Teilen

BAB 5

last update Veröffentlichungsdatum: 07.08.2026 08:44:40

“Sudah, jangan bahas perpisahan.” 

Mama Hesti menangkup wajah sedih menantunya. Perlakuannya pada Kalla tak perlu diragukan. Dia selalu bersikap manis seperti bukan bersama menantu, tetapi putri sendiri.

“Rumah tangga itu selalu akan bertemu cobaan. Apalagi ini sudah masuk tahun ke lima, ‘kan? Mulai ada guncangan-guncangan kecil. Wajar saja. Namanya dua kepala disatukan, pasti berbenturan tiap hari.

Kalla diam.

“Sudah, jangan bahas perceraian. Tidak baik.” Mama Hesti merapikan helaian rambut yang jatuh dan menutupi wajah sang menantu. Diselipkan di balik daun telinga Kalla. “Mau menginap di sini atau ....”

“Aku mau pulang, Ma.”

Mama Hesti tersenyum.

“Masalah memang bagusnya jangan dihindari. Selesaikan dengan kepala dingin. Ingat, jangan terlalu berlebihan. Arka laki-laki, dia punya harga diri. Kalau terlalu diinjak, pastinya berontak.”

Kalla tertegun. Kalimat mertuanya sedikit aneh.

“Mama tahu kalau kamu lahir dari keluarga berada. Tapi, sejak menikah ... kamu juga seorang istri. Apalagi sekarang Arka juga sudah jadi pengusaha  hebat, nyaris sepadan dengan keluargamu, Nak. Kurang-kurangi keras kepalanya. Laki-laki itu punya harga diri, Kalla. Kalau diinjak-injak, dia akan memilih yang lebih bisa menghargainya.” Mama Hesti mencoba memberi nasihat bijak.

“Ya, Ma. Aku pamit dulu, ya. Sudah sore.”

Mama Hesti mengangguk. “Ya, ingat pesan Mama, Sayang.”

Lambaian tangan wanita tua itu mengiringi kepergian menantunya. Mengantar sampai di pintu, dia berbalik saat Kalla masuk ke dalam mobil. Dia harus menghubungi Arka dan mencari tahu.

*

“Selamat Pak Pimpinan.” 

“Ma.” 

Arka baru saja keluar dari ruang rapat saat mamanya menghubungi. Berhenti sejenak di koridor, dia mendesah. Pikirannya berantakan, fokus terbelah. Bahkan, materi meeting yang dijelaskan bawahannya tak lagi membekas di dalam ingatan.

“Perempuan itu akhirnya setuju berpisah denganmu. Penantian kita berakhir, Nak.”

“Ma, jangan membahasnya sekarang. Aku pusing.” Arka mengurut pelipis. Kepala berdenyut setiap mengingat perpisahan yang diucapkan Kalla dengan lantang dan tanpa keraguan.

“Kenapa tidak boleh membahasnya? Mama malah mau merayakannya. Tiba-tiba kesehatan Mama membaik, Arka.”

Mama Hesti semringah. 

“Selama ini kamu selalu beralasan kemanusiaan, tak tega, entah apalagi alasanmu menolak membahasnya. Nah, sekarang takdir membuat segala sesuatunya jadi lebih mudah. Ceraikan Kalla dan nikahi kekasihmu. Cukup sudah pengorbananmu selama ini.”

“Ma, jangan mendesakku.”

Mama Hesti melotot. “Lah, bagaimana aku tidak mendesak? Kamu memacari anak gadis orang. Keluarganya sudah sering kali menanyai Mama. Kapan kamu dan istrimu akan berpisah? Ceraikan Kalla dan nikahi Eri!”

Arka diam.

“Kamu dengar Mama, ‘kan?”

Selain suara napas berat, tak terdengar sepatah jawaban dari Arka.

“Ingat Arka, kamu sudah berjanji untuk menceraikan Kalla dan menikahi Eri. Kamu lupa dengan janjimu sendiri?”

“Ma!” Sapa Arka sedikit keras dan bernada protes. “Jangan membahasnya lagi.”

“Mama tidak akan membahasnya kalau kamu ingat. Masalahnya, kamu selalu lupa janjimu sendiri. Ini sudah hampir setahun, loh? Tunggu apa lagi? Momennya sudah sangat tepat. Kalla sendiri yang menginginkan perpisahan. Tidak perlu repot-repot kamu membujuknya untuk bercerai.”

Arka membisu.

“Tuhan saja sudah memberi restu, semesta sudah setuju. Tunggu apa lagi?” cerocos Mama Hesti panjang lebar.

