sekarang takdir membuat segala sesuatunya jadi lebih mudah. Ceraikan Kalla dan nikahi kekasihmu. Cukup sudah pengorbananmu selama ini.” “Ma, jangan mendesakku.” Mama Hesti melotot. “Lah, bagaimana aku tidak mendesak? Kamu memacari anak gadis orang. Keluarganya sudah sering kali menanyai Mama. Kapan kamu dan istrimu akan berpisah? Ceraikan Kalla dan nikahi Eri!” Arka diam. “Kamu dengar Mama, ‘kan?” Selain suara napas berat, tak terdengar sepatah jawaban dari Arka. “Ingat Arka, kamu sudah berjanji untuk menceraikan Kalla dan menikahi Eri. Kamu lupa dengan janjimu sendiri?” “Ma!” Sapa Arka sedikit keras dan bernada protes. “Jangan membahasnya lagi.” “Mama tidak akan membahasnya kalau kamu ingat. Masalahnya, kamu selalu lupa janjimu sendiri. Ini sudah hampir setahun, loh? Tunggu apa lagi? Momennya sudah sangat tepat. Kalla sendiri yang menginginkan perpisahan. Tidak perlu repot-repot kamu membujuknya untuk bercerai.” Arka membisu. “Tuhan saja sudah memberi restu, semesta sudah setuju. Tunggu apa lagi?” cerocos Mama Hesti panjang lebar. “Ma, kepalaku sakit. Bisakah Mama jangan membahasnya sekarang?” “Oh, berarti kamu mau menunggu Mama masuk ICU lagi? Begitu?” cecar Mama Hesti. “Ma, kenapa bicara yang tidak-tidak? Ucapan itu doa, Ma.” “Ya, ucapan itu doa. Janji itu utang. Mama mengingatkanmu, takutnya kamu lupa sudah berutang dengan Mama.” “Ma, sudah dulu, ya.” “Apanya yang sudah? Mama belum selesai membahasnya denganmu, Arka.” Pria berusia kepala tiga itu mendesah. “Apalagi yang harus dibahas? Mama nyerocos seperti ini. Yang ada malah sakit kepalaku. Sudahlah.” “Sudah-sudah? Kamu kenapa, sih? Kok sepertinya takut sekali dengan istrimu?” “Bukan takut, Ma. Aku dan Kalla itu menikah. Bukan pacaran dan tinggal putus begitu saja.” Arka menjelaskan. Mama Hesti terkekeh sinis. “Kalau masalah balas budi, Mama rasa tidak perlu. Selama ini kamu berjuang sendiri. Kalau ada andil papinya di dalam bisnismu, ya wajar saja. Itu fungsinya sebagai mertua. Dan, kalau kamu sekarang di titik ini, ya itu karena kemampuanmu, Arka. Bukan karena peran istri dan mertuamu.” “Ma, kenapa melebar ke mana-mana? Sudah, nanti sakitmu kumat.” “Coba kalau kamu bodoh, perusahaanmu juga tidak jadi apa-apa. Apa bisa istrimu hidup enak? Ongkang-ongkang kaki di rumah. Ngurus rumah saja tidak becus, sok-sokan mau jadi ibu rumah tangga. Aslinya dia itu pemalas. Makanya tidak mau bantu suami kerja. Coba lihat Eri, kariernya bagus. Terpelajar.” “Ma, jangan dibanding-bandingkan.” “Tapi, ucapan Mama benar, kan? Dari awal saja Mama sudah tidak setuju.” Mama Hesti menarik napas panjang. Isi hati yang selama ini tertahan ditumpahkannya. “Jangan dikira anak orang kaya, putri pejabat, terus Mama mau menjilat pantatnya? Tidak. Itu masa lalu. Mungkin, dulu dia anak orang ternama. Sekarang tidak lagi.” “Ma!” Arka membentak. “Kenapa harus membahas masa lalu istriku?” Mama Hesti tersenyum kecut. “Biar kamu membuka mata. Perempuan tukang mabuk, kuliah hampir putus. Tiap hari ke kelab, apa yang kamu lihat darinya, Arka?” “Jangan mengungkit masa lalu, Ma.” “Kamu itu pintar. Lulusan terbaik. Kalau saja tidak kenal dengannya, mungkin kamu sudah S2, S3 di luar negeri. Tanpa papinya, kamu bisa kok. Ingat, berapa banyak beasiswa yang kamu tolak karena mengurus perempuan tukang mabuk itu. Kariermu pasti sama gemilangnya seperti sekarang.” Arka tak mampu membantah. Perkenalan pertamanya dengan Kalla memang seperti ucapan sang mama. Istrinya mengambil kamar di hotel tempatnya bekerja dalam keadaan mabuk berat. Terlalu banyak masalah di dalam keluarga membuat makhluk cantik itu memilih ke kelab selepas kuliah. Bahkan, tak jarang bolos demi bisa mencecap minuman terlarang. Pelarian. “Benar, ‘kan? Harusnya