LOGIN“Pak, urus saja mobilnya. Mengenai biaya, nanti aku yang akan menanggungnya.”
Kalla bersuara setelah sedan yang ditumpangi berhenti di halaman rumah. Menunduk, dia menatap kartu nama di tangannya. Pria asing pemilik mobil yang cedera karena kelalaian Pak Hadi itu menitipkan untuknya. “Julian William Chandra.” Bibir tipis Kalla yang tak lagi terlihat rona gincu itu mengeja nama di kartu nama. Tak lama, dilemparnya ke kursi penumpang depan, di sebelah Pak Hadi tanpa berpikiran apa-apa. Tidak penting untuknya. Bahkan, dia hampir lupa rupa pria yang terus meliriknya selama pembicaraan menuju kesepakatan di tepi jalan beberapa saat lalu. “Ini untuk Pak Hadi saja. Aku tidak butuh.” Kalla sudah membuka pintu mobil sambil menentang tas tangannya. Belum juga melangkah menuju ke teras rumah, sebuah Pajero hitam menyusul masuk dan berhenti di sebelahnya. “Mas Arka ....” Setengah berlari, Kalla menghindari pria berusia kepala tiga yang bergegas menyusul langkahnya. Dia sedang tak mau berdiskusi. Pembicaraan mereka sudah selesai saat kata perpisahan keluar dari bibirnya. Tidak ada kompromi. Apalagi saat mengetahui fakta tersembunyi selama ini. Pintu maaf tertutup sudah. Pengadilan adalah solusi dan perpisahan jalan terbaik untuk mereka. “Kalla, kita harus bicara, Sayang.” Arka berusaha menggapai lengan istrinya. Dicengkeram erat walau sang empu berontak. “Lepas, Mas!” “Tidak! Beri aku kesempatan menjelaskan baru kulepaskan.” Arka memasang tampang memelas. Kalla menggeleng. “Lepas, Mas. Pembicaraan kita selesai. Aku tidak akan mau kembali padamu. Kamu ... itu menjijikkan!” Di ujung kalimat, Kalla memberi penekanan. Mimik mukanya menunjukkan kekecewaan dan kemarahan mendalam. Arka menggeleng. “Kamu harus mendengarkan penjelasanku, Sayang. Kamu harus mendengarnya. Aku tidak mau bercerai.” “Lalu, apa maumu, Mas? Kalau memang sudah tidak bisa denganku, kenapa memaksa bersama. Toh, ada perempuan lain yang lebih mengerti dirimu, lebih mencintaimu, lebih segala-galanya dibandingkanku.” “Ssshhh ....” Arka mendesis bingung. Cengkeraman di pergelangan Kalla mengerat. Dia tak mau melepas istrinya. “Ikut aku, Kalla.” “Lepaskan aku, Mas. Aku sudah memantapkan hatiku. Mari kita selesai baik-baik. Toh, selama ini aku tidak berarti untukmu. Aku tidak bisa apa-apa. Aku hanya bisa menghabiskan uangmu, ongkang-ongkang kaki di rumah. Tidak becus jadi istri, tidak bisa mengurus rumah tangga. Aku mandul!” teriak Kalla. Dia bisa sedikit lega setelah menumpahkan segalanya. “Kalla, apa-apaan ini? Kenapa membahas masalah anak? Kita sudah sepakat untuk ... tidak menyinggung masalah ini, ‘kan?” Arka mengingatkan. “Masuk dan kita bicara baik-baik di dalam. Kamu salah paham dan ....” Pria dewasa itu menjerit ketika tangannya digigit dengan kencang. Seketika, cengkeraman pun terlepas. Kalla berlari masuk ke dalam rumah, tak mau mendengar penjelasan apa pun darinya. “Kalla!” Kaki Arka melangkah lebar. Disusulnya sang istri yang melesat begitu cepat. Tak punya jalan lain, dia harus memaksa wanita mungil dengan tubuh ramping itu mengikuti kemauannya. Senyum terkembang kala berhasil merengkuh kedua pinggang Kalla. Tak mampu melawan, sosok feminin itu hanya bisa pasrah saat tubuh terangkat, melayang, dan berlabuh di bahunya. “Mas, lepaskan aku, Mas!” Kalla meronta. Kepala terkulai ke bawah, rambut hitamnya menjuntai