“Ma, kepalaku sakit. Bisakah Mama jangan membahasnya sekarang?”

“Oh, berarti kamu mau menunggu Mama masuk ICU lagi? Begitu?” cecar Mama Hesti.

“Ma, kenapa bicara yang tidak-tidak? Ucapan itu doa, Ma.”

“Ya, ucapan itu doa. Janji itu utang. Mama mengingatkanmu, takutnya kamu lupa sudah berutang dengan Mama.” 

“Ma, sudah dulu, ya.”

“Apanya yang sudah? Mama belum selesai membahasnya denganmu, Arka.”

Pria berusia kepala tiga itu mendesah. “Apalagi yang harus dibahas? Mama nyerocos seperti ini. Yang ada malah sakit kepalaku. Sudahlah.”

“Sudah-sudah? Kamu kenapa, sih? Kok sepertinya takut sekali dengan istrimu?”

“Bukan takut, Ma. Aku dan Kalla itu menikah. Bukan pacaran dan tinggal putus begitu saja.” Arka menjelaskan.

Mama Hesti terkekeh sinis. “Kalau masalah balas budi, Mama rasa tidak perlu. Selama ini kamu berjuang sendiri. Kalau ada andil papinya di dalam bisnismu, ya wajar saja. Itu fungsinya sebagai mertua. Dan, kalau kamu sekarang di titik ini, ya itu karena kemampuanmu, Arka. Bukan karena peran istri dan mertuamu.” 

“Ma, kenapa melebar ke mana-mana? Sudah, nanti sakitmu kumat.”

“Coba kalau kamu bodoh, perusahaanmu juga tidak jadi apa-apa. Apa bisa istrimu hidup enak? Ongkang-ongkang kaki di rumah. Ngurus rumah saja tidak becus, sok-sokan mau jadi ibu rumah tangga. Aslinya dia itu pemalas. Makanya tidak mau bantu suami kerja. Coba lihat Eri, kariernya bagus. Terpelajar.”

“Ma, jangan dibanding-bandingkan.”

“Tapi, ucapan Mama benar, kan? Dari awal saja Mama sudah tidak setuju.” Mama Hesti menarik napas panjang. Isi hati yang selama ini tertahan ditumpahkannya. “Jangan dikira anak orang kaya, putri pejabat, terus Mama mau menjilat pantatnya? Tidak. Itu masa lalu. Mungkin, dulu dia anak orang ternama. Sekarang tidak lagi.”

“Ma!” Arka membentak. “Kenapa harus membahas masa lalu istriku?”

Mama Hesti tersenyum kecut. “Biar kamu membuka mata. Perempuan tukang mabuk, kuliah hampir putus. Tiap hari ke kelab, apa yang kamu lihat darinya, Arka?”

“Jangan mengungkit masa lalu, Ma.”

“Kamu itu pintar. Lulusan terbaik. Kalau saja tidak kenal dengannya, mungkin kamu sudah S2, S3 di luar negeri. Tanpa papinya, kamu bisa kok. Ingat, berapa banyak beasiswa yang kamu tolak karena mengurus perempuan tukang mabuk itu. Kariermu pasti sama gemilangnya seperti sekarang.”

Arka tak mampu membantah. Perkenalan pertamanya dengan Kalla memang seperti ucapan sang mama. Istrinya mengambil kamar di hotel tempatnya bekerja dalam keadaan mabuk berat. Terlalu banyak masalah di dalam keluarga membuat makhluk cantik itu memilih ke kelab selepas kuliah. Bahkan, tak jarang bolos demi bisa mencecap minuman terlarang. Pelarian.

“Benar, ‘kan? Harusnya kamu tidak lupa, Arka. Perempuan manja, pemabuk, dan pemalas seperti itu mana bisa jadi istri yang baik.” 

Mama Hesti mengabsen dosa masa lalu menantunya. 

“Oke, itu kamu bisa bilang masa lalu. Coba lihat kelakuannya sekarang. Pemalas. Tiap hari ongkang-ongkang kaki di rumah. Alasannya belajar mengurus rumah tangga, belajar masak. Lima tahun tak lulus-lulus. Bagaimana ceritanya?”

Wanita tua itu menarik napas dalam-dalam.

