Share

BAB 7

Author: Casanova
last update publish date: 2026-08-07 21:33:53

“Pak, urus saja mobilnya. Mengenai biaya, nanti aku yang akan menanggungnya.”

Kalla bersuara setelah sedan yang ditumpangi berhenti di halaman rumah. Menunduk, dia menatap kartu nama di tangannya. Pria asing pemilik mobil yang cedera karena kelalaian Pak Hadi itu menitipkan untuknya.

“Julian William Chandra.”

Bibir tipis Kalla yang tak lagi terlihat rona gincu itu mengeja nama di kartu nama. Tak lama, dilemparnya ke kursi penumpang depan, di sebelah Pak Hadi tanpa berpikiran apa-apa. Tidak penting untuknya. Bahkan, dia hampir lupa rupa pria yang terus meliriknya selama pembicaraan menuju kesepakatan di tepi jalan beberapa saat lalu.

“Ini untuk Pak Hadi saja. Aku tidak butuh.”

Kalla sudah membuka pintu mobil sambil menentang tas tangannya. Belum juga melangkah menuju ke teras rumah, sebuah Pajero hitam menyusul masuk dan berhenti di sebelahnya.

“Mas Arka ....”

Setengah berlari, Kalla menghindari pria berusia kepala tiga yang bergegas menyusul langkahnya. Dia sedang tak mau berdiskusi. Pembicaraan mereka sudah selesai saat kata perpisahan keluar dari bibirnya. Tidak ada kompromi. Apalagi saat mengetahui fakta tersembunyi selama ini. Pintu maaf tertutup sudah. Pengadilan adalah solusi dan perpisahan jalan terbaik untuk mereka.

“Kalla, kita harus bicara, Sayang.”

Arka berusaha menggapai lengan istrinya. Dicengkeram erat walau sang empu berontak.

“Lepas, Mas!”

“Tidak! Beri aku kesempatan menjelaskan baru kulepaskan.” Arka memasang tampang memelas.

Kalla menggeleng. “Lepas, Mas. Pembicaraan kita selesai. Aku tidak akan mau kembali padamu. Kamu ... itu menjijikkan!”

Di ujung kalimat, Kalla memberi penekanan. Mimik mukanya menunjukkan kekecewaan dan kemarahan mendalam.

Arka menggeleng. “Kamu harus mendengarkan penjelasanku, Sayang. Kamu harus mendengarnya. Aku tidak mau bercerai.”

“Lalu, apa maumu, Mas? Kalau memang sudah tidak bisa denganku, kenapa memaksa bersama. Toh, ada perempuan lain yang lebih mengerti dirimu, lebih mencintaimu, lebih segala-galanya dibandingkanku.”

“Ssshhh ....”

Arka mendesis bingung. Cengkeraman di pergelangan Kalla mengerat. Dia tak mau melepas istrinya. “Ikut aku, Kalla.”

“Lepaskan aku, Mas. Aku sudah memantapkan hatiku. Mari kita selesai baik-baik. Toh, selama ini aku tidak berarti untukmu. Aku tidak bisa apa-apa. Aku hanya bisa menghabiskan uangmu, ongkang-ongkang kaki di rumah. Tidak becus jadi istri, tidak bisa mengurus rumah tangga. Aku mandul!” teriak Kalla. Dia bisa sedikit lega setelah menumpahkan segalanya.

“Kalla, apa-apaan ini? Kenapa membahas masalah anak? Kita sudah sepakat untuk ... tidak menyinggung masalah ini, ‘kan?” Arka mengingatkan. “Masuk dan kita bicara baik-baik di dalam. Kamu salah paham dan ....”

Pria dewasa itu menjerit ketika tangannya digigit dengan kencang. Seketika, cengkeraman pun terlepas. Kalla berlari masuk ke dalam rumah, tak mau mendengar penjelasan apa pun darinya.

“Kalla!”

Kaki Arka melangkah lebar. Disusulnya sang istri yang melesat begitu cepat. Tak punya jalan lain, dia harus memaksa wanita mungil dengan tubuh ramping itu mengikuti kemauannya. Senyum terkembang kala berhasil merengkuh kedua pinggang Kalla. Tak mampu melawan, sosok feminin itu hanya bisa pasrah saat tubuh terangkat, melayang, dan berlabuh di bahunya.

“Mas, lepaskan aku, Mas!” Kalla meronta.

Kepala terkulai ke bawah, rambut hitamnya menjuntai hingga melewati pinggang Arka. Kedua kaki Kalla mengepak di udara. Dia terkunci di pundak suaminya. Satu-satunya perlawanan adalah memukul punggung kekar pria itu dengan kepalan.