hingga melewati pinggang Arka. Kedua kaki Kalla mengepak di udara. Dia terkunci di pundak suaminya. Satu-satunya perlawanan adalah memukul punggung kekar pria itu dengan kepalan. “Mas, lepas!” “Jangan harap!” Arka masih sempat memukul bokong istrinya sebanyak dua kali. “Kita harus bicara, Kalla. Setelah itu ....” Menendang pintu, Arka mengempaskan istri yang dipanggul dari halaman rumah itu ke atas ranjang. Tak mau kesempatan emas berakhir, dia buru-buru mengurung diri bersama Kalla di dalam kamar pribadi mereka. “Mas.” Kalla menyerah ketika mendapati suaminya mengunci pintu lalu mengantongi anak kunci ke dalam saku celana. Diredamnya napas yang naik turun setelah lelah melakukan perlawanan. “Aku tidak mau berpisah, Kalla.” Arka berdiri beberapa meter di hadapan istrinya. Raut wajah berubah sedih. “Aku tahu ... aku salah. Aku mungkin banyak menyakitimu selama ini. Demi Tuhan, aku tidak mau bercerai, Kalla.” Melunak, ucapan Arka dengan nada bergetar itu mampu meredam amarah Kalla sejenak. Tak lagi berontak, dia duduk di ujung ranjang dengan kepala tertunduk. “Mas ....” Kalla menggigit bibirnya. “Aku sudah tahu semuanya. Sudahi sandiwaramu, sudahi dramamu. Kalau Mas terus memaksa bersama ... yang ada ... aku akan makin terluka.” Arka menggeleng. Sepasang mata Kalla berkaca-kaca. Sore yang teduh, tetapi tidak untuk perasaannya. Hati terbakar setiap mengingat persekongkolan terjahat sepanjang sejarah hidupnya. “Aku ... sadar ....” Suara Kalla terbata-bata. Dia menahan tangisnya agar tak keluar hingga tubuh rampingnya ikut gemetar. “Aku banyak kekurangan. Mungkin, aku tidak bisa jadi istri dan menantu yang baik untukmu dan Mama.” Bulir-bulir luka jatuh membasahi pipi Kalla. Dibiarkan Arka melihat seberapa besar cedera di hatinya yang disebabkan pengkhianatan cinta. “Aku tidak bisa mengurus rumah, aku tidak bisa memasak. Aku tidak becus bekerja, aku hanya wanita manja yang bisanya menghabiskan uangmu.” Suara Kalla tercekat. Kalimat terakhir yang tertahan di kerongkongan adalah kata tertajam. Harga dirinya hancur saat mertuanya mengungkapkan hal itu. “Aku mandul. Aku tidak bisa memberimu anak. Jadi, untuk apa mempertahankan rumah tangga yang jelas-jelas tidak ada kebahagiaan di masa depan.” “Kalla!” Arka meninggikan suaranya. “Aku tidak pernah menyinggung masalah anak selama ini.” “Ya, karena Mas sudah punya wanita lain yang akan memberikannya untukmu, Mas. Ya, ‘kan? Jadi, Mas tidak peduli aku hamil atau tidak. Mas tidak peduli kita punya anak atau tidak.” Arka menggeleng. “Bukan seperti itu, Kalla. Mas jelaskan dulu. Semua ini salah paham. Aku ....” “Mas jawab saja. Tidak perlu jelaskan. Aku sudah tahu banyak. Lebih banyak dari yang Mas duga. Cukup jawab aku, siapa Eri?” Arka mencelang. “Sayang ....” “Cukup jawab saja, Mas. Tidak perlu melebar ke mana-mana. Siapa Eri? Aku ingin tahu ... wanita seperti apa yang menjadi selera suamiku.” “Aku tidak akan menjawab.” Kalla tersenyum kecut. “Artinya Mas mengiakan. Mas tidak bisa menjawabku karena semua ini adalah fakta. Mas selingkuh itu kenyataan. Kenapa diam, Mas?” “Kamu tahu dari mana?” Arka meremas rambutnya. Putus asa. “Jadi semua ini benar, Mas?” “Tidak.” Arka menggeleng. “Mas suamiku, tapi diam-diam menjalin hubungan dengan wanita lain. Bukan sehari dua hari, Mas. Hampir setahun Mas mengkhianatiku. Lalu, sekarang Mas bilang