“Bandingkan dengan Eri. Dia pintar, punya karier, bisa kerja  dan cari uang sendiri. Mama yakin kalau kalian menikah, Eri tidak akan menyusahkanmu. Tidak akan menghabiskan uangmu seperti Kalla. Perempuan apa? Tahunya belanja barang branded, tapi tidak tahu susahnya cari duit ....” Terdiam sesaat, Mama Hesti agak ragu mengucapkan kalimat selanjutnya. “Lagian, apa yang mau dipertahankan? Istrimu itu mandul! Bagaimana bisa memberimu anak?

“MA!” 

“Lima tahun menikah, jangankan hamil. Tanda-tandanya saja tidak ada. Kamu itu sudah 35 tahun. Tunggu apalagi? Mumpung Eri masih bisa hamil. Kalau terlalu lama, nanti sama saja kayak Kalla. Zonk!”

Di pekarangan rumah sederhana yang asri, masih belum terdengar deru kendaraan. Pak Hadi tampak setia menunggu majikannya. Kalla yang sudah masuk ke dalam mobil mendadak turun dan kembali ke hunian sang mertua.

“Kenapa Ibu lama sekali? Katanya hanya sebentar, ambil ponsel yang tertinggal. Apa terjadi sesuatu di dalam?”

Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen

Aktuellstes Kapitel

  • DI AMBANG PERPISAHAN   BAB 8

    Arka duduk di lantai. Kakinya bertekuk dengan kedua lengan bertumpu di atas lutut. Tak banyak kata yang bisa dilontarkan untuk membela diri setelah serentetan kebenaran yang disampaikan istrinya. Dia yang begitu bersemangat membujuk beberapa saat lalu hanya mampu tertunduk diam.“Aku mohon, Kalla. Kita jangan sampai bercerai.” Ada nada putus asa dalam pinta Arka.“Mas, untuk apa bertahan? Toh, Mas sudah punya yang lain. Aku hanya ingin memuluskan langkahmu, Mas. Dengan kita berpisah, kamu bisa menikahi kekasihmu tanpa khawatir dengan dosa.” Jawaban Kalla menunjukkan seberapa tegar dirinya. Namun, tak ada seorang pun yang tahu kalau saat ini hatinya hancur berkeping-keping. Istri mana yang sanggup diduakan, wanita mana yang bisa menerima kenyataan diselingkuhi.“Aku bukan istri yang baik untukmu, Mas. Aku hanya wanita tak berguna yang bisanya menyusahkanmu.” Kalla menahan air matanya agar tak tumpah. Sejak siang, entah sudah berapa banyak cairan kristal mengalir turun dari sana.“Aku

  • DI AMBANG PERPISAHAN   BAB 7

    “Pak, urus saja mobilnya. Mengenai biaya, nanti aku yang akan menanggungnya.” Kalla bersuara setelah sedan yang ditumpangi berhenti di halaman rumah. Menunduk, dia menatap kartu nama di tangannya. Pria asing pemilik mobil yang cedera karena kelalaian Pak Hadi itu menitipkan untuknya.“Julian William Chandra.”Bibir tipis Kalla yang tak lagi terlihat rona gincu itu mengeja nama di kartu nama. Tak lama, dilemparnya ke kursi penumpang depan, di sebelah Pak Hadi tanpa berpikiran apa-apa. Tidak penting untuknya. Bahkan, dia hampir lupa rupa pria yang terus meliriknya selama pembicaraan menuju kesepakatan di tepi jalan beberapa saat lalu.“Ini untuk Pak Hadi saja. Aku tidak butuh.”Kalla sudah membuka pintu mobil sambil menentang tas tangannya. Belum juga melangkah menuju ke teras rumah, sebuah Pajero hitam menyusul masuk dan berhenti di sebelahnya.“Mas Arka ....” Setengah berlari, Kalla menghindari pria berusia kepala tiga yang bergegas menyusul langkahnya. Dia sedang tak mau berdiskusi

  • DI AMBANG PERPISAHAN   BAB 6

    “Jadi ... selama ini Mas Arka dan Mama ....” Tubuh Kalla bergetar. Kata-kata sang mertua sangat menyakitkan. Dia harus berpegangan pada pintu agar tak melorot ke lantai. Definisi sudah jatuh tertimpa tangga sangat tepat untuk menggambarkan kondisinya sekarang. Di saat mengetahui perselingkuhan sang suami, dia ditunjukkan kenyataan lainnya. Wanita tua yang sudah dianggap mama kandung sendiri ternyata menyimpan kebencian begitu besar padanya.“Jadi ... selama ini Mama hanya berpura-pura baik padaku. Belum lama dia memintaku bersabar menghadapi Mas Arka. Tapi, di belakang dia meminta suamiku menceraikanku. Ya Tuhan, aku terperangkap di tengah keluarga yang penuh dusta.”Kalla menggeleng. “Lima tahun aku hidup di tengah orang-orang yang ... penuh drama. Bukan hanya Mas Arka, tapi Mama. Cukup! Aku tidak ingin mendengar penghinaan Mama lebih banyak lagi. Sudah cukup!” Kalla berbalik badan. Diusapnya mata yang basah Menangkup wajah yang lembab, dia menarik napas dalam-dalam. Kecewa yang d