“Mas, lepas!”

“Jangan harap!” Arka masih sempat memukul bokong istrinya sebanyak dua kali. “Kita harus bicara, Kalla. Setelah itu ....”

Menendang pintu, Arka mengempaskan istri yang dipanggul dari halaman rumah itu ke atas ranjang. Tak mau kesempatan emas berakhir, dia buru-buru mengurung diri bersama Kalla di dalam kamar pribadi mereka.

“Mas.”

Kalla menyerah ketika mendapati suaminya mengunci pintu lalu mengantongi anak kunci ke dalam saku celana. Diredamnya napas yang naik turun setelah lelah melakukan perlawanan.

“Aku tidak mau berpisah, Kalla.” Arka berdiri beberapa meter di hadapan istrinya. Raut wajah berubah sedih. “Aku tahu ... aku salah. Aku mungkin banyak menyakitimu selama ini. Demi Tuhan, aku tidak mau bercerai, Kalla.”

Melunak, ucapan Arka dengan nada bergetar itu mampu meredam amarah Kalla sejenak. Tak lagi berontak, dia duduk di ujung ranjang dengan kepala tertunduk.

“Mas ....” Kalla menggigit bibirnya. “Aku sudah tahu semuanya. Sudahi sandiwaramu, sudahi dramamu. Kalau Mas terus memaksa bersama ... yang ada ... aku akan makin terluka.”

Arka menggeleng.

Sepasang mata Kalla berkaca-kaca. Sore yang teduh, tetapi tidak untuk perasaannya. Hati terbakar setiap mengingat persekongkolan terjahat sepanjang sejarah hidupnya.

“Aku ... sadar ....” Suara Kalla terbata-bata. Dia menahan tangisnya agar tak keluar hingga tubuh rampingnya ikut gemetar. “Aku banyak kekurangan. Mungkin, aku tidak bisa jadi istri dan menantu yang baik untukmu dan Mama.”

Bulir-bulir luka jatuh membasahi pipi Kalla. Dibiarkan Arka melihat seberapa besar cedera di hatinya yang disebabkan pengkhianatan cinta.

“Aku tidak bisa mengurus rumah, aku tidak bisa memasak. Aku tidak becus bekerja, aku hanya wanita manja yang bisanya menghabiskan uangmu.”

Suara Kalla tercekat. Kalimat terakhir yang tertahan di kerongkongan adalah kata tertajam. Harga dirinya hancur saat mertuanya mengungkapkan hal itu.

“Aku mandul. Aku tidak bisa memberimu anak. Jadi, untuk apa mempertahankan rumah tangga yang jelas-jelas tidak ada kebahagiaan di masa depan.”

“Kalla!” Arka meninggikan suaranya. “Aku tidak pernah menyinggung masalah anak selama ini.”

“Ya, karena Mas sudah punya wanita lain yang akan memberikannya untukmu, Mas. Ya, ‘kan? Jadi, Mas tidak peduli aku hamil atau tidak. Mas tidak peduli kita punya anak atau tidak.”

Arka menggeleng. “Bukan seperti itu, Kalla. Mas jelaskan dulu. Semua ini salah paham. Aku ....”

“Mas jawab saja. Tidak perlu jelaskan. Aku sudah tahu banyak. Lebih banyak dari yang Mas duga. Cukup jawab aku, siapa Eri?”

Arka mencelang. “Sayang ....”

“Cukup jawab saja, Mas. Tidak perlu melebar ke mana-mana. Siapa Eri? Aku ingin tahu ... wanita seperti apa yang menjadi selera suamiku.”

“Aku tidak akan menjawab.”

Kalla tersenyum kecut. “Artinya Mas mengiakan. Mas tidak bisa menjawabku karena semua ini adalah fakta. Mas selingkuh itu kenyataan. Kenapa diam, Mas?”

“Kamu tahu dari mana?” Arka meremas rambutnya. Putus asa.

“Jadi semua ini benar, Mas?”

“Tidak.” Arka menggeleng.

“Mas suamiku, tapi diam-diam menjalin hubungan dengan wanita lain. Bukan sehari dua hari, Mas. Hampir setahun Mas mengkhianatiku. Lalu, sekarang Mas bilang mencintaiku. Apa aku masih bisa percaya kata-katamu, Mas?”

“Kalla, dengarkan aku, Sayang.”