mencintaiku. Apa aku masih bisa percaya kata-katamu, Mas?” “Kalla, dengarkan aku, Sayang.” “Mas yang harusnya dengarkan aku! Sekarang, aku bukan istri bodoh yang bisa dibohongi. Aku sudah tahu semuanya, Mas. Kenapa masih berpura-pura?” Kalla menyambar guling lalu melempar suaminya. Arka menggeleng. Maju selangkah, dia harus menelan kecewa. Kalla tak mengizinkannya mendekat. “Jangan menyentuhku. Tanganmu itu kotor. Aku yakin ... tanganmu bukan hanya menyentuhku, tubuhmu tidak hanya memelukku saja. Kamu menjijikkan, Mas.” “Sayang ....” “Berhenti memanggilku sayang. Kita selesaikan saja. Jadi Mas juga bisa menuntaskan janji pada Mama. Mari kita bercerai baik-baik dan Mas bisa menikah lagi.”Arka duduk di lantai. Kakinya bertekuk dengan kedua lengan bertumpu di atas lutut. Tak banyak kata yang bisa dilontarkan untuk membela diri setelah serentetan kebenaran yang disampaikan istrinya. Dia yang begitu bersemangat membujuk beberapa saat lalu hanya mampu tertunduk diam.“Aku mohon, Kalla. Kita jangan sampai bercerai.” Ada nada putus asa dalam pinta Arka.“Mas, untuk apa bertahan? Toh, Mas sudah punya yang lain. Aku hanya ingin memuluskan langkahmu, Mas. Dengan kita berpisah, kamu bisa menikahi kekasihmu tanpa khawatir dengan dosa.” Jawaban Kalla menunjukkan seberapa tegar dirinya. Namun, tak ada seorang pun yang tahu kalau saat ini hatinya hancur berkeping-keping. Istri mana yang sanggup diduakan, wanita mana yang bisa menerima kenyataan diselingkuhi.“Aku bukan istri yang baik untukmu, Mas. Aku hanya wanita tak berguna yang bisanya menyusahkanmu.” Kalla menahan air matanya agar tak tumpah. Sejak siang, entah sudah berapa banyak cairan kristal mengalir turun dari sana.“Aku
“Pak, urus saja mobilnya. Mengenai biaya, nanti aku yang akan menanggungnya.” Kalla bersuara setelah sedan yang ditumpangi berhenti di halaman rumah. Menunduk, dia menatap kartu nama di tangannya. Pria asing pemilik mobil yang cedera karena kelalaian Pak Hadi itu menitipkan untuknya.“Julian William Chandra.”Bibir tipis Kalla yang tak lagi terlihat rona gincu itu mengeja nama di kartu nama. Tak lama, dilemparnya ke kursi penumpang depan, di sebelah Pak Hadi tanpa berpikiran apa-apa. Tidak penting untuknya. Bahkan, dia hampir lupa rupa pria yang terus meliriknya selama pembicaraan menuju kesepakatan di tepi jalan beberapa saat lalu.“Ini untuk Pak Hadi saja. Aku tidak butuh.”Kalla sudah membuka pintu mobil sambil menentang tas tangannya. Belum juga melangkah menuju ke teras rumah, sebuah Pajero hitam menyusul masuk dan berhenti di sebelahnya.“Mas Arka ....” Setengah berlari, Kalla menghindari pria berusia kepala tiga yang bergegas menyusul langkahnya. Dia sedang tak mau berdiskusi
“Jadi ... selama ini Mas Arka dan Mama ....” Tubuh Kalla bergetar. Kata-kata sang mertua sangat menyakitkan. Dia harus berpegangan pada pintu agar tak melorot ke lantai. Definisi sudah jatuh tertimpa tangga sangat tepat untuk menggambarkan kondisinya sekarang. Di saat mengetahui perselingkuhan sang suami, dia ditunjukkan kenyataan lainnya. Wanita tua yang sudah dianggap mama kandung sendiri ternyata menyimpan kebencian begitu besar padanya.“Jadi ... selama ini Mama hanya berpura-pura baik padaku. Belum lama dia memintaku bersabar menghadapi Mas Arka. Tapi, di belakang dia meminta suamiku menceraikanku. Ya Tuhan, aku terperangkap di tengah keluarga yang penuh dusta.”Kalla menggeleng. “Lima tahun aku hidup di tengah orang-orang yang ... penuh drama. Bukan hanya Mas Arka, tapi Mama. Cukup! Aku tidak ingin mendengar penghinaan Mama lebih banyak lagi. Sudah cukup!” Kalla berbalik badan. Diusapnya mata yang basah Menangkup wajah yang lembab, dia menarik napas dalam-dalam. Kecewa yang d