  • DI AMBANG PERPISAHAN   BAB 5

    “Sudah, jangan bahas perpisahan.” Mama Hesti menangkup wajah sedih menantunya. Perlakuannya pada Kalla tak perlu diragukan. Dia selalu bersikap manis seperti bukan bersama menantu, tetapi putri sendiri.“Rumah tangga itu selalu akan bertemu cobaan. Apalagi ini sudah masuk tahun ke lima, ‘kan? Mulai ada guncangan-guncangan kecil. Wajar saja. Namanya dua kepala disatukan, pasti berbenturan tiap hari.Kalla diam.“Sudah, jangan bahas perceraian. Tidak baik.” Mama Hesti merapikan helaian rambut yang jatuh dan menutupi wajah sang menantu. Diselipkan di balik daun telinga Kalla. “Mau menginap di sini atau ....”“Aku mau pulang, Ma.”Mama Hesti tersenyum.“Masalah memang bagusnya jangan dihindari. Selesaikan dengan kepala dingin. Ingat, jangan terlalu berlebihan. Arka laki-laki, dia punya harga diri. Kalau terlalu diinjak, pastinya berontak.”Kalla tertegun. Kalimat mertuanya sedikit aneh.“Mama tahu kalau kamu lahir dari keluarga berada. Tapi, sejak menikah ... kamu juga seorang istri. Apa

  • DI AMBANG PERPISAHAN   BAB 4

    “Ibu di makam papinya, Pak.” Arka menghela napas lega. Kalla pergi setelah mengucapkan kata berpisah. Tanpa menerima sepatah pun penjelasan yang disampaikannya. Semua pembelaan diri tak lagi berguna. Di mata istrinya, dia tetap bersalah dan harus dihukum sekejam-kejamnya.“Syukurlah. Kalau terjadi sesuatu, tolong kabari aku, Pak.” Perintah yang meluncur dari bibir pimpinan PT Kalser Darma One itu terdengar pelan. Sejak pertengkaran dan berujung kata perpisahan, Kalla tak bisa diajak berdamai. Terus menuduhnya berselingkuh dan kini ponsel putih pun berada dalam status penyitaan sang istri.“Baik, Pak. Sepertinya sebentar lagi mau jalan. Tadi, Ibu pesan ... kalau habis dari makam mau ke tempat mamanya Bapak.”Arka tak terkejut. Selain Erika, sang mama adalah tempat istrinya mengadu. Wanita yang dinikahi lima tahun lalu itu adalah seorang yatim piatu. Walau masih memiliki ibu tiri—istri muda mendiang papinya, hubungan keduanya tak pernah akur sejak dulu. Bahkan, alasan Kalla minta din

  • DI AMBANG PERPISAHAN   BAB 3

    “Halo.” Kalla menyapa dengan nada tak bersahabat. Sepasang mata elangnya menatap tajam sang suami yang berdiri tegang. Dia tak ubahnya singa betina kelaparan yang sudah berhari-hari tak disuguhi makanan. Apa saja yang ada di hadapan terasa pantas dimangsa.Senyap. Tidak terdengar jawaban dari seberang. Begitu sunyi sampai helaan napas pun sulit terdeteksi.“Halo, ini siapa? Kenapa menghubungi suamiku?”Bukan sahutan, Kalla harus menelan kecewa saat panggilan diputuskan sepihak. Dugaan-dugaan bak bola liar bergulir memenuhi isi kepala. Telepon dari seseorang yang namanya tersimpan di dalam kontak oleh sang suaminya membuat tuduhan makin menguat.“Siapa Sabda, Mas?” Kalla menurunkan nada bicara. Menarik kursi dan duduk, kepalanya berdenyut. “Mas tidak bisa beralasan kalau ini salah sambung. Jelas Mas mengenalnya. Tidak mungkin disimpan di dalam kontak, ‘kan?”Arka menarik napas panjang. Luka yang memancar di wajah sang istri bak sembilu yang tengah mengiris jiwanya. “Dengarkan Mas,

Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status