kamu tidak lupa, Arka. Perempuan manja, pemabuk, dan pemalas seperti itu mana bisa jadi istri yang baik.” Mama Hesti mengabsen dosa masa lalu menantunya. “Oke, itu kamu bisa bilang masa lalu. Coba lihat kelakuannya sekarang. Pemalas. Tiap hari ongkang-ongkang kaki di rumah. Alasannya belajar mengurus rumah tangga, belajar masak. Lima tahun tak lulus-lulus. Bagaimana ceritanya?” Wanita tua itu menarik napas dalam-dalam. “Bandingkan dengan Eri. Dia pintar, punya karier, bisa kerja dan cari uang sendiri. Mama yakin kalau kalian menikah, Eri tidak akan menyusahkanmu. Tidak akan menghabiskan uangmu seperti Kalla. Perempuan apa? Tahunya belanja barang branded, tapi tidak tahu susahnya cari duit ....” Terdiam sesaat, Mama Hesti agak ragu mengucapkan kalimat selanjutnya. “Lagian, apa yang mau dipertahankan? Istrimu itu mandul! Bagaimana bisa memberimu anak? “MA!” “Lima tahun menikah, jangankan hamil. Tanda-tandanya saja tidak ada. Kamu itu sudah 35 tahun. Tunggu apalagi? Mumpung Eri masih bisa hamil. Kalau terlalu lama, nanti sama saja kayak Kalla. Zonk!” Di pekarangan rumah sederhana yang asri, masih belum terdengar deru kendaraan. Pak Hadi tampak setia menunggu majikannya. Kalla yang sudah masuk ke dalam mobil mendadak turun dan kembali ke hunian sang mertua. “Kenapa Ibu lama sekali? Katanya hanya sebentar, ambil ponsel yang tertinggal. Apa terjadi sesuatu di dalam?”Arka kembali datang ke rumah sakit setelah menyelesaikan urusan di kantor. Seperti hari-hari sebelumnya, langkahnya langsung tertuju ke ruang ICU tempat Kalla dirawat.Sudah lebih dari sebulan perempuan itu terbaring tak sadarkan diri. Tidak ada perubahan berarti meskipun dokter terus melakukan berbagai upaya untuk memulihkan kondisinya. Kecelakaan hebat itu membuat dunia Kalla berubah.Arka membuka pintu perlahan. Aroma antiseptik langsung menyambutnya, disusul bunyi monitor yang terdengar teratur di sisi ranjang.Kalla masih sama. Wajah pucat, matanya terpejam, dan tubuhnya terbaring lemah dengan bantuan sejumlah alat medis. Tak ada reaksi, istrinya tidur dengan begitu damai.Arka berdiri di samping ranjang. Tangannya segera meraih jemari istrinya."Sayang ...."Hanya satu kata itu yang keluar sebelum tenggorokannya tercekat. Semua cerita yang disiapkan tak mampu dilontarkan. Dia berkaca-kaca.Mengusap punggung tangan Kalla, Arka menunduk cukup lama. Ada begitu banyak hal yang ingin
Sejak mulai bekerja di rumah Arka, Loli perlahan menunjukkan sikap yang berbeda dari kesan pertamanya saat wawancara.Perempuan itu memang mengurus Raka, tetapi tidak sepenuh hati. Dia hanya melakukan hal-hal yang dianggap perlu, sekadar memastikan bayi itu sudah diberi susu dan popoknya diganti. Selebihnya, Loli lebih banyak menghabiskan waktu dengan ponsel atau bersantai di ruang keluarga.Bahkan, beberapa kali dia sengaja membawa Raka ke ruang tengah hanya untuk meletakkannya di boks bayi, sementara dirinya asyik menonton tayangan drama di ponsel.Ketika Arka berada di rumah, sikapnya berubah seratus delapan puluh derajat. Loli akan tampil lebih rapi, berbicara dengan nada lembut, dan berusaha mencari kesempatan untuk mengobrol. Tak jarang dia sengaja mencuri pandang ketika Arka melintas. Kalau kebetulan berpapasan, perempuan itu selalu punya alasan untuk menyapa.Namun, Arka bukan lelaki yang mudah diajak bermain-main. Sejak Kalla terbaring koma, pikirannya hanya dipenuhi dua hal,