“Sudah, jangan bahas perpisahan.” Mama Hesti menangkup wajah sedih menantunya. Perlakuannya pada Kalla tak perlu diragukan. Dia selalu bersikap manis seperti bukan bersama menantu, tetapi putri sendiri.“Rumah tangga itu selalu akan bertemu cobaan. Apalagi ini sudah masuk tahun ke lima, ‘kan? Mulai ada guncangan-guncangan kecil. Wajar saja. Namanya dua kepala disatukan, pasti berbenturan tiap hari.Kalla diam.“Sudah, jangan bahas perceraian. Tidak baik.” Mama Hesti merapikan helaian rambut yang jatuh dan menutupi wajah sang menantu. Diselipkan di balik daun telinga Kalla. “Mau menginap di sini atau ....”“Aku mau pulang, Ma.”Mama Hesti tersenyum.“Masalah memang bagusnya jangan dihindari. Selesaikan dengan kepala dingin. Ingat, jangan terlalu berlebihan. Arka laki-laki, dia punya harga diri. Kalau terlalu diinjak, pastinya berontak.”Kalla tertegun. Kalimat mertuanya sedikit aneh.“Mama tahu kalau kamu lahir dari keluarga berada. Tapi, sejak menikah ... kamu juga seorang istri. Apa
“Ibu di makam papinya, Pak.” Arka menghela napas lega. Kalla pergi setelah mengucapkan kata berpisah. Tanpa menerima sepatah pun penjelasan yang disampaikannya. Semua pembelaan diri tak lagi berguna. Di mata istrinya, dia tetap bersalah dan harus dihukum sekejam-kejamnya.“Syukurlah. Kalau terjadi sesuatu, tolong kabari aku, Pak.” Perintah yang meluncur dari bibir pimpinan PT Kalser Darma One itu terdengar pelan. Sejak pertengkaran dan berujung kata perpisahan, Kalla tak bisa diajak berdamai. Terus menuduhnya berselingkuh dan kini ponsel putih pun berada dalam status penyitaan sang istri.“Baik, Pak. Sepertinya sebentar lagi mau jalan. Tadi, Ibu pesan ... kalau habis dari makam mau ke tempat mamanya Bapak.”Arka tak terkejut. Selain Erika, sang mama adalah tempat istrinya mengadu. Wanita yang dinikahi lima tahun lalu itu adalah seorang yatim piatu. Walau masih memiliki ibu tiri—istri muda mendiang papinya, hubungan keduanya tak pernah akur sejak dulu. Bahkan, alasan Kalla minta din
“Halo.” Kalla menyapa dengan nada tak bersahabat. Sepasang mata elangnya menatap tajam sang suami yang berdiri tegang. Dia tak ubahnya singa betina kelaparan yang sudah berhari-hari tak disuguhi makanan. Apa saja yang ada di hadapan terasa pantas dimangsa.Senyap. Tidak terdengar jawaban dari seberang. Begitu sunyi sampai helaan napas pun sulit terdeteksi.“Halo, ini siapa? Kenapa menghubungi suamiku?”Bukan sahutan, Kalla harus menelan kecewa saat panggilan diputuskan sepihak. Dugaan-dugaan bak bola liar bergulir memenuhi isi kepala. Telepon dari seseorang yang namanya tersimpan di dalam kontak oleh sang suaminya membuat tuduhan makin menguat.“Siapa Sabda, Mas?” Kalla menurunkan nada bicara. Menarik kursi dan duduk, kepalanya berdenyut. “Mas tidak bisa beralasan kalau ini salah sambung. Jelas Mas mengenalnya. Tidak mungkin disimpan di dalam kontak, ‘kan?”Arka menarik napas panjang. Luka yang memancar di wajah sang istri bak sembilu yang tengah mengiris jiwanya. “Dengarkan Mas,