“Mas yang harusnya dengarkan aku! Sekarang, aku bukan istri bodoh yang bisa dibohongi. Aku sudah tahu semuanya, Mas. Kenapa masih berpura-pura?” Kalla menyambar guling lalu melempar suaminya.

Arka menggeleng. Maju selangkah, dia harus menelan kecewa. Kalla tak mengizinkannya mendekat.

“Jangan menyentuhku. Tanganmu itu kotor. Aku yakin ... tanganmu bukan hanya menyentuhku, tubuhmu tidak hanya memelukku saja. Kamu menjijikkan, Mas.”

“Sayang ....”

“Berhenti memanggilku sayang. Kita selesaikan saja. Jadi Mas juga bisa menuntaskan janji pada Mama. Mari kita bercerai baik-baik dan Mas bisa menikah lagi.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (2)
goodnovel comment avatar
Anna Waliana
mantap Kalla ,sayang kepala peyang
goodnovel comment avatar
Enisensi klara
yuhuuuu.....
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • DI AMBANG PERPISAHAN   BAB 79B

    “Suma, aku ada kirim upeti untuk anak-anakmu. Thanks, aku tidak bisa membayangkan andai Kalla mengetahui semuanya. Aku malu.”Malam itu, Arka terlihat duduk di ruang kerjanya. Laptop terbuka menyala di depannya. Namun, perhatiannya tak di sana.“Ya, ini Rara dan Annel sedang rebutan. Next time, tolong beli yang warnanya sama. Kamu tahu sendiri, anak kembar ini seleranya juga sama.” Suma terkekeh. “Berarti, kamu harus waspada. Jangan-jangan mereka rebutan cinta di masa depannya. Bisa terjadi perang saudara.” Arka ikut tergelak. Namun, suaranya lenyap seketika, dia teringat sesuatu. “Kamu katakan apa pada istriku? Kebohongan apa yang kamu jual?”“Tidak ada.” Suma terdengar serius di ujung telepon. “Maaf, aku katakan semuanya. Foto itu diambil saat papamu sedang sekarat beberapa tahun lalu. Kamu butuh uang dan dan terpaksa harus ....”Wajah Arka berubah pucat.“Istrimu berhak tahu, Bro. Dia berhak tahu apa yang sudah kamu korbankan untuknya. Dengan begitu, musuhmu tak akan menggunakan k

  • DI AMBANG PERPISAHAN   BAB 79A

    “Kalau bukan kamu, siapa lagi yang tahu masalah ini? Hanya kamu, ‘kan? Dan, kamu tahu jelas apa yang terjadi hari itu.”“Demi Tuhan, bukan aku yang melakukannya.”“Dari mana kamu dapat foto ini? Pasti bukan orang sembarangan yang bisa mengambil foto ini, ‘kan?”Erika menggeleng. “Demi Tuhan, bukan aku yang melakukannya. Bagaimana mungkin aku bisa mendapatkan foto itu? Aku tahu semua yang kamu lakukan, tapi belum tentu aku yang mengirimnya pada istrimu. Aku tidak tahu apa-apa, Ka.”“Jangan bohong!” Arka menggertak.“Selama ini hanya kamu yang tahu masalah ini. Tidak ada orang lain.”“Aku tidak tahu apa-apa. Selama ini aku pulang kampung menemui orang tuaku. Mana ada waktu mengurusi masalahmu dan Kalla.”“Kalau bukan kamu, lalu siapa?” Tidak ada orang lain yang tahu masalahku ini.”Erika diam.“Hanya kamu satu-satunya, Eri.”“Kalau memang kamu minta bertemu untuk ini, aku rasa ... tidak ada yang harus dibahas lagi. Aku tegaskan sekali lagi, aku tidak ada sangku pautnya dengan masalah fo

  • DI AMBANG PERPISAHAN   BAB 78

    “Kenapa basah?” Kalla masuk ke dapur dan keheranan melihat lantai yang basah di beberapa titik. Sebuah baskom berisi air es masih tergeletak di dekat bak cuci piring“Oh, itu Pak Arka tadi cuci muka, cuci tangan pakai air es.” Asisten rumah menjelaskan sembari memotong wortel. “Cuci muka pakai air es?” Kalla bingung. Dia bermaksud membuatkan suaminya bubur. “Apa tidak salah?”“Tidak, Bu. Tadi Bapak ke sini. Cuci kaki juga tadi aku lihat.”Di tengah kebekuan, otak Kalla mulai merangkai berbagai keanehan-keanehan yang didapatnya sebelum keluar kamar. Hingga akhirnya sampai pada satu kesimpulan dan membuat dia menggeleng tak percaya.“Kerjaan Mas Arka,” gerutunya. “Pantas saja. Dibilang demam, tapi suhunya normal. Kaki tangan dingin sampai ke muka-mukan. Bagaimana tidak dingin kalau cucinya pakai air es. Ada-ada saja!”Empat puluh lima menit berlalu, Kalla sudah kembali dengan sebuah nampan berisi bubur. Segelas air hangat ikut melengkapi sarapan sederhana Arka yang dibuat oleh istriny