Kondisi Kalla dinyatakan kritis. Perempuan yang dicintai Arka itu tak membuka mata sama sekali sejak menjalani operasi darurat untuk melahirkan putra mereka. Sementara itu, sang bayi harus berjuang sendiri di ruang NICU.Dunia Arka benar-benar hancur. Hari-harinya berubah menjadi rutinitas yang melelahkan. Pagi-pagi dia datang ke kantor, menyelesaikan pekerjaan yang bisa dikerjakan, lalu bergegas ke rumah sakit. Tak jarang harus meninggalkan rapat penting hanya karena dokter menghubunginya untuk menyampaikan perkembangan kondisi Kalla atau putranya.Makan pun sering terlupakan. Tidur menjadi kemewahan yang tidak lagi dia pikirkan. Setiap kali memasuki ruang perawatan Kalla, Arka selalu berusaha tersenyum. Berbicara, bercerita, seolah wanita itu bisa mendengarnya dalam lelap yang tak tahu kapan akan berakhir.“Mas datang lagi, Sayang.”Arka duduk di samping ranjang, menggenggam tangan Kalla yang terasa dingin. Dia mengusap punggung tangan itu dengan ibu jari. Berharap sentuhan kecil te
“Maaf, Pak. Kondisi istri Anda kritis.”Arka terdiam. Semua ucapan itu tak bisa dicerna dengan sempurna. Seolah kalimatnya diucapkan dalam bahasa yang tak dimengerti. Dia menatap dokter di hadapannya, menunggu kelanjutan yang mungkin bisa mengubah kisah tentang Kalla.“Kami harus segera melakukan tindakan. Kondisinya tak bisa menunggu.”“Kritis bagaimana, Dok?” tanya Arka setelah menguasai keadaan.“Istri Anda mengalami pendarahan hebat akibat kecelakaan. Selain itu, terdapat benturan di kepala yang membuat kondisinya semakin mengkhawatirkan.”Wajah Arka memucat.“Lalu, anak saya?”“Kondisi janin juga harus segera kami tangani. Usia kehamilan istri Anda sudah cukup besar, tapi dengan kondisi ibu yang mengalami pendarahan parah, kami tidak bisa menunggu lebih lama. Kami harus melakukan tindakan operasi untuk menyelamatkan bayi Anda.”Arka mundur selangkah. Dia tak menyadari punggungnya membentur dinding yang dingin.Operasi. Menyelamatkan bayi. Kritis.Kata-kata itu berputar-putar di k
“Kalla!”Arka menerobos kerumunan tanpa memedulikan teriakan orang-orang yang memintanya berhati-hati. Langkahnya terhenti ketika melihat istrinya terbaring di atas aspal, dikelilingi beberapa orang yang berusaha memberikan pertolongan.Wajah Kalla pucat. Gaun yang dikenakannya malam itu berantakan dan bernoda merah. Satu tangan masih berada di atas perutnya yang besar. Seolah naluri seorang ibu membuatnya berusaha melindungi bayi mereka, bahkan saat kesadaran mulai menghilang.“Sayang, bangun!” Arka berlutut. Tangannya gemetar saat menyentuh pipi Kalla. “Kalla, ini Mas. Kamu dengar suara Mas, kan?”Tak ada jawaban.“Kalla!”Suara Arka pecah. Dia menggenggam tangan istrinya, kemudian menoleh kepada orang-orang di sekitar mereka.“Ambulansnya mana? Kenapa lama sekali?”“Sudah dihubungi, Pak. Sebentar lagi datang.”“Sebentar lagi bagaimana? Istri saya sedang hamil besar!”Arka nyaris kehilangan kendali. Dadanya sesak, pandangan tak mampu beranjak dari wajah Kalla. Beberapa menit lalu, p
“Siapa, Mas?”Arka menggeleng sambil memasukkan ponselnya ke saku celana. “Entahlah. Nomor tak dikenal.”“Kenapa tak diangkat? Siapa tahu ada kabar penting.”“Kalau penting, dia bakal mengirim pesan.”Kalla mengangguk, tak ingin memperpanjang percakapan. Perhatiannya kembali tertuju pada perutnya yang semakin besar. Bayi di dalam sana bergerak pelan, seolah ikut mendengarkan percakapan kedua orang tuanya.“Mas, nanti jadi makan soto ayam kesukaanmu, kan?”Arka menoleh. “Loh, kok kesukaan Mas, sih? Bukannya kamu yang dari tadi merengek minta soto?”“Memangnya nggak boleh? Bayi kita juga mau.”“Wah, kompak banget, ya, kalian. Ayahnya nggak diajak musyawarah, tahu-tahu sudah kalah suara.”Kalla terkekeh. “Namanya juga suara mayoritas.”“Baiklah, Nyonya. Malam ini kita turuti keinginan duo kesayangan Mas.”Arka membungkuk, mengecup perut besar istrinya di tengah keramaian.“Nanti, ya, Sayang. Sabar. Sebentar lagi kita makan soto.”Kalla tersenyum puas. Ada kehangatan sederhana dalam perha