  • DI AMBANG PERPISAHAN   BAB 77

    “Kamu mau ke mana?”Arka terpaksa mengurai pelukannya saat Kalla memaksa turun dari ranjang. Tak mau berlama-lama meringkuk dalam dekap.“Aku harus kerja, Mas.” Wanita yang pagi itu terlihat seksi dengan tampilan bangun tidurnya tengah duduk sambil mengikat rambut pirangnya asal. Beberapa helai tampak jatuh di pundaknya yang putih tanpa cela.“Tapi, aku masih demam. Nih, sudah mau menggigil lagi.” Arka beralasan. Ikut duduk, dipeluknya pinggang Kalla lalu merebah di punggung wanita tersebut seolah tak pernah terjadi masalah di antara mereka. Dia tak rela melepas sang istri pergi.“Aku harus kerja, Mas. Aku ....”“Tapi, aku masih sakit, Sayang. Apa kamu tega? Aku baru saja jadi yatim piatu. Hidupku sedang terpuruk-puruknya. Istriku menuntut cerai, mamaku meninggal. Aku sedang di titik terendah hidupku. Apa tidak kasihan? Aku tidak punya alasan untuk tetap bertahan di dunia.”Arka menahan tawa sambil mengeratkan belit di pinggang istrinya.“Mas, apa-apaan sih? Kenapa bicara seperti itu?

  • DI AMBANG PERPISAHAN   BAB 76

    “Kamu sakit sampai menggigil begini. Apa tidak sebaiknya ke dokter, Mas?”Kalla masih setia menjaga suaminya. Hingga malam tiba, dia masih bertahan di kediaman sang mertua. Pemilik wajah berkubang resah itu tak sedikit pun melangkah pergi dari sisi Arka. “Mas.”Duduk di samping pria yang sedang bergelung di balik selimut. Meringkuk dengan suara menggigil, tubuh gagah itu bergetar hebat.“Dingin, Sayang.” Arka berbisik pelan. Mata terpejam.“Ya, makanya. Ini sudah dinaikkan suhu AC-nya, Mas.”“Dingin.” Pria dewasa itu terus menggigil.“Lalu, bagaimana?” Kalla bingung. “Kita ke dokter saja. Ini panasnya sudah turun, tapi ....”Kalla kembali menempelkan punggung tangan di dahi dan kulit leher Arka. Dia mengecek suhu tubuh suaminya yang tak lagi sehangat tadi siang dan mulai berkeringat.“Tapi, dingin, Sayang.” Arka makin manja.“Aneh. Sudah turun panasnya, tapi masih kedinginan. Orang kepanasan.” Kalla bergumam tak jelas.“He ... em.”“Ke dokter saja, ya? Takutnya ada masalah serius. In

  • DI AMBANG PERPISAHAN   BAB 75B

    Raut wajah Arka berubah. Entah kenapa, kata-kata sederhana itu mampu membuat isi kepalanya jauh lebih ringan. “Harusnya ... kalau sakit itu bicara, Mas? Kenapa diam saja?” Kembali suapan selanjutnya berlabuh di dalam mulut Arka. Tak lagi ada protes dan tanya dari empunya. “Nah, ‘kan? Mas itu kelaparan. Kenapa tidak keluar? Sudah disiapkan makanan.” Kalla merapikan rambut Arka yang acak-acakan. Tak lupa, dia juga mengusap wajah pria yang tengah menelan bubur sambil mengernyit. “Kenapa? Panas?” Arka menggeleng. “Sakit tenggorokan?” Kalla kembali menginterogasi suaminya. “Ya.” Arka menjawab lemah. “Keluhannya apa saja? Mas itu kelelahan. Beberapa hari ini kurang istirahat. Makannya tak teratur.” Arka hanya menatap dan diam. Melahap setiap sendok bubur yang disuapkan kepadanya. Tak butuh waktu lama, semangkuk bubur sudah berpindah ke perut. “Mas demam.” Kalla meraih air jahe hangat dan menyodorkan pada sang suami. “Setelah ini minum obat.” Menyambar selembar tisu, diusapnya

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status